Tuesday, April 9, 2019

Sinopsis Drama Taiwan – Hello Again Episode 09 – 2

0 comments

Sinopsis Drama Taiwan – Hello Again Episode 09 – 2
Images by : SET TV , TTV, iQiyi
“Chang Ke Ai, aku menyukaimu!” Zi Hao akhirnya menyatakan perasaannya. “Aku menyukaimu.”
Ke Ai menepis tangan Zi Hao. Dia tidak percaya dengan pernyataan cinta Zi Hao dan mengira kalau Zi Hao hanya sedang bercanda.
“Tidak masalah. Aku akan terus mencoba. Membuatmu mengingatku selamanya. Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku,” ujar Zi Hao penuh tekad.
Ke Ai gugup, dia memegang dada Zi Hao dan menyuruhnya berhenti. Dan setelah itu, dia langsung lari pergi. Zi Hao heran dengan perubahan suasana tiba-tiba, dan langsung berlari mengejar Ke Ai.
--
Tiger akhirnya menginap di rumah Ke Ai. Xiao Gang mengajaknya berbincang.
“Aku pernah sepertimu, tidak mengerti dan mengenal yang namanya cinta keluarga. Aku dapat hanya makan roti dan mie instan setiap harinya. Aku akan mengurung diri di ruang kecil seharian. Bahkan jika sesuatu terjadi padaku, aku ragu akan ada yang menyadarinya. Hingga… aku bertemu Ke Ai dan tante Ying. Itulah saat aku mulai tahu betapa berharga dan bahagianya memiliki seseorang di sisimu,” cerita Xiao Gang.
“Jadi, tidak ada yang tidak bisa kau lakukan dan bahkan membahayakan dirimu sendiri demi menyelamatkan pasar Tian Tian dan keluarga ini?”
“Mereka adalah hal paling berarti bagiku di dunia ini. Pasar Tian Tian adalah rumah kami.”
Tiger diam sejenak sebelum akhirnya berkata kalau dia sudah mengerti sekarang. Dia tidak akan menaikkan harga sewa sebagai bentuk balas budi-nya. Tapi, dengan satu syarat. Xiao Gang harus membantunya mengatasi Cai (mantan kepala pasar sebelumnya). Cai sudah menyerangnya dengan anak buahnya dan membuat mereka terluka. Jika dia tidak bisa membalasnya, dia tidak akan berani bertemu dengan saudaranya.
“Aku punya bukti dia menabrakku dengan mobil dan memfitnahmu untuk kejahatan tersebut. Aku sudah mengirimkan bukti itu pada polisi. Aku rasa, aku akan menggunakan video clip itu untuk membuatnya menyerah terhadap pasar.”
“Kau menyerahkan bukti itu hari ini? Apa itu sebelum atau setelah kau menemuiku?” tanya Tiger. “Apa ini semua adalah bagian dari rencanamu? Kau memberikan bukti pada polisi. Mereka mulai menyelidiki. Yang mana membuat Cai jadi mengira akulah yang hendak mencelakainya. Dan membuatnya ingin menuntut balas padaku. Itulah kenapa kau tadi datang sendirian padaku?”
Mendengar pertanyaan Tiger, membuat Xiao Gang menjadi gugup. Memang benar, itu semua adalah rencananya. Untunglah, Tiger tidak marah dan malah memuji Xiao Gang yang membuatnya terpukau.
Tante Li Hua menghampiri Tiger dan bertanya kenapa Tiger belum juga memakai obat padahal dia sudah menyiapkan kotak obatnya? Saat itu, dia baru melihat kalau tangan Tiger juga terluka, jadi tante Li Hua menawarkan diri untuk mengobati luka Tiger.
Tidak hanya itu, ibu Ke Ai juga sudah selesai memasak sup sapi, jadi dia mengajak semuanya untuk makan. Xiao Gang juga memberi kabar bahagia kalau Tiger tidak jadi menaikkan harga sewa. Semua langsung senang dan mengucapkan terimakasih pada Tiger.
--
Ke Ai terus berlari keluar hutan hingga masuk ke dalam villa. Dia tampak takut. Saat masuk ke dalam kamarnya, Ke Ai mondar mandir ketakutan, apa yang harus di lakukannya? Yang Zi Hao bilang suka padanya. Apa yang harus di lakukannya? Semua terlalu tiba-tiba. Atau Yang Zi Hao hanya sedang mengerjainya lagi.
Dan dia teringat saat Zi Hao tampak ingin menyatakan perasaan dan menciumnya di depan mall, tapi ternyata Zi Hao malah hanya mengganggunya. Saat itu, Zi Hao dengan lantang berkata kalau dia hanya ingin mengganggunya.
Tapi… tadi dia tampak sangat serius. Dan itu tidak mirip sama sekali dengan Yang Zi Hao yang di kenalnya.
“Kenapa Yang Zi Hao harus mengatakan itu padaku? Hari ini sangat aneh. Semuanya sangat aneh,” gumam Ke Ai. “Ini aneh. Benar. Ini pasti perbuatan hantu,” simpul Ke Ai, mengira kalau Zi Hao kerasukan. LOL.

Zi Hao sendiri mengejar Ke Ai hingga di depan kamar, tapi dia tidak berani mengetuk dan akhirnya malah masuk ke dalam kamarnya sendiri. Di dalam kamarnya, dia memarahi dirinya sendiri karena sudah gagal menyatakan cinta. Dia benar-benar marah dan malu pada dirinya sendiri hingga memukul-mukul tembok dan tempat tidur.
Ke Ai melihat kelakuannya tersebut dari pintu kamar Zi Hao yang terbuka. Dan itu semakin menguatkan kesimpulannya, Yang Zi Hao kerasukan!
Zi Hao sedang memarahi dirinya sendiri, dan tiba-tiba Ke Ai sudah berada di depannya.
“Yang Zi Hao, aku punya sesuatu untukmu,” ujar Ke Ai dengan serius. Zi Hao bingung.
Ke Ai mengulurkan tangan agar Zi Hao menggenggam tangannya. Zi Hao sudah kesenengan. Ke Ai meletakan sesuatu di tangan Zi Hao dan menyuruhnya untuk menggenggam benda tersebut dengan erat. Zi Hao mengangguk. Tapi, begitu dia lihat, itu adalah jimat.
“Jimat? Kau memberikan ini untuk orang yang bilang suka padamu?” tanya Zi Hao bingung.
“Genggam itu. Itu bisa menjauhkanmu dari hal buruk.”
“Hal buruk?”
“Dengarkan aku. Kau bertingkah aneh setelah kita pergi jalan-jalan malam. Sesuatu yang buruk pasti telah melekat padamu.”
“Chang Ke Ai, kau baik-baik saja? Aku mengatakan banyak hal dari hatiku yang terdalam, dan kau mengira aku kerasukan? Kau sudah gila?”
“Biar ku tanya. Apa kau ada berbalik ketika mendengar suara aneh tadi?”
“Kalau ada, kenapa?”
Dan Ke Ai semakin yakin kalau Zi Hao sudah di rasuki. Dia mulai menceramahi Zi Hao panjang lebar mengenai hantu. Zi Hao benar-benar tidak habis pikir, seorang yang pernah menjadi siswa terbaik seperti Ke Ai bisa percaya takhayul seperti ini. Ke Ai awalnya tidak percaya, tapi setelah melihat tingkah Zi Hao, mau tidak mau dia jadi percaya.
“Jika kau tidak percaya pada apa yang ku katakan, katakan saja langsung padaku. Kenapa kau harus membuat cerita tidak masuk akal seperti ini?” marah Zi Hao.
“Aku ini sekarang khawatir padamu dan kau bilang aku mengarang semua ini?! Baik. Aku tidak akan peduli lagi padamu,” marah Ke Ai juga dan mau keluar kamar.
Kau yang membuatku melakukan ini! ujar Zi Hao dalam hati. “Berhenti!” teriaknya pada Ke Ai.
“Apa?” tanya Ke Ai kesal.

Dan Zi Hao langsung berakting kepalanya sakit, lehernya sakit. Matanya juga di putar-putar. Kemudian dia mengeluh kedinginan. Hhahahahaha, Zi Hao berakting kerasukan. Ke Ai jadi tidak marah lagi dan berpikir kalau jimatnya sudah mulai bekerja untuk menghilangkan hantu di tubuh Zi Hao. (hahahhaha, ini gimana pula dari pernyataan cinta jadi bisa kocak gini. Malah di kira jadi kerasukan hantu pula).

Zi Hao membantu menghangatkan tubuh Zi Hao dengan menggosok-gosok tangan Zi Hao. Dan Zi Hao jadi kesenangan tangannya di genggam oleh Ke Ai. Dan dia malah tambah alay dengan berkata kalau dia takut dan hendak memeluk Ke Ai. Ke Ai dengan tegas menyuruh Zi Hao untuk tidur saja dan semuanya akan baik-baik saja. (LOL)
--
Zi Jie masih di tengah hutan. Dia merasa bangga dengan dirinya sendiri karena mengira sudah berhasil menyatukan Zi Hao dan Ke Ai. Dan dalam hatinya, dia meminta maaf pada Jammie.
Setelah berisitirahat sejenak, Zi Jie mengajak Jammie untuk melanjutkan perjalanan. Mereka hendak menyalakan senter ponsel, tapi ternyata baterai ponsel Jammie sudah habis. Dengan gentle, Zi Jie menyuruh Jammie agar selalu berada di dekatnya. Jammie menolak. Eh, tidak lama, baterai ponsel Zi Jie juga habis.
“Lihatkan, aku sudah bilang tadi. Kita bisa menghemat baterai jika hanya menyalakan satu senter tadi. Kau hanya ingin mendapatkan sinar untuk dirimu sendiri kan. Sekarang gimana?” omel Zi Jie.
“Diam, Liang Zi Jie,” marah Jammie.
Dan dia mulai berjalan sendiri. Tapi, tampaknya Jammie tidak bisa melihat jelas dalam gelap karena dia asyik tersandung ranting kering. Zi Jie menyadari hal itu dan menyuruh Jammie untuk memegang tangannya saja.
“Aku hanya rabun senja, tapi aku masih bisa melihat!”

Tapi, lagi-lagi dia hampir terjatuh. Zi Jie langsung menggenggam tangannya dan menyuruhnya untuk tidak keras kepala. Jammie tetap menolak dan beralasan kalau dia memang sengaja tersandung tadi.
Zi Jie masih tidak habis akal, dia menyuruh Jammie untuk naik ke punggungnya saja. Dia tidak akan meninggalkan Jammie. Tadi mereka datang bersama, jadi juga harus pulang bersama. Jammie tersenyum, tapi dia masih menolak.
“Kau tidak bisa melihat kemana kau harus pergi, berhenti bertingkah sok kuat. Aku akan menunjukkan padamu seberapa kuatnya aku bisa mengangkatmu,” ujar Zi Jie dan langsung menggendong Jammie di punggungnya.
Tapi, baru juga menaikkan Jammie, dia malah kehilangan keseimbangan. Dia tidak kuat menggendong Jammie. Dan hal itu malah membuat merekat terjatuh. Jammie benar-benar kesal karena Zi Jie sangat lemah dan lagipula tidak sembarang orang bisa menggendongnya.
“Aku tidak pernah menyangka kau begitu berat. Aku sudah bilang akan menggenggam tanganmu, tapi kau menolak.”
Dan saat mereka mau berdiri, mereka baru sadar kalau kaki mereka sama-sama terkilir.
--

Ke Ai menjaga Zi Hao sampai tertidur. Zi Hao melihat hal tersebut dan tersenyum lembut. Dia membela rambut Ke Ai. Dia benar-benar menyukai Ke Ai, sayangnya Ke Ai masih belum sadar sepenuhnya akan hal itu. Zi Hao juga menyelimuti Ke Ai dengan jas-nya.
--
Zi Jie dan Jammi berusaha berjalan bersama-sama dengan langkah tertatih-tatih, tapi tentu saja sulit. Mereka hampir terjatuh berulang kali. Jammie jadi benar-benar kesal. Tapi, tiba-tiba mereka terpikir sebuah ide.

Kaki Jammie yang terkilir adalah sebelah kiri, sementara Zi Jie adalah sebelah kanan. Jadi mereka mengingkat kaki yang terkilir bersama-sama dan jalan seperti lomba jalan 3 kaki itu loh. Dan hal itu membuat mereka jadi lebih mudah berjalan.
Semakin mereka berjalan, bukannya semakin dekat ke villa, malah semakin jauh. Dan Zi Jie malah jadi ketakutan mengira kalau semua adalah perbuatan hantu yang membuat mereka jadi kehilangan arah. Jadi, dia menyarankan pada Jammie agar mereka berdiam dulu hingga pagi baru berjalan lagi. Jika mereka terus jalan, semua akan percuma karena hantu akan semakin menyesatkan mereka.
Sementara itu, di bagian hutan lain, Li Jian sedang berjalan dengan cepat. Dia juga tersesat dan hilang arah. Ponselnya juga tidak ada sinyal. Saat kebingungan, dia teringat kalau bintang bisa menunjukkan arah pulang. Eh, sialnya, tidak ada bintang malam ini.
Kasihan Li Jian, dia berjalan sendirian dalam gelap. Dan semakin dia jalan, dia malah berputar-putar di tempat yang sama lagi. Dia mengingat bentuk pohon dan batu yang di lewatinya, dan dia selalu berakhir di tempat yang sama, lewat manapun dia.


No comments:

Post a Comment