Sunday, December 9, 2018

Sinopsis Lakorn : You Are Me episode 18 – 2

0 comments

Sinopsis Lakorn : You Are Me episode 18 – 2
Images by : Channel 3
sinopsis di tulis oleh : Chunov (nama samaran) di blog k-adramanov.blogspot.com
KhaoSuay menangis karena ingin tinggal dengan Ya. Dia tidak mau pergi. Ya merasa sedih dan berusaha membujuk KhaoSuay agar mau ikut pulang dengan Krit. Tetapi, KhaoSuay terus menolak.
“KhaoSuay, jangan menangis. Bukankah KhaoSuay pernah bilang akan menjadi kuat, jadi bisa melindungin Mae’Ya. KhaoSuay ikut pulang sama paman, ya? khaoSuay kan pria, jadi tidak boleh menangis.”
KhaoSuay menghapus air matanya dan berkata dia pria. Dia akhirnya mau ikut pulang dengan Krit. Krit meminta Ya untuk tidak khawatir, dia akan menjaga KhaoSuay.

Setelah KhaoSuay dan Krit pergi, Aunt On mengajak Ya bicara serius. Dia bertanya pendapat Ya mengenai Krit, apa dia menyukai Krit atau tidak. Ya heran mendapat pertanyaan seperti itu. Aunt On meminta Ya hanya untuk menjawab pertanyaannya saja.
“Aku menyukainya. Tapi, aku menyukainya sebagai teman.”
“Tapi Khun Krit tidak menyukaimu sebagai teman, sayang.”
“Kenapa tante bilang seperti itu?”
“Ya, kau dapat sadar sekarang. Dunia mana yang sedang kau mimpikan, huh? Semua orang juga tahu kalau Khun Krit menyukaimu. Ai’Peuk juga tahu. Aku juga tahu. Paman dan tante yang datang hari ini dan melihat kalian pertama kali juga tahu! Mungkin KhaoSuay juga tahu! Orang yang datang dan menjaga keluarga kita sampai seperti ini, biar ku tanya, apa kau tidak menyadarinya?”
Ya terdiam. Dia tidak dapat menjawab pertanyaan itu.
--
Pa baru siap dari kamar mandi. Dan Na ternyata sudah menunggunya di luar, dia langsung to the point dengan bertanya, kalau Pa adalah orang yang mengotak atik tabung oksigennya, kan? Pa tidak mengaku dan malah balik tanya kenapa Siriya memfitnahnya?
“Karena sekarang ini, kau lah orang yang sangat ingin membunuhku!”
Pa tetap tidak mengaku dan menyuruh Siriya untuk membawa bukti jika memang dia pelakunya. Kalau ada buktinya, tangkap saja dia.
“Tapi, ku kasih tahu ya, jika aku pelakunya, aku tidak hanya melakukan hal seperti ini. Karena orang sepertimu harus membayar lebih daripada ini padaku!”
“Seperti yang pernah kau lakukan padaku dulu (maksudnya nembak dia)?” pancing Na.
“Hal yang pernah ku lakukan dulu padamu itu hanya sedikit. Jika yang kau tuduhkan padaku adalah benar, bahwa aku yang menembakmu dan memutuskan minyak rem mobil Nai Krit dan juga yang membuat KhaoSuay hampir tenggelam, maka tangkap saja aku. Cari buktinya dan langsung tangkap aku. Aku akan menunggumu!
Dan jelas saja, hal itu menambah kecurigaan Na pada Pa.
--
Esok hari,
Na bertemu dengan Krit dan memberitahu hal yang di alaminya kemarin. Nuan yang baru tahu, langsung merasa marah.
“Aku jadi tahu kalau wanita ini sangat kejam hingga tahap dia bisa membunuh orang,” simpul Na.
“Kalau gitu, ada kemungkinan kalau Khun Pa adalah orang yang membunuh Khun Pipon dan juga ayahku,” pendapat Krit.
Dan Nuan setuju. Na merasa kalau mereka harus bergerak cepat menemukan bukti bahwa Pa adalah pelakunya dan juga bukti bahwa dia menggelapkan dana perusahaan. Dia meminta Nuan untuk menyelidiki kemana Khun Pa di hari P’Ya tertembak dan di hari Khun Pipop kecelakaan.
--

Khun Nat berada di ruangannya, dan entah kenapa merasa cemas. Dia teringat saat pertemuannya dengan Thi dimana Thi memberitahukan mengenai penggelapan dana yang di lakukan Khun Wiset dan akan mencari buktinya. Setelah itu, dia akan mengusir Khun Wiset dari rumahnya dan memasukkannya ke penjara.
Chet masuk ke ruangan Khun Nat karena di cari dan bertanya apa yang bisa dia bantu?
“Sekarang ini, Khun Thi sedang mengumpulkan bukti untuk mengadili orang yang menggelapkan dana perusahaan. Masalah ini sangat penting. Aku mau hanya beberapa orang saja yang tahu. Aku ingin membantu Khun Thi. Dan orang yang dapat ku percayai dan mengatasi masalah ini, hanya kau, Pichet.”
“Khun Nat tidak perlu khawatir. Demi Khun Nat, aku akan melakukan tugasku sepenuhnya.”
“Bagus. Orang yang berbuat salah, harus di hukum.”
--
Nuan melakukan misi dari Na. Dia berpura-pura membantu Orn di dapur sambil berbincang bertanya kemana Pa saat hari Loi Krathong dua tahun lalu.  Orn heran karena Nuan bertanya mengenai hari Loi Krathong dua tahun lalu.
“Aku tidak tahu. Khun Pa tidak datang ke rumah ini setiap hari,” jawab Orn. “Tapi kenapa dengan hari Loi Krathong dua tahun lalu? Kau sudah bertanya padaku mengenai hal ini dua kali.”
Nuan kebingungan mencari alasan. Dan untulah Lert muncul dan malah asal menjawab. Dia menebak kalau Nuan pasti mendengar dari peramal kalau melakukan darma di hari Loi Krathong di tempat yang sama dengan orang yang tinggal di rumah ini, maka dia akan bertemu dengan jodohnya kan?
“Ini. Ini, aku lah jodohmu,” rayu Lert.
Akhirnya, Nuan membawa Lert keluar. Dia bertanya kemana Pa dua tahun lalu. Tetapi, Lert malah bermain-main dan membuat Nuan kesal. Apalagi pada akhirnya dia bilang tidak tahu kemana Khun Pa dua tahun lalu di hari Loi Krathong.
“Tapi, aku tahu masalah apa yang dimilikinya dengan Khun Pipop,” beritahu Lert.
--
Krit dan Na di kantor, mulai mengawasi Khun Pa. Saat Khun Pa keluar dari ruangannya dan pergi entah kemana, Krit mulai masuk ke dalam dan menggeledah dokumen yang ada. Sementara Na, dia berjaga di luar ruangan.
Khun Nat tiba-tiba muncul dan bertanya sedang apa Siriya di sini? Sementara Krit, dia sepertinya menemukan sesuatu dan mulai memotret dokumen mencurigakan tersebut.
Na kebingungan mencari alasan. Dia terus melirik ke arah ruangan. Dan tidak lama, Krit keluar. Krit memberitahu Khun Nat kalau Na menunggunya, dai tadi membawa perjanjian PR untuk Khun Pa pelajari, tapi ternyata Khun Pa sudah pergi.
“Bukankah biasanya kau bersama dengan Thi?” tanya Khun Nat menatap Na.
“Ya. Tapi, hari ini itu tugasku. Aku harus membawa Khun Siriya untuk terapi fisik.”
“Dan juga hari ini Khun Thi kebetulan ada janji makan malam dengan customer.”
Khun Nat jelas marah melihat Krit dan Siriya. Tetapi, dia berusaha menahan amarahnya dan membiarkan mereka pergi.
Beberapa karyawan wanita melihat Krit dan Siriya. Mereka bergosip dengan suara keras kalau mereka cemburu pada Siriya yang selalu di jaga oleh Thi dan Krit secara bergantian. Walaupun dia tidak bisa jalan, Siriya masih muda dan cantik, tidak seperti Khun Nat. Mereka tidak sadar suara mereka terdengar hingga ke dalam ruangan Khun Nat.
“Aku merasa kasihan pada Khun Nat. Suaminya meninggal ketika dia sudah tua. Mau cari suami baru tapi dia sudah keriput!”
--
Nuan membuat laporan pada Na kalau di hari Khun Ya tertembak dan Khun Pipop kecelakaan, pembantu di rumah ini, tidak ada yang tahu kemana Khun Pa. Tapi, Lert memberitahunya, kalau sebelum Khun Pipop meningggal, dia sempat bertengkar hebat dengan Khun Pa.
“Ai P’Lert bilang tidak ada satupun orang di rumah ini yang tahu mengenai hal ini. Dia juga mendengar hal itu tidak sengaja. Mereka bertengkar karena sepertinya Khun Paradee membuat kesalahan dalam pekerjaan. Dan Khun Pipop menjadi sangat marah hingga ingin menurunkan jabatan Khun Pa dari perusahaan.”
“Seperti ini… mungkin saja Khun Pa mengambil uang perusahaan dan memberikanny pada Khun Wiset untuk perusahaannya di pasar gelap?” tebak Na.
“Mungkin saja. Bahkan ketika kita menggeledah ruangan Khun Pa, kita tidak menemukan satupun bukti terkait Khun Wiset. Tapi aku menemukan beberapa hal aneh di pengeluaran PR,” ujar Krit dan menunjukkan foto dokumen yang di ambilnya tadi.
“50 juta?” kaget Na melihat nominal di dokumen tersebut.
“Benar. 3 tahun lalu, ada pengeluaran sebesar 50 juta dari dept. PR. Dan dari yang akan pelajari selama ini, kita tidak pernah mengeluarkan uang sebesar itu untuk PR.”
“Kalau begitu… jika kita terus melanjutkan penyelidikan, kita mungkin akan terhubung dengan kematian Khun Pipop atau masalah P’Ya juga.”
“Oi, kalau di film-film, semua bukti penggelapan biasanya di sembunyikan di tempat yang tidak bisa di akses orang-orang dengan mudah,” beritahu Nuan.
Dan mereka semua menebak kalau kemungkinan itu adalah di rumah Khun Wiset.
--

Namneung sedang sendirian di rumah dan menghabiskan waktu dengan berenang. Pichet mengirim pesan padany bertanya apa dia sudah makan? Namneung sangat senang mendapat pesan dari Pichet, dan dia langsung menjawab belum dan memberitahu kalau tidak ada orang di rumahnya. Pichet membalas pesan Namneung dengan mengajaknya makan bersama.
Baru saja dia membalas menyuruh Pichet untuk tiba dalam 5 menit, ternyata Pichet sudah di depan rumah dan di bawa masuk oleh pembantunya. Namneung jelas sangat senang melihatnya. Di tambah lagi, Pichet telah membawakan makanan.
“P’Pichet, kenapa tidak bilang sudah di depan. Gimana kalau ayah dan ibu ternyata ada di rumah?”
“Itu karena aku sudah tahu kalau hari ini Khun Wiset dan Khun Paradee punya kerjaan yang harus di selesaikan. Jadi, tidak akan ada di rumah.”
“Apa kau menyelidikiku?”
“Sedikit. Karena aku tahu kalau putri mereka… cantik. Dan juga sangat manis. Apalagi ketika berpakaian seperti ini, semakin manis,” rayu Pichet.
Dan Namneung terlena dengan rayuan tersebut. Untunglah dia masih punya akal sehat, karena saat Pichet hendak menciumnya, Namneung menghindari dengan alasan mau bertukar baju dulu. Dia menyuruh Pichet untuk menunggunya di dalam rumah.

Di tinggal sendirian, Pichet mulai berkeliling rumah mencari ruang kerja Khun Wiset. Dia masuk ke dalam ruang kerja itu, menyalakan komputer dan mulai mencari sesuatu. Dia menemukan sebuah folder, dan memeriksa isinya. Setelah menemukan folder yang di perlukannya, dia mengcopy-nya ke dalam flashdisk yang telah di siapkannya. Dia berpacu dengan waktu.
Namneung selesai bertukar baju dan mencari Pichet. Pichet panik, dan untung data selesai di copy. Dengan cepat, Pichet menghapus folder yang di copy-nya dari komputer Khun Wiset, dan membersihkan recyle bin-nya juga. 
Namneung menemukan Pichet yang hendak keluar dari ruang kerja ayahnya. Dan jelas dia merasa heran.
“Aku… hanya berkeliling melihat rumah,” alasan Pichet.
Namneung tidak curiga, dia mengajak Pichet turun dan makan bersamanya.
--
Pa dan Wiset menemui beberapa orang penting perusahaan. Mereka memberikan selamat pada Khun Pa yang pasti akan menjadi presiden perusahaan, dan semua karyawan pasti mendukung.
“Aku sangat berterimakasih pada Anda semua. Jika aku naik jabatan menjadi President perusahaan, aku tidak akan melupakan Anda semua,” janji Khun Pa.
“Jika arwah P’Pop tahu mengenai hal ini, dia pasti akan kecewa. Dia pasti tidak menyangka kalau perusahaan akan jatuh ke tangan adik yang paling di bencinya. Tapi, mau gimana lagi, karena pada akhirnya ST SuperCar akan menjadi milikku. Tidak akan mungkin menjadi milik orang lain,” ujar Khun Pa pada Khun Wiset.

Thi dan Da siap bertemu dengan customer. Dan customer itu sangat senang dengan pelayanan Thi dan memujinya sama seperti Pipop. Saat customer sudah pergi, Da tanpa sengaja melihat Pa dan Wiset yang keluar dari restoran tidak jauh dari mereka. Dan para petinggi perusahaan juga ada di sana.
“Itu semua karyawan kita dari level manager,” beritahu Da. “Apa yang P’Pa dan Khun Wiset rencanakan?”
Thi terlihat memikirkannya.

Support penulis hanya dengan membaca sinopsis ini (Khun Mae Suam Roy) di :
k-adramanov.blogspot.com. Terimakasih. Happy Reading.


 

No comments:

Post a Comment