Sunday, December 16, 2018

Sinopsis Lakorn : You Are Me episode 20 – 2

0 comments

Sinopsis Lakorn : You Are Me episode 20 – 2
Images by : Channel 3
sinopsis di tulis oleh : Chunov (nama samaran) di blog k-adramanov.blogspot.com

Khun Pa entah kenapa sebelum pergi dari rumah sakit, mampir sekali lagi ke kamar rawat Thi. Dan saat itulah dia mendengar pembicaraan Thi dan Siriya mengenai bukti penggelapan dana perusahaan yang di lakukan Khun Pa dan Khun Wiset, dimana butki itu sekarang di simpan oleh Siriya. Di tambah lagi Thi berencana memberitahu hal ini pada Khun Pawinee.
Khun Pa ketakutan. Dia menutup pintu kamar Thi dengan perlahan dan kemudian kabur dari sana. Hatinya cemas. Dia segera menelpon Khun Wiset, tetapi tidak di angkat. Hal ini membuatnya semakin cemas, jengkel dan marah.
--
Khun Wiset menemui Khun Chukiat. Dan Khun Chukiat langsung marah, karena sebelumnya dia sudah memperingati agar Khun Wiset berhati-hati. Dan jangan sampai ada bukti yang mengarah padanya. Jika ada, para polisi pasti tidak akan melepasnya dengan mudah. Khun Wiset hanya bisa meminta maaf.
“Jangan minta maaf. Aku ras akau sebaiknya pergi bersembunyi ke luar negeri sementara ini. Tunggu sampai aku menyelesaikan masalah di sini, baru kau kembali. Aku rasa sebaiknya kau pergi malam ini juga.”
“Malam ini juga? Tapi bagaimana aku membuat alasan pada keluargaku?”
“Itu urusanmu. Dan jika kau begitu khawatir pada keluargamu dan tetap ingin tinggal hingga tertangkap. Itu terserah padamu. Tapi biar ku katakan lebih dulu, aku tidak akan pernah menolongmu! Dan jika kau menyalahkanku, kau dan keluargamu… akan mati!”
Khun Wiset tahu kalau ancaman Khun Chukiat adalah serius.
--

Khun Pa menyelinap masuk ke kediaman Siriya. Dia masuk ke kamar Siriya dan mulai menggeledah mencari bukti yang di simpan oleh Siriya mengenai penggelapan dana yang dilakukannya bersama Khun Wiset.
Tapi belum sempat dia mencari, terdengar suara Nuan yang bernyanyi masuk ke kamar Siriya untuk membersihkan. Khun Pa langsung berlari dan bersembunyi di kamar mandi, untungnya dia tidak ketahuan. Tetapi, sebelum keluar kamar, Nuan sedikit heran melihat laci meja yang terbuka, tetapi dia tidak ambil pusing dan langsung keluar kamar lagi.

Khun Pa langsung keluar dari kamar mandi dan mulai menggeledah lagi. Dia tidak menemukan apapun, terakhir dia melihat kursi roda Siriya dan memeriksa. Sangat beruntung, dia menemukan sebuah flashdisk yang tersembunyi di pegangan kursi roda. Khun Pa langsung memeriksa isi flashdisk tersebut dengan tablet-nya, dan isinya adalah dokumen penggelapan dana tersebut. Dia tampak panik.
Saat keluar rumah, dia bertemu dengan Khun Pawinee. Dan jelas saja, Khun Pawinee kaget melihat kedatangan Pa, dan bertanya ada urusan apa Pa kemari? Pa menjawab dengan ketus kalau ini kan rumahnya juga, jadi dia kan boleh datang.
Khun Pawinee menasihati Pa untuk tidak ikut campur urusan keluarga orang lain terus, lebih baik Pa pulang ke rumah dan mengurusnya keluarganya sendiri. Khawatirkan suaminya, bisa – bisa dia selingkuh.
“Tidak mungkin. Khun Wiset tidak sama seperti Ayah ataupun Khun Pipop. Khun Wiset mencintaiku. Mencintai keluarga. Jadi tidak mungkin dia marah padaku.”
Khun Pawinee tidak peduli kalau Pa tidak mau mendengarkannya. Sekarang dia mau pergi ke rumah sakit dulu karena ada sesuatu yang ingin di bicarakan Thi padanya. Khun Pa jadi panik, takut kalau Thi hendak memberitahu mengenai penggelapan dana yang di lakukannya.
“Ibu, apapun yang Thi katakan, jangan percaya. Tolong tunggu dan dengarkan penjelasan dariku dan Khun Wiset terlebih dahulu.”
“Kenapa? Apa yang terjadi?”
“Aku mohon, ibu. Jika ibu masih menganggapku sebagai putrimu, beri aku kesempatan sekali lagi. Nanti aku akan datang menemui ibu lagi bersama Khun Wiset. Dan menjelaskan segalanya padamu. Okay?” mohon Khun Pa dan langsung pergi.
Khun Pawinee benar-benar bingung melihat tingkah putrinya tersebut.
Karena keluar rumah terburu-buru, Khun Pa tanpa sengaja bertabrakan dengan Nuan dan menjatuhkan flashdisk-nya. Dia segera mengambil flashdisk itu, meminta maaf dan lari pergi. Nuan sempat melihat flashdisk tersebut dan ingat kalau itu adalah flashdisk yang di tunjukkan Na padanya, yang berisi segala bukti penggelapan dana Khun Wiset dan Khun Pa. Nuan langsung berlari panik ke kamar Siriya dan memeriksa pegangan kursi roda, tidak ada.
Dia panik dan langsung menelpon Na. Na jelas terkejut karena bukti mereka telah di curi oleh Khun Pa. Thi sudah dapat menduga kalau Khun Pa pasti akan segera membuat pergerakan.
“P’Nuan, apa kau tahu Khun Pa hendak kemana?” tanya Na. “Okay, terimakasih.”
Dan ternyata Nuan tidak tahu kemana Khun Pa. Thi menebak kalau Khun Pa pasti pergi ke kantor untuk menemui Khun Wiset, jadi dia akan menelepon P’Nat untuk tanya apa P’Pa ada ke kantor.
Khun Nat memberitahu kalau Khun Pa belum ada ke kantor, dan dia akan memeriksa ruangan Wiset. Saat dia menuju ruangan Khun Wiset, dia berpas-pasan dengan Krit. Krit memberitahu kalau Siriya menelponnya tadi, dan dia langsung pergi ke dept. pembelian, tetapi Khun Wiset tidak ada di kantor. Menurut orang kantor, Khun Wiset sibuk dengan masalah mendadak, jadi tidak akan ke kantor seharian.
Thi mencoba menelpon Khun Pa, tetapi tidak masuk. Na menyarankan untuk menelpon Namneung. Thi langsung menelpon Namneung.
Namneung sedang di rumah dan bermain game dengan Chet. Dia menerima telepon dari Thi. Setelah mendengar pertanyaan Thi, Namneung langsung memberitahu kalau khun Wiset sibuk dan tidak akan pulang hari ini. Sementara Khun Pa akan menginap di rumah Khun Pawinee. Usai memberitahu itu, dia menutup telepon. Namneung sempat merasa aneh karena Thi menelpon untuk menanyakan ayah dan ibunya.
Thi memberitahu Siriya jawaban Namneung tersebut.
“Sebenarnya, bukti yang di ambil Khun Pa, sudah di simpan di komputer juga (ada back-up). Jadi kita masih punya bukti untuk menangkap mereka,” beritahu Na.
“Sekarang ini, aku bukan takut dengan bukti yang hilang. Tapi aku takut akan ada orang yang hilang (mati)!”
Khun Pawinee datang ke rumah sakit. Dia langsung memberitahu Thi kalau Pa berbicara aneh padanya, jadi pasti ada sesuatu yang terjadi kan?
“P’Pa dan Khun Wiset bekerja sama untuk menggelapkan dana perusahaan. Dan mereka melakukan transaksi bisnis untuk menghindari pajak.”
“Huh?!” kaget Khun Pawinee. “Pa!!! Pa!!!”

Na yang sadar situasi, pamit keluar dulu untuk memberi waktu Khun Pawinee bicara dengan Thi. Setelah Siriya keluar, Khun Pawinee langsung bertanya, sudah berapa lama hal itu di lakukan? Thi menjawab sekitar 3 tahun yang lalu, tapi dia baru tahu juga. Khun Pawinee jelas marah karena Thi tidak memberitahunya lebih cepat.
“Aku ingin mengumpulkan semua bukti dulu agar yakin apa P’Pa terlibat dalam penggelapan dana ini  atau tidak. Dan… aku memberitahumu hari ini,” jelas Thi.
“Terakhir kali Pa berbuat masalah, walau serius apapun, aku sebagai ibu, menerima apapun yang anakku lakukan selama ini. Tapi kali ini, ini masalah yang sangat serius lebih dari yang ku bayangkan. Dia menggelapkan dana perusahaan. Menyerahkan perusahaan kita ke saingan (berkhianat). Mengkhianati ku! Mengkhianati Sutharak! Mengkhianati semua orang!”
“Aku juga tidak ingin percaya dengan semua ini. Tapi sekarang, kita sudah mempunyai bukti lengkapnya. Kita tinggal menyerahkannya ke kantor polisi. Tapi sebelum itu, aku ingin berkonsultasi dulu dengan ibu. Karena bagaimanapun, Khun Wiset dan P’Pa adalah anggota keluarga kita.”
“Anggota keluarga tidak akan berbuat seperti ini. Kau terus lakukan, apapun yang kau rasakan benar! Lakukan saja!”
“Baiklah, Mae’Yai. Tapi masalahnya sekarang, P’Pa dan Khun Wiset sudah tahu kalau kami punya bukti. Aku takut mereka akan kabur.”
“Mereka tidak akan berani kabur. Pa sudah bilang padaku akan menemuiku malam ini bersama dengan Wiset. Dia mungkin datang untuk mengaku seperti saat terakhir kali dia berbuat salah. Tapi sekarang, bahkan jika dia memohon seperti apapun, aku tidak akan kasihan padanya. Ini sudah saatnya untuk dia belajar atas kesalahannya!”
--
Khun Pa masih mencari Wiset. Dia menelpon ke Praw, sekretaris Khun Wiset dan bertanya dimana Khun Wiset.
“Aku tidak tahu. Khun Wiset bilang hari ini dia sibuk kerja dan tidak akan datang ke kantor seharian. Khun Pa, apa ada masalah?”
“Tidak. Tidak ada. Kalau kau sudah berhasil menghubungi Khun Wiset, suruh dia untuk segera pulang. Ada hal penting!”
Khun Pa benar-benar panik karena Khun Wiset tidak di ketahui ada dimana. Apalagi dia tidak bisa menelpon Khun Wiset.
Dimana Khun Wiset?
Dia ada di tempat Praw. Praw telah berbohong tadi. Dia bertanya pada Khun Wiset, apa yang terjadi? Khun Wiset tidak menjawab, dia masih memikirkan ancaman Khun Chukiat padanya tadi. Praw menuntut jawaban, apa yang terjadi? Ponsel Khun Wiset terus berbunyi, telepon dari Khun Pa.
“Tiba-tiba saja ada perusahaan di luar negeri yang memberikan proposal menarik untuk ST Super Car. Aku harus ke sana malam ini juga,” beritahu Khun Wiset. “Aku sudah memutuskan untuk pergi malam ini juga. Aku akan mempacking barangku secepatnya dan tinggal bersamamu malam ini,” ujar Khun Wiset.
Praw jelas bingung, tetapi Khun Wiset sudah keluar dari condo-nya. Ponsel Khun Wiset tertinggal, jadi Praw keluar dan mengejarnya untuk memberikan ponsel Khun Wiset. Dia meminta Khun Wiset untuk memberitahunya jika ada masalah,  jangan memendamnya karena dia akan selalu ada untuk Khun Wiset.
Khun Wiset langsung memeluk Praw dan berterimakasih karena Praw selalu ada di sisinya selama ini. Dia akan segera pulang dan kembali lagi nanti.
Sial!! Khun Pa ternyata datang ke condo Praw dan melihat hal itu. Suaminya ternyata berselingkuh. Air matanya menetes.
Khun Pa langsung menemui Praw, dan Praw kaget, bagaimana Khun Pa bisa ke sini? Khun Pa menunjukkan ponselnya, ternyata ada GPS sepertinya yang di pasang di ponsel Khun Wiset. Praw masih bersikap sok polos, tidak tahu apa yang terjadi. Hal itu semakin menyulut emosi Khun Pa, dia marah karna Praw sudah berselingkuh dengan suaminya.
Praw ketakutan dan masih berani berbohong kalau dia tidak berselingkuh. Tetapi, Khun Pa tidak percaya. Akhirnya, Praw mengaku kalau Khun Wiset yang merayunya terlebih dahulu. Jika mau marah, marah saja sama Khun Wiset.
“Jangan mengajariku. Sebelum aku mengurus Khun Wiset, aku akan mengurus mu duluan!”
Dan Khun Pa langsung menampar dan memukuli Praw. Praw menjerit kesakitan dan ketakutan.
--
Namneung sedang bermain billiard bersama dengan Chet. Dan ketika dia mendengar suara mobil Khun Wiset, Namneung langsung panik dan menyuruh Chet untuk bersembunyi. Khun Wiset pergi ke kamar Namneung. Dia memberitahu kalau ada masalah mendesak, jadi dia harus keluar negeri. Jadi, tolong Namneung beritahu Pa juga.
“Neung, kau tahu kan, ayah mencintaimu. Apapun yang terjadi, percaya padaku. Segala yang ku lakukan, itu semua ku lakukan untukmu.”
“Apa ada yang terjadi Ayah?”
“Janji padaku, Neung.”
“Ya, aku berjanji. Tapi… Ayah tidak sedang dalam masalah kan?”
“Tidak, putriku. Jaga dirimu baik-baik. Ayah akan segera pulang.”
Khun Wiset langsung masuk ke kamar, dan Namneung benar-benar bingung dengan kelakuan ayahnya.
--

Na pergi ke kediaman utama, dan di sana sudah ada Khun Pawinee dan Khun Nat. Khun Pawinee langsung tanya, mau apa Siriya?
“Aku juga ingin membicarakan sesuatu dengan Khun Pa.”
“Ini bukan urusanmu. Ini masalah keluarga.”
“Mengenai masalah Khun Pa dan Khun Wiset yang menggelapkan dana, itu tidak ada hubungannya denganku. Tapi, aku punya hal lain yang harus ku selesaikan dengannya juga.”
“Hal apa?” tanya Khun Nat.
“Mengenai orang yang menembakku hingga aku lumpuh. Orang yang memotong rem minyak mobil Khun Krit. Dan juga orang yang mencoba membunuhku di tempat parkir.”
“Kau mau bilang kalau itu semua adalah perbuatan Pa?” tanya Khun Pawinee.
“Aku akan membuatnya mengaku. Dan dia harus mengakui semua perbuatannya, tidak hanya mengenai penggelapan dana perusahaan.”
“Kau kira orang seperti Pa akan dengan mudah mengaku? Dia datang hanya untuk menjelaskan mengenai penggelapan dana perusahaan karena kami punya bukti kuat untuk menangkapnya. Tapi mengenai masalahmu, kau bahkan tidak punya bukti!” ujar Khun Nat.
“Benar. Jangan bertingkah!” peringati Da. “Cari bukti dulu. Lalu tangkap pelakunya. Yang kita tidak tahu apa dia benar-benar ada atau tidak.”
Na jelas kesal. Dia meminta agar mereka semua bisa sadar dan menerima kalau ada anggota keluarga Sutharak yang menjadi pembunuh. Kenapa mereka masih harus bertingkah seperti itu bukan urusan mereka? Khun Pawinee angkat bicara, dia meminta bukti kalau Pa adalah pelakunya. Jika ya, tangkap Pa, dia tidak akan menghalangi. Dia akan bersikap adil.

Support penulis hanya dengan membaca sinopsis ini (Khun Mae Suam Roy) di :
k-adramanov.blogspot.com. Terimakasih. Happy Reading.


 

No comments:

Post a Comment