Wednesday, December 12, 2018

Sinopsis Lakorn : Trabab See Chompo (Pink Sin) Episode 02 – 1

8 comments

Sinopsis Lakorn : Trabab See Chompo (Pink Sin) Episode 02 – 1
Images : Channel 3
Khun Nai membawa Khun Sa dan Kiew masuk ke dalam rumah. Dan hal ini membuat Peat semakin emosi. Ibunya baru di kremasi dan ayahnya sudah membawa istri baru ke rumah?! Dia tidak bisa menerima hal itu. Khun Nai meminta Peat agar mendengar penjelasannya terlebih dahulu. Tetapi, Peat menolak, dia tidak perlu mendengar alasan Khun Nai, karena melihat Khun Sa saja itu artinya ayahnya sudah berselingkuh dari ibunya sejak ibunya masih hidup!
“Tidak heran. Pantesan ayah tidak peduli pada Ibu! Dan wanita itu (Kiew), apa dia buah hati kalian?!” marah Peat.
“Tidak,” jawab Kiew cepat.
“Ibu mu sangat menakjubkan. Dia punya banyak suami!”
“Jangan menghina ibuku!” marah Kiew dan bangkit berdiri.
Khun Nai berusaha mencegah agar tidak terjadi pertengkaran. Dia menyuruh Peat untuk marah padanya saja, karena hal itu pantas. Tapi Peat tidak punya hak untuk menghina Khun Sa.
“Aku tidak akan menghina ibunya. Sebaliknya, aku akan menghina putrinya saja. Gimana? Kau ingin jadi apa kalau sudah lulus? Menjadi seperti ibumu? Ketika suaminya sudah mati, berhubungan dengan orang lainnya. Sungguh mudah dapat uang ya!”
Dan Khun Nai tidak lagi mentolelir sikap Peat. Dia langsung menampar Peat dengan sangat keras. Khun Sa kaget dan menyuruh Khun Nai untuk tidak memukul putranya sendiri. Khun Nai berteriak pada Peat agar mendengar penjelasannya dulu baru bicara. Peat tidak mau karena mau apapun yang Khun Nai katakan, pasti hal itu menurut Khun Nai adalah benar, sekalipun salah. 
“Kau mau dengar atau tidak?” teriak Khun Nai.
“Tidak mau!”
“Tidak usah dengar kalau gitu. Aku juga tidak peduli bagaimana perasaanmu. Mulai dari sekarang, mereka akan tinggal di sini. Di rumah ini. Dan kau harus menghormati mereka. Ini adalah perintah!”
Khun Sa dan Kiew terdiam, tidak tahu harus merespon atau bersikap seperti apa melihat pertengkaran ayah dan anak tersebut. Peat mengerti, dia tidak akan melarang mereka tinggal.
“Silahkan tinggal di sini, jika kau bisa menahannya!” peringati Peat pada Khun Sa dan Kiew. Setelah itu, dia langsung pergi ke kamarnya di lantai atas.
Di dalam kamar, Peat mengambil sapu tangan Kiew yang di simpannya di dalam laci mejanya. Dengan penuh amarah, Peat melempar sapu tangan tersebut ke lantai dan menginjaknya setelah itu dia langsung melemparnya ke dalam tong sampah. Dia benar-benar marah!
Khun Nai meminta maaf atas sikap Peat pada Khun Sa dan Kiew. Khun Sa meminta Khun Nai untuk tidak minta maaf, dia dapat mengerti alasan Peat seperti itu. mungkin Peat terkejut karena mereka tiba-tiba muncul. Kiew bertanya, apa Khun Nai tidak memberitahu Peat sebelumnya?
“Aku jarang bertemu dengannya. Jadi, aku tidak tahu bagaimana cara memberitahunya.”
“Tidak heran dia sangat terkejut. Terlebih lagi dia anak bermasalah. Itulah kenapa hal ini menjadi masalah besar baginya,” komentar Kiew.
Mendengar komentar Kiew, Tee yang ada di sana jelas heran. Apa Kiew mengenal Peat sebelumnya? Kiew memberitahu kalau dia dan Peat kuliah di tempat yang sama. Khun Nai kemudian meminta Kiew untuk tidak marah pada Peat, anggap saja itu kesalahannya karena tidak berbicara baik-baik padanya dari awal.
“Aku marah!” tegas Kiew, dan membuat kaget Khun Sa dan Khun Nai. Mereka tidak menduga jawaban tersebut. “Tapi aku juga dapat mengerti. Dia tidak tahu kenapa kami ke sini. Jika dia sudah tenang dan mau mendengarkan, dia mungkin akan mengerti.”
Khun Nai tersenyum mendengar perkataan Kiew. Dia memuji Khun Sa yang membesarkan Kiew dengan baik hingga dapat sedewasa ini, sangat berbeda dengan Peat. Khun Sa tersenyum dan mengatakan kalau Peat seperti itu mungkin karena Khun Nai jarang menghabiskan waktu bersamanya dan tidak memberikan Peat cinta dan kasih sayang yang dia inginkan.
Khun Nai membenarkan perkataan Khun Sa, selama ini memang ada jarak antara dia dengan Panee (mendiang istrinya) dan Peat.
“Tapi sekarang belum terlambat. Jika kau menjaganya, memberikan waktu dan perhatian padanya, dia akan menjadi pria baik. Tidak akan melawan dan menilai negatif terhadap hal – hal yang kau lakukan. Dan yang lebih penting, dia akan yakin kalau tidak akan ada siapapun yang dapat menggantikan posisi ibunya, atau mencuri cintamu darinya,” saran Khun Sa.
Khun Nai tersenyum mendengar saran itu. Dia menyuruh Khun Sa dan Kiew untuk tinggal dengan nyaman di rumah ini, dan mengenai Peat, dia yang akan mengurusnya.
Taeng dengan ketakutan masuk ke dalam kamar Peat. Dia membawakan minuman dan makanan untuk Peat, dan dia juga menyarankan Peat agar makan dulu jadi hatinya bisa tenang. Peat mendekat padanya, dan Taeng jadi panik. Dia mengira Peat hendak membanting makanan. Ternyata tidak, Peat hanya tanya apa Taeng sudah melihat istri baru ayahnya?
“Sudah. Istrinya sangat cantik. Dan anaknya sangat manis,” jawab Taeng.
“Aku bukan suruh kau memuji mereka!” marah Peat. “Pergi sekarang dan lihat apa yang mereka lakukan. Setelah itu, laporkan padaku!”
Taeng hendak menolak, tetapi Peat melotot padanya hingga Taeng ketakutan. Dia akhirnya setuju untuk pergi memantau dan meninggalkan makanan yang di bawanya di atas meja.

Khun Nai membawa Khun Sa dan Kiew melihat kamar. Dia sudah menyiapkan sebuah kamar untuk Kiew. Kiew memuji kamar itu yang cantik, tapi terlalu bersar baginya. Khun Nai dengan lembut menyuruh Kiew menerima kamar itu, karena Kiew bukanlah tamu tetapi anaknya juga. Kiew sedikit canggung, tetapi dia tetap berterimakasih.
Taeng diam-diam mengintip. Tetapi ketahuan oleh Khun Nai. Dan Khun Nai memerintahkannya untuk membawa koper dan barang Kiew di lantai bawah ke atas. Kiew langsung menyuruh Taeng untuk tidak melakukannya, dia bisa melakukannya sendiri.
Usai itu, Khun Nai membawa Khun Sa ke kamar mereka. Dia menyuruh Khun Sa untuk masuk ke dalam dan melihat kamar itu.
“Aehh… tidur di kamar yang sama dengan Tuan. Bahkan Nyonya saja (ibu Peat) tidak pernah tidur di sana,” gumam Taeng melihat hal itu. “Jika Khun Peat tahu hal ini… rumah ini pasti hancur!” merinding Taeng.
Dan ketika dia berbalik, Peat sudah ada di sana. Peat mengepalkan tangannya dengan kuat, menunjukkan seberapa marah dirinya.
--
Khun Nai, Khun Sa dan Kiew sarapan bersama. Mereka sudah tampak seperti keluarga. Khun Nai menanyakan mengenai pekerjaan paruh waktu Kiew, dan Kiew memberitahu kalau dia bekerja di cafe kopi.
“Kamu yakin tidak ingin ku bantu?”
“Ya. Merepotkan Anda dengan biaya medis ibuku saja sudah lebih dari cukup,” jawab Kiew. “Dan daripada mengumpulkan uang, aku melakukan pekerjaan paruh waktu ini juga karena ingin belajar cara membuat kopi dan minuman lainnya. Ini untuk meningkatkan pengetahuanku sesuai dengan yang ku pelajari.”
“Sangat rajin. Tidak seperti Peat. Dia tidak rajin dan tidak punya rasa tanggung jawab. Tetapi untungnya dia pintar,” komentar Khun Nai.
Khun Nai bahkan menawarkan untuk mengantar Kiew ke tempat kerjanya. Tetapi, Kiew menolak, dia bisa pergi sendiri, dan juga dia ingin hidup seperti cara hidupnya dulu. Dia tidak ingin mengganggu Khun Nai. Khun Nai mengerti, tetapi jika Kiew perlu apapun, jangan sungkan untuk meminta padanya.
Usai berbincang, Khun Nai baru nanya ke Taeng, kenapa Peat belum turun juga untuk makan? Taeng kebingungan menjawabnya.
“Aku sangat senang. Ayah menanyakanku,” ujar Peat dari sudut tangga.
Peat hendak keluar tanpa sarapan karena dia tidak ingin melihat wajah para ‘lintah’. Khun Nai langsung menegur sikap Peat tersebut. Tetapi, Peat terus menghina Khun Sa dan Kiew yang pasti mengincar harta ayahnya. Khun Nai capek berdebat dan menyuruh Peat untuk tidak bergabung makan kalau tidak mau.
Peat malah lebih marah. Dia berjalan ke meja makan, dan membalik piringnya yang sudah di siapkan sebelumnya. Isi piring tumpah dan Peat dengan marah berkata kalau dia memang tidak mau sarapan.
Khun Nai marah melihat sikap Peat dan hendak mengejar Peat. Tetapi, Khun Sa menghalangi. Tidak baik jika Khun Nai bicara saat sedang emosi. Tidak usah khawatir pada Kiew dan dirinya, karena mereka masih bisa menolerir hal itu.
Kiew siap sarapan dan hendak berangkat kerja paruh waktu. Peat ternyata belum pergi, dia diam-diam mengikuti Kiew dari belakang untuk mengetahui tempat kerja paruh waktu Kiew. Dia merencanakan sesuatu.
--

Di tempat lain,
Kris sedang memperlihatkan salah satu menu di café yang akan di bukanya pada Chaya dan Khata. Nama menu itu adalah Inferno Mountain, dimana di letakkan cairan yang membuat api biru dan membuat makanan di dalamnya matang. Katha sangat kagum dan memuji rasannya yang sangat enak. Chaya kemudian bertanya, kapan café Kris akan di buka? Apa lagi yang kurang?
“Kurang dukungan moral. Chaya, dapatkah kau memberikannya padaku?”
“Tentu saja!”
Dan Katha langsung berdeham memberi tanda kalau dia ada di sana. Kris tersenyum, dan memberitahu kalau persiapan pembukaan cafenya sudah mencapai 90 %. Dan dia masih harus memeriksa supllier dan masih kekurangan staff pelayan dan chef.
Chaya bertanya kenapa Kris tidak meminta bantuan dari orang-orang di perusahaan utama? Kris menjelaskan kalau café ini dia dirikan sendiri dan sudah melarang ibunya untuk membantu, dan bahkan dia meminjam uang untuk membuka café ini. Katha memuji Kris yang keren.
Pas sekali, Peat menelpon Katha. Katha langsung menduga kalau Peat pasti lupa janji pertemuan mereka hari ini kan? Peat menjawab tidak, tetapi dia menyuruh Katha dan yang lain untuk datang menemuinya di cafe kopi sekarang. Katha serta yang lain jelas bingung, apalagi suara Peat sangat serius.
Tidak lama semua sudah berkumpul. Dan Peat langsung masuk ke dalam cafe kopi tersebut. Katha sampai heran dan bertanya pada Kris, apa kopi di café ini sangat enak sampai Peat meminta mereka ke sini?
“Aku rasa ada alasan lain yang membuat Peat ingin ke sini,” jawab Kris saat melihat ada Kiew di sana.
Peat menemui Kiew yang berada di balik kasir. Kiew jelas tidak suka melihat kehadiran Peat, tetapi dia mencoba tetap profesional dengan menanyakan pesanan Peat.
“Aku ingin orang yang sedang jualan sekarang! Kau jual atau tidak?”
“Peat, kau keterlaluan,” tegur Kris.
“Tempat ini menjual kopi, minuman dan juga dessert. Jika kau ingin yang lain dari itu, silahkan ke café lain saja,” tegas Kiew.
Peat berkata kalau dia hanya bercanda. Dan dia menyuruh Kris, Chaya, dan Katha saja yang pesan, pesan yang banyak dan dia yang akan bayar. Setelah itu, Peat membayar pesanan tersebut dan menyuruh Kiew untuk menyimpan saja kembaliannya. Dan juga dia ingin semua pesanan tadi di antarkan oleh Kiew sendiri ke meja mereka. Kiew dengan profesional menyuruh Peat untuk menunggu.
Setelah pesanan Peat dkk siap, Kiew menyemangati dirinya sendiri untuk mengantar pesanan tersebut. Saat dia  sudah menghidangkan pesanan itu, Peat meminta di bawakan air putih. Kiew mengerti dan meminta untuk menunggu sebentar.
“Jadi, kau datang ke sini untuk dia (Kiew) atau kopi?” tanya Chaya dengan kesal.
“Apa?” bingung Peat.
“Aku tahu kalau kau tertarik pada gadis itu!”
“Kau berpikir berlebihan. Aku datang untuk minum kopi.”
Tetapi Chaya tetap tidak percaya. Dan Kris bahkan bertanya apa sebenarnya yang hendak Peat lakukan?

Pas sekali, Kiew datang dan mengantarkan minuman. Saat dia mau pergi, Peat menyuruhnya berhenti. Kiew berusaha sabar dan bertanya apa lagi yang Peat perlukan? Peat langsung bangkit berdiri sambil bertepuk tangan dengan keras dan menarik semua perhatian pengunjung café.
“Ibu dari wanita ini berselingkuh dengan ayahku!” ujar Peat dengan suara keras. Dan membuat semua pengunjung dan pegawai café menjadi tertarik. Jelas, Kiew merasa malu. “Ibuku baru saja di kremasi beberapa hari yang lalu, dan ayahku sudah membawanya ke rumahku. Super! Berhenti sekolah saja. Ibumu kan sudah memberi contoh cara mendapat pria kaya yang bodoh. Dan kemudian kalian akan hidup dengan nyaman. Ngapain kau masih            mau susah-susah?”

Kiew benar-benar marah hingga dia memaki dan melempar cake yang ada di meja Peat ke muka (lebih tepatnya pipi) Peat dan juga melempar minuma ke baju Peat. Dia menyuruh Peat untuk sadar.

Manager yang melihat kekacauan itu segera mendekat dan meminta maaf. Peat tidak mau dan berteriak menyuruh manager untuk memecat Kiew  atau dia akan menuntut. Chaya tersenyum sinis melihat kebencian Peat pada Kiew.

Akhirnya, Kiew di pecat oleh manager itu. Manager meminta maaf pada Kiew karena harus memecatnya, walaupun Peat yang memulai duluan, tetapi Peat tetap adalah pelanggan. Seharusnya, Kiew bisa lebih bersabar. Kiew menjelaskan kalau dia tidak bisa sabar karena Peat telah menghina ibunya di hadapan banyak orang. Dan dia yakin kalau Peat sengaja membuatnya marah dan merencanakan ini dari awal. Manager menjelaskan kalau dia tidak bisa menilai ataupun berkomentar mengenai masalah pribadi Kiew dan Peat, dia hanya menilai berdasarkan yang terjadi dalam pekerjaan. Kiew mengerti, walau dia merasa sedih telah di pecat.
--
Chaya membantu membersihkan krim kue dari muka Peat. Dan Kris langsung to the point berkata kalau Peat pasti sengaja melakukan itu agar Kiew di pecat. Peat membenarkan. Dan Chaya membela Peat, kalau Kiew memang pantas di pecat.
“Pelanggan itu Tuhan (aisshh… noh nonton Feels Good to Die, di salah satu episodenya kan ada itu di bilang kalau pelanggan itu memang telah membayar. Tetapi, yang di bayar si pelanggan itu untuk makanan dan pelayanan yang telah di berikan. Nggak ada tuh si pelanggan bayar uang yang mengizinkan dia boleh merendahkan pelayan ataupun menghina). Walau semarah apapun dia, dia harus menahannya. Sebenarnya, dia itu juga salah.  Dia tidak tahu cara mengontrol emosi-nya,” komentar Chaya.
“Chaya, jika kau di hina hingga ke ayah dan ibumu, apa kau masih bisa tahan?” tanya Kris balik.
“Tapi, aku tidak akan pernah menjadi pegawai siapapun,” jawabnya dengan sombong. “Aku akan marah dan mau segila apapun aku, aku akan selalu benar!”
“Kau terlalu membelanya.”
Katha berusaha mengambil alih agar Kris dan Chaya tidak bertengkar. Katha menasehati Peat untuk bicara pada Khun Nai, karena pasti ada alasan di balik yang di lakukannya. Tetapi, Peat tidak mau dan malah marah. Dia bertekad akan membuat Khun Sa dan Kiew keluar dari rumahnya!


8 comments: