Sunday, February 10, 2019

Sinopsis C-Drama : Emperors and Me Episode 04 - 2

0 comments

Sinopsis C-Drama : Emperors and Me Episode 04 - 2
Images by : Mango TV
Luo Xi pulang ke rumah dan membuka lemari pakaiannya yang menyimpan pakaian Qin Shang. Ternyata, Qin Shang membawa beberapa batu giok di pakaiannya, dan Luo Xi mengambilnya. Setelah itu, dia langsung pergi lagi.
Esok hari,
Luo Xi membawa Qin Shang ke museum. Sebelum masuk, Luo Xi mengingatkan Qin Shang untuk tidak membawa kekacauan.

Mereka melihat-lihat benda-benda peninggalan sejarah. Dan juga menanyakan mengenai benda kuno yang ditemukan baru-baru ini di berita, karena mereka ingin membelinya. Tapi, ternyata sudah ada orang yang membeli benda itu terlebih dahulu. Qin Shang langsung mengajak Luo Xi untuk pergi saja, tapi Luo Xi meminta waktu sebentar.
Luo Xi mengeluarkan batu giok-nya. Dia akan menjual salah satu batu giok yang Qin Shang bawa dari masa kerajaan Qi. Qin Shang kaget karena Luo Xi bisa memiliki batu giok-nya. Luo Xi membuat alasan kalau batu giok itu sebagai ganti makanan dan baju yang Qin Shang kenakan selama ini. Qin Shang mengerti dan mengizinkan Luo Xi untuk menjualnya dengan harga mahal.

Luo Xi senang dan menjual salah satu batu giok itu. Pemilik museum itu melihatnya dan menyuruh Luo Xi dan Qin Shang untuk melihat-lihat museum itu sembari dia memeriksa keasliannya. Pemilik berbisik kepada anak buahnya kalau batu giok itu asli dan jika di lelang pasti mereka bisa mendapatkan 2juta yuan, tapi karena Luo Xi dan Qin Shang tampak seperti orang tidak pro, mereka akan membodohinya.
Pemilik museum memanggil Luo Xi dan mulai memberikan harga. Dia hendak membeli 400ribu yuan. Luo Xi langsung tidak mau menjual-nya. Akhirnya, pemilik menawarkan lagi, dia akan membelinya 500ribu yuan. Dan Luo Xi langsung setuju.
Luo Xi sangat senang mendapat banyak uang dan bahkan berteriak kalau mereka sudah menjadi kaya. Sementara itu, Qin Shang merasa bingung karena batu giok nya yang berharga malah di tukar menjadi sebuah kartu.
“Ini namanya kartu ATM. Ini sangat berharga. Selama kau memiliki cukup uang di dalamnya, kau tinggal menggeseknya seperti ini dan kau bisa membeli apapun yang kau inginkan,” jelas Luo Xi. “Dan karena ini berasal dari giok-mu, aku akan membuatkanmu kartu ATM suatu hari nanti dan membiarkanmu menikmati kehidupan modern.”
Mereka asyik berbicara mengenai hal itu dan tidak menyadari kalau seorang pria memotret dan mengawasi mereka berdua.
--
Luo Xi membawa Qin Shang ke mall dan membelikan beberapa baju untuk Qin Shang. Saat belanja, Qin Shang memperhatikan Luo Xi yang membayar menggunakan kartu ATM itu dan merasa kagum karena sangat mudah belanja menggunakan kartu.

Luo Xi kemudian melihat-lihat tas dan hal itu membuat Qin Shang bingung kenapa banyak sekali kulit-kulit yang di pajang?
“Kau tidak mengerti. Ini itu tas untuk wanita. Sebuah tas dapat memperbaiki segalanya. Tidak ada seorangpun wanita di dunia ini yang tidak menyukai tas. Dan ada bunga juga. Tidak akan ada orang yang menolak sebuket bunga. Lihat saja si Jingjing dan bunga yang dia dapat, membuatnya sangat pamer.”
“Siapa itu Jingjing?”
“Wanita kasar yang ingin kau hajar itu.”
Luo Xi kemudian memeriksa harga tas-nya, dan begitu tahu harganya sangat mahal, Luo Xi jadi batal membelinya.
--
Esok hari,
Seorang pria masuk ke dalam kelas Luo Xi sambil membawa sebuket bunga yang di letakan di dalam tas. Wajah pria itu tertutup oleh tas itu. Semua mahasiswa/I langsung berteriak heboho melihat hal itu. Mereka mengira kalau itu untuk Jingjing. Dan Jingjing tampak bangga. Dia bahkan langsung berdiri untuk menerima buket bunga itu. tapi, si pria melewatinya dan berhenti di depan Luo Xi.
Pria itu adalah Qin Shang. Dan dia memberikan hadiah itu untuk Luo Xi. Itu adalah hadiah pertunangannya karena ingin menikahi Luo Xi.
“Hadiah pertunangan? Zaman apa ini sekarang?!” ejek Jingjing. “Apa diluar juga ada keledai yang sedang menunggu juga?”
“Eh, tapi dia membeli tas Hermes sebagai pot bunga-nya. Pacar barumu selalu punya ide lucu,” ujar seorang mahasiswi pada Luo Xi.
Seorang lagi langsung memeriksa ingin memeriksa tas itu, dan langsung iri karena itu adalah tas asli. Semua langsung merasa iri pada Luo Xi. Jingjing tidak mau kalah dan menuduh kalau itu hanyalah tas imitasi dengan kualitas tinggi.
“Luo Xi, bukannya kau bilang kalau dia sepupumu?” tanya Fei Yan.
“Dia adalah Ratu -ku,” tegas Qin Shang.
Dan semua langsung berseru bersemangat. Luo Xi merasa malu dan memilih keluar kelas. Qin Shang langsung mengikutinya.
Semua mahasiswi langsung membicarakan Luo Xi yang beruntung bisa mendapatkan pacar tampan dan kaya hingga menggunakan tas Hermes sebagai pot bunga. Jingjing semakin kesal dan berteriak menyuruh semuanya diam. Para mahasiswi itu langsung menuduh Jingjing yang cemburu pada Luo Xi. Tapi Jingjing membantah hal tersebut.
--
Qin Shang mengikuti Luo Xi, walalupun Luo Xi mengabaikannya. Sebenarnya, diam-diam, Luo Xi merasa senang juga. Tapi, dia penasaran, darimana Qin Shang mendapatkan uang untuk membeli tas seharga 200.000 yuan itu?
“Dengan ini,” jawab Qin Shang dan menunjukkan kartu ATM-nya.
Luo Xi segera memeriksa tas-nya, dan benar itu kartu ATM miliknya. Dia langsung marah karena Qin Shang mencuri kartunya dan juga darimana Qin Shang belajar membayar pakai kartu ATM?
“Kemarin, kau yang menunjukkan caranya padaku.”
Luo Xi langsung memeriksa tas itu dan berharap agar tas itu masih bisa di kembalikan karena belum rusak. Qin Shang jelas heran, “Kau tidak suka?”
“Aku lebih suka 200.000 yuan.”
“Kalau gitu, kau tidak perlu khawatir. Kau akan memiliki seluruh dunia begitu kau kembali ke Kerajaan Qi.”
“Aku hanya perlu kau tinggal di sini selama setengah tahun dan kemudian aku akan mengirimkanmu kembali dan membawa Xue kembali. Tempat kalian tidak punya AC, snack, aku tidak akan bisa tinggal di sana,” jelas Luo Xi. “Oh ya, ini ponsel untukmu. Aku yang belikan.”

Luo Xi kemudian mengajari cara Qin Shang untuk menggunakan ponsel. Dia menelpon ke ponsel Qin Shang, dan mengajarkan cara mengangkat telepon itu. setelah itu, dia menyuruh Qin Shang untuk menunggu di sini sementara dia berlari ke seberang jalan.

Begitu di seberang, Luo Xi dengan bahasa tubuh memberikan instruksi pada Qin Shang untuk meletakkan ponsel itu di telinga. Qin Shang mengikutinya tapi dia terbalik. Luo Xi memberitahunya dan Qin Shang menurutinya.
“Hello, Qin Shang. Kau bisa mendengar suaraku? Kau sangat bodoh. Hello… kau bisa mendengarku sekarang? Dengan ponsel ini, kau bisa bicara denganku dari jarak yang sangat sangat sangat jauh. Qin Shang. Kau tidak lagi takut kan? Tidak usah khawatir, cukup bicara seperti biasa saja.”
Tapi, tidak ada jawaban dari Qin Shang.
“Qin Shang. Apa kau marah karena aku bilang tidak ingin menjadi ratu-mu atau karena aku tidak ingin ingin dengan mu kembali? Di dunia ini, jika kau ingin menikahi seorang wanita, kau harus berkencan dengannya terlebih dahulu. Melamarnya. Dan bilang padanya, aku suka padamu. Dan itu harus tulus. Setelah itu, dia baru bisa memutuskan untuk menerima cintamu atau tidak,” jelas Luo Xi. “Qin Shang. Qin Shang. Apa kau mendengarku?”
“Luo Xi. Aku suka padamu,” ujar Qin Shang langsung dan secara tiba-tiba. Dia juga menatap ke arah Luo Xi dengan tajam.
Luo Xi sampai terdiam mendapat pengakuan tiba-tiba itu. Mereka saling menatap di kejauhan.
Tapi, tiba-tiba saja, sebuah mobil van putih berhenti di depan Luo Xi dan menculiknya. Qin Shang langsung mengejarnya menggunakan taksi.


BERSAMBUNG

No comments:

Post a Comment