Wednesday, January 16, 2019

Sinopsis Lakorn : Khun Chai Puttipat Episode 8 - part 5

3 comments


Khun Chai Puttipat (2013) Episode 8 - Part 5
Network : Channel 3

Dimall. Marathee berjalan- jalan bersama dengan General Pinit, dan para anak buahnya menemanin dibelakang. Disana Marathee tidak bisa memilih barang mana yang dia mau beli, karena ini mau dan itu mau juga. Dan karena Marathee kesulitan untuk memilih, maka General Pinit pun membelikan segala yang Marathee inginkan di mall itu. Lalu Marathee pun tertawa senang.

Setelah selesai belanja, General Pinit  bersama Marathee memutusukan untuk makan di restaurant francis yang berada di Oriental (Hotel).



Kakek Chai Pat bersama dengan asistennya yang sedang berada di mall, mereka kebetulan melihat Marathee serta General Pinit. Dan ketika melihat itu, Kakek Chai Pat merasa seperti mengenali Marathee, tapi dia heran kenapa Marathee berjalan dengan mesra bersama dengan General Pinit.

“Dia adalah selir baru General Pinit. Kebanyakan wanita General Pinit adalah ratu kecantikan atau aktris. Jadi tidak aneh, jika kamu merasa seperti mengenalnya,” jelas si Asisten.

“Bukan seperti itu. Menurutku dia terlihat seperti Marathee, putri dari Khun Chai Taewapan. Wanita yang dijodohkan dengan Khun Chai Puttipat, cucuku,” balas Kakek.




Didalam restaurant. General Pinit memuji kecantikan Marathee. Dan Marathee tersenyum, lalu dia bertanya mana yang lebih cantik, dirinya atau para ratu kecantikan atau akris milik General Pinit. Lalu General Pinit menjawab bahwa semua nya sama, dan dia menyukai nya.

“Bagaimana dengan Marathee? Apa kamu menyukai ku?” tanya Marathee, manja.

“Tentu saja! Aku benar- benar menyukaimu,” jawab General Pinit.



“Antara aku dan Krongkeaw, siapa yang paling kamu sukai?”

“Jangan bicara omong kosong. Bagaimana aku tahu jenis orang seperti apa dia? Aku belum pernah menyentuhnya,” jawab General Pinit.

Marathee lalu tersenyum dan menawarkan diri untuk membantu General Pinit mendapatkan Keaw, jika memang General Pinit masih menginginkan Keaw. Dan tentu saja, General Pinit masih mau mendapatkan Keaw.




Kiti yang telah sadar, dia mengucapkan terima kasih kepada Chai Pat yang telah melakukan banyak hal untuk mereka. Dan dengan sopan, Chai Pat membalas bahwa itu tidak masalah, yang terpenting sekarang adalah Kiti harus beristirahat.

“Beristirahatlah ya, pa. Aku akan mengambilkan sesuatu yang enak untukmu,” kata Keaw pamit kepada Ayahnya. Kemudian dia tersenyum ke arah Chai Pat. Dan Chai Pat pun balas tersenyum.


Saat melihat beraneka macam jajanan dipasar, Keaw dengan riang menceritakan rencananya kepada Chai Pat. Jika dia membuka toko dessert di Ayuthaya, pasti bakal banyak orang yang datang untuk membeli, karena dia adalah Ratu kecantikan. Dan dia akan menggunakan metode ‘dari mulut ke mulut’. Serta dia juga akan mempergunakan pengetahuan yang telah di dapatnya dari Katesara dan dari tempat Jutathep.



“Mengapa kamu terus berpikir tentang meninggalkan ku?” kata Chai Pat dengan kesal. Lalu dia berjalan duluan. Dan Keaw pun segera menyusulinya.



Keaw mengejar dan terus memanggil- manggil nama Chai Pat, tapi Chai Pat sama sekali tidak mau berhenti berjalan. Dan ketika akhirnya Chai Pat berhenti, maka Keaw pun langsung menjelaskan alasannya. “Aku ingin menjadi kuat. Aku tidak mau tergantung kepada orang lain untuk menolongku lagi.”

“Siapa? Siapa orang lain itu? Apa itu ‘kita’?” tanya Chai Pat. Dan Keaw kesulitan untuk menjawab.


Chai Pat menjelaskan bahwa karena mereka telah mendaftarkan pernikahan mereka diatas kertas, maka itu berarti mereka adalah suami - istri sekarang. Tapi Keaw langsung menjawab bahwa dia akan menanda tanganin surat perceraian sesegera mungkin.

“Kamu benar- benar ingin meninggalkan ku, kan?” tanya Chai Pat.

“Bukan begitu,” jawab Keaw dengan cepat.

“Kemudian apa yang kamu inginkan?”



Keaw menjelaskan alasannya. Dia mengatakan bahwa Chai Pat telah banyak membantu nya, jadi dia ingin bisa hidup dengan kemampuannya sendiri, dan memiliki segalanya dulu, lalu ketika waktunya tiba, dia akan membalas kembali kebaikan Chai Pat. Karena dia tidak bisa terus bergantung kepada orang lain, tanpa melakukan sesuatu.

“Kamu mengatakan ‘orang lain’ lagi dan lagi. Apa kamu pernah dengar? Menurut hukum, suami dan istri itu adalah satu,” kata Chai Pat.

“Kamu mengatakan ini lagi,” balas Keaw.



Chai Pat memegang kalung yang dikenakan oleh Keaw. Dia mengatakan bahwa kalung ini diberikan oleh Ibunya untuk diberikan kepada istrinya. Jadi itu berarti, mereka bukanlah orang asing sekarang. Dan yang lebih penting, segala yang dilakukannya, itu adalah kewajiban seorang suami.


“Tentang kewajibanmu. Jadilah Istri yang manis. Kamu harus berbicara manis dan bersikap manis. Jangan lupa bahwa para preman itu masih ingin mendapatkan kamu. Mereka kini hanya sedang menunggu waktu yang tepat untuk menyerang kita. Jadi kamu harus membuat mereka percaya bahwa kita benar suami dan istri. Mengerti?” jelas Chai Pat sambil tersenyum. Dan tanpa menjawab, Keaw ikut tersenyum.

Dalam perjalanan kembali ke rumah sakit. Chai Pat merebut barang belanjaan yang dipegang oleh Keaw, karena itu kewajiban seorang suami. Dan dengan malu, Keaw mengatakan bahwa Chai Pat adalah dokter disini dan setiap orang mengenalnya, jadi mereka pasti akan digosipi nantinya. Tapi Chai Pat tidak peduli, dia tidak masalah bila digosipi oleh semuanya.


“Lebih baik aku yang mengangkatnya saja,” kata Keaw sambil merebut kembali barang belanjaannya, lalu dengan cepat dia berjalan duluan. Dan Chai Pat pun mengikutinya.

Melihat itu dari atas. Marathee tampak sangat kesal dan marah.


Keaw ingin menginap dirumah sakit, menemanin Ayahnya. Tapi Chai Pat tidak mau mengizinkan, karena walau tempat ini banyak orang, tapi dia tetap saja khawatir untuk meninggalkan Keaw sendirian.

Namun Keaw bersikeras untuk tinggal menemanin Ayahnya, dia berjanji bahwa dia tidak akan keluar dari dalam kamar. Dan akhirnya, Chai Pat pun terpaksa mengizinkan.


Sesampainya dirumah. Chai Pat memberitahukan tentang Keaw yang akan menginap dirumah sakit malam ini, dan Nenek Aiert serta Nenek Oon pun mengerti. Lalu mereka berdua menasehati Chai Pat, karena semalam Chai Pat dengan Keaw tidak pulang ke rumah.

Nenek Oon mengatakan bahwa sikap dan bakat Keaw memang sangat baik, tapi mereka tidak bisa mengubah latar belakangnya, jadi Chai Pat harus berpikir hati- hati. Lalu Nenek Aiet mempertanyakan, apa benar Chai Pat serta Keaw memutuskan untuk menikah dan saling jujur satu sama lain. Dan Chai Pat terdiam.


Marathee datang menemui Keaw, dan mengajaknya untuk mengobrol diluar dengan alasan karena dia tidak ingin mengganggu Ayah Keaw yang sedang tertidur. Dan dengan sedikit ragu, Keaw pun mengikuti Marathee untuk berbicara di luar.


Marathee memberitahukan kebohongan pada Keaw. Dia mengatakan bahwa pagi ini General Pinit datang ke rumah Jutathep dan mengancam Nenek Aiet serta Nenek Oon. Mendengar itu Keaw pun merasa khawatir, dan kesal, karena dia bukanlah barang siapapun, jadi General Pinit tidak seharusnya melakukan itu.

“General Pinit mengancam akan memecat P’Chai Pat dari rumah sakit. Dan juga dia mungkin akan membunuh P’Chai Pat,” kata Marathee, bersikap seolah cemas.

“Tapi ini negara hukum, bagaimana bisa orang lain membuli yang lainnya?” balas Keaw.


“Jangan bicara untuk dirimu sendiri, Krongkeaw. Kamu tahu bahwa General Pinit bisa melakukan segala yang di inginkannya. Kamu juga tahu P’Chai Pat mencintaimu, jadi kamu mengambil keuntungan dari nya. Sekarang P’Chai Pat telah menyembuhkan Ayahmu, jadi jika kamu masih punya hati, maka pergilah dari hidupnya demi keselamatannya,” jelas Marathee. Dan mendengar itu, Keaw merasa ragu.


Karena Keaw masih tampak ragu, maka Marathee pun sengaja memancingya. Dia mengatakan bahwa semuanya terserah kepada Keaw, tapi jika sesuatu yang buruk terjadi kepada Chai Pat, maka itu semua karena Chai Pat berusaha untuk melindungin Keaw. Lalu  dengan sikap seolah sedih, dia mengatakan bahwa dia akan pergi menemui Chai Pat sekarang.

“Tidak peduli apa yang terjadi, aku akan tinggal disisinya,” kata Marathee, lalu dia berlari pergi dengan cepat.


Keaw masih merasa ragu, tapi disisi lain dia merasa cemas dan takut juga. Jadi akhirnya, dia pun berlari mengejar Marathee. “Khun Marathee!!” panggilnya.

3 comments: