Wednesday, April 3, 2019

Sinopsis Drama Taiwan – Hello Again Episode 07 – 2

2 comments

Sinopsis Drama Taiwan – Hello Again Episode 07 – 2
Images by : SET TV , TTV, iQiyi
“Tn. Yang, sebentar. Ada masalah besar,” panggil Li Jian.
Dan belum dia menjelaskan, Zi Hao sudah melihat kalau para pelanggan berjalan dengan takut di koridor mall. Itu karena para preman berpakaian hitam berkumpul di setiap sudut mall. Inilah masalah yang hendak Li Jian katakan pada Zi Hao.
Zi Hao memerintahkan Li Jian untuk melapor ke polisi. Dan kemana pula satpam? Kenapa tidak mengatasi hal ini? Li Jian menjawab kalau polisi dan satpam tentu tidak akan ikut campur dalam hal ini, karena para prema itu tidak membuat kekacauan. Di tambah lagi, ini kan mall, semua orang bebas masuk ke dalam.

Dan ternyata para preman itu adalah para anggota Tiger. Tiger bertemu dengan Zi Hao dan menyapanya dengan senang. Ke Ai melihat pertemuan tersebut. Tiger bisa tahu kalau Zi Hao bekerja di Hua Li karena berita Zi Hao dan Jammie yang tersebar.
“Aku ke sini untuk membuat kesepakatan denganmu. Jika kau tidak ada waktu, aku akan berkeliling dahulu,” ujar Tiger.
“Baik, apa yang ingin kau rudingkan?”
“Aku mempunyai beberapa pria bersama denganku. Mereka sangat bagus dalam pekerjaan mereka. Aku rasa kau mungkin butuh beberapa bantuan di sini. Aku punya rencana. Aku akan mengambil alih penjagaan untuk Hua Li dept. store. Kami akan membersihkan parkiran dan membuat jadwal untuk para taxi.”
“Aku minta maaf tapi aku tidak dapat menyetujui hal ini.”
“Jika tidak bisa, kau akan menemui masalah yang sama di sini setiap hari,” ancam Tiger.
“Jangan lupa. Aku punya bukti kejahatan-mu.”
“Jika kau menggangguku, aku akan menghancurkan bisnis-mu. Kau punya waktu hingga tengah malam. Aku ingin jawaban mu sebelum besok. Okay?” tegas Tiger dan kemudian pergi dari Hua Li.
Tiger sempat melihat Ke Ai, dan dia tersenyum sinis pada Ke Ai.
--
Masalah tersebut terdengar oleh Fan Jie (ibu Zi Hao). Dia langsung menelpon Li Jian dan bertanya kenapa bisa terjadi masalah seperti ini? Li Jian memintanya untuk tenang dan memberikan ponselnya pada Zi Hao.
“Jangan sampai hal ini ketahuan oleh wartawan,” ujar Fan Jie.
“Baik. Aku akan memastikan hal itu. Aku juga akan menjelaskan segalanya pada pemegang saham. Okay. Bye.”
Zi Hao benar-benar pusing dengan masalah ini. Li Jian juga pusing dan bertanya apa yang harus di lakukan? Pas saat itu, ada yang menelpon ke ponsel Li Jian, dari pemegang saham. Dan Li Jian langsung mematikan ponselnya saat Zi Hao ingin mengangkat. Telepon juga berbunyi dan Li Jian langsung mencabut kabel telepon. Zi Hao jelas kesal.
“Mengatasi situasai dengan terburu-buru akan percuma. Kau hanya akan di teriaki. Dan itu tidak menyelesaikan masalah apapun,” jelas Li Jian.
Zi Hao setuju.
Tapi, tidak lama malah datang kedua bibi Zi Hao. Mereka menuntut penjelasan Zi Hao atas masalah tersebut. Mereka juga menuduh Zi Hao yang sepertinya mencoba menghancurkan Hua Li. Untung Fan Jie datang di saat yang tepat. Dia sudah dapat menebak kalau kedua adiknya itu akan datang dan melemparkan semua kesalahan pada Zi Hao.
“Dapatkah kalian lebih bersabar?”
“Kami punya hak untuk meminta penjelasan.”
“Benar. Bagaimana hal seperti ini bisa terjadi?”
“Hal ini harus berterimakasih pada kalian berdua. Kalian memaksa Zi Hao untuk mengambil alih departemen pakaian dan bertanggung jawab atas semua kerugian di departemen pakaian wanita,” ujar Fan Jie.
“Dia yang memilih untuk mengambil alih. Dia membuat semuanya semakin buruk.”
Dan mereka berdua malah memaksa Zi Hao untuk menyerahkan posisinya sebagai bentuk bertanggung jawaban atas masalah ini. Fan Jie jelas tidak suka mendengarnya.
“Zi Hao, kau percaya diri bisa menyelesaikan krisis ini?” tanya Fan Jie.
“Yang bisa ku jawab sekarang adalah ‘ya’.”
Fan Jie menatapnya dan memberi tanda dengan matanya agar Zi Hao lebih percaya diri. Dan dengan percaya diri, Zi Hao berkata kalau dia bisa menyelesaikan masalah ini. Fan Jie senang mendengarnya. Dia menekankan pada Zo Hao, kalau dia akan selalu mendukung Zi Hao. Bahkan jika Zi Hao gagal menyelesaikan masalah ini, tidak masalah.
“Tidak masalah jika kau gagal menyelesaikan masalah ini. Kita berdua bisa pergi dari Hua Li,” ujar Fan Jie.
Membuat Li Jian dan kedua bibi Zi Hao yang mendengarnya terkejut.
“Jika dia tidak bisa menyelesaikan masalah ini, dia dan aku akan keluar dari Hua Li. Tapi, jika dia berhasil menyelesaikan masalah ini, bukankah dia harus menerima hadiah? Hukuman dan hadiah, keduanya di perlukan. Saudara ku tercinta, bukankah itu benar?”
“Baik. Apa yang kau inginkan?”
“Gampang. Jika dia bisa menyelesaikan masalah, dia Yang Zi Hao, akan di promosikan menjadi GM Hua Li.”
Fang Ru jelas tidak setuju karena itu sama saja menutup kesempatan anaknya, Zi Jie, untuk menjadi GM. Tapi, Fang Yu menyuruh Fang Ru untuk menerima saja taruhan tersebut, karena masalah ini tidak mungkin bisa di selesaikan. Dan karena itu, Fang Ru jadinya setuju. Dengan begitu, taruhan di antara para saudara tersebut di mulai.
--
Para preman masih berkeliaran di Hua Li, dan itu jelas membuat para pegawai dan pelanggan menjadi tidak nyaman dan takut.
Lebih parahnya lagi, berita mengenai para preman yang berkeliaran di Hua Li sudah tersebar, sehingga tidak ada yang berani datang ke Hua Li. Padahal ini adalah saat genting dimana mereka harus mencapai penjualan NTD 50juta.
Lebih dari itu, Li Jian takut kalau Zi Hao akan kalah dan di usir dari Hua Li.
--
Para pegawai beristirahat dan membicarakan hal tersebut. Xiao Tian tidak menyangka kalau Zi Hao akan terlibat masalah dengan para preman. Dan juga, dia merasa kalau kini mereka akan tengelam di kapal yang sama dengan Zi Hao.
“Aku bertemu Tiger di pasar. Dan kini, aku juga bertemu Tiger di mall. Bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi?” gerutu Wen Wen.
Ke Ai mendengar hal itu. Wen Wen jadi tidak merasa enak hati dan menjelaskan kalau bukan itu maksud perkataannya.
“Aku tidak mengkhawatirkan diriku sendiri. Aku khawatir pada..” ujar Ke Ai.
“Yang Zi Hao?” tebak Wen Wen.
Dan di saat yang bersamaan, Zi Hao masuk ke ruang pantry. Semua langsung mengerubunginya dan bertanya dengan khawatir, apa para preman itu akan pergi? Apa mereka akan menyakiti kami?
Zi Hao tidak menjawab. Dan tanpa terduga, dia menundukkan kepalanya dalam-dalam, meminta maaf. Semua terkejut melihatnya.
“Aku minta maaf karena membuat kalian melewati pengalaman yang menakutkan. Tapi, aku harus minta maaf lagi, karena kalian harus bertahan sedikit lagi. Hua Li sama seperti kapal. Aku adalah nahkoda-nya. Kau bisa memegang perkataanku, aku akan menjamin keselamatan kalian. Aku akan menyelesaikan masalah ini secepat mungkin. Apa kalian bisa?”
“Bisa,” jawab semuanya.
“Karena sekarang tidak ada pengunjung, kalian semua bisa kembali ke toko dan menyusun barang.”
Semua langsung menurut and kembali ke toko.
“Bukankah kau khawatir pada Yang Zi Hao? Ini kesempatanmu untuk menunjukkannya,” ujar Wen Wen pada Ke Ai.
Dan bersamaan, Li Jian mendorong tubuh Zi Hao ke arah Ke Ai, dan Wen Wen mendorong tubuh Ke Ai ke arah Zi Hao. Hingga mereka berdua bertabrakan. Setelah itu, Li Jian dan Wen Wen pergi dari sana, memberikan waktu bagi mereka berdua.
Dengan khawatir, Ke Ai menanyakan keadaan Zi Hao.
“Aku? Tentu saja, aku baik-baik saja. Siapa dulu aku? Aku adalah si maha hebat Yang Zi Hao. Jadi tidak mungkin aku tidak baik-baik saja,” jawab Zi Hao dengan ceria.
“Maafkan aku. Ini semua karena ku. Aku menolak bekerja di Hua Li karena aku takut kalau para preman itu akan membuat masalah di tempat kerja. Tapi, ternyata sekarang masih terjadi. Dan bahkan terjadi di saat yang paling penting. Aku benar-benar merasa…”
“Ssttt. Tidak perlu khawatir. Aku sudah pernah menggunakan 100 hari untuk mengubah diriku dari ‘anak nakal’ menjadi mahasiswa di universitas K. Aku membuat hal yang tidak mungkin menjadi mungkin. Sekarang, aku akan melakukan hal yang sama dan mengubah arus. Di tambah lagi, aku sekarang mempunyai ke jeniusan mu untuk membantuku. Wakil Presiden jenius bergabung dengan kepala penjualan terpintar, segalanya akan baik-baik saja.”
“Apa ada yang bisa ku bantu?”
Zi Hao diam dan berpikir sesaat kemudian menjawab, “Makan malam bersamaku. Jika kau igin menyemangatiku, siapkan makan malam untukku.”
“Kenapa bukan sarapan saja?”
“Aku harus lembur sepanjang malam untuk rapat darurat. Kita tidak bisa menjalankan bisnis sekarang. Jadi, aku juga harus memikirkan cara untuk mengatasi hal ini.”
--
Malam hari,
Li Jian, Zi Hao, Ke Ai, Xiao Tian, trio pekerja dan Wen Wen berkumpul bersama untuk rapat. Ke Ai berusaha menyemangati semuanya untuk tetap bersemangat berjualan untuk mencapai penjualan NTD 50juta. Mereka tidak boleh menyerah walaupun tidak ada pelanggan. Tapi, tentu saja, semua perkataan penyemangat Ke Ai itu percuma saja. Semua tetap tidak mempunyai semangat untuk berjuang.
Ke Ai akhirnya menggunakan cara terakhir, “Tn. Yang. Dapatkah kau memikirkan rencana yang aku ajukan?”
“Rencana apa?” tanya Xiao Tian penasaran.
“Beritahu kami, mungkin itu akan bekerja,” ujar Daniel.
Zi Hao hendak menolak, tapi Li Jian berbisk menyuruh Zi Hao untuk mencoba tidak menolak rencana Ke Ai kali ini. Dan Zi Hao mendengarkan nasihat Li Jian, dia memberikan tanda oke dengan tangannya pada Ke Ai. Ke Ai langsung sumringah.
“Dalam rangka meningkatkan semangat kita, tn. Yang memutuskan untuk… memberikan ciumannya. Orang dengan penjualan terbaik akan mendapatkan ciuman dari tn. Yang sebagai hadiah!”
Semua langsung berteriak kegirangan. Mereka mempunyai semangat untuk mendapatkan ciuman Zi Hao! Termasuk Daniel yang sorak soran kegirangan. Mereka bahkan berencana untuk memanggil teman, keluarga dan tetangga untuk membeli baju demi mendapatkan ciuman Zi Hao.
Zi Hao tidak menyangka kalau reaksinya akan seperti itu. Tidak di sangka, dia akan populer seperti ini. Dan Zi Hao teringat bisikan Li Jian tadi, ternyata ada lanjutannya. “Usahakan jangan tolak rencana-nya kali ini. Coba pikirkan, siapa SPG terbaik di departemen pakaian wanita.” Dan tentu saja itu adalah Ke Ai.

Zi Hao langsung tersenyum penuh arti pada Ke Ai. Ke Ai hanya memandang Zi Hao dengan bingung. Tidak mengerti maksud dari senyum Zi Hao.


2 comments: