Saturday, March 23, 2019

Sinopsis Drama Taiwan – Hello Again Episode 03 – 2

2 comments

Sinopsis Drama Taiwan – Hello Again Episode 03 – 2
Images by : SET TV , TTV, iQiyi

 Rapat di adakan,
Semua para supervisor dan manager serta Chang Ke Ai hadir di rapat tersebut. Zi Hao juga hadir dan memberitahukan agenda rapat adalah membahas mengenai pengajuan banding Chang Ke Ai atas hukuman yang di terimanya kemarin. Zi Hao memberikan kesempatan pada Ke Ai untuk menjelaskan.
“Kemarin adalah hari kerja pertamaku. Aku melakukan siaran live untuk menarik pelanggan untuk meningkatkan penjualan. Responnya sangat bagus, banyak masyarakat tiba-tiba datang. Meskipun hal itu membuat sedikit kekacauan di lantai 2, tapi penjualan mencapai NTD 780 ribu dalam sehari. Itu adalah penjualan terbaik tahun ini. Aku sudah mempelajari peraturan karyawan, dan di dalamnya tidak ada peraturan yang menyatakan tidak boleh melakukan penjualan melalui siaran live. Aku merasa kalau aku tidak salah. Aku berharap perusahaan dapat membatalkan hukumanku,” jelas Ke Ai.
“Itu benar kalau tidak ada aturan jelas mengenai penjualan melalui siaran live. Tapi, jelas tertera kalau menyebabkan kekacau balauan di mall akan di hukum. Dan kau membuat kekacauan. Itu tidak ada hubungannya dengan performa penjualan. tn. Yang, aku tidak mengira ada yang salah dengan hukumannya,” balas Xiang Yin.
“Apa maksudmu dengan kekacauan? Bukankah kekacauan yang timbul karena keramaian massa di akhir tahun artinya bisnis berjalan lancar? Kita ini sedang melakukan bisnis, bukankah kita berharap banyak yang datang? Semakin banyak orang semakin banyak uang yang masuk. kenapa kalau jadinya kacau? Aku tidak merasa kalau situasi kemarin adalah kekacauan.”   
Zi Jie tersenyum mendengar perkataan Ke Ai. Sementara itu, Xiang Yin tetap bersikeras kalau keputusannya benar. Dia terus menyudutkan Ke Ai, dan berkata kalau mereka mengikuti cara Ke Ai, kalau begitu apa bedanya Hua Li dengan pasar?
Suasana menjadi tegang. Xiang Yin berkata kalau tidak mungkin untuk mendetail-kan buku petunjuk peraturan karyawan yang ada, tapi yang jelas, setiap hal yang mengganggu kedamaian mall tidak di izinkan.
“Kita sebenarnya ingin berjualan atau ingin kedamaian?” tanya Ke Ai balik.
Semua para supervisor dan manager jadi mulai saling berdiskusi menilai apa yang terjadi.
“Kelihatannya Nn. Chang Ke Ai telah menyebutkan topik yang menarik,” Zi Hao angkat bicara. “Jelas kalau dia melakukan siaran langsung untuk mendapatkan pelanggan bagi Index (toko baju dimana Ke Ai di tempatkan menjadi SPG). Dia juga membuat target berbeda untuk Index. Hasilnya sangat memuaskan. Ini yang di kenal sebagai disruptive innovation dalam manajemen. Percobaan Chang Ke Ai membuat kesempatan inovasi untuk kita. Tapi… itu benar kalau dia menyebabkan kekacauan dan mengganggu brand lainnya.”
“Wakil presiden kita sangat pintar,” puji Xiang Yin, senang.
“Apakah yang lain mempunyai pendapat terkait banding ini?” tanya Zi Hao.
Semua malah saling menatap satu sama lain. Karena tidak ada pendapat lagi, Zi Hao memutuskan untuk mulai di lakukan vote. Angkat tangan bagi yang setuju untuk membatalkan hukuman Ke Ai. Dan ada 5 orang yang setuju. Dan yang tidak setuju, juga mengangkat tangan. Hanya Zi Jie yang tidak mengangkat tangan sama sekali.
“Aku…,” ujar Zi Jie dan semua menatapnya. Menunggu jawabannya. “Bisakah aku golput? Aku akan golput.”
“Baiklah. Karena ada 5 vote yang setuju dan tidak setuju…” ujar Zi Hao.
“Maka, kau adalah penentunya,” sambung Zi Jie.
Semua makin tegang menanti pilihan Zi Hao. “Pernahkah kalian mendengar teori ikan lele? Bagi departemen pakaian wanita, Chang Ke Ai mungkin adalah ikan lele yang bisa memotivasi dan membuat sarden pemalas untuk berjuang. Performance penjualan kita selama ini tidak ada perubahan, tapi dia memecahkan rekor. Tapi, kita tidak menyemangati ikan lele yang hanya peduli pada dirinya sendiri dan tidak peduli pada orang lain. Demi toko brand lain, aku tidak setuju untuk membatalkan hukumannya.”

Zi Jie kaget dengan keputusan Zi Hao. Dan Zi Hao menegaskan pada Ke Ai, kalau Ke Ai tetap mendapatkan hukuman (denda dan namanya di umumkan di mading). Dan rapat di bubarkan.

Ke Ai berdiri kaku merasa kecewa. Tapi, dia berusaha tersenyum dan keluar ruangan. Zi Hao sendiri tersenyum senang seolah telah menang. Zi Jie nampaknya kecewa dengan keputusan Zi Hao.
--
Ke Ai benar-benar kesal. Dia mengira Zi Hao akan mendukungnya, ternyata malah mempermalukannya. Zi Jie diam-diam mengikuti Ke Ai dan memperhatikan yang Ke Ai lakukan. Ke Ai benar-benar kesal dan bertekad akan makan ikan lele hari ini.

Dia langsung pergi ke restoran yang ada di dalam mall, dan bertanya apakah ada menghindangkan ikan lele?
“Tidak ada.”
“Lalu ikan apa yang ada?”
“Mackerel.”
“Berapa harga makan siang ikan mackerel?”

Zi Jie muncul dan memberitahukan kalau departemen makanan adalah wilayah kekuasaannya. Jadi, dia memerintahkan pelayan untuk menghidangkan 2 set makan siang ikan mackerel. Dia yang akan traktir. Ke Ai bingung, tapi dia nerima aja, toh dapat makan siang gratis jadinya.
Ke Ai berterimakasih atas traktiran Zi Jie. Ke Ai manggil Zi Jie dengan sebutan tn. Liang.
“No. No. No. Kau terus memanggilku tn. Liang yang menunjukkan kalau kita tidak dekat. Kau adalah teman SMA Zi Hao, dan aku adalah sepupunya. Jadi, hubungan kita harusnya adalah teman. Ya, benar. Hallo, panggil saja aku Zi Jie. Jadi, aku akan memanggilmu Ke Ai. Ke Ai! Namamu sangat imut.”
Ke Ai sedikit heran melihat tingkah aneh Zi Jie. Zi Jie malah memuji dirinya sendiri yang jauh lebih ramah daripada Zi Hao. Dia juga lebih menyukai kedamaian daripada perang. Dan situasi di rapat tadi terlalu tegang, jadi dia memilih untuk golput.
Ke Ai tidak menyalahkan Zi Jie karena sudah golput, karena walaupun Zi Jie memilih, hasil akhirnya akan tetap sama. Zi Hao sebagai orang yang membuat keputusan pasti tetap akan membuatnya kalah dalam banding.
“Yang Zi Hao dan aku tumbuh besar bersama. Apa kau mau tahu semua rahasianya? Hal itu mungkin akan berguna bagimu di lain waktu,” tawari Zi Jie.
“Yang Zi Hao adalah sepupumu. Tapi, kau ingin memberitahu rahasianya pada orang yang baru pertama kali kau temui?”
“No. Kita sudah bertemu dua kali.”
“Okay, pada orang yang sudah kau temui dua kali. Dan orang itu adalah musuh sepupumu. Kau benar-benar aneh. Maksudku, kau unik.”
“Benar. Aku akui kalau aku adalah orang yang unik. Tidak kah kau ingin tahu lebih banyak tentangku?”
“Aku hanya tahu kalau ini sudah hampir jam kerja. Terimakasih atas traktiran makan siangmu. Aku harus kembali kerja,” hindari Ke Ai dan langsung pergi.

Ke Ai pergi sambil menelpon Xiao Gang dan memberitahu kegagalan banding-nya. Sementara Zi Jie, dia malah berencana untuk meningkatkan hubungan Ke Ai dan Zi Hao. Dia tidak suka kalau Ke Ai dan Zi Hao adalah musuh.
--
Xiao Gang lanjut kerja setelah menerima telepon Ke Ai. Dia menemui klien-nya. Dan klien-nya ini sangat percaya pada Xiao Gang karena dia bahkan tidak memeriksa hasil kerja Xiao Gang lagi.
“Tapi, aku ingin menanyakan pendapatmu mengenai hal ini,” ujar klien tersebut.
“Perusahaan secara mengejutkan mendapatkan tawaran hak penjualan sebuah pakaian terkenal wanita. Dari sisi positif, hal ini merupakan peluang bagus untuk Anda mengembangkan bisnis Anda. Tapi…”
“Tidak masalah. Katakan saja.”
“Pakaian wanita bukanlah pekerjaan Anda. Itu mungkin akan berefek pada daya saing Anda jika Anda terganggu. Juga, masyarakat akan memperhatikan Anda dengan seksama setelah berita hak penjualan itu di siarkan. Jadi, aku rasa langkah terbaik adalah membiarkan yang professional untuk menghandle agar dapat menstabilkan langkah pertama Anda.”
“Benar. Itu adalah hal yang ku pikirkan juga. Sejujurnya, aku juga tidak tahu apapun mengenai perilaku konsumsi wanita. Baiklah! Aku akan melakukan sesuai yang kau katakan.”
Sepertinya, klien Xiao Gang ini adalah tn. Jiang.
--

Trio pekerja pembenci Ke Ai, tiba-tiba menghampiri Ke Ai dan memeluknya. Mereka berkata kalau mereka tahu Ke Ai sudah di persalahkan dan mereka datang untuk memberikan semangat. Ke Ai dengan canggung berterimakasih atas hal itu. Setelah itu, trio pekerja juga berkata akan memberikan 5 menit untuk menjelek-jelekkan Zi Hao. Satu persatu trio pekerja mulai mengejek dan menjelekan Zi Hao, dan karena itu Ke Ai juga ikut menjelekkan Zi Hao.
Sialnya, pas gilirannya menjelekan Ke Ai, Zi Hao dan Li Jian malah datang ke toko Index. Zi Hao juga memberikan tanda pada Xiao Tian agar tidak bersuara memberitahu kedatangannya. Posisinya Zi Hao ini berdiri di belakang Ke Ai.
Sementara itu, trio pekerja sangat gugup karena melihat kedatangan Zi Hao. Hanya Ke Ai yang belum sadar akan situasi itu. Dan dengan cepat, Daniel menghentikan omelan Ke Ai dan langsung lari pergi bersama dua temannya kembali ke toko mereka.
Saat sudah menyadari kehadiran Zi Hao pun, ternyata Ke Ai tidak takut sama sekali dan malah terus lanjut bekerja. Dia bahkan bertanya ada masalah apa hingga Zi Hao tidak pergi juga.


“Aku datang untuk membeli baju,” jawab ZI Hao. Li Jian langsung mengeryit karena mendengar alasan Zi Hao itu. Dan Zi Jie juga memperhatikan mereka dari sebuah toko.
“Tn. Yang, ini adalah bagian baju wanita. Bagian baju pria ada di lantai 3,” beritahu Ke Ai.
“Siapa yang bilang aku beli baju untuk diriku? Tidak bisakah aku membelinya untuk orang lain?”
“Baiklah, kalau begitu jenis baju apa yang ingin Anda beli? Atau apa tipe wanita yang ingin Anda berikan baju padanya?”
“Tipe wanita?” ulang Zi Hao dan memperhatikan Ke Ai. “Orang-nya tidak ramah dan mudah sekali terpancing.”
Dan Ke Ai mulai merekomendasikan baju yang mungkin sesuai dengan wanita tersebut, tapi Zi Hao malah menyebut model baju yang Ke Ai rekomendasikan itu kuno.
“Sebenarnya, terkadang dia seperti bunga morning lily. Tapi, terkadang dia seperti merak yang sombong. Aku harap baju nya akan bisa membuat aura unik-nya keluar.”
“Apakah orang itu wanita yang normal ketika dia seperti lily dan merak di saat bersamaan?” gumam Ke Ai.
“Benar, dia bukanlah wanita normal.”

Setelah merekomendasikan beberapa baju, akhirnya Zi Hao memilih untuk membeli sebuah dress putih. Tapi, selama mendengar penjelasan Ke Ai, Zi Hao hanya terus memandang wajah Ke Ai. Ke Ai sendiri kaget melihat baju yang di pilih oleh Zi Hao adalah seharga NTD 18000. Dia jadi merasa kalau Zi Hao cukup baik pada wanita.
Li Jian mendapat telepon kalau President sudah tiba, dan Zi Hao langsung pergi. Tidak lupa, dia meminta Li Jian untuk membayar baju yang di belinya.
--

Zi Hao menemui President (pemimpin perusahaan) yang sudah duduk di ruangannya. Dia mempertanyakan rapat yang di adakan tadi pagi. Padahal Zi Hao baru memegang departemen pakaian wanita tapi sudah terjadi keributan.
“Dua tantemu datang ke perusahaan,” beritahu President (yang adalah Ayah Zi Hao).
“Jadi karena alasan itu Anda datang kemari?”
“Mereka peduli pada kemampuan dan performa kerjamu. Biarku bilang, aku sudah tua, aku tidak bisa menunggumu mengambil alih tempatku. Tapi, jika kau tidak bisa bekerja dengan baik, Zi Jie lah yang akan mengambil alih posisiku.”
“Aku tidak masalah.”
“Apa maksudmu? Sejujurnya, Zi Jie itu cukup berkemampuan, tapi dia tidak ambisius. Dua tantemu tidak mengerti permasalahannya. Pokoknya, kau harus cepat dan menunjukkan hasil yang baik hingga segalanya bisa lebih mudah. Aku tahu, kalau kau tidak bekerja untuk dirimu sendiri tapi tolong, tanggung lebih banyak tanggung jawab untuk Hua Li Dept. Store dan karyawan.”

Zi Hao menghela nafas dan mengiyakan perkataan ayahnya. Dia juga memberitahu kalau sedang berusaha mendekati tn. Jiang dan D.K agar mau bekerja sama dengan mereka. Dia telah menyiapkan banyak acara apalagi sekarang musim natal dan tahun baru, untuk meningkatkan penjualan mereka. Ayahnya tentu senang dengan Zi Hao yang telah merencanakan segalanya.
“Oh ya, ibumu menyuruhku mengingatkanmu untuk bertemu putri dan bank Ju Bang. Kencan buta,” ujar ayah.
Zi Hao langsung menolak.
“Apa kau kira mudah untuk mengubah pikiran ibumu? Anakku, dengarkan aku. Karena kau memiliki lebih banyak dari orang lain, jadi beban-mu juga lebih berat daripada orang lain.”
“Aku tahu, ayah.”
“Bicaralah pada ibumu. Tapi jangan bilang pada ibu, kalau ayah tidak memberitahu ya.”
--
Malam hari,
Zi Hao tidak langsung pulang dan malah berdiri di depan mall. Semua karyawan yang keluar memberi salam padanya. Zi Hao berdiri di sana untuk menunggu Ke Ai, tapi dia heran sendiri saat Ke Ai tidak keluar juga. Apakah Ke Ai pulang lebih cepat?
Umur panjang, baru juga di pikirkan, Ke Ai keluar dan berjalan pergi begitu saja melewati Zi Hao. Zi Hao jadi kaget sendiri karena Ke Ai melewatinya begitu saja.
Dia berjalan mengikuti Ke Ai, tapi Ke Ai sama sekali tidak menyadarinya. Jadi, Zi Hao akhirnya memanggilnya, dan Ke Ai langsung berteriak histeris saat berbalik, karena lampu jalan belum menyala saat itu. Zi Hao membekap mulut Ke Ai agar tidak berteriak.
“Ini aku. Yang Zi Hao,” ujar Zi Hao dengan suara keras.
Pas sekali, lampu jalan menyala. Suasana jadi terasa romantis karena mereka saling bertatapan.

Eh sayangnya, suasana romantis itu harus hilang karena Ke Ai melihat ada kecoak terbang. Dan Zi Hao lebih heboh reaksinya, saat mendengar kata ‘kecoak’ dia langsung memeluk Ke Ai dan merengek ketakutan. Zi Hao paling takut dengan kecoak.
Ke Ai jelas tertawa mendengar dan melihat reaksi Zi Hao. Sementara itu, Zi Hao langsung bersikap cool lagi. Ke Ai kemudian bertanya untuk apa Zi Hao menemuinya?
“Aku mengakui kekalahanku. Aku sudah berjanji akan mentraktir-mu steak terbaik jika kau bisa menjual 100 pakaian. Selamat atas kemenanganmu. Ayo pergi.”
“Aku menolak di senangi setelah di tampar (di persulit)!” tolak Ke Ai dan langsung berjalan pergi.
“Eh, aku hanya bersikap adil di pekerjaan.”
Tapi, Ke Ai tetap menolak pergi makan dengan Zi Hao. Zi Hao terus memaksa dan menghalangi Ke Ai untuk pergi. Dia bahkan memegang tangan Ke Ai.
“Apa kau percaya kalau aku bisa menggendongmu ke sana?” tanya Zi Hao.
“Aku tidak mau…”
Belum selesai Ke Ai bicara, Zi Hao sudah langsung menggendongnya. Bukan gendongan ala putri, tapi di panggul. Kayak bawa karung beras (hahahaha :D).
Ke Ai memberontak di turunkan. Tapi, Zi Hao, mah mana peduli, dia hanya memperingati kalau Ke Ai banyak bergerak dan terjatuh, dia tidak akan peduli.


2 comments: