Sunday, March 3, 2019

Sinopsis C- Drama : Easy Fortune Happy Life Episode 2 - part 2

0 comments


1 minggu kemudian

Pengacara Li menemui Yun Gao dan mengabarkan bahwa dia telah berhasil menemukan Chun Xiang.



Feng Feng sibuk memberikan perintah kepada para pelayan yang sedang menata rumah serta membersihkan rumah. “Ku beritahu kalian. Hari ini adalah ulang tahun ke 80 thn ketua. Kalian lebih baik tidak meninggalkan apapun, mengerti?” perintah Feng Feng. Dan mereka semua mengiyakan.



Yan datang dan langsung berbaring di atas sofa. Melihat itu, Feng Feng langsung mengomel, karena Yan telah membuat sofa yang dirapikannya menjadi berantakan. Feng Feng juga mengeluh betapa capeknya dia, karena sedari pagi dia sibuk mengurusi semuanya, sehingga untuk beristirahat pun dia tidak sempat.

“Sayang! Kamu akan mengetahuinya nanti,” kata Yan, menghentikan keluhan Istrinya.



Ketika Yun Gao bersama Pengacara Li turun. Feng Feng, Yan, serta seluruh pelayan langsung menyanyikan lagu selama ulang tahun dan bertepuk tangan dengan meriah. Tapi Yun Gao mengabaikan mereka, dan pergi bersama Pengacara Li.


“Ayah begitu aneh hari ini. Kita telah menyanyikan lagu untuknya, tapi dia malah pergi begitu saja. Aku tidak percaya dia benar memiliki hati sekeras batu,” keluh Feng Feng. Kemudian dia menyuruh pelayan untuk menghubungin toko kue, dan menambahkan 2 lapis kue lagi.



Didalam mobil. Pengacara Li meminta maaf, karena beberapa hal yang telah berubah, maka dia membutuhkan waktu yang lebih lama untuk menemukan Chun Xiang. Namun akhirnya dia berhasil dan menemukan bahwa Chun Xiang masih tinggal di tempat yang sama  seperti yang Yun Gao beritahukan padanya. Tapi menurut informasi dari Kepala Desa, Chun Xian dan keluarga hidup sedikit susah.

“Ketika dia muda, dia tidak menikah. Dan hanya ketika Ayahnya meninggal, dia membayar $200 untuk menikahi seorang petani berusia 30 thn. Tapi hal yang paling menyedihkan adalah si Petani cepat meninggal, dan meninggalkan hutan $60.000. Ketua, aku pikir hidupnya benar- benar sulit,” jelas Pengacara Li.

“Sudahlah, berhenti bicara. Chun Xiang tidak seharusnya hidup begitu. Menyetirlah lebih cepat! Berapa lama kamu piki aku bisa hidup? Lebih cepat menyetir!” perintah Yun Gao dengan wajah serius.



Chun Xiang yang telah meninggal, dimakamkan oleh para warga desa. Dan mereka semua berkumpul mendoakan Chun Xiang yang telah tidak ada di dunia ini.

“Nenek memiliki terlalu banyak hal yang dia tidak bisa selesaikan. Dia tidak bisa melihat Ayah dan Ibuku sampai dia beruban. Dia tidak bisa melihat Pi Dan dan aku tumbuh besar. Aku pikir bahwa dia tidak bisa merindukan kakek Wang Cai lagi. Aku akan menggantikan Nenek, dan bertemu kakek Wang Cai lagi,” kata Fu An dengan penuh tekad.



Fu An serta Pi Dan duduk merenung di depan bengkel sepeda ketua desa, dikarena kan mereka tidak memiliki cukup uang untuk bisa turun gunung. Melihat itu, ketua desa pun menawarkan agar Fu An menjual saja sepeda tua yang Fu An miliki, karena sepeda tua miliki Fu An memiliki banyak sejarah panjang dan pasti harga nya akan mahal jika di jual.

“Tapi aku tidak mengenal kolektor barang antik,” kata Fu An.



“Serahkan padaku. Kamu tinggalkan saja sepeda ini di tempat ku. Dan aku akan memberikan $20.000 dulu untuk mu supaya dapat turun dari gunung,” jelas Kepala Desa. Dan walaupun sulit untuk percaya, tapi akhirnya Fu An pun setuju.


Fu An meminta lonceng dari kakek Wang Cai yang terpasang di sepeda, karena itu adalah benda milik Neneknya. Dan Kepala Desa membiarkannya.


Flash back

“Seorang gadis dan pria yang bertemu dibawah jatuhnya bunga Tung, mereka akan di berkati dan tidak akan pernah terpisah. Chun Xiang, kamu harus menunggu ku. Aku pasti akan kembali padamu,” kata Yun Gao sambil memegang kedua tangan Chun Xiang dengan erat.

Flash back end


“Chun Xiang, aku kembali. Apa kamu masih menunggu ku?” gumam Yun Gao bertanya sambil memperhatikan jalanan yang dilaluinya dari jendela mobil.


Tepat disaat itu, mobil Yun Gao berpapasan dengan Fu An, Pi Dan, serta Dong Ni yang sedang berjalan untuk pergi dari gunung.

No comments:

Post a Comment