Monday, December 31, 2018

Sinopsis Lakorn : Trabab See Chompo (Pink Sin) Episode 05 – 2

6 comments

Sinopsis Lakorn : Trabab See Chompo (Pink Sin) Episode 05 – 2
Images : Channel 3
Peat menyendiri di tempat sepi. Dia ingat perkataan Kiew kalau dia adalah penyebab ibu Kiew meninggal. Hal itu sangat mengusik dan membuat hati Peat merasa bersalah.
--
Kiew terkejut mendengar Khun Nai ingin mengadopsinya. Kiew merasa kalau dia tinggal di rumah Khun Nai dan di anggap sebagai anak sudah cukup. Tapi, Khun Nai tidak merasa itu cukup, dia ingin Kiew mempunyai hak legal atas semuanya. Kiew berusaha menolak.
“Kiew, kau adalah putriku sekarang. Biarkan aku melakukan tanggung jawabku sebagai seorang ayah.”
“Dapatkah Anda memberiku waktu untuk memikirkan ini terlebih dahulu?” pinta Kiew.
Khun Nai mengerti dan memberikan waktu untuk Kiew memikirkan tawarannya.
--

Peat pergi ke makam Khun Sa dengan membawa setangkai bunga putih. Tapi, baru dia tiba, Kiew juga tiba dan langsung bertanya, untuk apa Peat kemari?
Kiew menatap Peat dengan pandangan tidak suka. Dia mendesak Peat untuk menjawab pertanyaannya.
“Aku hanya...,” Peat bingung menjelaskan. “Hanya ingin melihat makam selingkuhan, apakah lebih baik dari makam ibuku,” bohong Peat.
Kiew jelas marah dan tersinggung. Dia langsung mengusir Peat pergi dari makam ibunya, sebelum dia membunuh Peat. Peat tidak mau, karena itu adalah tempat umum. Dia berhak berada di sini.
Kiew berusaha mengabaikan Khun Sa. Dia memberi doa pada makam, dan mulai bicara seolah kepada ibunya.
“Ibu, hari ini aku datang untuk memberitahu sesuatu,” ujar Kiew dan melirik sekilas pada Peat yang masih belum mau pergi. “Paman Nai ingin mengadopsiku menjadi anaknya, tapi aku belum memutuskan. Paman menunggu jawabanku. Apa yang harus ku lakukan?”
Peat terkejut mengetahui  kalau ayahnya akan mengadopsi Kiew. “Apa yang kau pikirkan lagi? aku tidak ada di sana untuk menghancurkanmu lagi.”
“Kau ingin aku menjadi orang yang berbagi harta warisan denganmu? Jika tidak mau, maka pulanglah. Tapi jika kau tidak pulang, aku akan memberi jawaban pada Paman Nai kalau aku bersedia menjadi putri angkatnya seperti yang di inginkannya,” ancam Kiew.
“Kau sangat licik. Sangat pintar dalam membuat rencana.”
“Rencana apa?”
“Awalnya, aku merasa sangat bersalah karena tidak percaya kalau ibumu sedang sakit keras. Merasa bersalah karena telah mengganggumu. Dan menjadi salah satu penyebab kematian ibumu. Dan aku hampir percaya kalau kau tidak menginginkan apapun dari ayahku. Tapi, sekarang, aku sudah tahu kalau selama ini aku salah!” marah Peat dan beranjak pergi.
Dia bahkan menjatuhkan setangkai bunga yang di bawanya ke lantai. Kiew sedikit tercengang menyadari kalau Peat sudah salah mengartikan ancamannya.
--
Peat pergi menemui Tee untuk memeriksa kebenaran mengenai ayahnya yang akan mengadopsi Kiew. Dan Tee membenarkan. Peat semakin emosi, padahal dia baru pergi beberapa hari tapi ayahnya sudah ingin mengadopsi anak. Tee menjelaskan walaupun Peat tidak pergi, Khun Nai tetap akan melakukan adopsi pada Kiew.
“Khun Peat, ayo pulang. Khun Nai memerintahkan orang untuk mencarimu setiap hari. Dia sangat khawatir padamu.”
“Dia sudah mau punya anak baru, untuk apa dia mencariku? Baik, melihat hal ini, aku bisa memutuskan dengan lebih mudah.”
  “Memutuskan apa?” tanya Tee.
Peat tidak menjawab dan langsung pergi.
--
Peat pulang ke condo Chaya. Dan Chaya menyerahkan semua dokumen kepindahan yang telah di siapkannya. Dia bertanya, kapan Peat akan pergi? Peat menjawab secepat mungkin. Chaya semakin senang, karena itu artinya dia dan Peat bisa semakin cepat memulai hidup baru bersama.
“Aku akan menjadi Pansakorn yang baru. Dan saat nya tiba, aku akan kembali dan merebut semua milikku lagi!” tekad Peat.
“Apapun yang akan kau lakukan, aku akan selalu di pihakmu,” dukung Chaya.
--
Kiew bersama dengan Khun Nai dan Tee. Dia sudah menceritakan pertemuannya dengan Peat tadi, dan dia meminta maaf karena membuat semuanya semakin kacau. Khun Nai menenangkan Kiew kalau itu bukan kesalahan Kiew, tapi Peat. Peat adalah anak yang suka asal menyimpulkan sendiri dan berpikiran negatif.
Tee bertanya apa yang akan Khun Nai lakukan sekarang? Khun Nai juga bingung dan bertanya pendapat Tee. Tee memberikan saran untuk mencari Peat sekali lagi. khun Nai setuju.
“Peat sangat menolak kehadiranku sampai seperti ini. Paman tolong ubah keputusanmu terkait pengadopsian ku sebagai anakmu,” pinta Kiew.
“Aku tidak akan berubah pikiran. Aku sudah berjanji pada ibumu kalau aku akan menjagamu dengan baik. Dan aku juga ingin kau benar-benar menjadi putriku. Tolong jangan menolak.”
“Aku juga sudah berjanji pada ibu kalau aku akan tinggal dengan Anda. Aku setuju untuk melakukan keinginanmu. Aku setuju karena demi ibuku dan Anda. Dan aku juga ingin ibuku dapat beristirahat dengan tenang. Dan aku juga ingin agar Anda dapat menepati janji Anda pada ibuku juga. Ini yang ku inginkan.”
Khun Nai sangat senang mendengarnya. Ditambah lagi, Kiew memanggilnya : Ayah. Hati Khun Nai langsung bahagia.
--
Peat dkk melakukan pesta di restoran Kriss. Ini pesta perpisahan melepas Chaya dan Peat. Kris mengingatkan mereka untuk tidak lupa pada dirinya dan Katha. Chaya mengerti, tapi awal-awal dia dan Peat pasti sibuk untuk beradaptasi. Katha dan Kris dapat mengerti hal itu. Katha kemudian meminta Peat berkata sesuatu.
“Aku ingin kau dan Kriss, memberi informasi mengenai orang-orang di rumah Phromphitak. Bisa?”
“Orang di rumah Phromphithak? Terdengar sangat formal,” bingung Katha. Itu kan rumah Peat sendiri.
“Bisa atau tidak?” tanya Peat lagi.
“Ya. Bisa,” setuju Katha.
“Baiklah. Tapi aku minta kau menjaga Chaya,” ujar Kriss.
Dan Chaya langsung sibuk membersihkan mulut Peat dari remah-remah roti. Kris jelas cemburu melihatnya. Katha menyadari hal itu, tetapi tidak tahu harus bersikap bagaimana.

Saat membawa piring kotor ke dapur bersama dengan Chaya, Kriss langsung memeluk tubuh Chaya.
“Jika tinggal di sana dan kau tidak bahagia, kau bisa memberitahuku. Aku akan pergi mencarimu.”
“Kriss, lepaskan aku.”
“Aku tidak mau.”
Chaya memaksa melepaskan pelukan Kriss, tapi hal itu malah membuatnya semakin dekat pada Kris. Mereka saling berpandangan.
“Janji padaku dulu, kau akan memberitahuku,” pinta Kris.
“Aku janji.”
Kris tersenyum manis. Dia mendekatkan wajahnya pada Chaya.
“Aku yakin kalau aku akan bahagia,” lanjut Chaya, dan hal itu membuat Kris tidak jadi menciumnya. “Jika Peat ada di sana.”

Kris mengerti kalau Chaya menolaknya halus. Dan hal itu membuat pelukannya pada Chaya lepas. Chaya menatapnya sesaat sebelum kembali menemui Peat.
--
Esok hari,
Khun Nai memberikan dokumen pada Kiew. Dokumen rumah lama Kiew yang telah di beli oleh Khun Nai dan Khun Nai memberikannya pada Kiew. Kiew menolak untuk menerimanya, tetapi Khun Nai memaksanya untuk menerima.
“Jika seperti ini, bisakah aku mengganti uang Anda dengan mengangsur?” tanya Kiew.
Khun Nai tersenyum. Di tambah lagi, Kiew mengatakan kalau dia tidak bisa menerimanya Cuma-Cuma. Khun Nai mengerti dan menyuruh Kiew untuk membayarnya saat Kiew sudah lulus dan membantunya di perusahaan.
“Tapi aku mempelajari perekonomian rumah. Bagaimana aku bisa membantu?”
“Setiap orang dapat belajar. Setuju atau tidak?”
Kiew berpikir sesaat, dan akhirnya menyetujui hal itu.
Khun Nai hendak membahas pekerjaan part time Kiew, tapi belum sempat dia mengatakan apapun, Kiew langsung menegaskan kalau dia bekerja part time untuk menghasilkan uang sendiri. Khun Nai tersenyum mendengarnya dan mengelus kepala Kiew dengan sayang.
--

Kiew perg ke restoran Kris. Dia akan memasukkan lamaran secara resmi dan berharap masih ada posisi untuknya. Kris menjawab kalau untuk Kiew selalu tersedia posisi.
Sementara itu,
Peat dan Chaya dalam perjalanan ke bandara. Mereka telah benar-benar memutuskan untuk keluar negeri.
--

Malam hari,
Kiew makan malam bersama dengan Khun Nai. Kiew bahkan memasak makanan kesukaan Khun Nai. Mereka sudah tampak seperti ayah dan anak. Walau begitu, masih tampak jelas di wajah Khun Nai kalau dia merindukan Peat.
Kiew dan Taeng menyadari hal itu. Taeng bahkan berkomentar pada Kiew kalau sejak Peat pergi, Khun Nai tidak berselera makan dan hanya makan sedikit. Dia merasa kalau Peat pasti tidak tahu seberapa khawatirnya Khun Nai dan malah menghilang tanpa jejak. Mendengar komentar itu, membuat Kiew bertambah khawatir.
--
Sementara itu,
Chaya dan Peat telah tiba di negara tujuan mereka. Seoul, Korea Selatan.
Chaya bertanya, kenapa Peat memilih untuk pindah ke Seoul padahal America dan Eropa mempunyai lebih banyak hal menarik.
“Aku rasa kuliah di sini akan lebih menarik. Aku ingin mempelajarinya.”
“Begitu saja? Tidak ada alasan lain? Apa?”
“Bersama dengan orang Asia jauh lebih nyaman. Bukankah begitu?”
Chaya hanya tersenyum. Tetapi, dia bertanya dengan serius, apa Peat merindukan rumah? Walau Peat membantah, Chaya merasa kalau Peat merindukan kampung halaman. Bagaimanapun, teman mereka, Kriss dan Katha masih di Thailand. Peat membenarkan.
--
Kriss mengajari Kiew membuat permen kapas. Mereka tampak bersenang-senang.
Sementara itu, Chaya dan Peat mengelilingi kota Seoul.
Katha datang ke restoran Kriss dan melihat Kriss yang sedang mengajari Kiew membuat permen kapas. Katha terkejut melihat Kiew, tapi dia tetap memasang wajah tersenyum lebar. Dia berbisik mengajak Kriss untuk bicara sebentar dengannya di luar.
“Kau memperkerjakannya. Kau tidak khawatir kalau Peat akan marah?”
“Aku tidak takut. Masalah pribadi dan pekerjaan harus bisa di bedakan.”
“Ya, itu benar.”
Kris langsung tanya untuk apa Katha kemari? Katha langsung mengeluh kalau dia kesepian karena hanya ada mereka berdua sekarang. Dia ingin Kriss lebih perhatian padanya. Kriss tertawa mendengarnya dan mengajak Katha untuk makan bersama.
Katha tiba-tiba bertanya, apa Kris sudah menghubungi atau di hubungi mereka? Muka Kris langsung muram karena belum ada kabar dari Chaya dan Peat sejak mereka pergi. Katha malah lupa situasi dan berkomentar kalau Chaya dan Peat pasti sedang bersenang-senang, dan ketika sudah tidak sibuk akan mengirimkan foto untuk mereka.
“Aku rasa Chaya sangat mencintai Peat. Dia mengikuti Peat hingga keluar negeri. Aku iri padanya,” lanjut Katha.
--
Chaya mengajak Peat untuk selfie. Peat sedikit malas, tetapi tetap melakukannya. Chaya langsung mengirimkan foto itu pada Kris dan Katha.
Kris berusaha tersenyum melihat foto itu. Sementara Katha melakukan video call pada Chaya dan Peat. Dia menggoda mereka yang pasti sedang bersenang-senang. Chaya membenarkan hal itu. Kris meminta Peat utnuk menjaga Chaya dengan baik.
“Kau tidak memberitahu ayahku, aku dimana, kan?” tanya Peat memastikan.
“Apapun yang kau ingin ku katakan, aku akan katakan seperti itu,” jawab Kriss.
Dia tidak menyadari kalau Kiew mendengar pembicaraan mereka. Untung, belum terlalu jauh mereka bicara, Kris menyadari kehadiran Kiew dan bertanya, apa Kiew sudah mau pulang?
Chaya dan Peat kaget mendengar Kris memanggil nama Kiew. Di tambah lagi, Kriss langsung mengakhiri percakapan. Karena itu, Peat langsung pergi.
Chaya langsung bertanya pada Katha, dan Katha memberitahu kalau Kiew bekerja di restoran Kriss. Katha juga mengatakan kalau masalah pribadi dan pekerjaan itu urusan berbeda.
“Tapi itu saling berhubungan,” jawab Chaya dengan nada tidak suka dan mematikan telepon.
Dia menghampiri Peat dan berkata akan meminta Kriss untuk memecat Kiew.
“Itu urusan Kriss. Biar dia putuskan sendiri. Tapi beritahu Kriss untuk tidak pernah menyebut nama gadis itu di depanku.”
“Baik, akau ku sampaikan.”


BERSAMBUNG


6 comments:

  1. Siiippp lanjut min...semngaaatt😍😍😍

    ReplyDelete
  2. Selalu tunggu sinopsis ini di update thx min

    ReplyDelete
  3. Bener2 d tunggu sinopsis selanjut nya😘😍

    ReplyDelete
  4. Sll menunggu....jangan' yang cewek anak nya zaa..soal nya liat di yautube gak tau bahasa.

    ReplyDelete