Sunday, December 16, 2018

Sinopsis Lakorn : The Gifted Episode 8 - part 4

0 comments


Network : GMM One

Flashback. Diatas atap.

Seorang guru dan Bu Ladda menahan Wipawee. Disana Bu Ladda memarahi Wipawee dan berniat untuk menhubungin polisi. Lalu disaat itu, Nicha datang dengan tertatih- tatih. Dan Bu Ladda pun menanyakan kenapa Nicha kesini, padahal seharusnya Nicha beristirahat.

“Aku harus melihatnya dihukum dengan mataku sendiri,” kata Nicha sambil menatap tajam kepada Wipawee.

“Nicha. Kembali ke UKS. Biar Ibu yang urus,” jelas Bu Ladda.


Dengan nada kebencian, Wipawee membuka suara. Dia mengatakan bahwa Bu Ladda tidak akan bisa mengurusnya, karena Bu Ladda tidak becus mengurus apapun. Bu Ladda hanya peduli pada murid pintar. Dan Bu Ladda tidak pernah peduli pada masalahnya. Kepadahal dia telah meminta bantuan berkali- kali, tapi Bu Ladda hanya diam saja.

“Hentikan! Kamu mau meracunin seluruh sekolah. Jangan berani- berani minta keadilan. Apa kamu masih punya rasa kemanusiaan?” hardik Bu Ladda dengan keras.


Wipawee yang awalnya berlutut, dia berdiri dan menunjuk dengan marah ke arah Nicha. “Manusia? Tanya si jalang itu, apa dia masih manusia. Aku tahu benar kamu itu apa. Kamu berdiri disini adalah bukti bahwa kamu monster!” teriak Wipawee pada Nicha.
  


Mendengar perkataan Wipawee yang mengatainya, Nicha menjadi sangat emosi. Dia bergerak untuk menyerang Wipawee. Dan Bu Ladda serta guru lain berusaha untuk menghentikannya. Tapi Nicha tidak mau berhenti, dan dia mendorong Wipawee jatuh ke bawah.

Sehingga Wipawee pun meninggal. Tapi melihat itu, Nicha sama sekali tidak tampak bersalah.



“Aku tidak peduli pendapatmu. Asal kamu tahu. Semua yang kulakukan adalah demi sekolah ini,” jelas Bu Ladda sambil menatap tajam Pang. Sesudah itu dia berbalik dan pergi.



Tepat disaat itu, Wave datang. Dia mendekati Pang dan mengatai Pang sebagai pecundang yang melakukan apapun untuk mengalahkannya. Dan Pang pun tidak mengerti, jadi dia bertanya.

“Kamu pikir aku bodoh? Aku tidak tahu apa potensimu. Tapi kamu mengalahkanku karena berbuat curang, kan?” tuduh Wave.

“Aku tidak curang,” balas Pang, jujur. Tapi Wave tidak percaya.

Wave menarik kerah baju Pang. Dan Ohm pun menarik Wave agar berhenti. Lalu disaat itu, walkie- talkie milik Pang terjatuh dari kantong, dan Wave langsung mengambilnya.

“Terserah kalau kamu tidak mau mengaku. Sebab aku ingin tahu, apa yang akan kamu minta dari Direktur,” kata Wave dengan tajam sambil mengembalikan barang milik Pang yang terjatuh. Setelah itu dia pergi.

Dan suasana pun menjadi canggung. Namtaan serta Ohm diam karena tidak tahu harus berkata apa. Lalu Pang pun pamit kepada mereka dan pergi.



Pang mengembalikan buku yang diambilnya di perpustakaan tadi. Kemudian disaat itu dia melihat foto Nicha tersenyum kepadanya. Dan kemudian, tiba- tiba saja terdengar suara Guru Pom memanggil namanya, sehingga Pang tersadar.

“Pang, Direktur sudah menunggu mu. Aku tahu kamu punya banyak pertanyaan. Tapi kamu berhak bicara kepada Direktur. Kamu bebas membahas apapun yang kamu mau,” jelas Guru Pom. Dan Pang mengiyakan.



Pang masuk ke dalam ruang rapat, dimana Direktur telah menunggunya. Disana saat Pang masuk ke dalam, Direktur langsung memujinya, karena beberapa tahun ini jarang ada yang menemukan poin special didalam kuis Gifted. Dan lalu Direktur menanyakan apa permintaan Pang.

“Belum ada. Tapi, aku ingin tahu, apa benar Nicha membunuh Wipawee?” tanya Pang dengan nada pelan.


“Pawaret. Kamu tahu kenapa aku memakai ujian ini tiap tahun? Sebab aku ingin kamu menyadari poin terpenting. Nicha tidak sengaja membunuh temannya. Berawal dari kecemburuan yang dimiliki siswa biasa terhadap siswa  Berbakat, itu adalah akar masalah. Jadi aku membuat sistem yang memisahkan siswa Berbakat dan siswa lemah. Aku melindungin anak- anak special dari bahaya,” jelas Direktur.
Pang menjelaskan bahwa dia merasa ini tidak akan terjadi, jika Bu Ladda atau sekolah memberikan perlakuan yang sama ke semua murid. Itu berawal dari Wipawee yang ditindas, hanya karena dia tidak sehebat Nicha. Jadi lingkungan semacam itulah yang akhirnya melahirkan kecemburuan.



“Aku jadi simpati padanya,” kata Pang. Dan Direktur menghela nafas.

“Pawaret. Aku paham maksudmu. Tapi cara berpikirmu sangat naif.”

Dalam Buddha, ada empat macam teratai. Sebaik apapun mereka diperlakukan, mereka yang inferior akan cemburu pada mereka yang superior. Jadi cara terbaik adalah memisahkan mereka dan memberi pelayanan terbaik. Itulah pendapat Direktur.

“Pelayanan terbaik? Menutupi kejahatan Nicha? Dia pembunuh!” kata Pang, dia merasa ini tidak adil sama sekali.

“Nicha siswa yang berharga. Apa hubungannya dengan keadilan? Masa depan Nicha jauh lebih berharga. Tidak akan kubiarkan hidup siswa Berbakat, dihancurkan oleh siswa Biasa,” balas Direktur dengan tegas.



Pang bertanya lagi, karena dia tidak terima dengan pemikiran Direktur. Dan dengan penuh penekanan, Direktur mengatakan bahwa anggap saja dia memberi kesempatan kepada orang yang layak mendapatkannya. Jadi jangan anggap sistem ini berlaku tidak adil. Dengan cara begini, Pang bisa mengembangkan potensinya lebih lagi, dan suatu hari Pang bisa memakai potensinya untuk memimpin orang- orang inferior ke masa depan.



Direktur lalu tersenyum dan mendekati Pang, kemudian dia berbicara di dekat telinga Pang. “Aku lupa. Aku memilihmu sebagai Ketua Kelas yang baru,” katanya. Kemudian dia memegang bahu Pang dan memberikan Pang perintah agar melupakan pembicaraan tadi, karena dia ingin Pang percaya kepada sistem dan membantu dia mengembangkannya.



Setelah mengatakan itu, Direktur melepaskan tangannya dari bahu Pang. “Kamu boleh pergi. Sampaikan ucapan selamat pada teman- temanmu,” jelasnya sambil berjalan mendekati pintu.

“Tidak,” balas Pang. Sehingga Direktur berhenti dan berbalik menghadap ke arah Pang. Dan dengan berani Pang balas menatapnya. “Aku tidak setuju,” tegas Pang.

“Apa maksudmu?”

“Aku tidak setuju dengan sistemnya. Aku tidak percaya seorang lebih berharga dari yang lain. Semua orang sama. Aku yakin kalau Bapak hanya peduli pada siswa Berbakat dan mengabaikan siswa biasa, maka semua akan semakin parah. Bapak tidak bisa terus- terusan memperbaiki yang rusak,” jelas Pang. Dan Direktur tampak terkejut.


Saat berjalan dilorong dan bertemu dengan Nack. Pang berhenti berjalan. Lalu Nack mendekatinya. Dan anehnya Nack bersikap biasa saja, dia mengatakan bahwa mereka sudah lama tidak pernah bertemu sejak Pang masuk ke dalam kelas Berbakat dan dia menanyakan kabar Pang.

Namun Pang hanya diam saja, dia menatap dengan tatapan bersalah pada bekas luka yang mulai hilang di dahi Nack. Lalu karena Pang hanya diam saja, maka Nack dan teman- temannya pun pergi.


Kemudian dengan penuh kekesalan, Pang mengepalkan tangannya dengan erat. Dia mengingat pembicaraan terakhir nya dengan Direktur tadi. “Jangan cemaskan hal itu. Aku punya banyak cara. Sistemku tidak bisa dihancurkan,” kata Direktur padanya sambil tersenyum.


Pang yang marah keluar sambil membanting pintu dengan keras. Kemudian setelah itu, Direktur mengambil walkie- talkie milik Pang yang berada diatas meja. “Aku tahu kamu menguping, Wasuthorn (Wave). Awalnya aku menaruh harapan tinggi padamu. Tapi pada akhirnya, potensimu tidak ada kemajuan. Aku sangat kecewa padamu. Kupikir, kamu lebih baik dari ini. semoga kamu tidak mengecewakanku lagi,” kata Direktur sambil tersenyum.



Didalam kamar. Saat Direktur telah selesai bicara kepadanya. Wave langsung melepaskan headset nya dan membanting semua barang di dalam kamarnya dengan perasaan marah. Dan kemudian Wave berteriak, dia meneriakan rasa frustasi dan marahnya.

No comments:

Post a Comment