Sunday, February 24, 2019

Sinopsis C-Drama : Emperors and Me Episode 15 - 1

0 comments

Sinopsis C-Drama : Emperors and Me Episode 15 - 1
Images by : Mango TV
Guo Yan akhirnya sadar. Tapi, begitu melihat wajah Qin Shang dan Murong yang menjaganya, dia malah buang muka. Qin Shang jelas kesal dan emosi, tapi Murong menahannya agar tidak main kekerasan.
Suster masuk dan begitu melihat Guo Yan yang sudah sadarkan diri, langsung mengomelinya.
“Kau kau sudah dewasa, sudah tahu mengidap pneumonia malah tidak datang ke rumah sakit untuk menjalani perawatan. Sudah parah baru kemari. Kau masih muda, tapi hidupmu adalah pemberian orang tuamu. Jangan pernah bermain-main dengan hidupmu lagi ya. Ketika kamu ke sini kemarin, kondisimu sudah parah, dokter memberimu penicillin. Sekarang, sepertinya kau kelihatan sudah lebih baik,” nasihat dokter.

Guo Yan bingung, dia belum pernah mendengarkan kata penicillin. Dia juga kagum saat suster menaikkan tempat tidurnya dengan remote. Setelah suster keluar, Qin Shang memperingati Guo Yan untuk tidak bertingkah macam-macam, atau dia akan segera menghabisi nyawa Guo Yan.
Murong juga memperingatinya untuk tidak macam-maca dengan mereka.
“Kalian seperti ini karena kalian takut aku akan mencelakai Luo Xi, kan?”
“Baguslah jika kau tahu,” jawab Murong.
“Tenang saja. Yang aku inginkan hanyalah mengikuti kalian kemari. Karena aku sudah di sini, aku tidak akan mencelakai kalian lagi.”
“Maksdumu, kau menyuruh mereka untuk melukai kami agar bisa kemari bersama kami?” simpul Qin Shang.
“Kenapa kau ingin ke sini?”

“Coba tebak,” jawab Guo Yan. Jelas Qin Shang emosi. “Jika kau ingin membunuhku, kau seharusnya melakukannya sebelum aku sadar. Tapi kalian tidak melakukannya, tetapi malah membawaku untuk di obati. Itu artinya, kalian tidak bisa membunuhku.”
“Walaupun aku tidak bisa membunuhmu. Aku tidak akan membiarkanmu hidup dengan tenang,” peringati Qin Shang.
“Sepertinya asumsi ku benar. Kau tidak bisa membunuhku. Itu artinya, ada peraturan di dunia ini yang harus kau ikuti. Karena kalian harus mengikuti aturan dan tidak bisa saling mencelakaki, kenapa kita harus begitu defensif?” (pintar banget si Guo Yan ini).
--
Luo Xi menyelesaikan ujiannya dan langsung pergi ke rumah sakit. Qin Shang dan Murong langsung menyambutnya, tapi Luo Xi malah hanya memberikan makanan yang di belinya pada Qin Shang. Murong tampak cemburu, tapi dia menyembunyikannya.
Murong memberitahu Luo Xi kalau penyakit Guo Yan sekarang sudah membaik, jadi dia sudah bisa keluar dari rumah sakit. Tapi, Qin Shang tetap memperingati Luo Xi untuk tidak dekat kepada Guo Yan karena mereka tidak tahu Guo Yan punya rencana apa.
“Tapi, kita tetap tidak bisa meninggalkannya begitu saja di sini,” ujar Luo Xi. “Tenang saja. Ini tempat-ku sekarang. Sepintar apapun dia, dia tidak lebih daripada orang antik. Aku punya banyak nasehat modern untuk menjinakkannya.”
Luo Xi dkk kemudian masuk ke dalam kamar rawat Guo Yan. Begitu masuk, Luo Xi langsung bicara dengan suara keras pada Guo Yan. Dia berbohong kalau ini adalah rumah sakit surga.
Guo Yan tertawa mendengarnya. “Surga? Ini bukanlah surga. Ini adalah rencanaku untuk membuat kalian membawaku kemari.”
“Ku tanya kau, kemana kau membawa Xue?”

“Aku sudah bilang sebelumnya. Aku meminta Guo Xie untuk menjaganya.”
“Apa kau serius? Kalau kau meminta Guo Xie menjaganya, dia tidak akan dalam bahaya kan?”
“Tidak mungkin. Aku memberitahu Guo Xie kalau dia ingin situasi berubah, dia perlu bantuan Le Xue. Jadi, dia pasti akan memperlakukan Le Xue dengan sopan. Aku tidak berniat mencelakaimu. Hanya saja aku punya beberapa alasan hingga harus menggunakanmu untuk mengirimku kemari. Terimakasih, nona Luo Xi, sudah membawaku ke rumah sakit.”
“Tentu saja. Jika bukan karena aku, kau pasti sudah mati di tempat aneh. Aku peringati, karena kau sekarang berada di wilayahku, kau sebaiknya bertingkah baik.”
“Ya. Nona Luo Xi adalah wanita baik, aku yakin, kau tidak akan meninggalkanku sendirian di sini dan tidak mempedulikanku,” yakin Guo Yan.
--

Akhirnya, mereka membawa Guo Yan ke tempat tinggal Qin Shang dan Murong. Luo Xi pamit untuk pulang karena dia masih ada jadwal kuliah.
Guo Yan yang tiba di tempat baru, sibuk melihat-lihat sekeliling rumah yang penuh dengan benda-benda yang tidak pernah di lihatnya. Qin Shang dan Murong tampak kasar pada Guo Yan, tapi mereka tetap menunjukkan kamar yang bisa Guo Yan tempati.
Eh, tapi mereka menyuruh Guo Yan untuk terus berada di dalam kamar dan berkelakuan baik. Makanan akan mereka antarkan ke dalam kamar.
“Bagaimana dengan kamar mandi? Kalian tidak menyuruhku untuk melakukannya (BAK dan BAB) di sini kan?” tanya Guo Yan.
“Kau bisa keluar dua kali dalam sehari dari kamar ini. Kami akan bergantian mengawasimu. Sebaiknya kau tidak merencanakan apapun,” jelas Murong.
Dan mereka langsung mengunci pintu dari luar kamar dengan gembok.
Guo Yan melihat-lihat kamar dan melihat ada buku di sana.

Sementara itu, Murong membahas kepada Qin Shang mengenai orang yang membakar ruangan saat itu yang membuat mereka melompati waktu. Siapa yang melakukannya? Dia kan baru tiba di sini, jadi pasti tidak ada yang dendam. Sementara Luo Xi hanyalah mahasiswi biasa.
“Jadi, aku ingin tanya kau. Adakah orang yang dendam padamu?” tanya Murong.
Dari dalam kamarnya, Guo Yan bisa mendengar dengan jelas perbincangan mereka tersebut.
Qin Shang terdiam dan berpikir.
--

Qin Shang menemui Shan Gou, karena Shan Gou adalah anak buah Wei juga. Shan Gou takut karena Qin Shang menatapnya dengan tatapan menyeramkan. Dia memang anak buah tn. Wei, tapi tn. Wei selalu memerintahkan Hao Bei melakukan sesuatu dulu sebelum menyuruhnya.
“Lalu, apa kemarin Hao Bei dan WeiWei ada datang bekerja?”
“tn. Wei datang. Tapi, Hao Bei tidak.”
Qin Shang mengerti dan membiarkan Shan Gou untuk pergi.
--
Guo Yan keluar kamar dan baru selesai menggunakan kamar mandi, tapi Murong sudah menyuruhnya untuk masuk kembali ke dalam kamar. Guo Yan menghela nafas dan bertanya kenapa Murong terburu-buru menyuruhnya masuk ke dalam kamar lagi? Apa takut dia kabur atau mencelakainya, hah?
“Dimana Qin Shang? Keluar? Dan meninggalkanmu sendiri untuk mengawasiku?” tanya Guo Yan dengan santai dan duduk di kursi. “Aku akan menjadi baik dan memberitahumu. Kau jangan menghabiskan waktu dan tenaga untuk mengawasiku.”
“Aku sarankan kau untuk jangan membuat masalah.”

“Masalah? Jika aku benar-benar ingin melakukannya, dengan akal ku, kalian tidak akan bisa menghentikannya. Jadi, kenapa kita tidak saling mempercayai satu sama lain?”
“Kenapa aku harus mempercayaimu?”
“Dengan otakku, aku bisa membantu kalian menyelesaikan masalah kalian sekarang.”
“Kau adalah masalah terbesar kami sekarang,” tegas Murong. 
“Qin Shang pergi keluar pagi-pagi buta dan meninggalkanmu sendiri dengan ku, sepertinya, dia punya musuh yang harus di atasi. Qin Shang adalah orang yang sombong. Jika dia sangat memperhatikan hal ini, itu pasti ada hubungannya dengan Luo Xi. Luo Xi tidak dalam masalah kan? Dia melompati waktu ketika terkena masalah, itu artinya sebelum datang ke Chen, kalian menemui masalah di sini kan? Qin Shang keluar pagi-pagi buta, mungkin untuk mencari orang yang melakukan hal ini.”

Murong tidak suka karena Guo Yan tahu dan bisa menebak terlalu banyak. Tapi, Guo Yan tidak peduli dan malah mengatakan kalau mereka sepertinya bertakdir. Mereka bertiga adalah kaisar dan karena keajaiban melompati waktu dan saling bertemu. Bukankah sebaiknya mereka saling bekerja sama? Murong tidak mau mendengar dan hanya menyuruh Guo Yan untuk masuk kembali ke kamar.
--
Qin Shang pergi ke perusahaan dengan penuh amarah. Hao Bei sedang melapor pada tn. Wei kalau tidak di temukan siapapun di tempat kejadian. Baru juga buat laporan, Qin Shang muncul.
Tanpa segan, Qin Shang menghajar Hao Bei dan tn. Wei.
“Shang!” panggil Zhao Xin dan menghentikan Qin Shang. “Shang! Shang!”
“Lepaskan aku! Aku akan menghabisi si brengsek ini!”
Tapi, Zhao Xin melindungi tn. Wei. Qin Shang sangat emosi dan memberitahu Zhao Qin kalau tn. Wei membakar gedung di tengah hutan untuk membunuhnya. tn. Wei tertawa dan membantah hal itu. Qin Shang semakin emosi.

“Shang, aku mohon padamu. Jangan menghajarnya, Shang,” mohon Zhao Xin. Hal ini membuat Qin Shang teringat saat ibunda ratu memohon padanya untuk tidak membunuh perdana menteri dulu.
Qin Shang akhirnya tidak jadi memukul tn. Wei dan pergi dari sana.
--
Malam hari,
Hujan turun dengan deras.

Qin Shang berdiri diam di depan asrama Luo Xi. Luo Xi yang baru pulang kuliah, jelas heran melihat Qin Shang berdiri di tengah hujan. Qin Shang langsung memeluk Luo Xi begitu melhatnya.
“Ini salahku hingga kau terluka.”
“Kau di sini menungguku, hanya untuk mengatakan ini padaku?”
“Di dunia ini, kapanpun kau bertemu masalah dan bahaya, tidak ada yang bisa ku lakukan. Jika kita berada di negara Qi, jika ada orang yang punya pikiran untuk mencelakaimu, bahkan sehelai rambutmu, aku bisa membunuhnya langsung! Luo Xi, kembalilah ke negara Qi bersamaku. Aku akan selalu ada untukmu, setiap detik, setiap jam, setiap hari, setiap tahun. Aku tidak akan pernah membuatmu kesepian.”
Luo Xi tidak mengatakan apapun dan hanya memeluk Qin Shang.
“Qin Shang, lamaranmu sangat tulus. Aku tidak tahu harus menjawab bagaimana. Sebelum hari ini, aku tidak pernah berpikir mengenai masa depan kita. Rumahku di sini. Keluargaku di sini. Bahkan jika aku kembali ke Qi denganmu, aku pada akhirnya harus membawa Xue kembali ke sini.”
--
Luo Xi pulang ke rumah. Ibunya membantunya mengeringkan rambutnya sambil mengomeli Luo Xi yang sudah besar tapi tidak bisa merawat diri sendiri. Mereka sekeluarga saling bercengkerama dan bercanda.
--
Qin Shang pulang dalam keadaan basah kuyup. Murong yang melihatnya meyindir kalau Qin Shang basah karna tidak ada pelayan yang memegang payung-nya?
“Aku suka berjalan di tengah hujan. Apa masalah?” ketus Qin Shang.
“Guo Yan sangat sulit di atasi. Dia terlalu pintar. Aku tidak mengatakan apapun, tapi dia bisa tahu tujuanmu keluar. Dan dia tahu kalau kita menjelajahi waktu ketika dalam bahaya.”
“Apa yang dia katakan?”
“Dia meminta kita percaya padanya.”
“Kau percaya padanya?”
“Meskipun aku tidak punya alasan  untuk tidak mempercayainya. Tapi, aku juga tidak punya alasan untuk percaya padanya,” jawab Murong.
--
Esok hari,
Hao Bei bertanya pada tn. Wei apa yang harus mereka lakukan sekarang? tn. Wei berteriak kesal, “Kita harus membunuhnya!!”



No comments:

Post a Comment