Sunday, January 20, 2019

Sinopsis Lakorn : Khun Chai Puttipat Episode 9 - part 3

1 comments

Khun Chai Puttipat (2013) Episode 9 - Part 3
Network : Channel 3

Nenek Aiet serta Nenek Oon merasa sangat lega karena Chai Pat selamat, dan mereka menasehati agar Chai Pat lebih berhati- hati serta berpikir dua kali sebelum bertindak lain kali. Lalu Nenek Aiet pun menanyakan apa Chai Pat sudah ada menghubungin Ayah Keaw di rumah sakit, karena Ayah Keaw pasti sedang sangat khawatir sekarang, sebab Keaw telah menghilang selama beberapa hari.

“Oh benar. Dia pasti akan merasa sangat tenang bila tahu bahwa putrinya selamat,” kata Chai Pat sambil tersenyum memandang ke arah Keaw.



“Selamat? Kamu diculik selama beberapa hari oleh General Pinit. Apa dia tidak ada melakukan apapun pada mu? Hah? Ada atau tidak?” tanya Nenek Oon dengan nada menuduh kepada Keaw. Dan mendengar itu, Chai Pat langsung menatap ke arah Keaw dengan pandangan aneh.

“Hey, Oon!” tegur Nenek Aiet.


Keaw hanya diam saja, karena dia tidak tahu harus menjawab bagaimana. Lalu saat dia menyadari tatapan semua orang yang menatap nya dengan pandangan curiga, dia merasa sangat tidak nyaman sekali.


Keaw keluar dari dalam rumah, dan Chai Pat mengikuti. Lalu Keaw menanyakan apa maksud dari tatapan Chai Pat barusan, menurutnya tatapan Chai Pat barusan seperti berpikir bahwa dia telah tidur dengan General Pinit.

“Bukan seperti itu, Keaw. Hanya melihat saja. Aku tidak berpikir apapun,” jelas Chai Pat dengan nada pelan.

“Tapi matamu tidak berbicara begitu,” balas Keaw dengan nada terluka.




Chai Pat bergerak mendekat dan memegang kedua tangan Keaw, kemudian dia mengatakan bahwa dia tidak peduli jika Keaw telah tidur dengan General Pinit atau tidak, karena perasaannya untuk Keaw tidak akan berubah dan masih tetap akan sama. Dan mendengar itu, Keaw langsung menarik kedua tangannya serta mundur selangkah.

“Sejak kamu bicara begitu, itu berarti… kamu pikir aku dan General Pinit…”

“Bukan begitu, Keaw,” potong Chai Pat.

“Tidak apa. Tidak ada yang perlu mempercayai ku. Aku hanyalah gadis desa, bukan seorang bangsawan, dan berasal dari kelas yang berbeda. Aku tidak cukup bagus untuk tinggal di Istana Jutathep ini,” kata Keaw dengan nada sedih dan terluka, karena Chai Pat tidak percaya padanya. Lalu dia pun ingin pergi.



Chai Pat menahan tangan Keaw yang ingin pergi, dan saat mengetahui Keaw ingin pergi ke rumah sakit untuk menemui Kiti, maka dia pun menawarkan diri untuk mengantarkan Keaw. Tapi Keaw melepaskan tangan Chai Pat dan menolak, dia mengatakan bahwa dia takut mengotori mobil Chai Pat, lalu setelah itu Keaw pun berjalan pergi.



“Khun Chai Pat! Khun Chai Pat!! Nenek Aiet ingin menemui kamu,” panggil seorang pelayan dengan suara keras. Sehingga Chai Pat pun tidak jadi mengejar Keaw yang terus berjalan untuk pergi.



Didepan gerbang. Keaw berhenti berjalan dan berbalik menatap ke belakang. Dan ketika dia melihat bahwa Chai Pat masuk kembali ke dalam rumah, dia pun menangis dengan perasaan sangat sedih. Lalu kemudian dia menguatkan dirinya, dan pergi meninggalkan tempat Jutathep.



Dirumah sakit. Keaw menemui dan memeluk Ayahnya dengan erat, lalu dia mengajak Ayahnya untuk segera pulang ke rumah mereka, karena dia tidak ingin tinggal disini lagi. Dan dengan kebingungan, Kiti pun bertanya apa yang terjadi.

“Aku merindukan rumah kita. Aku ingin tinggal denganmu,” jawab Keaw dengan pandangan sedih. Lalu dia meminta izin kepada Piangporn untuk mengizinkan nya membawa Ayahnya pulang sekarang.



“Tapi Dokter Khun Chai…”

“Khun Chai telah memberikan ku izin,” potong Keaw dengan cepat, sebelum Piangporn sempata mengatakan sesuatu.



General Pinit datang menemui Direktur dan mengatakan dengan marah bahwa dia ingin membatalkan semua dukungan nya untuk rumah sakit. Bahkan 1 baht pun tidak akan diberikannya lagi.

“Aku sudah memperingati kamu, tapi Dokter mu tidak berhenti!! Khun Chai Puttipat menginjak hidungku. Dia pergi mencuri wanita ku, yaitu Krongkeaw, dari dalam rumah ku. Itu berarti dia mendeklarasi kan perang padaku!!” teriak General Pinit, lalu pergi.



Ketika General Pinit telah keluar dari dalam ruangan Direktur, seorang anak buahnya datang mendekat dan memberitahukan bahwa apa yang General Pinit minta padanya untuk dicari tahu, dia telah mendapatkan hasilnya.

“Chai Pat dan Keaw, mereka sudah menanda tanganin surat pernikahan,” kata si Anak Buah.

“Apa? P’Chai Pat dan Krongkeaw sudah menikah?” tanya Marathee dengan nada terkejut, ketika tidak sengaja mendengar nya. Dan Yodsawin yang juga mendengar itu menjadi bertanya2 juga, kapan Chai Pat dan Keaw menikah memangnya.



“Ini adalah foto copy surat pernikahan mereka,” kata si Anak buah menunjukan kertas yang dibawanya. Dan melihat itu, General Pinit langsung meremukan kertas itu dan membantingnya ke lantai dengan sangat marah.

“Mengapa? Mengapa jadi seperti ini? Mengapa Krongkeaw melakukan ini padaku?!!” teriak General Pinit dengan marah. Lalu pergi bersama para anak buahnya.


“P’Chai Pat!! Krongkeaw!! Aku tidak akan membiarkan ini!!” gumam Marathee dengan marah juga. Sementara Yodsawin hanya diam saja.



Dirumah. Nenek Aiet mengatakan kepada Nenek Oon bahwa dia merasa bingung, menurutunya Krongkeaw adalah orang yang baik, tapi hanya baik tidak cukup untuk menikah. Dan Nenek Oon setuju, menurutnya seorang suami dan istri harus bisa saling menolong, tapi Krongkeaw tampaknya tidak bisa menolong Chai Pat, malahan Chai Pat yang harus selalu menolong Keaw dan menyelesaikan masalah Keaw setiap waktu.



Tepat disaat itu Marathee datang. Dengan nada kesal, dia bertanya apa Nenek Aiet serta Nenek Oon telah mengetahui tentang pernikahan Chai Pat serta Krongkeaw. Dan mendengar itu, Nenek Aiet serta Nenek Oon saling bertatapan.

“Jadi, Nenek Aiet dan Nenek Oon tahu. Apa maksudnya ini? Mengapa kalian melakukan itu padaku?” tanya Marathee, ketika menyadari bahwa mereka berdua telah tahu.

“Kami baru saja tahu,” jawab Nenek Oon.

“Lalu mengapa tidak menghentikannya? Bagaimana bisa kalian membiarkan Chai Pat menanda tanganin surat pernikahan itu. Kalian telah berbohong padaku,” balas Marathee.

“Tidak ada seorang pun yang berbohong padamu. Kami sedang mencari solusi untuk menyelesaikan ini,” balas Nenek Aiet dengan tegas.

Marathee menunjukan sesuatu kepada Nenek Aiet serta Nenek Oon, dan ketika melihat apa itu, mereka berdua tampak terkejut. Lalu Marathee menjelaskan kepada mereka bahwa sekarang Keaw telah tidur dengan General Pinit dan menjadi selir dari General Pinit.


“Kalian ingin menunggu sampai orang di Bangkok bergosip di belakang kalian bahwa Khun Chai Puttipat Jutathep mengambil seorang selir orang lain untuk menjadi istrinya? Khun Chai memiliki hubungan dengan selir General atau General yang punya hubungan dengan Istri Khun Chai. Oh my!! Ini begitu rumit ya. Kalian adalah nenek nya, tapi kalian tidak bisa membiarkan cucu kalian menikahi wanita yang sesuai. Aku pikir kalian harus bersiap menggunakan nama panggilan prostitusi,” kata Marathee dengan cara bicara yang mengejek mereka.

“Hey, Marathee!” tegur Nenek Oon.


Nenek Aiet serta Nenek Oon mengundang kakek Chai Pat untuk datang ke rumah. Mereka menceritakan kepada Kakek bahwa Chai Pat telah terbuta kan oleh cinta, sehingga Chai Pat tidak bisa membeda kan lagi antara yang layak dan yang tidak layak. Dan jika masyarakat mengetahui tentang ini, maka mereka akan mulai berbicara di belakang, dan Chai Pat akan kehilangan reputasi nya.


“Jadi apa yang ingin kalian lakukan?” tanya Kakek.

“Aku ingin Chai Pat menikah dengan wanita yang sesuai,” jawab Nenek Aiet.


“Tapi kalian sendiri yang bilang bahwa Chai Pat telah menanda tanganin surat pernikahan dengan si Ratu kecantikan,” balas Kakek.

“Ketua. Sejak dia bisa menanda tanganin surat pernikahan, maka dia juga bsia menanda tanganin surat perceraian,” balas Nenek Oon.


Kakek tertawa, lalu bertanya bagaimana jika Chai Pat tidak mau. Dan Nenek Aiet pun menjelaskan bahwa itulah alasannya memanggil kakek ke sini, karena Chai Pat sangat menghormati dan menyanyangin Kakek. Maka dia ingin kakek menyakinkan Chai Pat untuk bercerai dengan Keaw.

“Siapa? Siapa yang menurut kalian wanita yang sesuai dengan Chai Pat?” tanya kakek.

“M.L. Marathee Taewaprom,” jawab Nenek Aiet.

“Marathee adalah seorang perawat. Dia cocok dengan Chai Pat,” tambah Nenek Oon.

Kakek merasa terkejut mendengar nama Marathee, lalu dia memberitahukan kepada mereka berdua bahwa mereka harus mengetahui kalau Marathee adalah seorang selir juga. Dan mendengar itu, Nenek Oon langsung tertawa, karena menurutnya itu sangat tidak mungkin.

“Itu dia! Itu dia! Dia seorang selir dari General Pinit juga,” kata Kakek dengan yakin.

“Aku saksinya,” tambah asisten Kakek.

“Mereka berpegangan tangan saat berbelanja di mall ku. Setiap orang melihat mereka. Beritahu mereka,” kata Kakek pada asistennya.

“Pertama, ketua tidak yakin, tapi segalanya itu benar. General Pinit dan Khun Marathee membeli banyak produk ternama seperti kalung berlian, tas, sepatu, dan lainnya. Segala yang Khun Marathee gunakan sekarang, itu dia beli dari mall kami. Jika kalian ingin bukti, maka kami punya struk nya. General Pinit membayar semua itu secara tunai, dan dia menyuruh kami untuk mengirimkan produk lainnya ke rumah Marathee untuk dipilih,” jelas Asisten kakek dengan sangat detail sekali.

Mendengar semua itu, Nenek Aiet tidak percaya, menurutnya bisa saja Kakek salah mengenali orang. Karena Marathee tidak mungkin begitu.

“Jika itu dia, aku tidak akan menerima nya menjadi menantuku. Kalian berdua harus percaya padaku. Jika kalian tidak percaya, perhatikan lah Marathee dengan mata kepala kalian sendiri, apa benar dia banyak memakai produk ternama seperti yang aku katakan,” kata Kakek dengan tegas dan yakin.

Dirumah. Marathee mencoba semua pakaian dan perhiasannya dengan senang, tapi karena cuaca sangat panas, maka dia pun mengeluh dan mengatakan bahwa dia seharusnya memasang AC di sini. Kemudian dia pun berteriak agar diambilkan air, tapi tidak ada satupun pelayan yang menjawab.


Taewaprom keluar dari dalam rumah. Dan ketika dia melihat semua produk mahal yang ada diatas meja, dia pun merasa heran dan bertanya darimana Marathee mendapatkan semua itu. Tapi Marathee tidak mau memberitahu, dia mengatakan bahwa itu tidak penting darimana, yang penting adalah dia telah membayar semua tagihan mereka.


Tanpa bertanya lagi, Taewaprom pun memperhatikan dengan senang semua perhiasan mahal yang dipakai oleh Marathee. Dan dengan senang, Marathee membiarkan Ayahnya untuk menkagumin semua perhiasan yang dipakainya.

Tepat disaat itu, Nenek Aiet serta Nenek Oon datang, jadi Taewaprom pun segera memberi salam dengan hormat. Sementara Marathee, tidak.


Nenek Aiet serta Nenek Oon memuji semua perhiasan mewah yang dipakai oleh Marathee, dan lalu mereka menanyakan darimana Marathee mendapatkan semua itu. Dan Marathee pun berbohong, dengan sikap angkuh dia mengatakan bahwa semua ini dia beli dari hasil simpanannya, karena menjaga beberapa pasien special dan menang lotre.

“Mereka semua terlihat bagus kan padaku, kan?” tanya Marathee dengan bangga. Dan Nenek Aiet serta Nenek Oon saling tersenyum.


Madame Sara datang, dan melihat itu, Marathee tampak sangat terkejut.

“Aku tidak bisa percaya bahwa kamu seorang pencuri, M.L. Marathee,” kata Madame Sara.

“Pencuri? Siapa yang pencuri? Jangan menfitnah putriku begitu,” kata Taewaprom membela Marathee.



Madame Sara mengeluarkan fotonya dan memperlihatkan itu kepada Taewaprom. Difoto itu tampak Madame Sara mengenakan seset perhiasan berlian yang sangat mirip dengan apa yang sedang digunakan oleh Marathee sekarang. Dan Marathee pun merasa sangat gugup sekali hingga dia tidak bisa berkata- kata.

“Beritahu mereka. Kamu membeli nya dengan uang mu sendiri,” kata Taewaprom, mempercayai Marathee.


“Jika kamu sendiri yang membeli itu, maka tunjukan bukti struknya,” kata Nenek Oon.

“Struk nya? Aku punya,” kata Madame Sara sambil memperlihatkan nya kepada Taewaprom.

“Mengapa tidak menjawab dengan jelas? Bicaralah. Kamu sendiri yang membeli itu, seseorang memberi kannya padamu, atau kamu mencurinya dari seseorang,” kata Nenek Oon kepada Marathee yang hanya diam saja.

“Bibi. Tolong jangan menfitnah nya. Anggota keluarga Taewaprom tidak punya kebiasaan yang buruk. Benarkan, Marathee?” bela Taewaprom.

“Tanyalah pada Putrimu. Apa yang dia gunakan sebagai ganti untuk mendapatkan aksesoris itu dari suami ku?” balas Madame Sara sambil tersenyum.


“Suamimu? General Pinit?” kata Taewaprom dengan terkejut, dan Madame Sara membenarkan. Lalu Taewaprom memegang dan menggocang lengan Marathee,”Ini tidak benarkan, Marathee? Ini tidak benar, kan?”

Marathee mulai menangis. Dia sama sekali tidak bisa menjawab dan menyangkali semua hal tersebut, karena semuanya adalah benar.

“Aku kira, kamu tidak ingin aku melaporkan ini kepada polisi, kan?” tanya Madame Sara.


“Orang yang telah aku lihat sejak dia masih kecil, mengapa kamu menjadi seperti ini, Marathee? Dimana harga dirimu? Mengapa kamu melakukan hal kotor tanpa memikirkan konsekuensinya? Kamu mempermalukan dirimu sendiri dan merusak reputasi keluargamu,” kata Nenek Oon.


Taewaprom, aku masih mengingat janji dua keluarga. Janji adalah janji. Tapi aku tidak berpikir bahwa itu mungkin antara Chai Pat dan Marathee. Aku yakin kamu paham tentang keputusan ku, kan?” kata Nenek Aiet, memutuskan janji pernikahan antara Chai Pat dan Marathee.

Dan karena tidak bisa menjawab, maka Taewaprom pun hanya diam. Sementara Marathee, dia terus menangis, dia merasa sangat menyesal.

1 comment: