Wednesday, March 20, 2019

Sinopsis Drama Taiwan – Hello Again Episode 02 – 1

0 comments

Sinopsis Drama Taiwan – Hello Again Episode 02 – 1
Images by : SET TV , TTV, iQiyi

Zi Hao menatap rentenir itu dengan pandangan marah. Dia merebut surat hutang Ke Ai, “Aku yang akan menanggung hutangnya!!”
Semua terkejut mendengar ucapan Zi Hao tersebut.
Tapi, rentenir malah senang dan memberikan kartu namanya pada Zi Hao. Rentenir juga menegaskan kalau jumlah hutang yang harus di bayar adalah NT $12juta.
“Kami hanya berhutang NT$ 7 juta. Kami hanya akan membayar sebesar itu,” tegas Ke Ai. “Yang Zi Hao, bisa nggak sih kau nggak usah ikut campur urusanku?” marah Ke Ai pada Zi Hao.
Cai Xiao Gang juga dengan kasar bertanya pada Zi Hao, apa yang hendak di lakukan Zi Hao? Zi Hao menepis tangan Xiao Gang dan sibuk memotret surat hutang Ke Ai. Rentenir juga menyuruh Xiao Gang untuk tidak ikut campur jika tidak sanggup membayarkan hutang Ke Ai.
“Aku adalah pengacara. Namaku adalah Cai Xiao Gang. Kau bersalah atas pemerasan. Zhuo Ying Ying (ibu Ke Ai) adalah klien-ku. Jika kau ingin bernegosiasi mengenai hutangnya, kau bisa mencariku. Atau, aku juga bisa menuntutmu.”

Rentenir tersebut tertawa. Dia hanya akan bicara dan bernegosiasi pada orang yang akan membayar hutang. Dan jika Xiao Gang mau menuntut-nya, silahkan saja. Dia punya banyak waktu untuk menjalani persidangan. Tapi, setelah persidangan selesai, dia akan membawa Ke Ai dan ibunya ke tempat       yang tidak di ketahui siapapun.
“Aku sudah mengirimkan NT $7 juta ke bank-mu. Kau bisa memeriksa-nya,” beritahu Zi Hao.
Rentenir  langsung memeriksa rekening-nya secara online. Dan memang sudah masuk.
“Kau bisa menerima uang ini saja sekarang. Atau… kau bisa terus mengejar mereka (Ke Ai dan ibunya), lalu mereka akan kabur. Akhirnya, kau malah tidak akan mendapatkan NT $12 juta mu kembali walau 100 tahun berlalu. Bahkan, kau masih harus berurusan dengan pengacara ini lagi (Xiao Gang),” ujar Zi Hao, bernegosiasi agar rentenir itu mau menerima NT $7 juta dan berhenti mengganggu keluarga Ke Ai.
“Anak muda. Good job. Mari kita menjadi teman,” ujar rentenir itu senang dan merobek surat hutang keluarga Ke Ai.
Setelah para rentenir itu pergi, Ke Ai langsung memarahi Zi Hao yang sudah gila karena langsung memberikan NT $ 7 juta. Zi Hao dengan cuek malah berjalan pergi keluar pasan. Jelas saja, Ke Ai mengikutinya.
Ke Ai terus bertanya alasan kenapa Zi Hao mau membayarkan hutangnya. Padahal itu bukan urusan Zi Hao. Tapi, Zi Hao terus saja berjalan dan tidak menjawab pertanyaan Ke Ai. Ke Ai sampai kesal dan berteriak memanggil nama Zi Hao.
“Apa kau kasihan padaku? Aku tahu kau sekarang sangat hebat. Jika kau hanya ingin membutktikan kalau kau sudah sukses, maka kau sudah melakukannya. Jika kau kasihan padaku, maka tidak perlu.”

“Kasihan? Apa kau terlihat susah? Terlebih lagi, kau sehat, kau bahkan bisa berlari dan melompat. Otak dan mulutmu juga tajam. Kenapa aku harus kasihan padamu?”
“Lalu, apa yang kau inginkan.”
“Aku … ingin… menculik… mu!” ujar Zi Hao dan mendekatkan wajahnya kepada Ke Ai, “untuk membawamu bekerja di Hua Li Dept. Store,” lanjutnya dan berjalan pergi.
“Aku tidak mau.”
“Kenapa? Dulu kau menolak karena takut kalau para debt collector itu akan mengejarmu. Sekarang, masalah itu sudah di selesaikan. Tidak ada alasan lagi bagimu untuk menolak.”
“Tidak ada alasan juga bagiku untuk bekerja padamu.”
“Tidak ada alasan? Aku sudah bilang akan menjamin bayaran gaji pokokmu, bonus liburan dan bonus performa kerja lebih tinggi daripada yang lain. Keuntungan-keuntungan ini adalah alasannya. Beri aku nomor ponselmu. Jadi aku bisa menagih hutangmu setiap saat.”
Dan dengan terpaksa, Ke Ai memberikan nomor ponselnya. Dan Zi Hao tersenyum senang. Dia bahkan mengingatkan Ke Ai untuk datang ke Hua Li dept. store besok pagi jam 9.
--

Zi Hao sudah kembali ke kantor dan menerima laporan sisa uang di bank-nya yang tinggal NT $ 15.000. Dia tidak percaya. Dan Li Jian langsung menjelaskan alasan kenapa uang Zi Hao tinggal segitu adalah karena Zi Hao sudah berkata di rapat akan bertanggung jawab menutupi kerugian dept. pakaian yang Zi Jie pimpin sebelumnya. Dan setelah itu, Zi Hao malah terburu-buru mentransfer NT $7 juta, padahal hanya itu sisa uang di rekening Zi Hao.
“Aku tidak tahu apa yang terjadi para murid top itu. Tapi, satu hal yang aku sangat tahu adalah, sejak dia (Ke Ai) muncul, kau menjadi semakin aneh setiap harinya.”
“Kau yang aneh. Aku hanya melakukan hal yang benar.”
Lagipula, menurut Zi Hao, dia sudah melakukan hebat bisa mendapatkan Ke Ai untuk bekerja di dept. store-nya. Bukankah Li Jian sendiri juga bilang kalau Ke Ai sangat hebat dalam menjual pakaian. Li Jian membenarkan hal itu. Tetapi, Li Jian juga memberitahu Zi Hao, kalau sekarang ini Zi Hao tidak akan bisa membeli peralatan baru golf dan tidak bisa makan Kaiseki lagi. Zi Hao dengan tenang menjawab, dia masih bisa memakai peralatan golf lama dan juga makan di pinggir jalan.
“Sudahlah, jangan bicara terus. Beritahu saja dept. HRD mengenai Chang Ke Ai yang akan bekerja besok,” perintah Zi Hao.
Dan Li Jian langsung pergi melakukan perintah Zi Hao.
Zi Hao kemudian mendapat pesan di ponselnya mengenai pembayaran otomatis kartu kredit Zi Hao gagal karena saldo kurang. Dan di suruh untuk top-up sebesar NT $ 57.492 ke rekening.

“Tunggu,” panggil Zi Hao pada Li Jian yang sudah di dekat pintu. Li Jian berbalik dan menatapnya. “Bisakah kau meminjamkan ku sedikit uang? Aku harus membayar tagihan kartu kreditku.” (Hahahhaha).
“Apa yang kau bilang? Aku tidak bisa dengar karena terlalu jauh. Katakan lagi,” ujar Li Jian dengan sengaja dan mendekat ke Zi Hao. “Aku sedikit pusing karena gula darahku terlalu rendah. Kau bisa berdiri dan mengatakan hal tadi lagi. Aku ingin duduk,” lanjut Li Jian, dan duduk di kursi Zi Hao. Dia juga tertawa dengan keras dan senang. “Kau bisa bilang sekarang. Kau ingin pinjam uang untuk bayar tagihan kartu kredit? Pinjam uang? Tentu saja aku bisa meminjamkannya. Aku selalu kalah darimu di ujian, selama pertandingan basket dan juga di pekerjaan. Jika aku tidak meminjamkanmu uang sekarang, bagaimana aku bisa memberitahumu kalau aku punya lebih banyak tabungan daripadamu?”
Dengan menahan kesal, Zi Hao menerima kertas yang Li Jian berikan padanya. Dan di kertas itu tertulis kalau bunga pinjamannya adalah 20%.
“Kau sedang mengambil keuntungan dari ketidak beruntungan ku, hah?” tanya Zi Hao menahan kesal.
“Jangan bilang begitu. Ini sangat jarang bagiku untuk mengambil keuntungan darimu. Anggap saja seperti kau memberikan bonus tahunan. Okay? Tanda tangan ya. Lalu, aku akan membayarkan tagihan kartu kredit-mu.”
Hufft, hahahaha, dengan terpaksa, Zi Hao menandatangani surat perjanjian itu. Li Jian benar-benar senang, apalagi Zi Hao jongkok di depannya.
--
Wen Wen dan bibi Li Hua mengadakan pesta karaoke dan mengundang semua pedagang pasar juga. Pesta itu adalah sebagai ucapan selamat karena Ke Ai dan ibunya akhirnya bisa terbebas dari para rentenir itu. Eh, ternyata selain para pedagang pasar, dua orang rentenir yang di episode 01 part 1 mengejar-ngejar Ke Ai juga ikut merayakan pesta itu. Mereka bahkan berterimakasih pada Ke Ai karena akhirnya mereka bisa berhenti menjadi rentenir. Boss mereka kalah judi dan kehilangan semua hartanya termasuk semua surat hutang yang dimilikinya.
“Ying Ying (Ibu Ke Ai), aku ingin memberikan selamat padamu. Kau tidak harus menangis diam-diam lagi. Sekarang, semuanya sudah baik-baik saja.”
“Bagaimana mungkin baik-baik saja? Kami hanya mendapatkan kreditor baru dan kami masih harus membayar hutang padanya.”
“Setidaknya, kreditor baru ini adalah orang yang rasional. Ke Ai, kami tidak akan melihatmu lagi di pasar berlari ke sana kemari lagi.”
Semua pedagang pasar memberikan semangat pada Ke Ai dan ibunya. Ke Ai dan ibunya tentu sangat bahagia dan berterimakasih pada mereka. Ibu benar-benar berterimakasih pada mereka hingga menangis, karena semua dukungan mereka, dia dan Ke Ai bisa melewati masa 10 tahun ini.
Ibu juga mengingatkan Ke Ai agar berterimakasih pada Zi Hao, dan setelah Ke Ai bekerja di Hua Li Dept. Store, Ke Ai harus membantu Zi Hao dengan baik.
Xiao Gang memandang Ke Ai dan teringat pertemuan pertama-nya dengan Ke Ai.

Flashback
Saat itu Ke Ai adalah pekerja sambilan baru di tempat dimana Xiao Gang juga bekerja. Tapi, baru mulai bekerja Ke Ai sudah harus kabur karena para debt collector a . Xiao Gang ingin membantu tapi pemilik restoran menyuruh Xiao Gang untuk membiarkannya saja. Dia memberitahu Xiao Gang kalau Ke Ai adalah pekerja baru dan sudah di kejar debt collector, jadi tidak mungkin dia bisa di terima kerja dimanapun.
End

Ke Ai dan ibunya dalam perjalanan pulang usai pesta. Xiao Gang, Wen Wen dan tante Li Hua mengikuti dari belakang. Ke Ai khawatir mengenai dirinya yang akan bekerja dan tentu tidak akan bisa lagi berjualan di pasar. Dia takut kalau ibunya akan kelelahan jika berjualan sendirian, jadi dia menyarankan agar menutup toko mereka. Ibu menolak karena dia juga ingin membantu mengumpulkan uang. Tante Li Hua juga menyuruh Ke Ai untuk tidak usah khawatir, karena mereka akan menjaga ibu-nya.
Xiao Gang kembali mengingat masa lalu.

Flashback
Xiao Gang sedang membagikan brosur di sebuah kampus. Dan saat itulah, dia kembali bertemeu dengan Ke Ai. Ke Ai dengan malu meminta maaf dan memberitahu kalau dia bukanlah mahasiswa kampus, dia hanya menumpang makan siang. Setelah itu, Ke Ai langsung kabur.
“Sebentar. Kalau kau tidak masuk universitas ini, terus kenapa? Kau belajar dari masyarakat, dan belajar bertanggung jawab. Itu bukanlah hal yang memalukan,” ujar Xiao Gang.
Ke Ai berbalik menatap Xiao Gang, tampaknya dia sedikit terharu mendengar perkataan Xiao Gang. Dan Xiao Gang memberikan nama sebuah perusahaan yang sedang mencari pekerja. Dan bahkan dia menyuruh Ke Ai untuk mencarinya jika debt collector kembali mengganggu Ke Ai, karena dia adalah mahasiswa hukum.
End
“Bisakah aku meminta bantuanmu?” tanya Xiao Gang pada Wen Wen.
“Bisa. Apa?”
Dan kita tidak di perlihatkan apa yang Xiao Gang katakan pada Wen Wen.
--


Ke Ai dan ibunya, dengan di antar Xiao Gang tiba di depan rumah. Tapi, ternyata, di depan rumah mereka sudah ada Li Jian. Ke Ai jelas kaget. Tetapi, Li Jian denga tenang malah menunjukkan kantong kertas yang di bawanya yang berisi seragam kerja Ke Ai. Zi Hao yang menyuruhnya untuk mengantarkannya. Usai itu, Li Jian langsung pulang begitu saja.


No comments:

Post a Comment