Sunday, January 6, 2019

Sinopsis Lakorn : The Gifted Episode 11 - part 4

0 comments


Network : GMM One
Tengah malam. Didalam ruang konferensi. Setengah jam sebelum waktu yang dijanjikan, Wave serta Pang datang duluan. Wave menjelaskan bahwa mereka belum mengetahui siapa yang mengirim pesan itu, jadi mereka harus lebih berhati- hati. Juga menurutnya, orang yang menghilangkan ingatan setiap murid adalah Bu Ladda.

“Kenapa?” tanya Pang, tidak paham.

“Waktu menyelinap ke kantor admin. Aku lihat data bahwa Bu Ladda yang bertanggung jawab atas semua pelanggaran di sekolah. Kurasa Direktur yang menyuruh Bu Ladda mengurus segalanya,” jelas Wave. Tapi dia juga masih tidak yakin.



Karena Pang hanya terus berdiam diri di tempat, Wave menyuruhnya untuk segera mencari tempat bersembunyi, karena takutnya ada jebakan untuk mereka. Lalu Wave mulai berkeliling untuk mencari tempat sembunyi yang pas, tapi tanpa sengaja dia malah kejatuhan sesuatu.

“Mungkin ini jebakan,” kata Pang, menyindir sambil membantu Wave berdiri.

“Nggak lucu, brengsek,” balas Wave.

“Sebaiknya, obati lukamu. Jangan sampai infeksi. Biar aku yang urus,” jelas Pang, saat mengetahui bahwa yang jatuh mengenai Wave tadi adalah kursi berpaku.

“Oke, jangan buat kesalahan,” balas Wave. Lalu dia pergi.



Pang melihat jam di tangannya. Dan tepat di saat itu, dia mendengar suara langkah kaki seseorang, jadi dengan cepat dia pun langsung bersembunyi. Ternyata orang yang datang ke ruangan itu adalah Bu Ladda.



Setelah agak lama, karena tidak mendengar apapun lagi, maka Pang pun keluar dari persembunyian nya. Lalu dia melihat sebuah map merah di letakan diatas meja. Dan dia pun membuka map tersebut.


Pang mengejar Bu Ladda sampai ke tempat parkir. Disana dia menanyakan, apa maksud map merah ini. Dan Bu Ladda pun menjawab bahwa itu adalah jawaban yang mereka cari.



Flash back. Saat Wave sedang bertelponan dengan Pang di dalam ruangannya, Bu Ladda mendengarkan semua pembicaraan itu, tapi dia diam dan tidak masuk ke dalam ruangan. Lalu ketika ada guru yang datang, Bu Ladda menghalanginnya dengan menanyakan apa mereka ada rapat nantinya. Flash back End.



“Kenapa Ibu membantu kami? Kenapa Ibu memberikan folder ini?” tanya Pang, tidak mengerti.

“Tidak kenapa- napa. Dulu aku menyimpannya sebagai Administrator Sekolah. Dan karena aku akan pergi, itu sudah tidak ada artinya bagiku. Sudah kamu baca?” balas Bu Ladda.

Pang masih curiga, dia menanyakan apa Bu Ladda adalah salah satu dari mereka. Dan jawaban Bu Ladda sedikit mengejutkan Pang, karena ternyata Bu Ladda hanyalah seorang manusia biasa yang tidak memiliki kekuatan, tapi dia kebetulan mengetahui segalanya.



“Terima kasih,” kata Pang.

“Tidak usah. Aku bukan lagi bagian dari ini. Jujur saja, aku tidak tahu apa yang kamu rencana kan. Tapi kurasa kamu tidak akan berhasil melakukannya, apapun itu. Apa kamu pikir, kalian bisa menjatuhkan sistem yang didirikan selama sepuluh tahun? Berhentilah. Masih belum terlambat,” kata Bu Ladda mengingatkan Pang.


Di UKS. Wave mengobati bagian perutnya yang sedikit tergores. Lalu saat Pang menelponnya, dia menanyakan apa Pang berhasil mendapatkan folder itu.


Pang berjalan dengan terburu- buru ke arah kamarnya. Dia menjelaskan kepada Wave bahwa kini mereka telah berhasil mendapatkan bukti yang cukup untuk menjatuhkan Direktur dan mengubah sekolah.



Tepat saat Pang masuk ke dalam kamarnya. Dia melihat Guru Pom telah menunggu di dalam kamarnya. Dan karena itu, maka Pang pun mematikan sambungan telpon dengan Wave.



Guru Pom dengan serius menanyakan apa yang sedang Pang lakukan. Dan Pang pun menjelaskan segala yang diketahuinya, dia mengatakan bahwa sekolah menyembunyikan banyak hal buruk dan menghapus ingatan siapa pun yang mencoba untuk membongkarnya, makanya tidak seorang pun tahu.

“Jadi kamu tahu apa yang bisa ku lakukan?” tanya Guru Pom.

“Apa maksud nya?” balas Pang, tidak mengerti.



“Direktur benar. Aku terlalu baik pada kalian. Ini peringatan terakhir. Jangan ikut campur masalah ini. Berikan foldernya,” tegas Guru Pom sambil mengulurkan tangan. Metronome diatas meja berbunyi. Tik… tik… tik…

Pang mengulurkan tangannya untuk menyerahkan map tersebut, tapi sebelum Guru Pom sempat menyentuh map tersebut, Pang langsung menarik map tersebut dan mencoba untuk memegang tangan Guru Pom.

“Tidak!!” teriak Pang. Dan Guru Pom menjentikan jarinya.



Wave mengocang bahu Pang dan terus memanggil nama Pang, dia berusaha untuk menyadarkan Pang yang hanya berdiri diam di depan pintu. “Kamu sadar, tidak? Pang! Bisa dengar aku? Pang! Pang! Pang!” kata Wave terus- menerus.



Tampak semua data yang telah mereka  berdua kumpulkan, menghilang.

No comments:

Post a Comment