Thursday, January 31, 2019

Sinopsis C-Drama : Emperors and Me Episode 01 - 2

1 comments

Sinopsis C-Drama : Emperors and Me Episode 01 - 2
Images by : Mango TV
Luo Xi dan Le Xue benar-benar bingung dengan yang terjadi. Kenapa mereka bisa berada di tempat yang aneh seperti ini? Luo Xi tampak berpikir, dan kemudian menyadari sesuatu. Dengan senang, dia memberitahu Le Xue pendapatnya.
Menurut Luo Xi, mereka ini sedang bermimpi (hahahaha… bisa gitu ya, mimpi samaan). Luo Xi bahkan memberikan pengarahan pada Le Xue untuk tenang saja dan anggap saja mereka sedang menonton film 3D atau 4D gitu. Dia sudah sering mengalami mimpi seperti ini, jadi dia sudah terbiasa. Palingan nanti pas terbangun, mereka sedang berada di rumah sakit.
“Bagaimana mungkin?! Ini tampak terlalu nyata,” ujar Le Xue masih sulit percaya dengan pendapat Luo Xi.
Dan tiba-tiba saja, dari arah gerbang istana, masuk segerombolan pasukan berkuda dengan membawa senjata. Luo Xi dan Le Xue langsung bersembunyi di balik pilar yang ada di sana.
Rombongan pasukan berkuda itu di pimpin oleh Kaisar Qi Qin Shang. Melihat banyaknya rombongan pasukan yang memasuki istana, Perdana Menteri dan Ibu Kaisar (ibu Qin Shang), langsung keluar dan bertanya, apa yang terjadi?
Qin Shang memberikan tanda pada anak buahnya, dan anak buahnya langsung membawa seorang pria berpakaian prajurit ke depan Qin Sang, “Ini adalah penjaga yang kau pilih untuk menjagaku. Dan dia berniat untuk membunuhku!” marah Qin Sang.
“Membunuh?” kaget Ibu Suri. “Putraku, apa kau terluka?” tanya-nya dengan panik pada Qin Sang. “Perdana Menteri, bagaimana bisa kau begitu ceroboh membiarkan seorang pembunuh memasuki istana.”
“Perdana Menteri, menurutmu, apa yang harus kita lakukan pada pengkhianat ini?” tanya Qin Shang dengan nada intimidasi.
“Yang Mulia. Seorang pengkhianat harus di penggal,” jawab Perdana Menteri dengan tenang.

Prajurit yang berkhianat itu, segera menyerang prajurit yang menahannya. Sepertinya, apa yang di katakan oleh Perdana Menteri adalah semacam kode untuk para pengikutnya agar membunuh Qin Shang. Karena setelah dia mengucapkan kalimat itu, prajurit yang menjaganya, segera maju dan menyerang prajurit Qin Shang.
Pertempuran tidak terelakkan lagi. Ibu Suri menjerit kaget melihat putranya dalam bahaya dan hendak maju untuk menghentikan pertempuran, tapi Perdana Menteri menahannya untuk tidak memasuki arena tempur.
Luo Xi dan Le Xue yang juga melihatnya, ketakutan. Darah bersimbah dimana-mana. Dan para prajurit tergeletak tidak bernyawa di lapangan istana.

Perdana Menteri dan Ibu Suri dengan bantuan pengikut mereka, di kawal untuk meninggalkan kawasan istana. Sayangnya, Qin Shang yang adalah Jenderal Perang yang ahli, berhasil mengalahkan para prajurit yang mengawal mereka. Dia mengarahkan pedang-nya ke Perdana Menteri, tapi Ibu Suri maju untuk melindungi Perdana Menteri.

Luo Xi dan Le Xue memperhatikan mereka. Dan saat salah seorang pengikut Perdana Menteri mendekat ke arah Qin Shang, dan tidak ada satupun yang menyadari-nya, Luo Xi secara spontan berteriak : “Pembunuh!”

Le Xue segera menutup mulut Luo Xi, sayangnya persembunyian mereka telah terlihat oleh Qin Shang. Dan karena teriakan Luo Xi jugalah, Qin Shang berhasil membunuh pengikut Perdana Menteri yang hendak membunuhnya.
“Yang Mulia,” ujar Ibu Suri dan langsung berlutut di hadapan Qin Shang, “Perdana Menteri telah melayani Negara Qi dengan sepenuh hati. Pasti ada seseorang yang menjebaknya,” bela Ibu Suri.
“Ibunda, walau sudah sampai seperti ini, kau masih memihak padanya?!” marah Qin Shang.
“Pasti ada kesalahpahaman. Tolong, jangan bunuh dia.”
Qin Shang tidak mau medengarkan permohonan ibu-nya, dan menyuruhnya untuk menyingkir. Ibu Suri tetap tidak mau menyingkir dan malah memegang kaki Qin Shang dan memohon, agar dia saja yang dibunuh, tapi jangan membunuh Perdana Menteri.
“Shang memerintahkan Ibu Suri untuk di bawa ke Istana Yongfu dengan penjagaan ketat di depan pintu. Tidak ada yang boleh mengunjunginya tanpa seizinku!” perintah Qin Shang.
Pengawal-nya mengiyakan, dan segera membawa Ibu Suri ke dalam Istana Yongfu walaupun Ibu Suri terus memberontak.
Setelah ibunya pergi, tanpa ragu, Qin Shang menebaskan pedangnya mengenai leher Perdana Menteri. Dan dalam sekejap, Perdana Menteri meninggal.
Luo Xi dan Le Xue berseru kaget melihat dengan mata kepala mereka sendiri, eksekusi terjadi.



Usai membunuh Perdana Menteri, Qin Shang dengan di ikuti para prajurit-nya langsung menyudutkan Luo Xi dan Le Xue yang bersembunyi. Semua pedang terarah ke arah mereka. Qin Shang memperhatikan wajah mereka dengan seksama, dan begitu melihat wajah Luo Xi, Qin Shang tampak terkejut.
Dia ingat melihat wajah Luo Xi, adalah wajah wanita yang di selamatkannya saat dia mengunjungi tempat pembangunan (lho…lho, itu kan mimpi Luo Xi. Jadi, dia beneran bertemu Qin Shang???)
--
Malam hari,
Qin Shang duduk di atas tahta-nya, dan penasehat memberikan sebuah lukisan padanya.

Sementara itu, Luo Xi dan Le Xue di bawa ke dalam sebuah kamar yang mewah. Luo Xi takut karena tidak tahu apa yang akan di lakukan pada mereka. Begitu pula Le Xue. Tidak lama, segerombolan dayang istana masuk ke dalam kamar mereka dengan membawa kain-kain indah, perhiasan dan emas. Usai meletakkan semua bawaan itu di atas meja, para dayang segera pergi keluar.          
Luo Xi segera tertarik melihat perhiasan dan emas-emas tersebut. Le Xue segera menegur Luo Xi untuk berhati-hati dan jangan berbuat hal bodoh. Ini bukan saatnya bagi mereka untuk memikirkan perhiasan. Mereka harus memikirkan kondisi mereka sekarang.
“Jika kita tidak segera menjelaskan situasi kita, kita akan berakhir menjadi ‘barang’ dari Negara Qi,” ujar Le Xue.
“Apa? Apa maksudmu Negara Qi seperti yang tertulis di buku?” kaget Luo Xi. Dan Le Xue segera memberi tanda pada Luo Xi untuk menurunkan volume suaranya.
“Di lihat dari pakaian dan peralatan mereka, ini harusnya adalah masa Negara Qi,” jelas Le Xue.
“Apa itu artinya kita kembali ke masa lalu?” tanya Luo Xi masih sulit percaya.
“Sulit untuk di percaya. Tapi tidak ada penjelasan lainnya lagi.”
Time travel,” gumam Luo Xi. “Apa ini ada hubungannya dengan mimpi-ku?”
“Mimpi? Mimpi yang kau ceritakan pada Fei Yan?” tanya Le Xue balik.
“Bukan. Aku juga punya mimpi lain yang mirip seperti ini. Eh, tunggu dulu… Qin Shang. Apa catatan sejarah mengenai-nya?”
“Kaisar yang bijaksana. Tidak ada ahli waris. Turun tahta dan di serahkan pada kaisar lain-nya. Tidak menikah seumur hidupnya,” jawab Le Xue sambil mengingat pelajaran sejarah yang di pelajarinya.
“Dia mungkin gay,” simpul Luo Xi.
Le Xue langsung menghela nafas mendengar kesimpulan Luo Xi yang asal. Seorang dayang masuk dan memberitahu kalau Kaisar ingin bertemu dengan Luo Xi, dan Luo Xi harus ikut dengannya ke Istana. Luo Xi kaget karena Kaisar Qi ingin bertemu dengannya.
--

Esok hari,
Qin Shang masih melihat lukisan yang di perlihatkan oleh penasehat kemarin malam padanya. Wajah wanita di lukisan itu sangat mirip dengan Luo Xi.
“Yang Mulia, orang dalam lukisan itu semakin terlihat seperti wanita berpakaian aneh semalam,” pendapat penasehat. “Selamat! Tuhan mengirim seorang Wanita Suci untuk membantu Anda.”
“Wanita Suci?”
“Bukankah Yang Mulia sering mengatakan bertemu wanita itu di negeri dongeng? Pasti wanita ini mengagumi Yang Mulia dan ingin membantu negara kita untuk menyatukan negara lain.”
Qin Shang mengangguk-anggukan kepalanya mendengar pendapat si penasehat.

Seorang dayang masuk dan melapor kalau Wanita Suci telah tiba. Qin Shang menyuruh mereka untuk masuk. Luo Xi langsung masuk dengan gaya jalannya yang santai sementara Le Xue dengan cara jalan yang berwibawa. Penasehat langsung marah karena mereka tidak berlutut di hadapan Kaisar. Qin Shang memberi tanda pada penasehat untuk diam.
“Aku hanya menyuruhmu membawa satu orang,” ujar Qin Shang pada dayang itu.
“Maafkan saya, Yang Mulia,” mohon si Dayang dan menudukkan kepalanya.
“Kami yang minta padanya untuk membawa kami berdua. Kaisar Qi, tolong jangan menghukumnya,” jelas Luo Xi.
“Kami tidak bermaksud tidak menghormati Yang Mulia, hanya saja…,” ujar Le Xue.
“Hanya saja kami tidak bisa di pisahkan. Kami harus selalu bersama,” bohong Luo Xi.
“Kenapa?” tanya Qin Shang heran.
“Karena… karena…,” bingung Luo Xi dan menatap Le Xu. Tapi Le Xue juga tidak tahu harus membuat alasan apa. “Karena… tanda zodiak.”
“Zodiak? Maksudmu Astrologi?”
“Ya sejenis itu,” gugup Luo Xi.
Dan untuk mengalihkan perhatian Qin Shang mengenai zodiak, Luo Xi langsung meminta Qin Shang untuk mengampuni dayang tersebut. Qin Shang mengerti dan menyuruh dayang itu untuk keluar. Luo Xi langsung berbisik pada dayang itu untuk membawakan banyak makanan di kamarnya karena sudah di selamatkan (hahahaha memang Luo Xi ini banyak akal).
Qin Shang segera memberi perintah untuk menyediakan tempat duduk bagi Luo Xi dan Le Xue. Para dayang di ruangan itu, segera menunjukkan tempat duduk yang sudah di sediakan dan juga menghidangkan makanan untuk mereka. 
Luo Xi segera mencicipi buah yang terhidang. Saat mengambil buah, Luo Xi menarik lengan bajunya yang panjang ke atas sehingga pergelangan tangannya terlihat. Qin Shang memperhatikan dan menyadari kalau pergelangan tangan Luo Xi ada bekas memerah. (Ini persis di bekas pergelangan tangan wanita yang menerima darah sang dewa waktu. Apa itu bukan mimpi tapi kenyataan?)
“Kau terluka,” tanya Qin Shang.
“Dimana?” bingung Luo Xi.
“Aku tanya apa kau terluka atau tidak.”
“Oh, ini. Ini tanda lahirku yang ku dapat sejak aku lahir.”
Le Xue kemudian meminta maaf dengan sopan pada Yang Mulia karena sudah membuat masalah. Qin Shang mengatakan tidak apa-apa, justru dia berterimakasih pada mereka karena merekalah dia berhasil mengeksekusi Li Wei (Perdana Menteri). Dia bahkan mengajak mereka bersulang.

Luo Xi memanfaatkan rasa terimakasih Kaisar Qi untuk meminta imbalan hadiah uang. Le Xue setengah berbisik pada Luo Xi untuk tidak bicara omong kosong. Kalau sempat ada masalah, dia tidak akan bisa menolong Luo Xi. Luo Xi malah menyuruh Le Xue untuk tenang saja, dia hanya sedang memanfaatkan keadaan untuk menghasilkan uang.
“Dilihat dari pakaian kalia, kalian berdua pasti bukan orang biasa,” tebak Qin Shang.
“Kau bisa melihatnya? Aku tidak akan bercanda, kami berdua adalah saudara abadi dari gunung Kunlun, para gadis di bawah Boddhisattva Guanyin. Namaku adalah Luo Xi dan namanya Le Xue. Kami datang untuk menjadi perantara surga dan melakukan hal baik,” karang Luo Xi.
“Siapa itu Guanyin? Dan dimana itu Gunung Kunlun?” tanya Qin Shang, penasaran.
“Kamu tidak perlu tahu hal itu secara mendetail. Seperti kata pepatah, rahasia surga tidak boleh di beritahu.”
Dan karena ucapan Luo Xi yang seperti itu, Qin Shang makin semangat untuk menyambut kedatangan Luo Xi dan Le Xue di istana-nya. Dia menyuruh Luo Xi dan Le Xue untuk tinggal sementara di istana-nya ini. Luo Xi tidak menduga keadaan itu, tapi dia terus saja bicara omong kosong kalau Qin Shang akan dapat menyatukan kerajaan. Qin Shang akan mendapatkan dukungan darinya, tapi jangan lupa untuk menambahkan hadiahnya.
“Bagaimana jika aku menghadiahkan dunia untukmu? Aku menjadikan nona Luo Xi menjadi Ratu-ku. Dan memerintah dunia bersamanya,” umumkan Qin Shang tiba-tiba.
Luo Xi benar-benar terkejut, “Menjadikanku ‘ratu’-mu?”
“Dia menginginkanmu,” pertegas Le Xue.
“Tidak. Tidak. Tidak bisa. Dialah si Wanita Suci,” tunjuk Luo Xi pada Le Xue. “Aku hanya pegawai magang biasa. Kau juga masih bisa menyatukan dunia tanpa menikahiku. Benar!”
Luo Xi segera memberi tanda pada Le Xue agar membantunya. Tapi Le Xue juga tidak bisa membantu dan hanya bisa menyuruh Luo Xi untuk mengatasi sendiri masalah yang dibuatnya.
“Aku sudah beritahu kan, kalau kami berdua tidak bisa di pisahkan. Ini aturan surga,” bohong Luo Xi.
“Jika seperti itu, kalian berdua bisa melayani-ku bersama,” putus Qin Shang.
“Apa?!” kaget Le Xue dan Luo Xi bersamaan.
Qin Shang mempertegas kalau dia akan menikahi dua Wanita Suci itu. Luo Xi hendak protes, tapi Le Xue menyuruh Luo Xi untuk tidak asal bicara dulu. Dengan tenang, Le Xu meminta waktu untuk mempertimbangkan hal ini. Mereka harus meminta izin surga dan juga izin kedua orang tua.
“Baik. Aku akan memberikan kalian 3 hari. Dan setelah itu, kita akan menikah!”
“Hah? Bukankah kau tadi bilang akan memberikan waktu untuk kami mempertimbangkannya?” protes Luo Xi lagi.
“Ini bukan pertanyaan. Tapi perintah!”
Luo Xi hendak protes lagi, tapi Le Xue segera menyuruhnya diam agar masalah tidak semakin panjang.
--
Luo Xi dan Le Xue kembali ke dalam kamar mereka. Dan begitu masuk, Luo Xi langsung membungkus semua perhiasan dan emas yang bisa di bawanya. Dia hendak kabur dari istana itu. Le Xue merasa kalau percuma mereka berusaha kabur, mereka tidak akan bisa keluar dari istana ini apalagi dari Negara Qi.
“Benar,” setuju Luo Xi setelah memikirkan perkataan Le Xue. “Jadi kita harus bagaimana sekarang? Qin Shang itu tampan, tapi dia pembunuh berdarah dingin. Dan juga orang aneh. Xue, menurutmu, apa yang harus kita lakukan sekarang?”

“Kecuali ada orang yang mengenal baik tempat ini, dan bersedia memimpin kita keluar dari sini.”
“Siapa?”
“Ibu Suri!
BERSAMBUNG

1 comment: