Sunday, December 16, 2018

Sinopsis Lakorn : You Are Me episode 22 – 1

1 comments

Sinopsis Lakorn : You Are Me episode 22 – 1
Images by : Channel 3
sinopsis di tulis oleh : Chunov (nama samaran) di blog k-adramanov.blogspot.com
Praw dengan luka memar di sudut bibir, pergi ke kantor polisi dan membuat pernyataan. Dia yakin kalau Khun Pa adalah pembunuh dari Khun Wiset.
“Mengapan Anda bisa begitu yakin padahal Anda tidak ada di TKP?”
“Sebelumnya, Khun Paradee menemuiku di condo. Dan… dia datang untuk menyerangku. Lihat! Aku terluka dan badanku memar.”
“Lalu apa motif Khun Paradee melakukan itu?”
“Dia mungkin marah karena tahu mengenaiku dan Khun Wiset. Kami … punya hubungan.”
Chanat mencoba membuat kesimpulan dari pernyataan Praw, kalau hari itu untuk pertama kalinya Khun Pa tahu perselingkuhan Khun Wiset dan Praw. Tapi, kenapa Khun Wiset kembali ke condo setelah sebelumnya pergi? Prat menjelaskan kalau Khun Wiset sebelumnya pergi untuk mempacking barang karena ada penerbangan malam dan akan kembali menemuinya lagi. Pokoknya, dia yakin kalau Khun Pa adalah pembunuh dari Khun Wiset.
--
“Saat aku tiba, aku melihat kalau Khun Wiset sudah terbaring kaku. Aku tidak tahu apakah Khun Pa yang menembak Khun Wiset atau bukan. Tapi, aku yakin kalau Khun Pa adalah orang yang menembakku,” jelas Na. 
“Kalau begitu, ada kemungkinan kalau orang yang menembakmu hingga tidak bisa jalan seperti ini adalah … Khun Paradee,” duga Nuan.
“Aku juga merasa seperti itu.”
“Siriya, aku mengerti penderitaanmu tidak bisa berjalan selama 2 tahun. Kau bisa bilang aku jahat atau egois. Tapi, bagaimanapun, P’Pa adalah bagian dari keluargaku. Aku hanya ingin memohon padamu…”
“Jika kau ingin memohon padaku agar tidak menuntut kakakmu, lupakan saja,” kecewa Siriya.
“Bukan begitu Siriya. Aku ingin memohon agar kau tidak memberikan pernyataan pada polisi untuk hal yang tidak kau punya bukti kalau P’Pa melakukannya.”
“Lalu, bagaimana kalau aku punya bukti?”
“Jika kau punya bukti kejahatan P’Pa, aku akan memberikan keadilan padamu,” janji Thi.
Na terlihat memikirkan perkataan Thi.
--
Khun Pawinee masih yakin kalau Pa tidak akan membunuh orang. Da menekankan pada Khun Pawinee kalau Siriya sudah mengonfirmasi kalau Pa adalah orang yang menembaknya. Thi dan Khun Pawinee langsung melotot padanya.
“Mungkin Pa hanya terkejut. Atau ada kesalah pahaman. Dan si Prawdta itu juga tidak di tempat kejadian, dia tidak melihatnya dengan mata kepalanya sendiri. Bagaimanapun, kita harus mencari cara menolong Pa.”
--

Krit menemui Khun Nat. Khun Nat menjelaskan kalau dia di beri tugas oleh Khun Pawinee terkait kasus Khun Pa (ih, jelas itu di kasih ke Thi, tapi dia minta agar dia yang menanganinya). Krit menatap Khun Nat dan teringat Khun Nat yang mencium paksa dirinya.
“Khun Nat, aku rasa sebaiknya kita membiarkan Khun Athirat bergabung?” saran Krit.
“Khun Thi baru sembuh. Dan kasus ini terkait dengan Siriya dan Khun Pa. lebih baik tidak membuat Khun Thi dalam posisi tidak nyaman.”
“Kalau begitu, bagaimana dengan mengajak Khun Pawinee? Hanya untuk berjaga-jaga jika ada hal yang harus diskusikan dengannya.”
“Sudah cukup. Kau sekarang sedang mencari cara agar tidak berduaan denganku, kan?”
“Aku hanya tidak ingin merusak reputasimu.”
“Aku bukan anak-anak yang tidak bisa membedakan antara masalah pribadi dengan masalah kerja. Jika kau merasa masih anak-anak dan belum siap, maka tidak usah ikut dalam kasus ini. Aku yang akan memberitahu Khun Pawinee.”
Mendengar kemarahan Khun Nat, membuat Khun Krit sadar kalau dia sudah salah karena mengikutkan masalah pribai ke kerjaan. Dia akhirnya mau mulai bekerja berdua dengan Khun Nat.
--
Thi menenangkan Khun Pawinee untuk tidak khawatir, dia akan mencoba menolong Khun Pa. Khun Pawinee berterimakasih atas bantuan Thi. Dia kemudian bertanya apa yang di katakan Siriya? Jika Siriya mau memberikan pernyataan kalau tembakan Khun Pa adalah kesalahpahaman, mungkin Pa masih dapat di tolong.
“Tapi Siriya adalah orang yang terluka, Mae’Yai.”
“Jangan bilang… kau sekarang memihak padanya. Melunak padanya karena kau mencintainya? Kau benar-benar jatuh cinta dengan wanita simpanan abangmu sendiri, Thi?”
“Itu tidak seperti itu, Mae’Yai. Aku dan Siriya… itu tidak mungkin.”
“Lalu, kenapa kau sangat bersimpati padanya?”
“Aku hanya ingin melakukan hal yang benar. Dan kita juga harus memberi keadilan pada Siriya, Mae’Yai.”
“Aku harap itu benar seperti itu. jangan pernah lupa, siapa Siriya! dan siapa kau! Dan kau juga harus ingat, hanya kau lah harapanku yang tersisa!” tegas Khun Pawinee. “Jangan membuatku kecewa lagi!”
Thi terdiam. Tidak tahu harus merespon atau menjawab bagaimana.
--
Na masih memikirkan perkataan Thi tadi padanya. Nuan masuk dan memberitahu kalau Ya bersedia menunggu hingga Na keluar dari rumah sakit dan mendiskusikan langkah selanjutnya. Na lega mendengarnya dan juga bersyukur karena Ya tidak ketahuan datang rumah sakit. Nuan kemudian bertanya, apa yang akan Na lakukan terkait permintaaan Thi tadi?
“Aku dapat mengerti kalau dia ingin melindungi keluarganya. Tapi, aku juga harus melindungi keluargaku. Jika kejadian ini terjadi padaku dan bukan P’Ya, aku mungkin sudah menyerah. Tapi hal ini…”
“Hey, aku kasihan pada dua pihak, kau dan Khun Thi.”
“Jangan lupa, alasan aku datang ke keluarga Sutharak. Tidak peduli apapun, aku harus menemukan dan menghukum orang yang menyerang P’Ya. Aku tidak akan mengubah keputusanku!”
--
Esok hari,
Chanat datang untuk meminta pernyataannya. Dan Na memberikan pernyataan sesuai yang benar-benar di lihatnya. Bahwa saat dia sampai sana, Khun Wiset sudah meninggal. Dan dia kemudian di tembak oleh Khun Pa.
Chanat kemudian bertanya alasan Siriya pergi ke sana malam itu? Na terdiam, dia ingat tujuannya kalau dia ke sana untuk melakukan penawaran kepada Khun Wiset agar mengakui semua kejahatan Khun Pa dan dia akan memberikan bukti kejahatan Khun Wiset. Tetapi, tentu saja, Na tidak mengatakan alasan sebenarnya itu. Dia berbohong kalau dia ke sana untuk membujuk Khun Wiset agar menyerahkan diri.
“Apa benar hanya itu?” tanya Chanat memastikan.
“Ya. Hanya itu,” tegas Na.
Chanat mengerti dan berterimakasih atas waktu dan pernyataan Siriya.
Setelah Chanat pergi, Krit yang ada di sana dari tadi, langsung bertanya kenapa Na tidak mengatakan yang sebenarnya kepada Chanat? Dan mengenai dugaan kalau Khun Pa kemungkinan adalah orang yang 2 tahun lalu menembak Ya. Nuan membenarkan, dan menebak, apa Na tidak mengatakannya karena Khun Thi?
Krit bingung dan Nuan memberitahu permintaan Khun Thi kemarin agar Na tidak membahas mengenai kejadian 2 tahun lalu jika ada bukti. Krit bertanya, apa itu benar?
“Bukan seperti itu. Aku… aku rasa memberitahu polisi juga akan percuma jika Khun Pa tidak mengaku. Dan satu lagi, apa yang dikatakan Khun Thi beralasan. Jika kita tidak punya bukti, tidak seharusnya kita mengatakannya.”
Tetapi, Nuan masih terus menggoda Na yang sepertinya peduli pada Thi. Na berusaha mengalihkan dengan membahas ingin membereskan barang-barangnya untuk pulang. Krit mengaja Na untuk bicara berdua dengannya.
Mereka pergi keluar dan bicara empat mata. Krit ingin membahas mengenai Thi, dia merasa khawatir, dan mengingatkan Na agar tidak lupa alasannya masuk ke dalam keluarga Sutharak.
“Aku tidak akan lupa. Aku dan Khun Thi tidak akan pernah menjadi seperti yang kau khawatirkan. Dan Khun Krit, jangan lupa juga. Aku adalah Khun Siriya, istri dari abangnya.”
“Benar. Dan Khun Siriya sudah punya seseorang di hatinya. Meskipun orang itu sudah tidak bernapas lagi.”
“Misi kita adalah mencari kebenaran… seharusnya tidak melewati batas dan memasuki hati siapapun. Aku mengerti hal ini dengan baik.”
--

Na di antar pulang oleh Krit dan Nuan. Dan KhaoSuay langsung menyambutnya kepulangan Nuan dengan semangat. Thi melihat kepulangan Siriya, tetapi tidak menghampirinya. Dia teringat peringatan Khun Pawinee untuk ingat siapa Siriya itu.
Lert dengan panik menemui Thi dan bertanya, apa dia melihat Namneung? Thi tidak lihat. Lert tambah panik dan memberitahu kalau Namneung kabur dari rumah.
--

Namneung menemui Khun Pa di penjara. Khun Pa senang melihat Namneung.
“Kau masih ingat padaku? Aku kira setan telah merasuki hatimu hingga kau lupa, kalau kau masih punya putri.”
“Namneung, sayang!”
“Ibu, kenapa ibu membunuh ayah? Ibu kejam. Ibu membuat ayah ku meninggal!”
“Sayang. Namneung. Aku tidak ingin ayahmu meninggal.”
“Kau tidak ingin ayah meninggal? Lalu, kenapa kau membunuhnya? Kenapa kau membunuh ayah? Aku tidak akan pernah memaafkan ibu. Ibu pantas untuk gagal selama hidup ibu! Aku benci ibu!” kecewa Namneung dan menangis.
Khun Pa menangis melihat kebencian Namneung padanya. Chanat datang dan membawa Namneung keluar karena Namneung terus berteriak membenci ibunya.
--
Khun Pawinee cemas karena Namneung keluar. Thi melapor kalau dia sudah menelpon ke rumah Namneung, tetapi Namneung tidak ada ke sana. Lert datang bersama pembantu lainnya, mereka tidak bisa menemukan Namneung.
“Aku di sini, nenek,” ujar Namneung yang baru pulang. Dia di antar oleh Chanat.
Namneung memberitahu kalau dia pergi menemui ibunya. Khun Pawinee langsung antusias bertaya kalau Khun Pa mengaku tidak membunuh orang kan? Tetapi, reaksi Namneung diluar dugaan Khun Pawinee. Namneung berteriak kalau ibunya membunuh ayahnya dan pantas untuk di hukum. Dan Namneung langsung masuk kamar. Khun Pawinee langsung lemas.
Namneung di kamarnya, menangis. Dia mengingat kebaikan dan perhatian ayahnya selama ini. Dia benar-benar mencintai ayahnya.
--
Orn menghindangkan makanan untuk Khun Pawinee. Tetapi, Khun Pawinee tidak makan sama sekali dan berkata sudah merasa kenyang. Krit dan Khun Nat datang menemui Khun Pawinee dan memberitahu kalau mereka sedang mempersiapkan jaminan untuk Khun Pa agar bisa bebas. Khun Pawinee berterimakasih, dia ingin Khun Pa bisa bebas.
“Kita mungkin harus menghabiskan 2 juta untuk jaminan, ibu.” 
“Ya. Berapa banyak yang di perlukan, gunakan saja. Setidaknya, aku berharap dapat menolong Pa. Aku juga tidak percaya kalau Pa akan sampai seperti ini, hingga dapat membunuh orang. Aku tidak percaya!”
--

Khun Pa kembali di interogasi oleh Chanat. Chanat bertanya sejak kapan Khun Pa tahu mengenai perselingkuhan Wiset? Khun Pa ada ke condo dan menyerang Prawdta kan?
Khun Pa diam. Dia teringat kejadian di malam itu. Chanat kembali bertanya apa itu motif Khun Pa membunuh Khun Wiset? Khun Pa menangis.
Flashback
Dia membuka laci meja kerja Khun Wiset dan meraih pistol yang ada di sana.
“Kau berpikir untuk meninggalkanku dan meninggalkan putri kita, Khun Wiset? Hal itu tidak akan mudah.”
Khun Pa tiba di condo. Dia berdiri memegang pistol. Tubuh Khun Wiset terbujur kaku di lantai.
End
Chanat menanti jawaban Khun Pa.
“Ya. Aku orang yang membunuh Khun Wiset,” akui Khun Pa.

Support penulis hanya dengan membaca sinopsis ini (Khun Mae Suam Roy) di :
k-adramanov.blogspot.com. Terimakasih. Happy Reading.

1 comment: