Saturday, January 12, 2019

Sinopsis Lakorn : Khun Chai Puttipat Episode 8 - part 2

5 comments


Khun Chai Puttipat (2013) Episode 8 - Part 2
Network : Channel 3
Pagi hari. Nenek Aiet memberikan tugas kepada Keaw untuk membersihkan semua peralatan rumah yang terbuat dari kaca, dan setelah itu meletakannya kembali ke dalam lemari. Namun Keaw harus mengerjakan semua itu sendirian, tanpa boleh ada seorang pun pelayan yang membantu nya. Dan karena itu, maka semua pelayan pun pergi.


“Kakak. Mengapa kamu mempercayai nya dan meninggalkan barang antik mahal kepadanya? Dia tidak tahu mengenai pekerjaan rumah, dia tidak pernah melihat dan menyentuh barang seperti itu. Aku takut dia akan merusak nya,” kata Nenek Oon, menjelekan Keaw.

“Itu hal yang bagus. Mari kita lihat, jika Keaw adalah orang yang pura- pura baik atau oran yang benaran baik, yang sesuai dengan Chai Pat,” balas Nenek Aiet.


Diteras. Nenek Oon dengan senang mengatakan bahwa rencana Nenek Aiet sangat pintar untuk menyingkirkan Keaw. Dan Nenek Aiet membalas bahwa tampak nya, Nenek Oon terlalu banyak mendengarkan drama radio, sehingga Nenek Oon berbicara begitu.

“Itu benar, kan , kak. Jika wanita ini menunjukan betapa kasar nya dia pada kita, maka kita bakal punya alasan untuk membandingkan dia dengan Marathee, dan mengusir dia dengan alasan yang bagus,” kata Nenek Oon sambil tertawa senang.


Taewaprom datang dan menyapa Nenek Aiet serta Nenek Oon dengan sopan. Dia datang untuk membicarakan betapa malunya dia merasa, karena keponakan tercintanya, Puttipat, membuat skandal. “Jika kalian tidak bisa menghentikan cucu kalian sekarang, maka dari sekarang, skandal apa lagi yang akan terjadi? Ini benar- benar membuat keluar kami kehilangan reputasi,” katanya.

Dan tanpa bisa mengatakan apapun, Nenek Aiet serta Nenek Oon pun sama- sama diam.


Para pelayan mengintip Keaw yang sedang membersihkan peralatan kaca, dan melihat betapa bagusnya Keaw dalam membersihkan semua itu, mereka memujinya. Dan mereka juga bertanya- tanya, apa yang akan terjadi bila satu atau dua dari peralatan itu pecah.


Tepat disaat itu Marathee datang. Dan ketika dia melihat Keaw yang sedang membersihkan peralatan, dia merasa terkejut, dan menanyakan apa yang sedang Keaw lakukan. Dengan sopan, Keaw pun memberikan salam kepada Marathee.

“Jangan memberiku salam!! Kamu wanita tidak tahu malu!! Siapa yang membawa mu ke sini? P’Chai Pat, kan? Apa itu maksudnya?” tanya Marathee dengan marah.

“Khun Marathee. Aku tinggal disini hanya untuk bersembunyi dari beberapa masalah, ketika telah selesai, aku akan pergi dari sini,” jelas Keaw.


Tapi Marathee tidak mau percaya. Dia menuduh Keaw berniat untuk menangkap seorang pria dari keluarga kaya, dan mengubah status nya. Lalu Marathee mengambil sebuah mangkuk kaca besar, dan melemparkannya ke arah Keaw. Tapi untungnya, Keaw berhasil menghindar, sehingga dia tidak terluka.


Mendengar suara barang pecah, Nenek Aiet, Nenek Oon, serta Taewaprom masuk ke dalam rumah. Dan ketika mengetahui barang apa yang pecah, Nenek Aiet langsung menanyakan apa Keaw yang memecahkan mangkuk kaca yang dibelinya dari Hungary itu.


Mendengar itu, Marathee merasa terkejut. Dan sebelum Keaw sempat menjawab, Marathee pun langsung berlari ke arah Nenek Aiet. “Keaw begitu kasar. Dia iblis! Aku menanyakan jika dia mengarang cerita untuk mengambil P’Chai Pat dari ku. Lalu dia marah dan melemparkan mangkuk ini,” kata Marathee, berbohong.


Keaw ingin menjelaskan yang sebenarnya, tapi Marathee langsung menyela dan menyuruh Keaw untuk diam. Kemudian Taewaprom berbicara membela Marathee. “Kami adalah berlian. Jangan menggosok dengan ubin, karena itu akan merusak martabat kami. Ooh… jadi ini ratu kecantikan yang membuat Chai Pat terjatuh dengan atraksinya. Bibi, bagaimana bisa kamu membiarkannya untuk tinggal di sini? Ini adalah apa yang orang kelas bawah suka lakukan.”


“Tunggu dulu, semuanya. Aku tidak ada menghancurkan apapun!” jelas Keaw. Tapi tidak ada satupun yang tampak mau mempercayainya. Dan teringat kepada para pelayan yang sedari tadi memperhatikannya, maka Keaw pun bertanya pada mereka.


“Apa Keaw yang memecahkan itu?” tanya Nenek Aiet kepada para pelayan.

“Bilang. Siapa yang melakukannya? Keaw? Jika bukan Keaw, kemudian siapa yang melakukannya?” kata Nenek Oon, saat para pelayan hanya diam saja.

“Apa yang salah dengan kalian? Mengapa kamu tidak bilang. Beritahu saja sejujurnya. Kejujuran tidak akan pernah mati,” tambah Taewaprom.

Marathee yang awalnya tersenyum, dia berubah menjadi tampak sangat ketakutan. Dan ketika para pelayan serempak menyebutkan namanya. Dia pun langsung menyangkali hal itu sambil menangis seolah- olah dia telah di fitnah, kemudian dia berlari pergi keluar. Dan Taewaprom pun ikut pergi menyusuli Marathee.

Sementara Nenek Aiet serta Nenek Oon, mereka tampak bersalah karena telah merasa curiga kepada Keaw barusan.


Marathee datang ke rumah sakit menemui Chai Pat. Disana, dengan sikap yang tidak baik dia menyalahkan bahwa Chai Pat telah merusak nama baiknya. Dan Chai Pat pun membalas bahwa tidak ada seorang pun yang merusak nama baik Marathee, kecuali Marathee sendiri yang melakukannya.

“P’Chai Pat, kamu membawa wanita lain untuk tidur di Istana. Tapi kamu bilang ini salahku? Kamu kotor!!” umpat Marathee.

“Perhatikan perkataanmu! Karena kamu akan berakhir seperti apa yang kamu katakan,” balas Chai Pat, mengingatkan.

“Bagaimana dengan orang yang tidak mengatakan apapun, tapi dia melakukannya? Jenis orang seperti apa dia?” balas Marathee, menyindir.

“Apa yang aku lakukan? Aku yakin, aku tidak pernah bertingkah seperti aku mencintaimu dan aku ingin menikahimu. Segalanya hanya pikiran mu dan Nenek,” balas Chai Pat.


Marathee mengungkit tentang pertunangan mereka. Dan dengan tegas, Chai Pat menyuruh agar Marathee berhenti menghabiskan waktu dengannya, dan pergi mencari seseorang yang mencintai Marathee. Karena dia hanya menganggap Marathee sebagai adik, lebih dari itu dia tidak akan pernah bisa.

“Aku mencintai Krongkeaw. Aku ingin hidup bersama- sama dengan Krongkeaw,” jelas Chai Pat.
“Itu tidak benar. Ini pasti karena Krongkeaw kan? Kamu tidur dengannya, dan kamu berpikir bahwa itu cinta. Tapi itu tidak benar. Itu hanya nafsu,” balas Marathee, tidak bisa menerima kenyataan.

“Marathee!!” tegur Chai Pat.


“Jangan memarahi ku! Bahkan jika aku melakukan banyak hal yang tidak layak, tapi aku tidak sekotor kamu. Kamu tidak menjaga janji yang ada. Kamu ingin dua keluarga bertarung besar selamanya!!” tuduh Marathee.

“Aku pikir, tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi,” balas Chai Pat. Lalu pergi.

5 comments: