Tuesday, January 8, 2019

Sinopsis Lakorn : Trabab See Chompo (Pink Sin) Episode 10 – 2

5 comments

Sinopsis Lakorn : Trabab See Chompo (Pink Sin) Episode 10 – 2
 Images : Channel 3
Khun Nai, Kiew dan Tee tiba di rumah sakit. Mereka benar-benar cemas dan berharap Peat baik-baik saja. Kriss, Katha dan Chaya juga tiba di rumah sakit. Mereka juga cemas dengan keadaan Peat.
Dan Chaya (biang masalah) malah menampar Kiew di depan Khun Nai (nggak ada sopan santun), dia juga memarahi Kiew sebagai seorang pembunuh jika terjadi sesuatu pada Peat. Kris dan Katha langsung menahan Chaya dan menegurnya untuk tidak menyalahkan siapapun. Chaya terus menggila dan memaki Kiew sebagai perusak kebahagiaan Peat.
“Jika kau ingin menyalahkan seseorang, maka salahkan aku,” tegas Khun Nai.
Katha segera menarik Chaya dan menyuruhnya duduk. Chaya melawan dan hendak menghampiri Kiew lagi. Katha yang biasanya tenang, langsung berteriak menyuruh Chaya untuk duduk! Sementara Kriss, dia meminta maaf pada Khun Nai atas sikap Chaya.
Kiew menangis sedih dan Khun Nai menenangkannya.
Dokter memeriksa kondisi Peat, dan kondisi Peat dalam keadaan kritis. Peat mengalami patah tangan, tulang rusuk, pendarahan organ dalam dan luka internal lainnya yang membuat Peat dalam kondisi koma.  Dia harus segera di operasi.
“Jika kau sadar, aku janji akan lebih sabar dan berbicara dengan baik padamu. Tapi kau tidak bisa meninggalkan hidupku seperti ini,” mohon Kiew dalam hati.
Dokter keluar dan menyampaikan kondisi Peat yang dalam kondisi kritis. Peat juga kehilangan banyak darah dan harus segera di operasi. Sekarang ini mereka sedang kehabisan stock darah dan sedang menghubungi rumah sakit lain untuk meminta persediaan darah. Jika mereka tidak bisa menemukan stock darah secepatnya, pasien mungkin akan meninggal.
“Aku ayahnya. Dapatkah kau menggunakan darahku? Golongan darahku A.”
“Golongan darah pasien adalah B,” beritahu dokter.
Mata Tee terbelalak mendengar golongan darah Peat adalah B. sementara Khun Nai hanya bisa meminta dokter melakukan yang terbaik untuk keselamatan Peat. Dokter mengangguk dan masuk kembali ke dalam ruang operasi.
Khun Nai benar-benar lemas dan cemas dengan kondisi Peat. Begitu pula dengan Kiew.
“Jika sesuatu terjadi pada Peat, seluruh harta warisan akan menjadi milimu. Ini rencana mu, kan? Kau sungguh jahat!” maki Chaya.
“Aku tidak pernah ingin hal seperti ini terjadi,” bela Kiew. “Jika Peat pulih, aku akan pergi dari hidupnya!”
Khun Nai kaget mendengar perkataan Kiew. Sementara Chaya malah menyebut Kiew pembohong karena Kiew pasti tahu kalau Kiew tidak akan pernah sembuh, kan?   
“Sudah cukup, Chaya,” tegur Kriss. “Kenapa kau malah menyumpahi Peat? Dan ini juga bukan saatnya mencari siapa yang salah! Kau hanya membuat segalanya bertambah buruk! Perkataanmu menyakiti setiap orang!”
“Aku mengatakan ini agar semuanya sadar kalau semua hal buruk yang terjadi pada Peat karena dia!” (Ampun lho, kalau aku ada di situ, entah udah ku apain mulut si Chaya ini).
Kiew terluka mendengar perkataan Chaya dan pergi menjauh. Khun Nai hendak mengejarnya, tetapi Kriss berkata dia yang akan menenangkan Kiew. Chaya melarang Kris  untuk pergi.
“Ini urusanku. Jangan ikut campur,” tegas Kriss.
Chaya tidak terima dan hendak ikut Kriss, tapi Katha menahannya.
“CHAYA! Kau masih ingin di sini atau kau ingin ku seret keluar?” marah Katha (aku suka padamu, Katha!!) “Daripada menggunakan waktumu untuk mendoakan Peat, kau malah mencari masalah dengan orang lain seperti ini!! Apa itu bagus, hah?!”
Kiew menangis dan memikirkan kata-kata Chaya. Dia jadi merasa kalau semua adalah salahnya. Kris menghampirinya dan berusaha menghibur Kiew. Semuanya adalah kecelakaan dan bukan salah siapapun. Peat adalah orang yang sulit mati, jadi dia pasti selamat.
“Tapi, aku takut,” ujar Kiew.
Kriss menenangkan Kiew dan mengajaknya untuk kembali menunggu Peat di depan ruang operasi.
Operasi Peat di mulai. Dokter berusaha semampunya walau dalam beberapa saat kondisi Peat terkadang drop. Setelah operasi panjang selama ber jam-jam, akhirnya Peat berhasil melewati masa kritis. Namun, kondisinya masih harus di pantau untuk 24 jam ke depan. Semua merasa lega mendengarnya.
Dan Chaya, malah menatap Kiew dengan penuh kebencian.
Kiew pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka. Dia tampak benar-benar lemas. Dan tiba-tiba, Chaya muncul dan langsung mendorong wajah Kiew ke dalam wastafel yang menyala. Dia membenamkan wajah Kiew, atau berusaha membunuhnya (?)
“Peat selamat! Tapi itu tidak berarti kalau kau bisa selamat juga! Kau harus merasakan rasa sakit yang Peat alami saat berada di antara hidup dan mati!” tekan Chaya.
Kiew berhasil melepaskan diri dari bengkeman Chaya.

“Ingat! Aku bisa melakukan apapun untuk melindungi Peat! Membunuhmu… aku juga bisa melakukannya!” tegas Chaya dan keluar dari kamar mandi (psikopat kau Chaya!! Aku mau tahu alasan Chaya bisa sampai cinta mati sama Peat hingga tergila-gila seperti ini!)

Khun Nai melihat Peat dengan cemas. Kiew keluar dari kamar mandi dan meminta tissue pada suster. Setelah membersihkan sedikit mukanya, dia menghampiri Khun Nai. Khun Nai jelas heran melihat wajah Kiew yang basah dan juga rambutnya. Kiew berbohong kalau dia hanya mencuci muka.
“Jangan merasa bersalah,” pinta Khun Nai.
“Tapi, aku…”
“Aku. Akulah yang memulai semua ini,” tegas Khun Nai.
Mereka berdua berdiri menatap Peat yang belum sadarkan diri.
--
Kiew, Khun Nai dan Tee pulang ke rumah. Taeng langsung menyambut mereka dan bertanya keadaan Peat. Kiew yang menjelaskan padanya kalau operasi Peat berhasil, dan kalau tidak ada komplikasi, Peat besok mungkin sudah sadar.
Khun Nai pergi ke ruang kerja-nya. Dia menghela nafas memikirkan keadaan Peat. Tee menghampirinya dan Khun Nai langsung curhat padanya mengenai penyesalannya atas cintanya pada Khun Sa. Tee mengemukakan pendapatnya kalau Khun Nai telah melakukan yang terbaik untuk memperbaiki kesalahan di masa lalu. Tapi, Khun Nai tidak merasa demikian.
“Mungkin… bukan hanya Anda yang melakukan kesalahan,” ujar Tee.
“Apa maksudmu?”
“Aku minta maaf. Ini… aku berani tidak mengatakan hal yang ku curigai. Aku tidak ingin Anda merasa bersalah.”
Pas sekali Kiew lewat di depan ruangan Khun Nai dan memutuskan untuk menguping.
“Apa yang kau curigai?”
“Mungkin bukan hanya Anda saja yang tidak setia. Khun Panee juga sama.”
“Tee, apa maksudmu?”
“Khun Nai, Anda bergolongan darah A. Dan Khun Panee, dia bergolongan darah O. Anak yang lahir, harusnya hanya bergolongan darah A atau O. Tidak mungkin bisa bergolongan darah B,” jelas Tee.

Khun Nai langsung teringat saat dokter mengatakan kalau Peat butuh golongan darah B. Tapi, tidak mungkin kalau Peat bukan anaknya. Selama Panee melahirkan, dia selalu mendampingi Panee dan bahkan bersuka cita atas kelahiran Peat.
“Kau mau bilang, Peat bukan putraku?”
Hal itu terdengar oleh Kiew.
Khun Nai bersikeras kalau Peat adalah anaknya, dan mengenai golongan darah yang berbeda, itu tidak bisa membuktikan apapun. Tee akhirnya memberitahu sebuah rahasia yang selama ini ayahnya jaga.
Flashback
Ayahnya pernah meminta Tee untuk menjaga sebuah rahasia yang Khun Nai juga tidak tahu. Dan Tee harus menjaga rahasia ini hingga tiba saatnya Tee harus mengungkapnya.


Jadi, dulu, saat Khun Nai meninggalkan Khun Panee di malam pernikahan mereka untuk pergi menemui Khun Sa, Khun Panee terus menangis. Dia menelpon seorang pria dan terlihat oleh ayah Tee. Pria itu datang dan bertanya apa yang terjadi. Khun Panee menangis dan memberitahu kalau Khun Nai meninggalkannya di malam pernikahan mereka. Dia tahu kalau pria itu mencintainya, karena selalu datang untuk menghiburnya saat dia merasa sedih karena Khun Nai. Pria itu tidak membantah dan membenarkan. Khun Panee memohon pada pria itu untuk membawanya pergi dari rumah dan menemaninya.
End
“Chaiwat? Tidak mungkin. Chaiwat adalah temanku. Dia tidak mungkin mengkhianatiku!” tegas Khun Nai.
Tee akhirnya menyarankan untuk melakukan tes DNA agar lebih pasti. Khun Nai menolak, dia tidak akan melakukan test DNA dan menganggap Peat sebagai anaknya.
BERSAMBUNG

5 comments:

  1. Waduuhh makin penasaran ni critanya....Lanjut min jng lama2 ya😍😍😍

    ReplyDelete
  2. Lanjut dong kaya kemaren langsung 3 episode sekaligus....

    ReplyDelete
  3. Lanjut min, makin penasaran pengen cepet beres.

    ReplyDelete
  4. Lanjut kak udah penasan kali nih ama ceritanya

    ReplyDelete