Wednesday, January 9, 2019

Sinopsis Lakorn : Khun Chai Puttipat Episode 7 - part 2

0 comments



Khun Chai Puttipat (2013) Episode 7 - Part 2
Network : Channel 3

Ketika mengetahui bahwa Chai Pat tidak ada pulang dari semalam, Marathee langsung mengomel, dia mengatakan bahwa ingin melapor kepada Ayahnya, karena Chai Pat harus bertanggung jawab telah mengkhianati nya.


Sementara Nenek Oon, dia langsung menuduh bahwa pasti Keaw lah yang telah membawa anak baik seperti Chai Pat ke jalan yang salah.

“Berhenti bicara omong kosong. Kita masih belum tahu apapun, kecuali Chai Pat tidak pulang ke rumah. Sebelum mengambil kesimpulan, kita perlu tahu, kemana dia pergi, apa yang di lakukan nya, apa masalah nya. Kita harus menemukan dia dulu. Okay? Dan menanyakan alasan nya juga,” kata Nenek Aiet dengan tegas kepada mereka berdua.


Chai Pat tidur di sofa luar, dan ketika terbangun, dia langsung menuju ke kamar Keaw dan memanggil Keaw, lalu karena tidak ada jawaban, maka dia pun masuk ke dalam kamar Keaw. Didalam Chai Pat mencari dimana Keaw, tapi ternyata Keaw tidak ada di dalam kamar.

Chai Pat turun dan menyapa Chum serta Nuan yang sedang bersih- bersih. Lalu dia menanyakan, apa mereka melihat dimana Keaw.

Ternyata Keaw sedang memasak di dapur. Dan melihat itu, Chai Pat mendekati nya dari belakang, lalu dia  menghirup wangi masakan Keaw yang tercium sangat harum. “Ini kelihatan enak,” puji Chai Pat. Dan Keaw tersenyum.


Sambil tersenyum sendiri, Nuan memandangin Chai Pat dan Keaw yang sedang sarapan bersama. Lalu melihat itu, Chum mendekat dan mengkagetkan nya dari belakang.

“Itu pacar Khun Chai. Dia sangat cantik. Tapi dia bukan anak Taewaprom,” kata Nuan.

“Ini begitu aneh. Biasanya kalau dua orang pergi bersama, mereka akan tinggal di dalam satu kamar. Tapi Khun Chai tidur diluar. Jika aku adalah dia, aku tidak akan melepaskan wanita secantik itu,” jelas Chum sambil tertawa. Dan Nuan langsung menegurnya.


Keaw dan Chai Pat saling mengobrol bersama sambil menikmati sarapan mereka. Dengan sangat perhatian, Chai Pat merapikan poni Keaw dan mengambilkan air untuk Keaw. Dan sambil tersenyum, Keaw membiarkan nya.


Chai Pat dan Keaw berjalan menelusuri tepian pantai, sambil membawa sebuah sepeda. Dan dengan senang, Keaw menikmati udara sekitar yang sangat segar. Lalu dengan serius, Chai Pat menanyakan apa Keaw bisa tinggal sesaat di sini.

“Akhirnya, aku membawa masalah untukmu,” kata Keaw dengan menyesal.

“Siapa yang bilang? Itu kamu, aku dan saudara ku yang menculik mu ke sini,” balas Chai Pat.

Dengan cemas, Keaw menanyakan apa yang akan terjadi kepada Chai Pat dan yang lainnya, jika General Pinit mengetahui tentang ini. Karena General Pinit adalah orang yang memiliki kekuasaan. Jadi itu membuat Keaw merasa takut.

“Jangan takut, Keaw. Aku akan melindungin mu,” kata Chai Pat dengan lembut.

“Aku tidak takut untuk diriku sendiri, tapi aku takut untuk mu,” balas Keaw, cemas.
“Keaw. Jika orang baik takut pada orang jahat, dan membiarkan mereka melakukan apapun yang mereka inginkan, maka dunia ini tidak akan lagi bisa menjadi dunia,” jelas Chai Pat.


Keaw masih tetap merasa cemas. Dan Chai Pat menjelaskan bahwa dirinya tidak bodoh, orang seperti nya, sebelum dia melakukan sesuatu, maka dia sudah memikir kannya dengan baik, jadi yang perlu Keaw lakukan adalah tinggal di rumah nya ini, dan beradaptasi dengan warga sekitar agar General Pinit akan kesulitan untuk menemukan Keaw.

Dan sambil tersenyum, Keaw menganggukan kepala nya pelan, tanda iya.
Chai Pat membonceng Keaw menggunakan sepeda, dan membawa Keaw ke toko pakaian untuk membeli beberapa pakaian. Kemudian setelah itu, dia dan Keaw berkeliling. Lalu sementara Chai Pat pergi mengurus sesuatu, Keaw melihat bumbu- bumbu dapur.


“Keaw. Aku sudah selesai. Aku telah mengirimkan telegram kepada Dokter Ayah mu untuk menjaga Ayah mu secara rahasia dan tidak mengizinkan siapapun untuk datang mengunjungin nya,” jelas Chai Pat, ketika telah menyelesaikan urusannya.

“Bagaimana keadaan Ayah ku?” tanya Keaw.


“Tekanan darah nya sudah lebih membaik, tapi berat badan nya terlalu rendah. Jadi mereka perlu untuk memperkuat tubuhnya dulu sebelum dia dikirim kan ke Bangkok. Ketika nantinya ada kesempatan, aku akan membawa mu untuk segera mengunjungin Ayah mu,” jelas Chai Pat.

“Terima kasih banyak ya, Khun Chai.”


Chai Pat menjelaskan juga mengenai pekerjaan nya di rumah sakit. Dia mengatakan bahwa selama dia bekerja disana, dia jarang mengambil libur, dan dia selalu menggantikan dokter lain saat mereka memiliki urusan. Jadi kali ini, dia akan membiarkan para dokter itu untuk menggantikannya sementara.

“Aku tahu. Kamu sangat mencintai pekerjaan mu,” kata Keaw, mengerti.

“Ya. Aku sangat mencintai pekerjaan ku. Karena itu sekarang, biarkan aku sejenak mencintai hal yang lain nya juga,” balas Chai Pat sambil tersenyum.


Dengan sedikit salah tingkah, Keaw mengalihkan pembicaraan, dan mengajak Chai Pat untuk pulang, karena cuaca  bertambah sedikit panas.

“Tidakkah kamu bahkan berpikir untuk bertanya?” tanya Chai Pat, menggoda Keaw.

“Bertanya apa?”

“Contohnya. Aku mengambil istirahat dari mencintai pekerjaan ku untuk mencintai apa atau mencintai siapa?” jelas Chai Pat sambil tersenyum.

“Aku tidak akan bertanya,” balas Keaw dengan malu- malu.

“Tidak akan bertanya? Kamu tidak akan bertanya, karena kamu tidak ingin tahu… atau kamu sudah tahu,” balas Chai Pat. Dan tanpa mengatakan apapun lagi, Keaw langsung berjalan pergi meninggalkan Chai Pat.


Sesampainya dirumah, Keaw langsung bersembunyi dibelakang Chai Pat, karena dua orang pria yang tampak sangar berlari ke arah mereka dan meneriaki mereka. Dua orang itu datang mencari Chai Pat, karena mereka ada mendengar bahwa seorang dokter bernama Chai Pat di pasar tadi.

“Itu aku,” kata Chai Pat dengan heran.

“Dokter. Tolong istriku. Dia kontraksi sejak kemarin malam, tapi bayi nya belum keluar,” jelas seorang dari dua orang tersebut.

“Dimana dia?” tanya Chai Pat.

“Dia ada di gunung Hua- Kalok,” jawab orang itu.


Chai Pat serta Keaw mengikuti orang tersebut menaiki perahu kecil menuju ke gunung Hua- Kalok. Dan sesampainya mereka berdua bersama kedua orang tersebut ke tempat tujuan, banyak orang yang tidak mempercayai Chai Pat sebagai dokter, karena penampilan Chai Pat yang masih tampak sangat muda.


“Aku mohon padamu, Bu, Yah. Tolong izinkan dokter membantu bayi nya lahir. Dia dokter dari rumah sakit di Ibu kota. Dia pasti akan bisa menolongnya,” pinta si Suami kepada kedua orang tua nya, karena mereka tidak mengizinkan Chai Pat untuk masuk ke dalam rumah.


Akhirnya Chai Pat serta Keaw di izinkan masuk ke dalam rumah. Seorang bidan yang ada disana menjelaskan kepada Chai Pat bahwa posisi bayi nya terbalik, dan dia telah mengurut perut nya sangat lama, tapi bayi tersebut tetap sulit untuk keluar.

“Aku minta maaf. Orang yang tidak berhubungan, tolong tunggu di luar. Jika ada terlalu banyak orang disini, pasien tidak bisa bernafas bebas. Aku mengharap kan kerja sama kalian semua,” kata Chai Pat dengan tegas.

Keaw pergi keluar untuk mengambil air panas, sesudah itu dia masuk kembali ke dalam rumah dan menaruhnya ke dalam baskon yang berisi air biasa. Kemudian Chai Pat menggunakan air hangat tersebut untuk mencuci tangannya.


“Baiklah. Baiklah. Sejak kamu ingin dokter muda itu yang melakukannya, maka baiklah. Tapi jika terjadi sesuatu yang buruk, jangan salahkan aku,” kata si Bidan dengan kesal, lalu dia keluar dari rumah. Tapi semua orang langsung menahannya agar jangan pergi dulu, dan menunggu sebentar. Tampaknya banyak orang masih tidak mempercayai Chai Pat.


Setelah selesai mencuci tangannya dan mengeringkan nya, Chai Pat langsung membantu si Istri untuk melahirkan, dia menjelaskan kepada Keaw bahwa apa yang Bidan tersebut katakan benar, bayi di dalam kandungan si Istri dalam posisi terbalik.

Mengetahui hal itu, Keaw merasa cemas dan takut, karena jika terjadi sesuatu mereka tidak mempunyai perlengkapan medis disini. Tapi Chai Pat langsung memberikan kode agar Keaw jangan berbicara keras, dan jangan khawatir.


“Apa kamu siap? 1, 2, 3,” kata Chai Pat sambil mengurut perut si Istri. Dan si Istri pun langsung berteriak dengan kuat, berusaha untuk mendorong bayi nya agar keluar. Tapi si bayi masih belum keluar juga.

“Lihat? Sampai sekarang, bayi nya belum keluar. Aku sudah bilang padamu, dengan wajah semuda ini, apa yang bisa dia lakukan? Aku akan pulang,” kata si Bidan kepada semua orang, lalu dia pergi.
Akhirnya si Bayi mulai kelihatan sedikit keluar, dan Chai Pat pun langsung memberitahukan nya kepada Keaw. Lalu Keaw keluar dan menyampaikan itu kepada setiap orang. Dan mendengar itu, setiap orang langsung berteriak kegirangan.


Setiap kali Chai Pat memberitahukan tentang si Bayi, maka Keaw akan langsung keluar dari rumah untuk memberitahukan kepada setiap orang. Namun selanjutnya, Chai Pat menahan tangan Keaw dan meminta agar Keaw tetap disini untuk membantu nya.


“Lakukan seperti yang aku katakan. Tarik nafas! Keluarkan! Tarik nafas! Keluarkan! Aku melihat  bayinya, tolong tahan sebentar lagi. 1, 2, 3,” kata Chai Pat dengan fokus mengarahkan si Istri. Lalu dengan keras, si Istri kembali berteriak dan berusaha keras untuk mendorong bayi nya.

“Bayi nya keluar,” kata Chai Pat dengan keras. Dan setiap orang dengan gembira langsung berteriak kegirangan. Sementara Keaw, dengan cepat dia langsung mengambilkan kain dan memberikan nya kepada Chai Pat.

Setelah semua selesai, Chai Pat dan Keaw berjalan di pinggiran laut. Chai Pat memuji Keaw yang sama sekali tidak takut pada darah. Dan Keaw membalas bahwa dia begitu, karena Chai Pat sangat bagus dalam hal itu, jadi dia tidak takut.

Chai Pat menjelaskan bahwa sebenarnya dia tidak bagus dalam membantu kelahiran, tapi seorang dokter harus memiliki kepercayaan diri, supaya pasien merasa tenang. Dan mengetahui hal itu, Keaw merasa kagum kepada Chai Pat.


“Kita beruntung karena tidak terjadi masalah yang terlalu besar, jadi kita bisa menanganinnya. Tapi jika kita tidak beruntung, alih- alih menerima pujian, kita mungkin bakal dipukuli oleh seluruh warga desa,” canda Chai Pat. Dan Keaw tertawa mendengar itu.


Dirumah sakit. Saat menerima telegram dari Chai Pat yang meminta cuti selama tiga hari, Piangporn dan Yodsawin merasa tidak masalah, karena selama ini Chai Pat jarang libur dan selalu menggantikan Dokter lain.

“Ini hal yang bagus. Mari biarkan dia beristirahat,” kata Yodsawin.

“Ya. Aku mengerti. Kemudian, aku akan memberitahu Direktur untuk meminta dokter lain menggantikan tugas Chai Pat,” balas Piangporn.


Marathee yang kebetulan mendengar itu, dia langsung mendekati Yodsawin, dan dia menanyakan kepada Yodsawin kemana Chai Pat pergi berlibur. Dan Yodsawin menjawab bahwa tidak ada satupun yang tahu, karena mereka juga baru tahu bahwa Chai Pat pergi berlibur dari telegram yang Chai Pat kirim kan kesini.


Dengan kasar, Marathee langsung mengambil telegram Chai Pat yang dipegang oleh Yosadwin. “Dia mengirimnya dari Hua- hin!! Chai Pat pergi ke Hua- hin? Mengapa? Dengan siapa?” tanya Marathee dengan cepat dan seperti memaksa.

“Khun Chai pasti capek. Aku tidak tahu jika dia sakit pada sesuatu kemarin malam atau dia melakukan ini karena seseorang. Apa Khun Chai tidak mengajak mu pergi dengan nya? Kasihannya!!” balas Yodsawin, menyindir Marathee. Lalu dia pergi.


Dirumah. Saat mengetahui bahwa hari ini Chai Pat tidak ada datang bekerja, Nenek Oon langsung  menjelaskan bahwa memang ada yang aneh, karena ini tidak seperti Chai Pat yang biasanya, pergi tanpa memberitahu pada mereka.

“Apa sesuatu terjadi kepada Chai Pat?” kata Nenek Aiet, bertanya- tanya.

Marathee datang, dan langsung mengomel kepada Nenek dengan kesal. Dia mengatakan bahwa Chai Pat mencoba untuk melarikan diri darinya ke Hua- hin tanpa memberitahu kan kepadanya sama sekali.

“Ketika dia berada di halaman depan koran dengan wanita lain, itu membuatku malu. Tapi sekarang dia bahkan meninggalkan ku untuk bekerja sendirian. Aku benar- benar kehilangan wajah ku karena itu. Berapa kali dia telah melakukan ini padaku?” kata Marathee dengan suara keras, mengeluh.

“Marathee, dengarkan lah dulu alasan nya. Tenang ya. Dia pasti punya alasan,” balas Nenek Aiet, menenangkan Marathee.

“Alasannya adalah karena dia tidak menginginkan ku untuk pergi dengan nya. Itu berarti dia tidak ingin aku menjadi bagian dari hidup nya,” kata Marathee terus mengeluh.

“Jangan katakan itu. Kami tidak akan membiarkan Chai Pat berpikir begitu. Percayalah padaku,” balas Nenek Oon, menenangkan Marathee.

“Aku ingin percaya. Tapi selama ini, kalian tidak pernah melakukan apapun pada cucu mu. Aku menyerah. Janji antara dua keluarga hanyalah janji palsu,” balas Marathee.

“Janji ku bukan hanya kata- kata. Chai Pat pasti harus menepati janji itu demi kehormatan keluarga Jutathep. Jika Chai Pat tidak akan mendengarkan ku, maka aku sendiri yang akan mengurus pernikahan antara kamu dan Chai Pat,” tegas Nenek Aiet.

No comments:

Post a Comment