Saturday, January 19, 2019

Sinopsis Lakorn : Trabab See Chompo (Pink Sin) Episode 16 – 2

3 comments

Sinopsis Lakorn : Trabab See Chompo (Pink Sin) Episode 16 – 2
Images : Channel 3
Kris membawa Kiew untuk sedikit bersantai di café. Kiew kemudian curhat mengenai kekhawatirannya, apa Peat dan Chaya sudah tidur bersama? Kenapa tiba-tiba bisa menjadi seperti ini? Mereka berdua bilang hanya teman, tapi kelakuannya mereka tidak seperti itu.
“Jika mereka berdua benar-benar melakukannya, apa yang akan kau lakukan?” tanya Kris.
“Jadi itu benar, kan?” tanya Kiew dengan sedih.
“Aku hanya berasumsi.”
“Aku juga tidak tahu. Tapi jika itu benar, aku mungkin akan marah. Dan sangat kecewa serta sedih! Dan mungkin meminta cerai.”
Kris bertanya, apa Kiew tidak akan berjuang mendapatkan Peat kembali? Bukankah Kiew mencintai Peat? Kiew membenarkan kalau dia mencintai Peat, tapi jika dia harus berjuang untuk mendapatkan kembali orang yang tidak mencintainya, tidak peduli seberapa keras usahanya, dia akan tetap kalah.
Kris menyemangati Kiew untuk tidak berpikiran aneh, dan berjuang. Bagaimanapun, Kiew adalah istri sah Peat.
--
Kris mengantar pulang Kiew, dan ternyata Khun Nai juga sudah pulang ke rumah. Khun Nai bertanya, Kiew habis darimana dengan Kris? Kiew menjelaskan kalau tadi dia ada sedikit masalah, jadi dia pergi keluar dengan Kriss dan berjalan-jalan. Kiew juga meminta maaf karena sudah bolos dari kantor. Khun Nai tidak mempermasalahkan hal itu. Khun Nai bahkan mengajak Kris untuk makan bersama. Kris dengan sopan menolak karna dia masih harus kembali ke restorannya.

Pas sekali, Peat pulang. Dia pulang dengan membawa Chaya dan bahkan meminta Taeng untuk membawakan koper Chaya ke dalam kamarnya. Semua tentu terkejut. Tanpa malu, (benar-benar tidak ada urat malu), Chaya mengumumkan kalau mulai hari ini dia akan tinggal di rumah ini. Taeng benar-benar bingung, harus membawa koper Chaya atau tidak. Kalau boleh milih, Taeng pasti milih nggak bawa. Khun Nai juga melarang Taeng untuk membawa-nya.
Khun Nai langsung bertanya, kenapa Chaya harus tinggal di sini? Chaya punya rumah dan juga condo. Kenapa harus tinggal di rumah orang lain? Peat beralasan kalau Chaya sedang dalam kondisi tidak sehat, dan orang tua Chaya juga tidak ada di sini tapi di luar negeri, jadi dia tidak mau Chaya sendirian. Dia akan menjaga Chaya.

“Jika kau mau bohong, buatlah kebohongan yang lebih realistis,” ujar Kriss. “Tidak ada yang salah dengan Chaya.”
“Hei, ini urusan keluargaku. Tidak ada hubungannya denganmu. Aku juga tidak tahu apa posisimu berada di sini,” sindir Peat. “Temanku? Atau teman istriku?”
Khun Nai mengajak Peat untuk bicara berdua dengannya, tapi Peat menolak. Kalau mau bicara, langsung di sini saja. Khun Nai merasa kesal dengan kelakuan Peat. Dia bertanya apa yang sebenarnya hendak Peat  dan Chaya lakukan? Kenapa Peat pergi di malam pernikahan dan sekarang membawa Chaya ke rumah.
“Seperti yang kau lakukan pada ibuku?” teriak Peat. “Meninggalkan ibuku untuk pergi menemui kekasihmu. Ibu dari wanita itu (menunjuk Kiew)! Dan untuk ibuku, dia kehilangan akal. Aku, aku yang seharusnya menjadi putramu malah menjadi putra orang lain. Semua karena mu! Perbuatan jahat yang kau lakukan. Tapi, aku lebih baik dari Ayah. Aku tidak pergi untuk tinggal di rumah orang lain, aku membawanya untuk tinggal di sini bersama.”
Habis sudah kesabaran Khun Nai. Dia langsung menampar Peat. Dia benar-benar marah dan kecewa. Dan darimana Peat tahu mengenai hal itu?
“Tidak ada rahasia di dunia ini, ayah. Termasuk mengenai hal buruk. Kau ingin menamparku berkali-kali, itu terserah padamu! Tapi, aku akan memastikan kalau Chaya akan tinggal di sini! Jika ada yang keberatan, aku akan tinggal di tempat lain saja.”
Khun Nai memperingati Peat, kalau yang Peat lakukan akan menyakiti orang-orang di sekitar Peat. Dan juga diri Peat sendiri. Tidak ada yang akan bahagia. Dia sendiripun tidak pernah merasa bahagia.
“Chaya, kau pikirkan dengan baik-baik. Sebelum kau melakukan apapun, ku harap kau memikirkannya dengan masak-masak. Jika kau tidak mau menyesal sepertiku,” saran Khun Nai.
“Chaya, tidak perlu memikirkan apapun lagi. Karena kami saling mencintai. Kami tidak perlu peduli dengan yang lain,” ujar Peat dengan tegas.
Kiew kecewa mendengarnya, “Lalu, kenapa kau menikahiku?” tanya Kiew. Tidak ada jawaban. Kiew akhirnya pergi ke taman belakang.

Kris merasa khawatir dan hendak mengejar Kiew, tapi Khun Nai menyuruh Kris untuk pulang dulu. Dia yang akan mengurus masalah ini. Setelah itu, Khun Nai melotot pada Peat dan Chaya, kemudian pergi menenangkan Kiew.
“Ini… kalian bisa sampai sejahat ini, tidak ku sangka kalau aku pernah mencintaimu dan berteman denganmu,” ujar Kris penuh kesal dan pergi keluar rumah Kiew dan Peat.
Taeng juga kesal melihat kelakukan tuan muda-nya dan memilih untuk masuk ke dapur.

Kiew menangis penuh kesedihan. Khun Nai merasa sedih melihat kesedihan Kiew dan menyalahkan dirinya sendiri. Kiew menangis di dalam pelukan Khun Nai.
--

Peat membawa Chaya ke dalam kamarnya (ini kamar Peat dulu, bukan kamar pengantinnya dengan Kiew). Dan anehnya, Peat bukannya merasa senang dengan yang telah di lakukannya, tapi wajahnya malah terasa sedih dan bersalah.
--
Khun Nai memberitahu Kiew kalau dulu, di malam pernikahannya dengan Khun Panee (ibu Peat), dia meninggalkannya dan pergi mencari Khun Sa. Dan terjadilah hal itu, tapi, setelah itu Khun Sa mengusirnya dan menyuruhnya untuk tidak pernah kembali lagi.
“Jika Peat tahu mengenai hal itu, aku yakin, kalau Peat akan membalas dendam padaku saja. Aku minta maaf, Kiew. Aku akan bicara dengan Peat, okay?”
“Ayah, kau tidak akan bisa bicara dengan Peat. Masalah ini adalah antara ku dan Peat. Biar aku saja yang bicara padanya.”
--

Kiew pergi ke depan kamar Peat. Dia menguatkan dirinya terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam kamar Peat. Dan Chaya, si wanita bodoh itu, malah tersenyum melihat Kiew. Dia bahkan langsung merangkul Peat saat Kiew mengajak Peat untuk bicara berdua. Dengan suara lembut, Chaya menawarkan diri untuk menunggu di luar memberi waktu untuk Kiew dan Peat. Peat menjawab tidak perlu, dan menyuruh Kiew langsung bicara saja.
Kiew mendekat ke Peat. Dia menatap Peat dan Chaya. Setelah itu, dia bertanya, apa tujuan Peat menikah dengannya? Dia ingin tahu kebenarannya.

“Kau seharusnya tidak bodoh,” jawab Peat.
“Kau menikahiku karena kau ingin balas dendam pada ayah dan ibuku?” tebak Kiew. “Kau sudah berhasil. Ayah sekarang sedih dan merasa bersalah. Dan untukku, sedih, dan sangat sedih! Jika kau sudah puas, maka… ayo bercerai. Karena melakukan hal ini, itu artinya kau tidak mencintaiku. Maka bercerai saja!”
Chaya langsung tersenyum senang mendengarnya. Tapi, tidak dengan Peat. Dia tidak mau menceraikan Kiew. Chaya langsung terkejut dan menatap Peat.
“Kenapa kau tidak ingin bercerai?”
“Kita akan tinggal seperti ini!”
“Kau gila? Kau sudah hilang akal, hah?!”
“Ya! Aku gila! Aku kehilangan akal! Tapi ini masih belum berakhir sampai kau dan Ayah terluka lebih daripada ini!”’ tegas Peat (sakit jiwa!)
“Kau setuju dengan hal ini?” tanya Kiew menatap Chaya.
“Aku dapat menyetujui segalanya selama aku bisa bersama dengan Peat,” jawab Chaya (tanpa malu!)
“Menjijikan!” maki Kiew.
“Jika kau sangat bersih, maka tidak masalah jika kau tidak mau tinggal di sini. Tidak ada yang memintamu untuk tetap tinggal,” ujar Peat, yang secara tidak langsung sama saja dengan mengusir Kiew. “Tapi yang pasti, kau tidak akan mendapatkan kebebasan dariku. Kau tidak akan pernah bisa memulai hidup baru dengan orang lain. Karena kau telah menjadi istri sah-ku.”
 “Aku pasti akan pergi. Lanjutkan saja pikiran kotor kalian itu. Dan mulai dari sekarang, aku akan melupakan kalau aku pernah mencintaimu.”

Dan usai mengatakan itu, Kiew pergi. Peat mencoba menahan emosinya untuk menahan kepergian Kiew. Chaya bertanya dengan menyindir pada Peat, apa Peat tidak akan mengejar Kiew? Peat menjawab tidak, dia tidak peduli karena dia sudah memiliki Chaya.
Kiew mengemudi mobilnya pergi dari rumah sambil menangis.

Sementara Kris, dia merasa sangat marah. Dia teringat saat dia menyatakan perasaannya pada Chaya, dan berkata akan membantu Chaya melupakan Peat. Saat itu, Chaya juga setuju untuk menerima bantuan Kris untuk melupakan Peat. Dan Kris teringat saat melihat Chaya bermesraan dengan Peat di kantor Peat.


Amarah Kris sudah memuncak. Dia meraih gelas yang ada di atas meja dan melemparkannya ke kaca yang ada di depannya hingga hancur berkeping-keping.

Khun Nai menelpon Kiew dan bertanya Kiew pergi kemana? Kiew menangis dan memberitahu Khun Nai kalau dia tidak bisa tinggal di rumah yang sama dengan Peat dan Chaya, dan karena itu, dia mohon agar Khun Nai mengizinkannya tinggal di tempat lain. Khun Nai khawatir dan bertanya kemana Kiew akan pergi? Kiew juga tidak tahu.
Dan tiba-tiba saja ada sebuah mobil yang memotong mobil Kiew, hingga Kiew refleks menge-rem dan berteriak. Khun Nai panik mendengar teriakan Kiew dan berteriak memanggil Kiew, menanyakan keadaannya. Peat yang baru mau turun, jadi panik mendengar Khun Nai yang berteriak memanggil Kiew dengan panik.
“Ada mobil di depanku, yah. Tapi, aku baik-baik saja,” beritahu Kiew. “Ayah, jangan khawatir.”
Khun Nai tetap merasa khawatir. Dia meminta Kiew memberitahunya dimana posisinya, dan dia akan datang untuk menjemput. Kiew menolak, dia tidak mau pulang ke rumah. Dia bahkan sampai memohon pada Khun Nai.
“Baiklah, jad kau mau kemana?”
“Aku akan pergi ke rumah liburan (villa), yah. Ayah, tidak perlu merasa khawatir. Aku akan terus menghubungi ayah.”
“Baiklah.”
Setelah Khun Nai mematikan telepon, Khun Nai baru menyadari kalau Peat ada di belakang dan mendengar pembicaraannya dengan Kiew. Tetapi, Peat tidak menanyakan keadaan Kiew dan hanya pergi keluar rumah.
--
Katha menerima telepon dari Kris. Entah apa yang di katakan Kris, karena Katha terlihat panik dan langsung menuju tempat Kris.
--
Chaya berada seorang diri di kamar. Wajahnya tampak marah.
Flashback
Setelah kepergian Kiew, Chaya marah pada Peat karena tidak mau bersedia bercerai dengan Kiew tadi, padahal Peat bilang mencintainya. Tadi itu adalah saat yang tepat bagi Peat untuk menceraikan Kiew, dan dengan begitu mereka bisa bersama-sama secara sah.
“Bisa nggak kau berhenti tanya ini itu?” kesal Peat.
“Kau masih menginginkan dia kan? Itulah kenapa kau tidak mau menceraikannya! Kau menipuku!” marah Chaya.
“Apa yang ku tipu?” marah Peat. “Kita kan sudah bicarakan dari awal kalau kita akan melakukan hal ini.”
“Tapi kau tidak bilang kalau kau mendapat kesempatan bercerai, kau tidak akan menceraikannya! Jadi, apa tujuanmu?”
“Aku kan sudah bilang. Aku mau balas dendam. Aku mau orang yang bertanggung jawab atas kematian ibuku menderita!”
“Tapi aku bersedia melakukan apapun yang kau inginkan. Tapi, aku tidak akan melakukannya untuk waktu yang lama, jika kau tidak jelas. Aku juga ingin menjadi istri sah-mu. Dimana aku bisa berjalan kemanapun tanpa malu terhadap siapapun.”
“Jadi apa yang kau mau?”
“Aku akan memberi waktu 1 bulan. Ceraikan dia! Dan nikahi aku!” tegas Chaya.

Peat tidak menjawab, dan malah beranjak pergi. Chaya menghentikannya karena mereka belum selesai bicara, tapi Peat tidak mau berhenti. Peat juga balas berteriak kalau mereka sudah selesai bicara. Dia menyuruh Chaya untuk beristirahat saja, dan mereka akan lanjut membicarakannya lain kali!
End

Chaya sangat kesal dengan sikap Peat tadi. Dia melihat sekeliling kamar Peat. Dan dia merasa sangat kesepian karena di tinggal sendirian!
BERSAMBUNG

3 comments:

  1. Bikin kesel nih chaya.... Peat jg, kok gitu sih....

    ReplyDelete
  2. Trimakasihh...sll dintunggu selanjut nya...dan semakin sebel ama pelakorrr

    ReplyDelete
  3. Gak sabar sama kelanjutannya,,, tetap semangat ya min🤗🤗🤗

    ReplyDelete