Thursday, April 11, 2019

Sinopsis Chinese Drama – YOUTH Episode 02-1

0 comments

Sinopsis Chinese Drama – YOUTH Episode 02-1
Images by : Youku
-Ada dua jenis rahasia-

Di dalam kelas, saat sedang belajar, Xiao Chun melihat pena yang di pinjamkannya pada Yang Yu kemarin, di pakai oleh seorang mahasiswi. Dengan takut-takut, Xiao Chun bertanya mengenai pena tersebut. Dan si mahasiswi menjawab kalau pena itu dia temukan di lapangan. Xiao Chun langsung kesal dan menatap jengkel pada Yang Yu yang kebetulan duduk di belakangnya.


Pelajaran hari ini adalah mengenai Positioning”. Dosen menjelaskan mengenai konsep ini agar mampu memposisikan diri di antara orang lain. Dan Xiao Chun langsung mengingat sosok Sheng Nan, Ni Jin dan Chen Chen yang menurutnya menyeramkan. Dosen menjelaskan kalau 80% orang menilai orang lain dari kesan pertama. Dan jika tahap awal pemosisian kita kurang bagus, tidak perlu khawatir karena masih ada kesempatan yang di namakan : Repositioning.

Mendengar penjelasan dosen, Xiao Chun jadi bertekad untuk berubah. Dia tidak bisa seperti ini terus selamanya. Dia tidak boleh di pandang remeh terus. Dan Xiao Chun langsung menulis di buku rencana-rencananya.
Pertama, dia akan memarahi Chen Chen yang terus memakan selai dan roti-nya. Jadi, setidaknya, Chen Chen harus berbagi kopi dengannya. Xiao Chun menekankan pada dirinya untuk tidak ragu melakukan hal tersebut.
Kedua, jika Ni Jin memarahinya karena tidak menjemur baju di mesin cuci, dia akan dengan berani menjawab kalau Chen Chen sudah berjanji padanya untuk menjemur baju. Seharusnya, sebelum marah, Ni Jin cari tahu dulu siapa yang pantas di marahi. Dan dengan begitu, Ni Jin akan meminta maaf karena sudah salah memarahi orang.
Ketiga, ketika Sheng Nan memarahinya mengenai penghematan listrik, dia akan menghentikan omelan Sheng Nan dan memperkenalkan dirinya. Hal itu karena dia dan Sheng Nan belum pernah berkenalan.

Pas sekali pelajaran sudah usai, dan Xiao Chun menarik nafas agar dia bisa melakukan semua skenario yang telah di rencanakannya tersebut. Sebelum melaksanakan skenario itu pada teman kos-nya, dia akan melakukannya terlebih dahulu pada Yang Yu.
“Kembalikan penaku!” pinta Xiao Chun dengan tegas pada Yang Yu.
“Hah?”
Jangan gugup. Buat semuanya jelas, ujar Xiao Chun dalam hati pada dirinya sendiri. “Mana pena yang aku pinjamkan terakhir kali? Yang bentuknya besar dan warna putih. Mana? Kau menghilangkannya kan? Bagaimana bisa kau menghilangkan barang yang kau pinjam dari orang lain?”
“Maaf,” jawab Yang Yu dengan gugup.
Dan mendengar permintaan maaf Yang Yu, Xiao Chun langsung berbalik pergi. Dia memuji dirinya sendiri yang telah berani mengutarakan isi pikirannya.
--

Di rumah kos,
Xiao Chun baru pulang dan melihat Sheng Nan, Ni Jin dan Chen Chen di meja makan. Ni Jin dan Chen Chen bahkan sudah sangat akur dan berbincang santai. Xiao Chun tidak habis pikir melihatnya, baru juga kemarin bertengkar hebat sampai jambak-jambakan dan sekarang sudah berbaikan gitu.
“Kenapa kau pulang sangat telat? Hari ini kak Ni mentraktir kita hotpot pedas,” tanya Chen Chen dengan riang.
“Lain kali lebih cepatlah pulang dan kita bisa makan bersama,” ujar Ni Jin.
Chen Chen bahkan menawarkan beberapa tusuk sate yang masih tersisa pada Xiao Chun, dan Xiao Chun dengan tersenyum canggung menolak. Setelah itu, dia membuka kulkas dan melihat botol selai-nya sudah habis.
Apa yang harus di katakan, katakan saja! Tekad Xiao Chun.
“Siapa… siapa yag memakan selaiku?” tanya Xiao Chun dengan gugup dan suara keras. Tapi, dia tidak berani menatap mereka.
Semua langsung melihat padanya.
“Aku memakannya beberapa kali,” akui Chen Chen.
“Aku juga,” ujar Ni Jin.
“Kau harusnya bilang padaku sebelum memakannya. Aku sendiri belum makan begitu banyak,” marah Xiao Chun.
“Itu… bisakah kau menutup pintu kulkas dulu? Itu bisa memboroskan listrik,” ujar Sheng Nan.
Xiao Chun langsung meminta maaf dan menutup pintu, tapi, dia menutupnya terlalu keras hingga terdengar seperti membanting. Xiao Chun jadi kaget sendiri. Tapi, Ni Jin malah memarahi Xiao Chun yang menutup dengan keras seperti ingin ajak kelahi saja.
“Bukan itu maksudku,” ujar Xiao Chun gugup.
“Kau yang mengizinkan kami untuk memakannya kan,” ujar Chen Chen.
“Tapi, kau seharusnya tidak memakan sebanyak itu. Kau bahkan tidak memberikanku secangkir kopi,” ujar Xiao Chun dengan suara kecil.
“Apa yang dia bilang?” tanya Chen Chen pada Ni Jin.
“Tidak dengar,” jawab Ni Jin.
“Ini di buat oleh ibuku,” lanjut Xiao Chun.
“Apa itu begitu serius? Itu hanya sedikit selai,” balas Chen Chen, bukannya minta maaf.
“Sudahlah, jangan bicarakan lagi. Aku akan membelikanmu sebotol selai baru, okay?!” ujar Ni Jin dengan kesal dan masuk ke dalam kamar.

Sheng Nan ikut masuk dalam kamar. Dan Chen Chen juga ikut pergi, masuk dalam kamar. Xiao Chun benar-benar kesal, kesannya malah jadi kayak dia yang mempermasalahkan hal kecil. Dengan kesal, Xiao Chun melempar botol selai nya sudah kosong ke tong sampah.



Xiao Chun kemudian mengingat masa lalu. Seseorang mengenakan sandal rumah menginjak sebuah boneka beruang. Kemudian, Xiao Chun berdiri di depan kelas dan guru menyuruhnya untuk masuk ke dalam kelas. Guru menjelaskan kalau Xiao Chun ada masalah keluarga makanya baru masuk hari ini. Guru menyuruh Xiao Chun untuk memperkenalkan diri pada semuanya. Xiao Chun tampak takut, dan dengan suara terbata memperkenalkan namanya, tapi belum sempat dia menyebut namanya, dia malah merasa kalau seluruh orang di kelas menertertawakannya. Tidak hanya itu, semua juga menunjuk orang yang ingin di jadikan teman sebangku, seolah tidak mau dengan Xiao Chun.
Xiao Chun terbangun dengan keringat dingin karena mimpi tersebut.
--
Dalam perjalanan ke kampus,
Xiao Chun naik bis dan wanita yang berdiri di sebelahnya lagi menelpon. Saat menelpon, dia terus mendekatkan tubuh ke dekat Xiao Chun untuk melihat jalan dan membuat Xiao Chun terganggu. Saat wanita itu sudah turun, Xiao Chun bergumam : “Makhluk buruk!”
--
Xiao Chun sudah selesai kuliah. Dan begitu dosen keluar dari kelas,, Xiao Chun langsung memakai earphone-nya. Saat itu, seorang mahasiswa maju ke depan kelas dan meminta waktu sebentar. Dia memberitahu kalau ada pesta makan malam jumat ini, jam 8 malam, untuk para mahasiswa/I jurusan psikologi. Semua langsung bertepuk tangan heboh.

Xiao Chun yang memakai earphone tidak mendengar ucapan pria tersebut dan terus berjalan keluar kelas. Mahasiswa itu mencoba memanggil Xiao Chun, tapi Xiao Chun terus berjalan pergi mengabaikannya. Yang Yu melihat hal itu dan tampak semakin tertarik pada Xiao Chun.
Saat di lapangan kampus, dia bertemu dengan Chen Chen. Chen Chen melihat Xiao Chun membawa banyak buku dan bertanya Xiao Chun hendak kemana?
“Perpustakaan.”
“Hebat! Ketika aku masih mahasiswa baru, aku bahkan tidak tahu dimana perpustakaan terletak,” ujar Chen Chen. Dan saat itu, dia mendapat pesan. Setelah mendapat pesan tersebut, dengan seenaknya, Chen Chen meletakkan buku yang di bawanya ke tangan Xiao Chun. “Tolong jagakan tempat untukku di perpus. Pacarku meng-SMS bilang kalau dia menungguku di gerbang. Aku akan segera ke perpus. Terimakasih dan maaf merepotkan ya!”
--
Xiao Chun sudah di perpustakaan. Dan dia meletakkan buku serta tas yang Chen Chen titipkan padanya di meja di depannya. Karena buku dan tas itu, orang yang mau duduk jadi tidak bisa duduk karena mengira ada orang. Xiao Chun sendiri jadi tidak enak.
Xiao Chun bersembunyi di rak buku dan mengirim pesan pada Chen Chen, Kenapa masih belum datang? Tapi, dia menghapus pesannya itu dan menukarnya menjadi, Dimana kamu? Kapan sampai?
--
Chen Chen sedang berada di café bersama dengan Gao Lin. Dan mereka ketawa ketiwi melihat video di ponsel Gao Lin.
--
Xiao Chun kembali ke bangkunya, dan sudah ada orang yang berdiri di depan meja tersebut. Mahasiswi itu bertanya pada Xiao Chun, apa ada orang di kursi itu?
“Se… sepertinya ada,” jawab Xiao Chun gugup.
Dan mahasiswi itu langsung membereskan tas dan buku di meja tersebut dan memberikannya kepada petugas perpustakaan. Setelah itu, mahasisiwi itu duduk di bangku yang telah kosong. Xiao Chun melihat jam di ponselnya, 19:45 dan masih belum ada balasan dari Chen Chen.
--
Xiao Chun ke toilet dengan lunglai. Dan seorang mahasiswi di sana melihatnya yang tampak lemas, jadi bertanya kau baik-baik saja kan? Xiao Chun menjawab dia baik-baik saja. Dan saat itulah, Xiao Chun baru melihat jelas wajah mahasiswi yang bertanya itu. Mahasiswi itu adalah penghuni kos sebelumnya yang penari balet itu.
“Boleh aku bertanya, apa kau mengenal kak Sheng Nan?”
Mahasiswi itu tampak gugup.
“Kau pernah tinggal di kos nenek Tong kan?”
“Kenapa?”
“Aku tinggal di sana sekarang. Aku baru pindah.”
“Jadi?”
“Kenapa kau keluar dari kos itu?” tanya Xiao Chun. Dan kita tidak di perlihatkan jawabannya.
--

Xiao Chun sudah mau pulang. Dan sebelum pulang, dia menemui petugas perpustakaan. Dengan takut, dia meminta tas Chen Chen yang sebelumnya di berikan ke petugas tersebut.
“Tas ini, apa milikmu?”
“Bukan, itu milik orang yang ku kenal.”
“Menjaga tempat untuk orang lain itu dilarang di perpustakaan. Kau tidak tahu hal itu?”
“Maaf.”
“Kau terlalu egois, nak,” marah si petugas dan mulai menceramahi Xiao Chun panjang lebar. Xiao Chun hanya bisa menunduk dan meminta maaf.
Akhirnya, petugas itu memberikan buku dan tas Chen Cheng kembali.
--
Dalam perjalanan pulang,
Xiao Chun tidak kebagian tempat duduk di bus, jadi dia terpaksa berdiri. Saat itu, seorang pria yang berdiri di belakangnya, tanpa sengaja menyenggolnya hingga Xiao Chun terjatuh mengenai orang yang sedang duduk di depannya. Wanita itu langsung memarahi Xiao Chun, di tambah lagi Xiao Chun tidak meminta maaf sama sekali.
Akhirnya, Xiao Chun turun dari bus. Saat itu sedang hujan deras dan Xiao Chun tidak membawa tas. Dia berjalan pulang sambil melindungi tas dan buku Chen Chen dengan jaketnya.
--
Chen Chen sudah di kos dan menunjukkan video lucu yang di lihatnya bersama Gao Lin tadi pada Ni Jin dan Sheng Nan. Chen Chen benar-benar tertawa-tawa senang. Tapi, dia kemudian heran kenapa Xiao Chun belum pulang juga?
“Kenapa? Kau khawatir pada R Chun?” tanya Ni Jin.
“Aku juga bukannya sengaja membiarkannya menunggu.”
“Aku rasa kau sengaja. Kau mengambil keuntungan dari toleransinya,” balas Ni Jin.
“Tidak. Tadi baterai ponselku mati.”
Sheng Nan kemudian bertanya pada Ni Jin, “Kenapa kau memanggilnya R Chun? Karena dia terlihat seperti kelinci (Rabbit)?”
“Dan dia katrok (rustic). Dia juga tidak pakai make-up,” ujar Ni Jin.
“Jangankan make up, dia bahkan tidak membentuk alis mata. Berbeda dengan pria, wanita dengan alis mata tidak rapi terlihat aneh. Aku tebak ya dia itu sangat berbulu,” ejek Chen Chen sambil menelpon ke ponsel Xiao Chun.

Dan suara ponsel Xiao Chun terdengar tepat di belakang mereka. Xiao Chun ternyata sudah tiba dari tadi dalam keadaan basah kuyup dan berdiri di belakang mereka. Dia mendengar semua ucapan mereka. Chen Chen masih belum sadar situasi, meminta maaf karena ponselnya mati jadi tidak bisa menelpon Xiao Chun tadi.
Xiao Chun hanya diam. Matanya tampak benar-benar marah. Dia melepas tas dan melemparnya begitu saja ke lantai. Setelah itu, dia berjalan ke arah jendela dan melempar buku serta tas Chen Chen keluar jendela.
“APA YANG KAU LAKUKAN?!” teriak Chen Chen. Semua juga kaget.
Xiao Chun berbalik dengan marah, “Apa aku terlihat mudah di permainkan, hah?”
“Kamu… ada apa denganmu?” tanya Chen Chen takut.
“Itu yang harusnya ku tanyakan padamu. Ada apa denganmu?” tanya Xiao Chun dengan suara bergetar. Dia mulai menangis, “Ada apa dengan kalian semua? Ya, aku bukan orang baik. Aku tidak mengerti apapun. Tapi, itu bukan alasan bagi kalian untuk membully-ku. Dan tertawa di belakangku!” teriaknya.
Ni Jin dan Chen Chen menunduk takut. Hanya Sheng Nan yang masih menatap ke arah Xiao Chun.
“Tidak bisakah kalian menunjukkan sedikit kebaikan padaku?! Hanya sedikit. Tidak bisakah?! Aku benar-benar depresi. Kalian sudah kelewatan,” marahnya dan masuk ke dalam kamar.
Tanpa menukar bajunya yang basah, Xiao Chun berbaring di atas tempat tidur dan menangis.
Diluar, Ni Jin bertanya dengan heran, “Ada apa dengannya?” dan Chen Chen menjawab kalau dia tidak tahu. Sheng Nan mengingatkan Chen Cheng mengenai tas-nya yang di buang, dan Chen Chen langsung berlari panik keluar kos.
Di dalam kamar, Xiao Chun menangis. “Ma, aku mau pulang. Tapi, aku tidak punya rumah sekarang.”
==
Hello readers…
Aku ada rencana mau buat sinopsis drama chinese lagi, tapi masih galau. Judulnya, A Kiss Without Love. Tayang tahun 2018. Aku udah pengen nonton drama itu lama banget, tapi subtitle nya nggak ada. Yang ada dalam bahasa Vietnam, dan aku tak mengerti. Kemarin iseng check di subscene, ternyata sudah ada sampai episode 05. Ceritanya sih tentang seorang cewek reporter, jadi di keluarga mereka itu ada penyakit turunan, dimana kalau dia ciuman dengan lawan jenis, dia akan berubah jadi pria. Ini drama ada unsur fantasinya, :D Di episode 01 nya aja dia udah langsung ada scene ciuman sama lead male. LOL.
Waktu itu aku ada lihat MV-nya, dan ada adegan dimana cewek ini cium si lead male kan, setelah itu dia balik pergi dengan cool, sambil lambaikan tangan. Dan braaakk!! Sebuah mobil berwarna merah melaju kencang menabraknya. Dan di depan mata si lead male ini. Dan adegan ini pengambilan scene-nya benar-benar bagus. Makanya, dari kemarin aku pengen nonton ini drama. Hahahha :D Karena nyari drama ini lah makanya aku ketemu dengan Emperors and Me (sinopsisnya aku udah buat sampai tamat).
Aku galau nanti sub-nya nggak di buat sampai tamat. Jadi, nontonnya gantung. Kan nggak seru :’)

No comments:

Post a Comment