Saturday, April 27, 2019

Sinopsis Korean Drama : Beautiful World Episode 07 – 1

0 comments
Sinopsis Korean Drama : Beautiful World Episode 07 – 1
Images by : jTBC
Semua karakter, organisasi, tempat, kasus, dan insiden dalam drama ini fiktif
Eun Joo menemui Dae Gil di bawah jembatan.

Flashback
Setelah Eun Joo meletakkan sepatu Sun Ho di atap, dia segera turun dari atap sekolah. Dan sialnya, ternyata Dae Gil sudah ada di sana melihat tubuh Sun Ho yang bersimbah darah dan melihat Joon Seok yang berlari keluar. Eun Joo sangat panik dan bingung harus melakukan apa, apalagi Dae Gil melihat dirinya.
Dan pilihan yang di milikinya hanyalah memohon. Dia berkata kalau semuanya adalah kecelakaan. Saat Dae Gil hendak menelpon ambulans, Eun Joo menahannya dan memintanya untuk mendengarkannya dulu. Dia memohon agar Dae Gil tidak memberitahu siapapun kalau melihat dirinya dan Joon Seok.            
“Ini benar-benar kecelakaan. Dia bersumpah kalau ini kecelakaan. Itu… Sun Ho melompat sendiri dari atap, di depan mata Joon Seok. Sun Ho melompat. Joon Seok datang ke sekolah hanya karena Sun Ho menelpon dan memintanya. Joon Seok tidak melakukan apapun. Dia tidak ada hubungannya dengan semua ini,” bohong Eun Joo.
“Kenapa tidak Anda katakan saja kepada polisi mengenai yang terjadi…”
“Mereka tidak akan percaya padaku. Mereka akan membayangkan hal-hal gila dan menyebarkan rumor dan menyalahkan kami.”
“Tetap saja, polisi akan menemukan hal ini.”
“Jika Anda tetap diam, maka tidak akan ada yang tahu,” mohon Eun Joo. “Masa depan putraku tergantung pada hal ini. Tolong. Tolong berpura-pura kau tidak melihat apapun. Jika Anda bisa melakukannya untukku, aku akan membayarmu sebanyak yang kau inginkan. Tidak peduli sebanyak apapun itu, aku akan membayarnya. Aku akan menulis perjanjian jika kau ingin. Tolong?!” mohon Eun Joo terus menerus dan bahkan sampai berlutut. “Joon Seok-ku masih 16 tahun. Ini terlalu berat baginya. Aku akan berhutang padamu seumur hidupku. Aku mohon padamu. Aku mohon.”
Dae Gil jadi bingung, dan dia juga terus melihat ke arah CCTV yang terpasang di sana.
End

Eun Joo menatap Dae Gil dengan tajam.  Dia menuduh Dae Gil yang pasti mengambil ponsel dan buku diary Sun Ho di hari TKP, karena hanya Dae Gil yang ada di sana saat itu. Dia juga bertanya tujuan Dae Gil mengirim video pembullyan itu pada In Ha? Apa untuk mengancamnya? 
“Aku tidak tahu apa maksud Anda mengenai ponsel dan buku diary itu.”
“Jangan berbohong padaku! Kenapa kau melakukan ini? Bukankah aku sudah membayarmu?!”
“Anda lah yang telah berbohong.”
“Apa maksudmu?”
“Malam itu, aku percaya ketika Anda bilang Sun Ho mencoba bunuh diri. Jika aku tahu apa yang sebenarnya terjadi, aku tidak akan pernah menolong Anda.”
Eun Joo masih coba menyangkal kalau dia sudah berbohong. Tapi, Dae Gil sudah tidak percaya padanya, Eun Joo lah yang membuat Sun Ho seolah bunuh diri! Eun Joo masih tetap berkeras kalau apa yang di katakannya malam itu adalah benar.
“Kau mau tahu kebenarannya?” tanya Dae Gil. “Sun Ho, dia di bunuh oleh Joo Seok! Kau mengetahui hal itu dan menyamarkannya menjadi bunuh diri!”
“Berhenti!” teriak Eun Joo frustasi. “Entah kau percaya atau tidak, apa yang terjadi malam itu adalah kecelakaan. Joon Seok tidak melakukan apapun. Bahkan jika itu benar, kau telah menjadi komplotan.”
“Anda kita, Anda hanya beruntung karena CCTV nya rusak? Anda tidak mengatakan apapun mengenai CCTV, akulah yang mengurus hal itu. CCTV merekam segala yang Anda dan Joon Seok lakukan. Menutup mulutku tidak akan membuat Anda bisa bebas dari hal ini. Seperti yang Anda katakan, kita berada di kapal yang sama. Aku tidak akan mendapatkan apapun dengan mengungkapkan apa yang terjadi di malam itu.”
Eun Joo panik mendengar mengenai CCTV, dan meminta Dae Gil memberitahunya dimana CCTV tersebut. Dae Gil tidak mau memberitahu dan hanya berkata sudah memusnahkannya. Eun Joo takut dan bertanya apa dia bisa mempercayai Dae Gil?
“Jangan percaya siapapun. Aku bahkan tidak mempercayai Anda. Ketika Anda memikirkan apa yang sudah Anda lakukan pada keluarga Sun Ho, Anda seharusnya bisa menahan semuanya kan?”
“Apa yang kau inginkan dariku? Berapa banyak yang kau inginkan? Berapa banyak?”
“Jika aku bilang aku ingin semua yang Anda miliki, akankah kau memberikannya untukku? Anda sangat ceroboh. Ayah Sun Ho datang menemuiku. Dia bertanya mengenai sepatu Sun Ho, dan sepertinya dia curiga kalau itu adalah pembunuhan. Ibu Sun Ho sangat yakin akan hal itu.”
“Hal itu tidak bisa membuktikan apapun.”
“Sebuah keretakan kecil akan dapat membuat sebuah rumah hancur. Bertingkahlah dengan penuh kehati-hatian. Anda membuat hal mengerikan seperti ini hanya untuk melindungi putra Anda. Jadi, bukankah Anda harusnya melindunginya sampai akhir? Aku juga mempunyai keluarga yang harus ku lindungi. Aku tidak bisa membiarkan Anda membuatku ikut terjatuh,” saran Dae Gil.
“Selama kau menjaga kesepatakan kita, itu tidak akan terjadi.”
“Hidupku memang kacau, tapi kelihatannya hidup Anda juga tidak lebih baik. Jika Anda membiarkanku keluar dari hal ini, aku tidak akan melakukan apapun utuk menyingkap apa yang terjadi. Pulanglah sekarang.”
Eun Joo mengerti. Dan dia memilih untuk mempercayai Dae Gil. Saking takutnya, Eun Joo sampai meneteskan air mata.

Setelah Eun Joo pergi, Dae Gil mengingat kejadian malam itu. Dia lah yang mengambil ponsel Sun Ho dan mematikannya. Dia juga melihat buku diary Sun Ho di sana.
Saat hendak berbalik pergi, dia melihat sebuah mobil hitam di kejauhan. Sepertinya, seseorang mengikutinya.
--

Dalam perjalanan pulang, Eun Joo masih saja takut. Dia terus menyakinkan dirinya kalau yang terjadi di malam itu adalah kecelakaan. Eun Joo kemudian teringat nasihat Dae Gil untuk lebih berhati-hati. Dan hal itu membuatnya teringat saat In Ha yang tampak curiga padanya.
Panik, Eun Joo langsung menelpon In Ha. Dia berbohong kalau dia baru teringat kalau dia mendengar mengenai tali sepatu Sun Ho itu dari suaminya. In Ha jelas bingung, darimana suami Eun Joo tahu mengenai tali sepatu itu? Apa polisi memberitahu suami Eun Joo?
Eun Joo kembali berbohong. Dia mengatakan kalau suami In Ha pergi ke sekolah dan menanyakan satpam sekolah mengenai tali sepatu itu. Jadi, satpam itu memberitahu suaminya. Dan itulah bagaimana mereka bisa tahu mengenai hal tersebut. In Ha yang awalnya sudah curiga, menjadi tidak curiga lagi.
“Terimakasih karena sudah memberitahu. Sebenarnya saja, apa yang kau katakan tadi membuatku merasa terganggu.”
“Benar. Aku menelpon karna berpikir demikian juga. Sekecil apapun itu, aku pikir aku harus memperjelasnya.”
Usai berteleponan dengan In Ha, Eun Joo menghela nafas dan berdoa memohon pertolangan untuk kali ini saja.
­
-Orang yang Berbohong-
Nenek Sun Ho sudah tahu yang terjadi dan datang ke rumah sakit. Dia merasa terpukul melihat cucunya dan marah karena In Ha dan Joon Ha tidak memberitahu nya mengenai hal itu. nenek terus saja marah pada In Ha karena tidak tahu kalau Sun Ho di bully. Dia merasa sangat sedih.
Tapi, In Ha yang dalam keadaan emosi tidak stabil, meminta ibunya untuk pulang saja. Dia tidak punya tenaga untuk menjeaskan dan menenangkan ibunya, jadi sebaiknya ibu pulang saja. Dia sedih karena ibunya tidak menenangkan dan berusaha menguatkannya malah menyalahkannya.
“Kau masih membenci ibu? Ini sudah bertahu-tahun. Bukankah sudah seharusnya kau melupakan hal itu?” tanya nenek.
“Kenapa ibu bicara begitu?” marah Joon Ha.
“Ibu akan pergi. Jagalah Sun Ho. Dan paksa dirimu untuk makan. Kau terlihat pucat,” ujar nenek dan pergi keluar.
In Ha menangis karena sudah marah pada ibunya. Dan dia melihat amplop berisi uang yang ibunya tinggalkan di sofa beserta buah.
Joon Ha mengejar ibunya. Dia berusaha meminta ibu agar tidak marah pada In Ha. Ibu tidak marah dan justru sebaliknya merasa khawatir pada kesehatan In Ha. Dia juga merasa bersalah karena sudah salah bicara. Dia menyuruh Joon Ha untuk menjaga In Ha dengan baik.
Joon Ha hendak mengantar ibu pulang, tapi ibu melarang. Dia bisa pulang dengan naik subway, jadi Joon Ha tetap di sini untuk menjaga In Ha.
--
Di rumah Joon Seok,
Jin Pyo mendapat telepon dan begitu menutup telepon, dia menghela nafas.
Saa itu, Eun Joo baru pulang.
“Ayah menelpon. Kenapa kau tidak bilang padaku kalau kau memindahkan Sun Ho ke rumah sakit ayah?”
“Aku bermaksud memberitahumu, tapi aku lupa.”
Eun Joo kenapa bertanya mengenai kondisi sekolah? Dia khawatir kalau petisi yang Soo Ho tulis akan menimbulkan kekacauan di sekolah dan menyulitkan Jin Pyo. Jin Pyo hanya tenang dan berkata kalau sebentar lagi, semua juga akan tenang (lupa pada petisi itu). Lagipula, banyak orang tidak akan peduli pada petisi tersebut.
--

Soo Ho membuka website petisi tersebut. Dia melihat kalau orang yang menandatangani petisi baru 153 orang. Dia jelas kecewa karena itu tidak seperti yang di harapkannya.
Dan tiba-tiba dia teringat pernyataan Ki Chan, kalau Joon Seok lah yang menyuruh mereka mengajar Sun Ho.
--

Soo Ho menemui Ki Chan. Ki Chan sedikit kesal dan bertanya tujuan Soo Ho mengajak bertemu. Soo Ho menanyakan, apa Ki Chan bisa membuktikan kalau Joon Seok lah yang memulai pembullyan tersebut? Karena jika di lihat, Ki Chan lah yang memulai pembullyan tersebut. Bahkan Sun Jae dan Young Chul sudah mengaku kalau Ki Chan lah yang berbohong.
“Mereka lah yang berbohong.”
“Aku tanya, apa kau bisa membuktikan hal itum.”
“Ini membuatku gila. Ah, benar. Tanya saja ke ‘hantu’.”
“Hantu? Dong Hee eonni?”
“Ya, Han Dong Hee.”
“Kenapa dia bisa tahu?”
“Dialah alasan kenapa Joon Seok mulai kejam pada Sun Ho.”
Flashback
Saat itu sedang jam istirahat, dan semua orang bersenang-senang. Sementara Dong Hee menggunakan waktu istirahat untuk membaca buku “Little Prince”. Saat itu, Ki Chan entah kenapa malah mengganggunya. Dia bahkan mengejek tubuh Dong Hee yang bau. Sung Jae dan Joon Seok yang melihat hal itu tersenyum kecil, sementara Young Chul menunduk takut.
“Bisakah kau bersikap dewasa?” tegus Joon Seok dan mengambil buku Dong Hee dari tangan Ki Chan.
Dia seolah ingin mengembalikan buku itu, tapi saat Dong Hee hendak mengambilnya, Joon Seok malah menjatuhkannya.
“Maaf. Itu kesalahan,” ujar Joon Seok dan tersenyum mengejek.


Dia kemudian berjalan pergi bersama Ki Chan. Dan dia melihat tatapan Sun Ho padanya. Dia mengajak Sun Ho untuk bermain basket bersama, tapi Sun Ho mengabaikannya. Sun Ho malah berjalan ke meja Dong Hee dan mengambilkan buku yang terjatuh itu dan memberikannya pada Dong Hee.
End
“Itu hanya membuktikan kalau kalian itu sampah!”
“Itulah ketika semuanya di mulai.”
“Apanya?!”
“Itulah ketika Sun Ho dan Joon Seok mulai menjauh. Tanya saja pada hantu.”
“Apa dia tahu kalau Joon Seok yang memulai semuanya?”
“Tidak, tidak begitu. Tapi, dia adalah alasan kenapa Joon Seok mulai bersikap kejam pada Sun Ho.”
“Apa kau bodoh? Aku terlalu menyedihkan karena bertanya padamu, ketika kau adalah sampah sama seperti yang lainnya,” kesal Soo Ho.
“Baik, aku akan membuktikannya. Aku akan membuktikannya.”
“Lakukan saja.”
“Kau tunggu saja, aku akan membuktikannya bagaimanapun caranya,” tekad Ki Chan dan berbalik pergi, “Eh, tapi, kenapa kau terus bicara seperti aku adalah temanmu?!”
“Apa kau akan bicara dengan sampah secara sopan?”
“Tapi, tetap saja aku setahun lebih tua daripadamu,” protes Ki Chan. Saat Soo Ho mau pergi, dia malah memanggilnya lagi, “Park Soo Ho, kau mau makan pizza? Aku yang traktir.” LOL.
Soo Ho jelas kesal dan menendang tulang kering Ki Chan, dan langsung pergi.
--

Moo Jin pergi ke rumah Dong Soo, yang ternyata adalah rumah atap. Saat dia kesana, Dong Soo tidak ada dan hanya ada Dong Hee yang menyambutnya. Dong Hee mengajark Moo Jin masuk setelah Moo Jin memperkenalkan diri sebagai guru wali kelas Dong Soo. Di dalam rumah, Dong Hee berusaha menelpon Dong Soo, tapi nomor oppa-nya tidak aktif.
“Dimana ibumu? Aku tidak bisa menghubunginya. Apa kau hanya tinggal bersama oppamu? Sejak kapan? Dapatkah kau menghubungi ibumu?” tanya Moo Jin.
Dong Hee menggeleng.
“Jadi, kalian bertahan hidup dengan uang yang Dong Soo hasilkan dari pekerjaan paruh waktu?”
“Benar.”
Moo Jin menghela nafas, baru mengetahui hal tersebut.

Saat keluar dari rumah Dong Soo, dia teringat saat Dong Soo menjelaskan dia memukul orang itu karena orang itu tidak membayarkan upahnya dan malah menuduhnya mencuri.
--
Dong Soo berjalan cepat dan penuh amarah ke tempat kerja paruh waktunya. Dia hendak menuntut upahnya, tapi saat itu dia malah melihat Moo Jin yang juga berjalan dari seberang jalan ke tempat itu.
Moo Jin ke toko itu dan meminta ahjussi untuk membayar upah Dong Soo. Dia juga menyuruh ahjussi meminta maaf pada Dong Soo karena sudah memfitnahnya. Semua pengunjung jelas mendengar pertengkaran mereka. Apalagi Moo Jin berkata tidak akan pergi sampai upah Dong Soo di bayarkan.
“Tidak bisakah kau melihat ini? si brengsek itu memukul orang tua! Kau tidak seharusnya memihak preman itu hanya karena kau gurunya.”
Dong Soo yang mendengar dari luar, sudah emosi dan hendak masuk, tapi dia mendengar jawaban Moo Jin.
“Jika aku adalah dia, aku sudah akan membunuhmu!” teriak Moo Jin. “Kau tidak membayarnya dan bahkan memfitnahnya sebagai pencuri. Siapapun yang berada di posisinya, pasti akan menghajarmu. Tidak ada satupun yang menolong dia, dan tidak ada satupun yang percaya padanya. Apa lagi yang bisa di lakukannya? Siapa yang kau pikir preman dan pencuri?! Kau lah preman dan pencuri yang mengambil uang darinya dan memfitnahnya padahal dia hanya seorang anak. Orang tua? Jangan bercanda, kau bukan orang tua! Dong Soo seribu kali lebih dewasa daripada brengsek sepertimu!”
Dong Soo berjalan dari sana dengan perasaan kacau. Dia menangis, terisak – isak. Moo Jin adalah satu-satunya orang dewasa yang mengerti apa yang di rasakannya.
--

Moo Jin pergi ke supermarket. Dia berbelanja beberapa snack dan amplop.
--
Moo Jin pulang ke rumah dan bertanya pada In Ha, mana Soo Ho? In Ha menjawab kalau Soo Ho sudah tidur. Jadi, Moo Jin mengajak In Ha untuk minum soju bersama. In Ha tahu kalau sesuatu terjadi pada Moo Jin.
Moo Jin akhirnya mencurahkan isi hatinya. Dia ingin cuti sementara dari sekolah. Itu karena dia merasa tidak peka, dia tidak tahu apa yang terjadi pada anak dan muridnya. In Ha berusaha menenangkan Moo Jin dengan memuji Moo Jin adalah orang baik, sangat baik. Moo Jin tertawa dan berkata kalau dia hanya berpura-pura. Dia tidak mampu melihat apa yang terjadi pada Sun Ho dan muridnya, padahal mereka sudah berusaha melihatnya.
In Ha berkata kalau semua orang selalu melihat dari sudut pandang mereka. Termasuk dirinya. Moo Jin adalah orang baik, jadi selalu melihat dari sudut pandang orang baik. Moo Jin sedikit bercanda kalau dia pasti telah menyelamatkan negara di kehidupan sebelumnya hingga bisa mendapatkan In Ha.
Mereka bicara dari hati ke hati, mengenai beban mereka. Mereka berdua benar-benar menyesal atas apa yang telah terjadi. In Ha juga curhat kalau dia menyesal karena sudah bersikap kejam pada ibunya tadi, saat ibunya datang menjenguk Sun Ho. Mereka minum-minum bersama.
“Berapa lama kau berencana cuti?”
“Setahun.”
“Kau bisa bilang kalau Sun Ho memberimu liburan terpanjang di hidupmu.”
“Karena dia anak yang baik.”
Mereka berusaha untuk tetap kuat.
“Aku berharap Sun Ho ada di sebelah kita… berbincang dengan kita tahun depan.”
“Pasti.”
In Ha kemudian meminta tangan Moo Jin dan menggenggamnya dengan kuat, “Hingga saat itu, mari lewati semua ini dan berbagia. Walaupun orang-orang mengatakan pada kita, ‘bagaimana bisa orang tua itu berbahagia ketika anak mereka sendiri dalam keadaan koma. Keluarga itu hancur. Mereka sudah berakhir.’ Biarkan mereka berkata seperti itu karena jika kita tidak bahagia, Sun Ho dan Soo Ho juga tidak akan bisa bahagia. Jadi… mari kita berbahagia, sayang. Mari lewati semua ini, sayang.”
Moo Jin tersenyum, “Ya.”
Soo Ho mendengar semuanya dari dalam kamar. Dan dia menangis. Dia melihat bulan setengah lingkaran dari dalam kamarnya.


No comments:

Post a Comment