Wednesday, January 9, 2019

Sinopsis Lakorn : Khun Chai Puttipat Episode 7 - part 3

0 comments
Khun Chai Puttipat (2013) Episode 7 - Part 3
Network : Channel 3

Selesai menerima telpon dari Chai Pee, Katesara dengan lega memberitahukan kepada Chinnakorn bahwa Chai Pat telah membawa Keaw ke tempat yang aman. Dan mendengar itu, Yam pun ikut merasa senang dan lega juga.

Namun Chinnakorn malah merasa cemas, dia takut jika General Pinit mengetahui bahwa Chai Pat melawan kekuasaannya, maka apa yang akan terjadi.

“Khun Chin. Jika kita yakin apa yang kita lakukan adalah hal yang benar, tidak ada yang perlu ditakutkan. Pada akhirnya, kebaikan akan menang melawan kejahatan. Dan aku percaya bahwa Khun Chai Pat melakukan hal yang benar,” jelas Katesara dengan lembut.

Tepat disaat itu, Marathee datang, dan dia mendengar seperti ada nama Chai Pat disebut oleh Katesara. Lalu dia pun bertanya, apa yang Chai Pat lakukan.


Diteras. Marathee bertanya lagi, dan Katesara kesulitan untuk mencari alasan. Lalu Yam menyela, dia mengatakan bahwa tadi mereka sedang membicarakan betapa baiknya Chai Pat menjadi dokter.


“Dia memang dokter terbaik. Tapi disisi lain, dia adalah tunangan yang kejam,” keluh Marathee, lalu dia menunjukan berita di koran. “Dia merusak kehormatan keluarga Taewaprom. Dia membawa ku pesta dansa, tapi malah berdansa dengan wanita yang menunjukan paha nya. Selir General Pinit yang murahan itu,” keluh Marathee dengan kesal.

“Marathee. Jika kamu tidak tahu apapun, jangan menfitnah N’Keaw seperti itu,” tegur Katesara.


Marathee merasa marah, mengapa dia tidak bisa melakukan itu. Lalu tiba- tiba dia seperti tersadar akan sesuatu, dan dengan lebih emosi, dia menanyakan mengapa Katesara memanggil Keaw seperti mereka berdua dekat. Dan Katesara membenarkan hal itu.

Dengan jujur, Katesara memberitahukan segalanya kepada Marathee. Karena Keaw tidak mau menjadi selir General Pinit, maka Chai Pat membawa Keaw untuk tinggal disini. Serta mengenai dumpling yang Marathee bawa untuk keluarga Jutathep, itu semua di buat oleh Keaw yang telah membantunya selama Keaw tinggal di rumah nya.


“Ketika orang yang sedang kesulitan datang ke sini, maka sangat kejam jika kita menolaknya,” jelas Chinnakorn.

Marathee merasa sangat marah kepada Katesara. Dia adalah adik kandung Katesara, tapi Katesara malah tidak merasa kasihan sama sekali kepadanya, dan menolong Chai Pat yang membawa Keaw untuk tinggal di sini.

“Aku menyanyangin adik kandungku. Coba kamu pikirkan, bukankah bagus membiarkan Keaw untuk tinggal di sini? Jika aku tidak mengizinkannya tinggal disini, maka Khun Chai akan membawa dia tinggal di Istana, atau ke tempat yang kita tidak tahu,” jelas Katesara.


“Dimana dia sekarang? Apa dia disini? Aku perlu bicara kepada nya,” balas Marathee. Lalu berteriak memanggil nama Keaw agar keluar dari dalam rumah.

Chinnakorn memanggil nama Marathee dengan keras, dan memintanya agar tenang. Lalu Katesara menjelaskan bahwa saat ini Keaw tidak lagi berada di rumahnya. Dan Marathee pun langsung bertanya dimana Keaw sekarang, tapi Chinnakorn serta Katesara tidak bisa menjawab.

“Jangan bilang, dia ada di Hua- hin dengan P’Chai Pat,” kata Marathee.


Nenek dan Kakek meminta maaf kepada Chai Pat karena mereka telah meragukan Chai Pat sebelumnya, kemudian mereka juga berterima kasih karena Chai Pat telah membantu putrinya untuk melahirkan. Dan dengan rendah hati, Chai Pat membalas bahwa ini memang tugasnya sebagai seorang dokter. Lalu Chai Pat pun pamit kepada mereka semua.

“Aku pikir ini bukan ide yang bagus, jika kamu kembali sekarang, itu akan berbahaya. Aku pikir kamu harus tinggal disini dulu semalam,” jelas Kakek, karena hari sudah mulai mau gelap.


Si Istri yang telah Chai Pat bantu, dia meminta agar Chai Pat mau memberikan nama kepadanya. Dan Chai Pat membalas bahwa menurutnya, orang yang harus memberikan nama kepada anak itu adalah Keaw. Lalu Keaw pun mulai berpikir.

“Anak ini lahir di desa nelayan, di pulau yang dikelilingin oleh laut. Dia pria. Jadi namanya adalah Samuthai. Apa kalian suka itu?” tanya Keaw kepada pasangan tersebut, dan dengan senang mereka mengiyakan.


“Samuthai … berarti laut Thai? Nama yang sangat indah,” puji Chai Pat sambil memegang kepala Keaw dengan lembut.

Melihat kemesraan mereka berdua, si Istri memuji mereka. Dia mengatakan bahwa Keaw dan Chai Pat adalah pasangan yang sangat sempurna, satu cantik dan satu nya lagi tampan. Dan mendengar itu, Chai Pat tersenyum lebar. Begitu juga dengan Keaw.


Chai Pat dan Keaw berjalan bersama di tepi pantai. Lalu saat memandang ke langit malam, Keaw merasa sangat kagum, karena dia bisa melihat bintang dengan sangat jelas ditempat ini, lebih jelas daripada yang dilihatnya di kampung halamannya Ayuthaya.

Melihat betapa senangnya Keaw memandang bintang, Chai Pat pun mendekat. Dan dia menunjukan pada Keaw, bintang yang diketahuinya.


“Itu disebut Pleiades (atau 7 bersaudara). Coba hitung mereka,” kata Chai Pat.

“1. 2. 3. 4. 5. 6. Itu ada enam,” balas Keaw.

Chai Pat menjelaskan kepada Keaw, dia mengatakan bahwa bintang itu harusnya ada tujuh, tapi kebanyakan orang hanya bisa melihat enam dari mereka. Namun orang yang memiliki penglihatan tajam dan expert seperti astronomi, maka mereka akan bisa melihat satu yang tersembunyi itu.


“Lihat disana. Lihat itu, Keaw,” kata Chai Pat sambil kembali menunjuk kearah langit.

Saking penasaran nya, Keaw pun memegang lengan Chai Pat yang sedang menunjuk kearah langit. Lalu ketika akhirnya dia berhasil menemukan bintang ketujuh, dia tersenyum pun lebar kearah Chai Pat yang sangat dekat dengannya. Kemudian selama sesaat, mereka saling berdiam dan saling memandang satu sama lain sambil tersenyum.


“Kamu adalah wanita paling cantik, Keaw. Kamu lebih cantik daripada setiap bintang- bintang. Aku jujur,” kata Chai Pat memuji Keaw sambil terus memandangnya. Dan sambil tersenyum malu- malu, Keaw meminta agar Chai Pat berhenti memandangin nya.


Chai Pat lalu mengajak Keaw untuk melihat bintang bersama disini. Dia menjelaskan bahwa menurut koran yang dibacanya, sebuah komet akan muncul sekitar jam 3 pagi, dan jika mereka berada di dekat pantai, maka mereka bisa melihat lebih jelas.

“3 pagi. Bagaimana jika aku ketiduran?” tanya Keaw.

“Jika kamu tertidur, maka aku akan membangunkan mu,” balas Chai Pat.

“Apa kamu tidak mau tidur?”

“Bagaimana mungkin aku bisa tidur, ketika kamu ada disisiku?” goda Chai Pat, sehingga membuat Keaw kembali merasa malu.


Kemudian Chai Pat mengajak Keaw untuk duduk bersamanya, dan mereka kembali memandangin bintang di langit. Mereka berdua tampak sangat bahagia sekali.


Keesokan harinya. Menaiki perahu kecil, Chai Pat dan Keaw pulang. Dan sambil bergandengan tangan, mereka berjalan pulang bersama ke rumah. Namun sesampainya dirumah, mereka malah bertemu dengan Nenek Oon.


“Ya ampun! Kamu benaran datang kesini bersama dengan ratu kecantikan!!” hardik Nenek Oon dengan keras sambil memandang tajam.

Menyadari arti tatapan dari Nenek Oon, maka Keaw pun menarik tangannya yang dipegang oleh Chai Pat. Dan merasakan itu, Chai Pat memandangin Keaw dengan heran.


Didalam rumah. Chai Pat mencoba untuk menjelaskan semuanya, tapi Nenek Oon terus memotong perkataannya. Nenek Oon mengatai dan menghina Keaw dengan kata kurang baik, lalu dia menyuruh Chai Pat untuk ikut pulang bersama dengannya.

“Tapi…” kata Chai Pat ingin menjelaskan.

“Tidak ada tapi. Atau kamu ingin melihat ku dan Nenek Aiet mati? Aku tidak berpikir bahwa wanita vulgar murahan bisa lebih berharga untuk mu daripada kedua Nenek mu,” sela Nenek Oon.


Tidak tahan lagi mendengarkan semua hinaan itu, maka Keaw pun berdiri dan berlari pergi dari sana. Lalu Chai Pat ingin mengejarnya, tapi karena Nenek Oon memanggilnya, maka dia tidak jadi mengejar Keaw dan kembali duduk.


Ditepi pantai. Keaw menangis mengingat semua hinaan dari Nenek Oon yang memandang rendah dirinya. Lalu Chai Pat datang. Dan Keaw ingin segera pergi lagi, tapi karena Chai Pat memengangin tangannya, maka dia tidak bisa pergi.


“Tolong lepaskan aku,” pinta Keaw dengan kepala tertunduk.

“Tidak. Aku tidak akan pernah melepaskan mu,” balas Chai Pat.

Keaw tidak ingin membuat masalah bagi Chai Pat lagi, karena itu dia meminta agar Chai Pat mau melepaskan nya. Dan Chai Pat membalas bahwa dia tidak ingin Keaw terlibat bahaya dan di tangkap oleh General Pinit, karena itu akan membuatnya merasa sangat sedih sekali.


“Aku mohon padamu, Keaw,” pinta Chai Pat sambil memegang kedua tangan Keaw. “Jangan khawatirkan tentang keselamatan ku. Aku bersedia melakukan segalanya, karena kamu adalah orang yang paling penting untuk ku. Aku akan pulang ke Bangkok dan menyelesaikan semuanya. Untukmu, tinggallah disini. Aku akan segera kembali. Percayalah pada ku. Jangan melarikan diri, Keaw,” jelas Chai Pat. Lalu dia memeluk Keaw.


General Pinit datang mengunjungin rumah sakit. Dia menemui Direktur dan mengancam nya. Dia mengatakan bahwa dia telah banyak membantu rumah sakit ini, dan tidak pernah ikut campur akan masalah di rumah sakit. Tapi mengapa Chai Pat malah mencampuri urusannya dan menusuk nya dari belakang dengan membawa kabur wanita nya.

“Bagaimana aku harus menanganinnya? Jika kamu masih cinta dan peduli dengan orang miskin yang memerlukan pertolongan dari rumah sakit mu, maka selesaikan lah masalah ini!!” teriak General Pinit dengan marah kepada Direktur.


Nenek Aiet menasehati Chai Pat, dia mengatakan bahwa Chai Pat masih polos tentang wanita, karena selama ini Chai Pat hanya sibuk menghabiskan waktu dengan belajar dan berada di ruang operasi, jadi Chai Pat tidak tahu apapun tentang trik seorang wanita.

“Keaw bukan wanita sejenis itu. Keaw orang yang baik,” jelas Chai Pat.

“Wanita yang berani mengenakan pakaian terbuka dan menunjukan nya kepada semua orang, serta dia akan menjadi selir dari General Pinit. Apa itu yang kamu sebut ‘Orang baik’?” balas Nenek Oon dengan sinis.

“Kamu tidak pernah bisa menghakimin Keaw hanya dari mendengarkan orang lain. Ini tidak adil,” balas Chai Pat dengan tegas.

“Apa kamu mencoba mengajariku?” balas Nenek Aiet tidak senang.

Chai Pat menjelaskan semuanya dari awal. Alasan Keaw mengikuti kontes ini adalah karena Keaw memerlukan uang untuk Ayahnya yang sedang sakit. Dan Keaw tidak pernah sekali pun berpikiran untuk menjadi selir seseorang, karena itu Keaw melarikan diri dari General Pinit. Namun General Pinit terus mengejar Keaw.

“Inilah mengapa aku membawa nya dan membantunya untuk kabur,” jelas Chai Pat.


“Tidak peduli apa alasan nya. Wanita ini adalah orang kelas bawah, tidak ada gunannya untuk berhubungan dengan dia,” balas Nenek Oon.

Chai Lek membela Chai Pat, dia menjelaskan bahwa dulu Nenek Oon sendiri yang pernah mengatakan kalau tingkatan dan gelar seseorang tidak berarti tanpa kebajikan. Lalu Chai Pee menambahkan, dia bertanya jika Keaw adalah orang baik, apa mereka masih memerlukan tingkatan dan gelar.

“Eh… kalian berdua berani berbicara balik padaku?!” tegur Nenek Oon.


Chai Pat berusaha untuk bernegosiasi dengan Nenek Aiet, tapi Nenek Aiet tetap tidak mau menerima Keaw, karena General Pinit adalah orang yang berkuasa disini.

“Apa kamu memberitahu ku untuk diam dan memperhatikan orang baik di buly oleh pria yang berkuasa?” tanya Chai Pat.

“Nenek memberitahu mu agar menyerahkan masalah ini kepada orang yang bertanggung jawab pada keadilan,” balas Nenek Oon.


“Orang yang bertanggung jawab pada keadilan? Siapa?” tanya Chai Pat.

“Seseorang tapi bukan kita,” tegas Nenek Oon.

Dengan nada sedikit keras, Chai Pat membalas bahwa tidak serorang pun yang bisa. Lalu dia menanyakan, bukankah seharusnya mereka berdua merasa bangga padanya, karena dia sebagai cucu mereka, dia tidak diam melihat ketidak adilan.
“Hey!! Kamu berani bicara seperti ini. Aku yakin wanita itu yang telah mencuci otak mu!” hardik Nenek Oon.

“Mengapa kamu terus menyalahkan Keaw? Keaw hanyalah gadis kecil, tapi dia berani untuk melawan kekuatan gelap.  Bagaimana dengan kita? Kita adalah keluarga Jutathep!! Apa yang kita lakukan? Kita tidak melakukan apapun!! Tapi kita menyebut diri kita sendiri ‘orang baik’. Tidak kah kamu merasa malu?” balas Chai Pat dengan nada sangat keras.


Chai Pat berlutut di depan kedua Neneknya. Dia menjelaskan selama dia bertumbuh, dia selalu mempercayai perkataan Nenek Aiet dan Nenek Oon, tapi kali ini, dia meminta tolong agar mereka berdua tidak menghentikannya.

“Chai Pat. Beritahu aku dengan jujur. Kamu tidak mencintai wanita itu, kan?” tanya Nenek Aiet dengan tegas. Dan Chai Pat diam, tidak bisa menjawab.

No comments:

Post a Comment