Monday, December 10, 2018

Sinopsis Lakorn : The Gifted Episode 7 - part 3

0 comments


Network : GMM One



Korn dan Koi menjadi sangat dekat. Mereka bermain bersama. Mereka mendengarkan musik bersama. Mereka menghabiskan waktu bersama dari pagi hingga malam. Mereka melakukan berbagai hal bersama. Mereka bersenang- senang bersama.


Dan melihat Korn yang tampak sering tersenyum sendiri serta bahagia sekali, Claire pun merasa sedikit heran.


Dimalam hari. Saat Koi tertidur. Korn mendekati ingin mencium pipinya. Tapi tidak jadi, karena tidak ingin menganggu.


Koi membantu Korn mewarnai rambutnya. Dan Korn mengatakan bahwa jika mereka berdua mereka memiliki warna rambut yang sama, orang mungkin akan melihat mereka sebagai pasangan. Tapi sayangnya, karena Koi bukan murid berbakat, jadi dia tidak bisa mewarnai rambutnya.


Korn lalu menanyakan apa Koi memiliki pacar. Dan Koi membalas bahwa dia punya seorang teman perempuan yang selalu datang menyelamatkannya. Koi adalah anak orang miskin yang berakhir di sekolah kaya, karena bajunya lama dan terlihat lusuh, dia selalu dikerjai.

Tapi karena temannya ini menyelamatkannya, Koi jadi berpikir bahwa dia tidak kurang dari yang lainnya seperti yang dipikirkannya. Dan Korn menanyakan apa Koi lesbian.



“Itu yang kamu dapat dari ceritaku?” tanya Koi dengan kesal.

“Kalau begitu temanmu itu sekolah disini?”

“Tidak. Dia sekarang tidak sekolah dimanapun.”

Koi mengambil kontak lens dan memasangkan nya pada mata Korn. Lalu sesudah itu, mereka berdua saling tersenyum. Dan perlahan Korn mendekatkan wajahnya pada Koi, lalu dia mencium bibir Koi. Dan Koi tidak menolaknya.



Diruangan Bu Ladda. Disana Bu Ladda menanyakan apa Koi sedang menyelidiki kelas berbakat? Atau memacarai salah satu murid kelas berbakat? Dan Koi hanya diam saja.

“Mengecewakan. Jika aku adalah kamu, aku akan keluar dari klub. Aku tidak dapat menahan malu yang aku sebabkan sendiri,” kata Bu Ladda.

“Dunia ini tidak adil. Beberapa orang selalu mendapat apa yang mereka mau. Yang lain, bagaimanapun mereka berusaha, mereka tidak mendapatka apa yang mereka mau. Aku ingin menjadi jurnalis, karena aku percaya aku dapat membawa kebenaran dunia ini. hmm… aku pikir aku tidak bisa melakukannya,” cerita Koi.



Korn yang sedari tadi berada disana, dia meminta Koi untuk berbalik dan tersenyum. Namun dengan pesimis, Koi mengatakan bahwa dia tidak cantik dan berbalik memandang ke arah lain.

“Kata orang, perempuan itu cantik, ketika mereka jatuh cinta,” kata Korn. Dan Koi pun tersenyum.



2 hari menjelang ujian tengah semester. Didalam ruangan Guru Pom. Disana dia menasehati Korn bahwa dia tidak melarang Korn untuk pacaran atau mewarnai rambut, tapi dia ingin Korn tetap memikirkan apa yang penting sekarang ini.

“Orang yang memutuskan apa yang penting atau tidak. Itu adalah aku,” kata Korn.

“Apa masalahmu, Korn? Aku mencoba yang terbaik. Aku selalu berkata bahwa pekerjaanku disini adalah mendorongmu maju. Kenapa kamu tidak melihat hasil dari keahlianmu? Biarkan aku bertanya padamu dengan serius. Apa yang kamu lakukan hari ini?” tanya Guru Pom.

“Aku mencoba… “


Guru Pom langsung menasehati Korn yang telah mencoba menyembunyikan tentang potensinya selama satu bulan. Dan dengan emosi, Korn bertanya apa yang harus dilakukannya, apa dia harus bangga dengan potensi buruknya.

“Ini bakat atau kutukan?” tanya Korn. Dan Guru Pom memarahi Korn karena telah berpikir begitu, bukannya melihat dari sisi baiknya. Lalu dengan emosi, Korn pun keluar dari dalam ruangan.



Pang yang baru akan masuk ke dalam ruangan Guru Pom. Dia merasa heran, saat Korn keluar dengan marah. Dan lalu Pang menemukan foto Koi milik Korn yang terjatuh.



Dengan emosi. Korn mendekati Claire yang berada dikantin, dia menanyakan kenapa Claire memberitahu Guru Pom. Dan Claire menjelaskan bahwa Guru Pom sudah tahu lama tentang potensi Korn, dan Guru Pom hanya menanyakan detailnya saja padanya.

“Apa lagi yang kamu katakan padanya?” tanya Korn.

“Dia bertanya tentangmu dan gadis jurnalis itu,” jelas Claire.


Korn marah kepada Claire. Dan Claire membalas  bahwa gadis jurnalis itu tidak tulus dengan Korn. Namun Korn tidak mau mendengarkan dan pergi. Pang yang melihatnya, memanggil nya, tapi Korn tidak memperdulikannya dan berjalan pergi.



Didalam ruangan klub. Korn menjatuhkan semua barang diatas lemari dengan emosi. Dan melihat itu, Koi mendekatinya dan berjongkok didepannya. “Aku keluar dari klub. Aku tidak memerlukan apapun. Kecuali kamu,” kata Koi.

“Kamu ingin mengenalku lebih dalam, kan?” balas Korn. Dan dengan gugup, Koi tersenyum kecil.

Pang melihat dan mendengar pembicaraan itu dari luar ruangan klub.



Malam hari. Korn membawa Koi ke ruangan komputer. Disana Korn melakukan sesuatu dikomputer. Dan melihat itu, Koi mengatakan bahwa jika ini bisa membuat Korn dalam masalah, maka lebih baik Korn tidak perlu melakukannya.


“Mulai sekarang, tidak ada penghalang diantara kita,” kata Korn. “Siap?” tanya Korn lalu dia menekan tombol enter dan memperlihatkan sebuah video rekaman.

No comments:

Post a Comment