Sinopsis C- Drama : Easy Fortune Happy Life Episode 2 - part 1



Network: TTV

Walaupun masih merasa sangat kelelahan, tapi Da Feng memilih mengikuti Fu An yang tampak sangat panik sekali. “Gadis desa. Jangan menakuti dirimu sendiri. Mereka pasti baik- baik saja,” teriak Da Feng memanggil Fu An.

Fu An mengabaikan panggilan Da Feng dan terus berjalan dengan cepat. Namun karena saking terburu- burunya, dia sampai jatuh berkali- kali tersandung kaki sendiri. Dan Da Feng pun membantu Fu An untuk berdiri. “Apa yang harus dilakukan? Keluargaku hanya tinggal nenek dan adikku saja. Apa yang harus ku lakukan jika terjadi sesuatu kepada mereka?” kata Fu An dengan suara yang bergetar.



Para warga desa bekerja sama untuk memandamkan api yang membakar rumah Fu An. Kemudian ketika melihat kedatangan Fu An, kepala desa langsung memberitahukan bahwa adik Fu An, dia baik- baik saja dan telah di bawa ke rumah sakit. Tapi sayangnya, Nenek Fu An masih berada di dalam rumah.

Mendengar hal tersebut, Fu An ingin menerobos api dan masuk ke dalam rumah untuk menyelamatkan Neneknya. Tapi dengan sigap, Da Feng langsung menarik dan menahan Fu An agar tidak melakukan hal berbahaya itu.



“Lepaskan aku! Nenek ku sendirian di dalam sana! Pernahkah kamu memahami betapa ketakutannya dia? Lepaskan aku!! Nenek ku membutuhkan ku! Aku mohon, lepaskan aku!!” teriak Fu An sambil menangis dan memberontak untuk dilepaskan. Tapi dengan sekuat tenaga, Da Feng menahan Fu An dan tidak mau melepaskannya.


Da Feng teringat kenangan masa kecilnya. Flash back. Dulu saat masih kecil, Da Feng pernah di culik oleh orang jahat. Dan disaat itu, Da Feng berteriak,” Kakek! Kakek! Cepat datang dan selamatkan aku!” teriaknya kepada Kakek yang sedang berbicara di telpon dengan si Pencuri.



Si Pencuri meminta uang tebusan kepada Yun Gao sebagai gantinya dia akan melepaskan Da Feng. Tapi Yun Gao tidak mau dan sama sekali tidak peduli dengan Da Feng. “Kamu menangkapnya hari ini, kamu bisa melakukan apapun yang kamu inginkan. Aku tidak akan pernah membayar satu sen pun.”


“Kakekmu tidak akan datang dan menyelamatkanmu,” kata si Pencuri memberitahu Da Feng. Dan mengetahui hal tersebut, Da Feng merasa sangat marah dan dendam pada Yun Gao.

Flash back end.



Api telah berhasil di padamkan. Kemudian setelah itu, para warga desa membawa keluar mayat Chun Xiang yang telah meninggalkan dunia ini. Dan dengan sedih serta syok, Fu An meneteskan air matanya melihat mayat Chun Xiang yang telah tiada.



“Nenek. Nenek. Nenek. Nenek,” panggil Fu An sambil mengocangkan tubuh Chun Xiang. Dia berharap agar Nenek terbangun, tapi sayangnya, Chun Xiang telah benar- benar meninggalkan dunia ini.

“Jika ada orang yang disalahkan, itu tikus hutan yang mengambil tanaman liar Antrodia Cinnamomea. Jika tidak, maka tidak mungkin api akan menyala,” kata Kepala Desa, ikut berduka.



Fu An merasa sangat sedih dan menyesal. Dia meminta maaf kepada Chun Xiang, karena dia telah membawa Antrodia Cinnamomea pulang ke rumah. Jika dia tidak melakukan itu, maka ini semua tidak akan terjadi.

“Berhenti menyalahkan dirimu sendiri. Itu salah tikus hutan. Dan tidak peduli berapa banyak kamu menangis, Nenek mu tidak akan kembali hidup. Orang mati tidak bisa mendengar apapun,” hibur Da Feng, ikut berduka.



Fu An menatap tajam ke arah Da Feng, lalu dia menampar Da Feng dengan keras. “Itu karena orang sepertimu, maka tikus hutan ada. Aku tidak ingin melihatmu! Pergi!” teriak Fu An dengan marah sambil mendorong agar Da Feng pergi.

Da Feng tampak merasa bersalah, dia berdiri diam di sana. Tepat disaat itu, telponnya berbunyi, dan itu telpon dari Zhen Zhen.



Dengan girang, Zhen Zhen memberitahu Da Feng bahwa dia telah berhasil mendapatkan Antrodia Cinnamomea yang mereka cari. Tapi Da Feng sama sekali tidak fokus dan tidak mendengarkan hal tersebut.

“Halo? Da Feng? Da Feng?” panggil Zhen Zhen, menyadarkan Da Feng.

“Aku bilang, tentang Antrodia Cinnamomea. Aku sudah mendapatkannya untukmu. Kamu bisa pergi untuk mengambilnya sekarang,” jelas Zhen Zhen.

“Sekarang?” balas Da Feng.


“Tentu saja. Ini harus dilakukan untuk ulang tahun ke 80 thn kakek mu. Jadi kamu harus segera mendapatkannya, sehingga kamu akan merasa lega,” jelas Zhen Zhen. Dan mendengar itu, maka Da Feng pun mengiyakan.



Kepala desa membiarkan Fu An yang berdiri diam di depan rumah. Dia pergi meninggalkan Fu An yang tampak ingin sendirian. Melihat itu, Da Feng mendekati Fu An.



“Aku akan memberikan mu jam tangan ini. Jika kamu mengenakannya, mungkin ini akan membantu mu,” kata Da Feng sambil memasangkan jam tangannya di tangan Fu An.

“Tidak perlu,” balas Fu An sambil mengangkat tangannya.



“Adikmu memerlukannya kan?” balas Da Feng, memaksa agar Fu An menerimanya. “Tidak peduli apa, adikmu masih hidup. Aku pergi. Dan aku minta maaf,” kata Da Feng, lalu pergi.

Fu An diam menahan air matanya yang kembali ingin menetes.



Dirumah sakit. Dokter memberikan kotak surat yang Chun Xiang pegang sebelum dia mati. Kotak itu berisikan rahasia Chun Xiang yang telah dirahasiakan dari Fu An serta Pi Dan sejak lama.

Fu An membuka kotak itu dan membaca surat yang berada didalamnya. Surat itu adalah laporan mengenai kanker paru- paru yang Chun Xiang derita, dan yang selama ini disembunyikannya. Mengetahui itu, Fu An merasa semakin sedih dan menangis.



“Kak, jangan menangis lagi. Nenek meninggalkan surat untukmu,” kata Pi Dan. Kemudian Fu An mengambil surat yang berada di dalam amplop, dia membuka surat itu dan membacanya.

Fu An. Dua bulan lalu, jam yang tidak lagi berdetak selama 40 tahun, secara ajaib mulai bekerja lagi. Aku tahu bahwa tidak banyak waktu yang tersisa lagi. Jadi sejak kamu membaca surat ini, jangan merasa bersalah…


… Untuk memiliki hari yang bahagia dan kenangan dengan Wang Cai, aku sudah sangat senang. Jadi bahkan sebelum aku menutup mataku, aku masih berpikir bahwa aku sangat terbekati. Dimasa depan, ketika kamu bertemu seseorang yang benar- benar kamu cintai. Kamu akan mengerti perasaanku. Bertemu Wang Cai adalah saat terbesarku…


… Tapi yang paling aku cintai, adalah kamu dan Pi Dan. Sejak kalian muda, kalian tidak memiliki orang tua, dan hanya bisa hidup susah dengan ku. Aku benar- benar berterima kasih kepada Tuhan untuk memberiku sepasang anak yang manis dan penurut…


… Kalian memberiku banyak kebahagiaan. Aku tidak akan pernah melupakannya…


… Aku pikir Tuhan terlalu cemburu padaku, membiarkan hari- hari bahagia kita begitu singkat. Di masa depan, ketika aku pergi, kalian berdua harus saling menjaga dan mendukung satu sama lain. Apa kamu mengerti? Tidak peduli berapa banyak rintangan yang kamu temui, kamu harus menghadapinya dengan harapan dan keberanian. Bersyukurlah dan jangan berpikiran untuk balas dendam. Ingat, kebaikan adalah berkat terbesar. Aku akan memperhatikan mu dari surga…



… Jika Wang Cai kembali, tolong kembalikan jam ini kepadanya. Beritahu padanya, aku benar- benar minta maaf, karena aku berjalan mendahului dia. Aku benar- benar ingin bertemu dia sekali lagi. Aku percaya, dia akan datang mencariku.



Selesai membaca surat tersebut, Fu An menangis terisak- isak. Tapi Pi Dan yang sama sekali tidak mengerti apapun, dengan polosnya dia meminta agar Fu An segera membangunkan Nenek, karena dia tidak ingin Nenek meninggal.



Lalu tanpa menjawab dan mengatakan apapun, Fu An memeluk Pi Dan dan menangis. Kemudian seperti mengerti, Pi Dan ikut menangis.

“Jangan menangis. Aku disini,” kata Fu An sambil menahan tangisnya.



Da Feng bertemu dengan si Penjual Antrodia Cinnamomea. Setelah memastikan bahwa itu barang yang benar, Da Feng pun menuliskan cek dan memberikannya kepada mereka. Lalu teringat akan Fu An yang menderita karena para tikus pencuri. Maka Da Feng pun menjadi kesal dan marah, dia lalu memukuli si Penjual sekali dengan kuat.



Sebenarnya si Penjual heran dan marah, tapi karena tidak ingin membuat masalah dengan Da Feng yang telah memberikan banyak uang kepadanya. Maka dia pun pergi begitu saja meninggalkan Da Feng.



Da Feng merasa bersalah kepada Fu An. Namun disatu sisi dia teringat perkataan Zhen Zhen dan posisi ahli waris. Jadi dia pun menyimpan Antrodia Cinnamomea ke dalam jok mobilnya.


“Benar. Tidak peduli betapa banyaknya aku berkorban. Aku harus mendapatkan posisi penerush bisnis,” gumam Da Feng, mengeraskan hatinya.

Post a Comment

Previous Post Next Post