Tuesday, January 22, 2019

Sinopsis Lakorn : Trabab See Chompo (Pink Sin) Episode 19 – 1

4 comments

Sinopsis Lakorn : Trabab See Chompo (Pink Sin) Episode 19 – 1
Images : Channel 3
Taeng membantu Chaya untuk membawa koper Chaya keluar dari rumah Khun Nai. Taeng merasa sangat bahagia karena akhirnya Chaya mau pergi dari rumah tuannya, dan saking bahagianya dia sampai memesankan taksi untuk Chaya. Chaya kesal dengan ocehan Taeng, tapi dia berusaha mempedulikannya.
Dan setelah Chaya naik ke dalam taksi, Taeng langsung bersorak girang. Dia mengira kalau mungkin Chaya telah bertobat setelah di marahi oleh Katha. Dia bahkan berteriak agar Chaya tidak kembali lagi.
--
Khun Nai sedang melihat hasil pekerjaan Kris, dan di sana juga ada Tee. Tidak lama, Khun Nai mendapat telepon dari Taeng yang memberitahu kalau Chaya telah pergi dari rumah.
Setelah selesai menerima laporan Taeng, Khun Nai terlihat khawatir. Dia bertanya pendapat Kris, sebagai teman Chaya, apa yang kira-kira sedang Chaya pikirkan? Kenapa dia tiba-tiba memutuskan untuk pergi.
“Jika itu adalah Chaya yang lama, aku mungkin bisa menebaknya. Tapi, Chaya yang sekarang adalah orang yang sudah tidak ku kenali lagi. Tapi jika itu Peat, aku mungkin bisa menebaknya. Mengenai kau yang mengirim Peat pergi bulan madu bersama dengan Kiew,  aku rasa Peat tidak akan diam saja. Dan jika Peat memberitahu hal ini pada Chaya, akankah Chaya diam saja?” jawab Kris.
Khun Nai memikirkan perkataan Kris, dan merasa ada benarnya juga. “Kris, aku perlu bantuanmu.”
--
Seoul, Korea Selatan…
Peat dan Kiew tertidur hingga hari sudah sangat siang (atau malah sudah sore). Dan begitu bangun, melihat wajah Kiew yang berada di dekatnya, Peat tersenyum lebar. Tidak lama, Kiew sadar, dan Peat langsung memenjamkan mata berpura-pura untuk lanjut tidur. Kiew kaget karena dia tertidur di lengan Peat, tapi kepalanya terlalu sakit karena mabuk, jadi dia lanjut tidur lagi.
Peat akhinya bangun karena Kiew sudah berpindah. Dan Peat langsung meregangkan lengannya yang keram karena kelamaan di tiduri Kiew. Setelah itu, Peat lanjut mandi. Tapi, setelah dia siap mandi pun, Kiew masih terus tidur.
Peat membuatkan cokelat panas, dan dia membangunkan Kiew. Menyuruhnya untuk minum agar bisa lebih baik. Baru juga bangun, dan belum sempat minum, Kiew sudah berlari ke kamar mandi dan muntah-muntah karena kebanyakan minum soju kemarin. Peat langsung mengikutinya. Kiew terduduk sambil memegangi kepalanya dan berteriak kalau dia akan mati. Peat tersenyum dan mengomentari kalau sudah mabuk, Kiew sangat kacau. Kiew tidak ingat apapun yang terjadi kemarin karena mabuk. Peat sedikit kecewa dan memperingati Kiew untuk tidak mabuk lagi lain kali.
Peat membopong Kiew kembali ke kamar. Kiew menyuruh Peat untuk jalan-jalan saja kalau mau, dia mau lanjut tidur lagi. Peat dengan khawatir bertanya, apa Kiew tidak lapar? Kiew menjawab kalau dia tidak mau makan karena takut akan muntah lagi.

Peat tidak pergi keluar karena khawatir pada Kie w. Dia terus berada di kamar dan menghabiskan waktu dengan membaca buku hingga malam hari. Dan akhirnya, Kiew bangun juga. Begitu bangun, dia langsung memanggil Peat.
“Gimana? Sudah lebih baik?” tanya Peat.
“Hmm.”

Peat kemudian memberitahu kalau Kiew telah tidur sepanjang hari. Dia juga menyuruh Kiew untuk mandi karena dia tidak tahan dengan bau Kiew. Kiew menggoda Peat yang pasti telah menjaganya sepanjang hari ini. Peat gugup dan membuat alasan kalau dia melakukannya karena takut kalau Kiew akan bangun dan muntah di atas bantal. Dia tidak mau membayar kerugiannya.
Kiew semakin senang, itu artinya Peat khawatir padanya. Dia tahu kalau Peat bukan takut dia muntah di atas bantal. Peat malu dan menyuruh Kiew untuk mandi saja karena malu. Kiew mengalah dan akan pergi mandi.

Tapi, saat dia mau pergi, Peat sengaja memajukan sedikit kakinya, hingga Kiew tersandung dan terjatuh ke pelukan Peat. Peat langsung menggodanya kalau saat mabuk, Kiew bersikap agresif. Dan setelah sadar, apa Kiew masih akan berusaha menggodanya? Kiew tidak malu dan membenarkan hal itu.
Peat jadi canggung, apalagi Kiew terus memeluknya. Mereka malah saling menggoda dan mengganggu.
Namun, kebahagiaan itu harus sirna karena Chaya masuk ke dalam kamar mereka. Dan tanpa tahu malu, dia mendekati Peat dan meminta maaf karena sudah datang terlambat. Dia sudah datang secepat mungkin saat Peat menghubunginya. 
Flashback
Saat kedatangan Kiew, dan saat Kiew sedang berbicara dengan Khun Nai di telepon. Peat ternyata menghubungi Chaya setelah membaca pesan dari Chaya. Dia sudah bertekad akan menghancurkan rencana Khun Nai.
“Aku merindukanmu. Bisakah kau datang menemuiku?”
“Tentu saja aku bisa,” jawab Chaya dengan semangat.
“Dan kau tidak bisa memberitahu orang lain kalau kau datang ke sini.”
“Kenapa?”
“Seseorang memberiku kejutan. Dan aku ingin memberikan kejutan kembali.”
End
Chaya langsung menuduh Kiew yang pasti mengikuti Peat hingga ke sini. Dan pantas saja saat Peat menelponnya, Peat terlihat sangat terganggu. Eh, Peat malah diam saja dan seperti memihak pada Chaya.
“Benarkah? Tapi kelihatannya seperti Peat lupa kalau kau datang. Dia tidak tampak khawatir padamu. Sebaliknya, dia malah mengkhawatirkan ku yang tidak sehat,” ujar Kiew.
Chaya tidak terima dan berspekulasi kalau Peat hanya berakting untuk menipu Kiew. Dan Peat malah membenarkan kalau dia hanya berakting sedikit tapi Kiew sudah percaya padanya.
“Aku baru tahu kalau kau sangat hebat berakting. Khun Chaya, kau tahu? Kemarin malam, ketika aku mabuk, Peat menjagaku. Memperhatikanku. Tapi sayangnya, semua hanya akting. Lain kali, jika kau terkadang ingin berakting seperti tadi, aku tidak masalah.”
“Tdak akan ada lain kali,” teriak Chaya. “Ketika aku di sin, Peat hanya ingin bersamaku. Benarkan Peat?”
“Benar.”
“Walaupun kau ingin dengan Khun Chaya, aku tidak akan mengizinkan. Ayah membuat kita berbulan madu. Kita harus mengikuti perintah ayah. Jangan lupa, kalau aku dan Peat adalah suami istri. Dan untuk kau… siapa kau?” tanya Kiew dengan tajam. Chaya terdiam, tidak sanggup menjawab pertanyaan Kiew.
“Lebih baik kau tidak datang dan mengganggu suami istri yang sedang bulan madu, Chaya!” terdengar suara Kris. Mereka berbalik dan kaget karena Kris juga ada di Seoul.
Peat langsung bisa menebak kalau Khun Nai yang mengirim Kris kemarin. Kris membenarkan. Khun Nai mengirimnya untuk memastikan apakah Chaya benar pulang ke rumahnya atau tidak. Tapi, dia baru tahu kalau rumah Chaya ternyata di sini. (Uwoooh, dia nyindir Chaya)!
Flashback
Khun Nai meminta bantuan Kris untuk menjauhkan Chaya dari Peat dan Kiew. Dan Kris menyetujuinya.

Kris ternyata sudah mengintai Chaya sejak dari Chaya belum masuk ke dalam kamar Peat dan Kiew. Chaya masuk dengan kartu kamar (yang entah dapat dari siapa. Masa resepsionis bisa ngasih gitu aja), dan sebelum pintu menutup, Kris menahannya dan masuk ke dalam kamar.
End
Kris berkata kalau dia yang akan menjaga Chaya. Sementara Peat yang akan menjaga Kiew. Kris langsung menarik tangan Chaya dan menyeretnya keluar. Peat protes, tapi Kiew langsung menahan Peat, karena Peat harus tetap bersamanya.

Peat tetap mau pergi mengejar Chaya dan Kris. Tapi, Kiew memohon agar Peat tidak pergi. Peat mengeraskan hatinya dan tetap pergi mengejar Chaya. Tidak segan-segan, dia bahkan hampir menyakiti Kiew.  
“Aku akan membuatmu mengaku kalah! Membuatmu terluka! Hingga kau tidak ingin melihat wajahku. Jadi kau tahu, bagaimana rasanya ketika kau mempunyai kebencian dan kemarahan,” ujar Peat. Dan mendorong tubuh Kiew keluar kamar.
“Tapi aku tidak akan pernah membencimu. Karena aku mencintaimu.”
“Tapi aku membencimu. Jangan mengganggu,” tegas Peat dan mengunci pintu kamar.
Kiew memohon pada Peat untuk membukakan pintu, tapi Peat tetap berkeras hati.
--
Kris menarik Chaya keluar dari hotel, tapi Chaya memberontak. Kris bahkan menyuruh Chaya untuk tidak takut kalau dia akan melakukan sesuatu apapun. Dia juga tidak berniat.
“Kalau begitu, jangan ikut campur,” perintah Chaya.
“Aku juga tidak mau ikut campur jika kau tidak menyakiti hati Kiew.”
“Oh! Kau melakukan ini karena dia! Sebenarnya, kau juga ingin mencurinya dari Peat, kan? Itulah mengapa kau mengikutinya ke tempat ini.”
“Jangan pikir orang lain akan melakukan hal kotor sepertimu,” marah Kris. “Masih banyak pria lain, kenapa harus Peat?”
“Karena Peat mencintaiku!” (uuuuu… halu…)
“Apa yang bagus mengenai Ai-Peat? Yang membuatmu mencintainya! Dan bersedia melakukan hal menjijikan seperti ini?! Atau kau tertarik hingga tidak bisa melupakannya?”
Plak! Chaya menampar Kris dan menyuruh Kris untuk tidak menghina-nya. 
“Karena kau bertingkah seperti ini hingga aku mau menghinamu. Kau menjadi wanita kejam. Sehingga aku tidak perlu menghormatimu seperti sebelumnya,” ujar Kris dan mulai berusaha mencium paksa Chaya.
Chaya berteriak, memberontak dan menampar Kris. “Aku membencimu! Kau dengar?! Aku tidak pernah mengira kalau orang yang paling ku percayai akan menyakitiku! Kau bilang kalau kau akan membuatku bahagia. Tapi lihat yang kau lakukan! Kejam!”
“Itu karena menjadi orang baik, tidak ada gunanya (tidak di hargai)! Itulah kenapa aku mencoba melakukan hal yang jahat seperti Peat. Mungkin kau akan tertarik.”
“Tapi Peat tidak pernah memaksaku!”
“Jadi kau mau bilang kalau kau bersedia melakukan hal itu (menjadi selingkuhan Peat)? Kau sama saja, jahat!”
“Ya. Itu benar. Aku jahat! Jadi, kau tidak perlu ikut campur lagi,” ujar Chaya dan berjalan kembali ke kamar Peat.
“Aku juga tidak mau mengganggu. Tapi aku kasihan padamu,” ujar Kris dan hal itu menghentikan langkah Chaya. “Kau kira Peat benar-benar mencintaimu? Dia hanya menggunakanmu. Orang sepertinya, jika dia benar-benar mencintai seseorang, dia tidak akan pernah menikah dengan orang lain. Dia hanya memikirkan Kiew. Mencintai Kiew. Dan untuk kau, kau hanya alat yang di gunakannya untuk mencapai balas dendam-nya. Ketika kau sudah tidak berguna lagi, dia akan membuangmu.”
“Tidak benar!” sangkal Chaya. “Aku tidak percaya!”
“Tidak percaya? Kalau begitu tanyakan saja padanya dan lihat! Cara terbaik adalah tidak mendengarkan apa yang di katakannya, tapi lihat perilakunya. Dan kau akan mendapatkan jawaban mu!”
Chaya mencoba tidak peduli dan lanjut kembali ke kamar Peat. Sementara Kris, dia tersenyum sinis melihat kelakuan Chaya.
--
Kiew masih terus memohon agar Peat membukakan pintu. Dia meminta agar Peat tidak lagi terus kabur?
“Jika kau kabur dariku, kau bisa kabur sementara. Tapi jika kau kabur dari hatimu sendiri, kau tidak akan bisa bebas,” ujar Kiew.
Mata Peat berkaca-kaca dan berteriak menyuruh Kiew untuk pergi. Dia tidak mau melihat wajah Peat. Kiew tidak menyerah, jika Peat tidak mau membukakan pintu, dia bisa meminta kunci kamar. Dia tidak akan mengaku kalah.
Dan karena Peat benar-benar tidak mau membukakannya, Kiew langsung pergi sambil menelpon Khun Cho untuk meminta kunci kamar. Dia beralasan kalau kunci kamarnya hilang

Peat mengira kalau Kiew sudah pergi. Tapi, dia mendengar suara pintu lagi. Dengan kesal, Peat membuka pintu dan berteriak. Tapi ternyata yang datang adalah Chaya yang menangis. Chaya langsung memeluk Peat dan menangis. Peat khawatir dan bertanya, apa yang Kris lakukan? Dia mau pergi untuk menghajar Kris, tapi Chaya melarang.
“Aku tidak mau sendirian,” ujar Chaya. “Tolong, Peat!”
Dan setelah itu dia kembali memeluk Peat. Dari luar kamar, dari pintu yang terbuka, Kris melihat hal itu. Tapi, dia tidak melakukan apapun dan hanya diam.
Kiew telah mendapatkan kunci kamar dan segera kembali ke kamar.
Chaya sudah agak tenang, dan Peat langsung bertanya, apa yang Kris lakukan?
“Kris bilang aku jahat. Aku bodoh karena di gunakan olehmu sebagai alat balas dendam. Dan kau tidak pernah mencintaiku. Itu tidak benar, kan Peat?”
Peat diam, tidak menjawab. Chaya mendesaknya untuk menjawab dan meminta Peat membuktikan kalau dia mencintainya. Dan tanpa malu, Chaya mendekati Peat dan merangkul Peat.
“Aku mencintaimu. Aku bersedia melakukan apapun untukmu. Kau memerintahku melakukan apapun, dan aku bersedia melakukan segalanya. Tapi, aku hanya minta satu hal. JANGAN MENGKHIANATIKU! Karena aku pasti tidak akan membiarkanmu bahagia,” ujar Chaya dengan nada menyeramkan.
“Tidak mungkin aku mengkhianatimu,” ujar Peat. Dan Chaya hendak menciumnya. “Tapi cinta yang ku punya untukmu, tidak perlu di buktikan dengan cara seperti ini.”
“Cara apa yang bisa membuktikan kau sungguh mencintaiku?”
Peat diam. Tidak mampu menjawab. Dan Chaya langsung menciumnya dengan dalam, walaupun Peat hanya berdiri kaku. Dan terlihat, Chaya melepaskan jaket yang di kenakannya.

Kiew tiba di depan kamar.

4 comments: