Friday, January 18, 2019

Sinopsis Lakorn : Trabab See Chompo (Pink Sin) Episode 16 – 1

7 comments

Sinopsis Lakorn : Trabab See Chompo (Pink Sin) Episode 16 – 1
Images : Channel 3
Kiew tidak kuat dan memutuskan untuk keluar kamar meninggalkan Peat yang sedang tidur. Kiew pergi ke taman belakang rumah. Sambil menangis, dia menelpon Pa. Pa dengan bahagia mengangkat telepon Kiew, mengira kalau Kiew hendak berbagi cerita bahagia. Tapi, ternyata Kiew malah menangis dan jelas saja hal itu membuat Pa panik.
“Apa yang terjadi Kiew?” tanya Pa.
Tapi Kiew terus menangis sedih.
--
Katha menghampiri Kris yang sudah bangun dan memberikan minuman untuk Kris. Tapi, Kris dengan marah malah beranjak pergi. Katha heran dan bertanya ada apa? Dia akan mengantarkan Kris pulang. Kris menolak dengan kasar.
“Kenapa kau jadi marah denganku? Aku bukan sarung tinju-mu ya! Kenapa kita bisa sampai seperti ini? Bertengkar satu sama lain. Tidak mau melihat wajah satu sama lain.”
“Kenapa kau tidak tanya saja ke Ai-Peat dan Chaya!”
“Aku pasti akan bertanya. Tapi… kau juga tolong tenang.”
“Aku akan memberitahumu jadi kau tahu. Ai-Peat menemui Chaya di condo-nya sebelum dia datang ke sini, padahal itu adalah malam pernikahannya. Dia seharusnya menghabiskan waktu dengan pengantinnya, bukan dengan Chaya!”
Katha masih tidak mengerti. Jika Peat dan Chaya salah, seharusnya Kris menasehati dan memberi peringatan pada mereka. Kris hanya menjawab kalau dia sudah lelah, dan dari sekarang, dia tidak akan peduli lagi dengan Peat dan Chaya lagi. Terserah mereka berdua mau berbuat apa.
Pa ternyata datang ke restoran Katha juga dan dia mendengar perkataan terakhir Kris. Kris melihat Pa tapi dia tidak peduli dan tetap berjalan keluar. Katha mengejarnya, tapi Pa menghalanginya. Mereka punya urusan yang harus di bicarakan.
“Aku dengar dengan kedua telingaku, Peat bersama dengan Chaya,” ujar Pa penuh amarah.
“Seorang teman menemui temannya, apa yang salah?”
“Dia salah karena dia pergi di malam pernikahannya. Dan aku juga tahu kalau Chaya berniat untuk ‘menggigit’ suami temanku.”
“Tidak. Chaya sudah melupakan Ai-Peat. Peat pergi mencari Chaya, mungkin karena temanmu,” Katha masih terus berusaha membela Peat dan Chaya. “Dia membuat Peat marah, dan mungkin karena itu Peat menemui Chaya untuk curhat.”
Pa tentu membela Kiew. Dia menuntut penjelasan Katha, apa rencana Peat dan Chaya? Katha dengan tegas menjawab kalau dia tidak tahu sama sekali bahkan jika dia harus matipun.
“Kalau begitu cari tahu atau aku akan menyelesaikannya denganmu!” peringati Pa. “Aku sudah pernah bilang kan, jika Peat membuat Kiew sedih. Kau dan aku, kita akan menjadi musuh! Tidak perlu bicara lagi!” tegas Pa.
Setelah memberi peringatan itu, Pa langsung pergi. Sementara Katha, dia merasa kesal, kenapa semua menyalahkannya? Emangnya dia tempat sampah yang menampung amarah semua orang?
--
Kiew menyiapkan sarapan untuk Peat. Taeng yang melihatnya, merasa kasihan pada Kiew. Dia bahkan berkata kalau dia berada di posisi Kiew, dia sudah pasti akan marah besar! Kiew masih membela Peat yang mungkin sedang ada masalah dan dia dapat mengerti.
Peat sudah bangun dan bertukar baju untuk berangkat kerja. Taeng langsung memanggilnya untuk makan, tapi Peat malah menolak makan. Dia tidak lapar. Kiew jelas sedih melihat Peat seperti itu. Dan Taeng dengan panik berteriak memanggil Peat untuk makan dulu.
--
Khun Nai sedang bersama dengan Tee di ruangannya. Dan dia mendapat telepon dari Taeng mengenai sikap Peat yang menolak makan padahal Kiew sudah menyiapkannya.
“Aku tidak mengerti. Sebelum menikah, Peat mengekspresikan dengan jelas kalau dia sangat mencintai Kiew. Tapi, setelah menikah, dia pergi keluar untuk merayakannya dengan temannya. Meninggalkan Kiew sendirian. Dan juga bersikap dingin pada Kiew.”
“Kejadian ini… mirip,” ragu Tee.
“Ya, benar. Mirip seperti yang pernah ku lakukan pada Panee,” akui Khun Nai.
--
Peat ternyata pergi menemui Chaya untuk makan bersama. Chaya bertanya apa ada masalah antara Peat dan istrinya? Karena muka Peat terlihat muram. Peat menjawab tidak ada dan wajahnya hanya lelah karena kurang tidur.
Chaya merasa ada yang aneh, jika dia berada di posisi Kiew, dia tidak mungkin membiarkan suaminya berkeliaran seorang diri seperti ini. Peat dengan percaya diri mengatakan kalau Kiew tidak akan berani melarangnya karena takut kalau dia akan marah. Lagipula, Kiew akan selalu percaya dan menyetuji apapun mau-nya.
“Mungkin dia sangat mencintaimu. Orang yang tidak mencintai, tidak mungkin bersedia,” komentar Chaya. “Sama seperti aku mencintai-mu. Itulah kenapa aku bersedia membantumu untuk balas dendam. Bersedia, meskipun aku harus bertengkar dengan Kris. Atau bermasalah dengan Katha atau siapapun.”
“Tidak masalah jika kau tidak mau menolongku, Chaya. Jika kau takut akan bertengkar dengan mereka. Tapi, aku tidak peduli. Jika mereka mau marah, biarkan saja.”
“Kau tidak peduli. Aku juga tidak akan peduli.”

Peat kemudian meminta pada Chaya untuk tidak membicarakan orang lain saat mereka bersama. Chaya mengerti. Dia kemudian bertanya rencana Peat selanjutnya. Dan Peat tersenyum penuh arti.
--

Kiew dan Peat tiba di kantor bersamaan. Mereka bahkan berpas-pasan di depan ruangan utama. Chaya melihat Kiew dan tersenyum sinis.
Flashback
Saat di rumah, Kiew sudah menerima telepon dari Pa yang melaporkan apa yang di dengarnya di restoran Katha. Mengenai Peat yang pada malam pernikahan itu pergi ke condo Chaya kemudian ke restoran Katha. Di sana Peat berkelahi dengan Kris mengenai Chaya.
“Awalnya aku tidak mau memberitahu mu karena takut kalau kau akan sedih. Tapi, kau sudah sedih, dan lebih baik kalau kau tahu hal ini,” ujar Pa.
“Terimakasih banyak, Pa,” ujar Kiew dengan suara sengau. “Dengan begini, aku tidak harus menjadi orang bodoh yang mengkhawatirkannya seperti orang gila, ketika dia sedang bersenang-senang dengan wanita lain.”
End

Kiew menatap Chaya dengan tajam dan menyapa serta menyindir Chaya yang datang bersama dengan suaminya.
“Kenapa Peat? Kemarin malam kalian sudah bersama dan masih belum puas? Sampai harus datang bersama hari ini?”
“Benar. Aku dan Peat, punya banyak hal yang harus di bicarakan,” jawab Chaya dengan genit. “Mau bagaimana lagi, beberapa masalah hanya bisa di bicarakan dengan orang yang dapat mengerti hati satu sama lain. Bukankah begitu, Peat?”
“Benar. Ada beberapa hal, dimana kau tidak akan bisa mengerti,” jawab Peat dengan dingin pada Kiew.
Kiew mengerti. Dan dia menyindir Chaya untuk tidak lupa kalau dia adalah istri Peat. Dan Chaya tidak boleh melewati batas nya sebagai seorang istri. Chaya tersindir tapi Peat membelanya. Jadi, Chaya kembali tersenyum senang.

Peat membawa masuk Chaya ke dalam ruangannya. Kiew yang dapat melihat ruangan Peat dari ruangannya, merasa sedih dan cemburu dengan kedekatan Peat dan Chaya.
Chaya terus memeluk Peat dengan mesra, tapi Peat mengabaikannya. Wajah Peat terlihat merasa bersalah, tapi dia menutupinya. Peat berkata kalau dia harus bekerja dan Chaya segera sedikit menjauh agar tidak mengganggu Peat.
--

Tee melapor pada Khun Nai kalau Peat dan Kiew datang untuk bekerja. Khun Nai sedikit sedih karena bukannya berbulan madu, Peat dan Kiew malah datang bekerja.
“Khun Peat datang bersama dengan Khun Chaya,” beritahu Tee.
“Sebelum mereka menikah, aku tidak akan heran kenapa Chaya dengan Peat. Tapi sekarang, aku mulai bertanya-tanya, kenapa Peat datang dengan Chaya? Apa ini ada hubungannya dengan kejadian kemarin? Bawa Peat kemari untuk menemuiku!”
Tee mengerti dan segera pergi untuk memanggil Peat.
--

Peat masih sibuk bekerja. Chaya menawarkan diri untuk membuatkan Peat minuman, tetapi Peat menolak. Peat bahkan tidak menoleh pada Chaya dan menyuruh Chaya untuk meminta saja kepada OB jika perlu apapun.
Chaya mendekati Peat dan meminta Peat untuk memberi sedikit perhatian padanya.
“Aku sedang bekerja,” tegas Peat.
Tapi, Chaya tetap mendekati Peat. Pas sekali, Tee masuk dan melihat posisi mereka yang seperti itu. Tee jelas merasa tidak nyaman, tapi dia hanya memberitahu Peat kalau Khun Nai hendak bertemu dengan Peat.
--
Kiew tidak kosentrasi bekerja dan terus menangis. Dia kemudian teringat perkataan Pa kalau Kris mencintai Chaya dan sekarang sedang dalam kondisi terluka. Sepertinya, kali ini, Kris, Peat dan Chaya akan berhenti berteman.
Kiew yang merasa khawatir memutuskan untuk menelpon Kris.
Sementara itu, Chaya yang di tinggal sendirian di ruangan Peat, melihat foto-fotonya dengan Peat. Dan tanpa sengaja, dia melihat fotonya bersama dengan Kris dan Katha. Dan karena itu, Chaya menghubungi Kris, tapi Kris mengabaikan teleponnya. Eh, Chaya malah merasa kesal karena Kris tidak mengangkat teleponnya.
Kris malah mengangkat telepon dari Kiew. Kris bicara dengan baik, seolah tidak ada yang terjadi. Kiew memberitahu Kris kalau dia sudah tahu yang terjadi kemarin, mengenai Peat, Kris dan Chaya, juga termasuk mengenai Kris yang menyukai Chaya. Pa sudah menceritakan semuanya padanya.
“Bagaimana keadaanmu sekarang Khun Kris?”
“Aku yang seharusnya bertanya. Bagaimana keadaanmu?”
“Aku tidak mengerti. Aku tidak mengerti kenapa Peat melakukan hal ini. Dan aku juga tidak mengerti kenapa dia harus pergi menenui Khun Chaya juga.”
“Aku ingin menemuimu. Dimana kamu sekarang? Aku akan menjemputmu.”
“Aku ada di kantor. Lebih baik, aku yang menemuimu.”
“Kau takut kalau aku akan bertemu dengan Peat dan berkelahi lagi?” tanya kris.
“Hmmm, orang yang baru saja bertengkar, sebaiknya tidak bertemu dulu.”
“Aku tidak peduli. Jika bertemu, ya bertemu saja.”
“Er… Kau mungkin tidak hanya bertemu dengan Peat saja. Khun Chaya juga ada di sini,” beritahu Kiew.
Dan Kris semakin bersemangat ingin datang. Dia berkata kalau dia akan tiba dalam setengah jam dan langsung mematikan telepon.
--

Peat menemui Khun Nai. Dan Khun Nai langsung bertanya kemana Peat kemarin malam? Peat masih tetap pada jawaban awalnya kalau dia pergi menemui teman-temannya untuk merayakan. Khun Nai memberi nasihat pada Peat untuk memikirkan dengan masak-masak setiap perbuatan yang hendak di lakukannya.
“Mulai dari sekarang, aku dilarang untuk tidur di luar. Kau sudah menikah. Pulang dan tidur di rumah. Bukan menginap di tempat lain. Aku tidak mau melihat Kiew merasa sedih. Aku tidak ingin melihat Kiew menangis. Kemarin malam, Kiew tidak tidur sepanjang malam karena menunggu-mu. Dapatkah kau melakukannya?” pinta Khun Nai.
“Baik. Mulai dari seakrang, aku akan pulang setiap hari. Aku sudah bisa pergi, kan?”
“Belum,” jawab Khun Nai. “Kenapa kau membawa Chaya ke sini?”
“Mmm! Beritamu sungguh cepat. Aku punya urusan dengan Chaya. Kenapa? Kau berteman dan kami tidak boleh bicara?”
“Kalau begitu tidak masalah. Pergilah. Aku mungkin sudah berpikir berlebihan.”
Setelah Peat pergi keluar ruangan, Tee masuk dan melapor pada Khun Nai kalau Peat dan Chaya bertingkah aneh. Sepertinya, hubungan mereka bukan hanya teman. Khun Nai menghela nafas dengan khawatir.
--
Kris sudah tiba di kantor Kiew. Chaya masih terus menelponnya, dan Kris masih terus menolak telepon dari Chaya.
Chaya bertanya apa yang Peat diskusikan dengan Khun Nai? Peat memberitahu kalau Khun Nai melarangnya untuk meninggalkan Kiew sendirian, dan memintaku untuk pulang setiap malam. Chaya lagi-lagi memeluknya dan berkata kalau dia ingin bersama Peat setiap saat. Peat memaksakan senyum-nya.
Kris mengajak Kiew untuk pulang dan beristirahat. Dia tahu kalau Kiew tidak akan bisa lanjut bekerja. Kiew membenarkan dan bersiap pulang.

Saat itu, dia melihat ke ruangan Peat, dan melihat Chaya yang memeluk Peat. Peat juga melihatnya dan dengan sengaja memegang tangan Chaya. Dia tersenyum sinis menatap Kiew. Chaya menyadari perubahan senyum Peat dan menatap ke arah tatapan Peat. Ada Kiew dan Kris. Entah kenapa, Chaya malah tampak kesal.

Kris menggenggam tangan Kiew, dan Peat langsung berdiri dengan marah melihat hal itu. Chaya sampai sedikit terperanjat kaget. Kris langsung keluar dari ruangannya dan menghalangi Kiew dan Kris pergi. Dia dengan berteriak bertanya, mau kemana kau?
“Ini urusanku dengan Kiew,” jawab Kris. “Tidak ada hubungannya denganmu.”
Peat emosi dan hendak memukul Kris, tapi Chaya menahannya. Peat menahan tangan Kiew dan tidak membiarkannya pergi.
“Kau tidak bisa menghentikanku. Ketika aku menghentikanmu, kau juga tidak mendengarkanku,” tegas Kiew dan menari tangannya dari genggaman Peat. Dia kemudian pergi dengan Kris.
Peat masuk kembali ke ruangannya dengan emosi memuncak. Dia hendak membanting barang yang ada di mejanya, tetapi Chaya menghalanginya. Peat langsung berteriak frustasi.
“Kenapa kau jadi frustasi?”
“Bisa kau berhenti bertanya?!” marah Peat.
“Tidak bisa! Aku ingin tahu kenapa kau marah? Atau kau cemburu dengan Kris dan Kiew?”
“Tidak!”
“Lalu kenapa?”
“Aku melihat wajah Kris dan itulah kenapa aku frustasi. Dia berniat memancingku dan menjadi satu komplotan dengan Kiew.”
“Tapi aku rasa…”
“Lupakan saja!” teriak Peat menghentikan ucapan Chaya.
Chaya terduduk dengan kesal. Peat menyadari hal itu dan bersikap lembut lagi pada Chaya.
“Kita belum menyelesaikan pembicaraan kita. Aku sudah tahu apa yang harus ku lakukan, jadi kau dan aku bisa bersama selamanya,” ujar Peat dan tersenyum penuh arti.

7 comments:

  1. Trimakasihh..sll di tunggu kelanjutan nya ...
    .

    ReplyDelete
  2. Haduuh, gemes bngt sm peat,,,
    Lanjut yaaa, jangan lama2, heee,,,

    ReplyDelete
  3. Semangat kak💗 ditunggu loh selanjutnya 😣😣

    ReplyDelete
  4. Lanjuutt min...pnasaran ma psangan kiew n peat gmna akhirnya...semangaat ditunggu lnjutannya

    ReplyDelete