Sunday, January 6, 2019

Sinopsis Lakorn : The Gifted Episode 11 - part 2

0 comments

Network : GMM One


Diruangan Guru Pom. Mon dan Korn mengisi serta menanda tanganin surat pengunduran diri dari kelas berbakat. Dan setelah mereka selesai, Guru Pom menanyakan apa mereka yakin dan tidak mau memikirkan nya dulu.

“Aku yakin. Aku sudah memikirkannya sejak lama,” kata Korn.

“Sudah kupikirkan baik- baik, pak,” kata Mon.

“Oke. Bapak menghormati keputusan kalian berdua,” balas Guru Pom dengan kepala tertunduk.


Hujan turun dengan sangat deras. Mon menghampiri Pang dan memberikan kertas tugas yang telah dikerjakanya. Lalu Pang mengumpulkan kertas tugas itu.


Dilorong sekolah yang sangat sepi, Korn duduk mendengarkan musik melalui headset nya.



Hujan berhenti. Di ruang rapat. Direktur mendekati Mon dan Korn, dia mengambil sebuah jarum suntik yang agak besar, dan menjelaskan kepada mereka berdua bahwa serum ini akan membantu mereka berdua untuk bisa kembali normal.

“Setelah ini, kalian akan kembali normal. Semoga kalian bahagia,” kata Direktur. Kemudian dia menyuntikan serum itu pada lengan mereka.


Pang mengintip semua kejadian itu dari luar.



Guru Pom memberikan tugas yang telah setiap murid kerjakan kepada Direktur. Dia menjelaskan bahwa tugas ini adalah untuk membantu siswa Berbakat agar memahami potensi mereka dan memanfaatkan nya.

Bagi beberapa, misi mereka tidak terjebak dalam label ‘Berbakat’. Bagi yang lain, mereka melihat sisi baik dan buruk potensi mereka. Tugas mereka adalah untuk memahami itu dan menjaga potensinya. Tapi beberapa anak melihat potensi mereka sebagai beban, dan memilih untuk menyerah serta melepaskannya. Ada juga yang memilih untuk tidak menjawab sama sekali.


“Kamu sendiri, Pom? Menurutmu, apa misimu sebagai orang Berbakat?” tanya Direktur. Tapi Guru Pom hanya diam, jadi Direktur pun bertanya ada apa.

“Bukan apa- apa. Saya hanya merasa dejavu. Dulu Bapak pernah bertanya hal yang sama,” jawab Guru Pom.

“Dan sekarang. Bagaimana jawabanmu?”



Pang menemui Wave yang berada di atas atap, dia menanyakan kenapa Wave tidak memberitahunya bahwa masa skorsing nya telah selesai. Dan dengan cuek, Wave membalas kenapa dia harus memberitahu Pang.

“Berikan tugasmu,” minta Pang sambil mengulurkan tangannya.

“Mau tahu apa yang ku tulis?” balas Wave sambil menunjukan kertas tugasnya.


Dan saat melihat itu, Pang tersenyum senang. “Aku juga tidak menjawab, tapi buatku potensi membuat kita special, lebih dari orang lain. Dan itu tanggung jawab kita. Jangan disia- siakan. Melakukan bagian kita untuk mereka yang tidak bisa. Membantu mereka yang tidak bisa. Berjuang untuk mereka yang tidak bisa,” jelas Pang.


Guru Pom memberitahukan jawabannya, baginya menjadi orang Berbakat bukan cuma melihat apa yang membuatnya special, tapi juga apa yang membuat orang lain special. Mereka harus mendukung keistimewaan orang lain.

“Salah. Kertas kosong ini adalah bukti bahwa muridmu tidak memahami nya. Aku paham keinginan mu mendukung anak- anak untuk mencari jalan sendiri. Tapi jika itu tidak membantu mereka bisa menjawab pertanyaan sederhana ini, artinya kamu gagal,” jelas Direktur dengan tegas. Dan Guru Pom menundukan kepalanya.

“Bagiku, itu bukan berarti kita wajib melakukan apapun. Tidak ada orang dewasa yang bisa memberitahu siapa kita, mendikte kita, membatasi kita menulis satu halaman, padahal banyak yang mau kita katakan. Aku ikut. Aku mau menjatuhkan Direktur,” jelas Wave sambil meremukan kertas jawabannya, lalu dia membuang kertas itu.

“Mereka pikir bisa melakukan dan menjadi apapun. Tapi didunia ini, ada banyak yang tidak mereka ketahui. Keraguanmu membuat mereka kehilangan arah. Kamu harus berhenti merasa ragu. Dan membawa mereka ke jalan yang benar,” jelas Direktur pada Guru Pom.

“Membuat jalan baru yang lebih baik dengan kemampuan kita yang superior. Perbaiki hal- hal yang buruk…” kata Pang.

“Orang- orang superior mencapai puncak dan mendorong maju semuanya. Percaya pada jalan yang sama dan bertekad melakukan hal yang sama. Itulah arti dari menjadi siswa Berbakat…” kata Direktur.


“Itulah arti dari menjadi siswa Berbakat,” kata Pang sambil mengulurkan tangannya yang dikepal. Dan Wave balas mengepalkan tangannya kearah Pang, tanda dia setuju dengan Pang.

No comments:

Post a Comment