Friday, April 26, 2019

Sinopsis Lakorn : Krong Karm Episode 4 - part 5

0 comments


Krong Karm Episode 4 – part 5
Network : Channel 3

Menaiki becak, Atong membawa Philai ke tempat penggilingan. Dan sesampainya disana, Atong menjelaskan semua hal mengenai properti keluarganya, karena Philai bertanya. Selain ada penggilingan padi, mereka juga ada memiliki kadang babi, dan taman belakang.

Philai kemudian menanyakan berapa babi yang keluarga Atong miliki, tapi Atong tidak tahu, jadi dia pun bertanya kepada Asa.



Tepat disaat itu, mereka bertemu dengan Yoi. Dan Philai pun memberikan senyum kepada Yoi, tapi Yoi malah mengomelinya dan mereka semua. Lalu saat Yoi mengetahui bahwa yang menjaga toko sekarang adalah Asi, dia semakin mengomeli mereka.



“Ampun! Emang Asi tahu berapa harga barang? Oh!! Aku pikir sekarang, aku telah menderita kerugian yang besar pastinya. Karena si Gila dan si Pembohong!” omel Yoi. Lalu dia pergi. Dan mendengar itu, Philai berhenti tersenyum, karena Yoi tampak sangat pelit baginya.



Asa menyusul Yoi dengan sepedanya, dan menawarkan diri untuk mengantar Yoi pulang. Tapi Yoi kembali mengomel, lalu dia bertanya untuk apa Philai ke sini, dan apa yang Philai tanyakan. Dan Asa pun menjawab bahwa Philai hanya menanyakan berapa banyak babi mereka disini.

“Oh! Sialan itu! Setiap hari dia terus mengintai harta tersembunyi ku! Benar- benar mengganggu,” gerutu Yoi.


“Ma, jangan begitu. Sor mungkin hanya ingin membantu mengatur,” kata Asa, menenangkan.

“Mengatur! Ini harta ku. Aku bisa mengaturnya sendiri!” balas Yoi.


Malas mendengar gerutuan Ibunya terus, maka Asa pun berniat pergi. Dan melihat itu, Yoi langsung memanggil Asa, lalu dia naik ke atas sepeda.



Philai dan Atong datang berkunjung ke rumah Renu. Dan melihat kedatangan mereka berdua, Renu menghela nafas capek. Namun dia berusaha untuk bersikap biasa di depan mereka berdua. Dan dia mengobrol bersama Atong yang memperkenalkan Philai kepadanya.



Philai merasa penasaran dengan apa yang sedang Renu masak. Dan dengan tidak sopan, tanpa bertanya ataupun meminta izin, Philai membuka penutup panci masakan Renu. Lalu baru dia bertanya. Dan melihat itu, Renu merasa tidak senang, tapi dia diam.

“Dia membuat kue untuk dijual di pasar pada pagi hari,” kata Atong menjelaskan pada Philai.

“Nanti aku akan menjadi pelanggan mu,” kata Philai dengan nada sombong.



Atong menjelaskan mengenai semua kue buatan Renu yang sangat enak. Dan mendengar itu, Philai menanyakan, berapa harga kue yang Renu jual. Dan Renu pun menjawab 25 satang. Mendengar jawaban itu, Philai menertawai Renu yang menurut nya begitu bodoh, menjual kue dengan harga murah, padahal telah bersusah payah untuk membuatnya.


“Bahkan jika hanya 25 satang atau 1 bath, itu semua berharga. Sebenarnya aku bisa menjual nya lebih mahal, tapi setelah berpikir keras. Menurutku, lebih baik tidak serakah,” kata Renu, menyindir Philai.



Philai merasa tidak senang, karena Renu menyindirnya. Tapi dia menahan rasa tidak senangnya, karena sedang ada Atong disana. Lalu dengan sikap sok baik, Philai memesan 4 pack kue, dan kemudian menanyakan dengan sombongnya, apakah Renu mau dibayar sekarang.

“Tidak perlu. Biasanya aku menyisakan untuk Ayah dan Asa. Aku tidak meminta bayaran apapun,” kata Renu, menyindir Philai lagi.


“Jika begitu, bisakah aku belajar cara membuat kue dari mu? Atau kamu tidak ingin berbagi resep padaku?” balas Philai, tidak mau kalah.




Renu tersenyum. Lalu dia mengambil kelapa tua, dan membelahnya menggunakan pisau. Kemudian setelah itu, dia mengatakan agar Philai berhati- hati melakukannya, jika tidak maka kuku- kuku Philai akan patah. Dan karena pisaunya sedikit tajam, mungkin bisa menggores jari Philai. Mendengar itu, Philai merasa takut, dan tidak jadi belajar untuk sekarang.


Atong dan Philai berjalan pulang bersama. Dan sambil berjalan, Atong menjelaskan bahwa tempat ini di beli oleh Ibunya dari pemilik terdahulu. Lalu Philai melihat- lihat, dan bertanya- tanya. Seperti buah kelapa yang ada disana.

Dan Atong menjelaskan bahwa semua yang ada disini bebas untuk diambil, serta ada beberapa sayuran juga yang boleh. Biasanya para pekerja yang mengambilnya untuk di masak. Dan itu lumayan untuk mereka bisa berhemat.



“Pantas saja. Sor Renu begitu pintar ya. Mengambil kelapa disini untuk membuat kue. Jadi dia tidak perlu mengeluarkan sepeser pun. Itu mengapa dia bisa menjual kue hanya 25 satang,” kata Philai dengan sinis.

Mendengar itu, Atong tampak tidak nyaman. Tapi dia diam, dan tidak membalas. Lalu mereka pulang.


Sesampainya di toko. Atong menanyakan kepada Boonplook dimana Asi. Dan Boonplook menjelaskan bahwa Asi pergi melarikan diri dari toko, sehingga dia dan Pom dimarahi oleh Yoi barusan, ketika Yoi pulang.

Yoi memanggil Boonplook dan menyuruhnya untuk membelikan kopi. Dan dengan kesal, Boonplook mengeluh bahwa dia hanya mempunyai dua tangan dan dua kaki saja. Karena saat ini toko sedang ramai, dan dia bertugas untuk mengambil barang- barang.

Lalu dengan pengertian, Atong menyuruh agar Boonplook pergi saja. Sementara dia yang akan menggantikan tugas Boonplook untuk mengambil barang jualan.



Philai menuangkan segelas teh yang ada di meja, dan memberikannya kepada Yoi. Lalu dengan sikap canggung, Philai mulai mengajak Yoi mengobrol. Philai membicarakan tentang taman belakang di tempat penggilingan padi. Dimana banyak tanaman dan sayuran yang berada disana. Tempat yang tidak diurus oleh siapapun.



Mendengar itu, Yoi merasa bingung dengan maksud Philai. Dan Yoi menyuruh Philai untuk berbicara lebih jelas serta to the point saja . Dan Philai tersenyum gugup.


Renu bekerja keras membuat kue.


Sore hari. Ketika sudah waktunya tutup toko, Yoi memanggil Pom. Dengan nada pelan, Yoi menanyakan apakah Pom memiliki kenalan seorang dukun. Karena dia merasa Chai telah diguna- guna. Dan mendengar itu, Pom terkejut.

“Diam! Jangan berbicara keras!” tegur Yoi, karena Pom berteriak.



Yoi menjelaskan semua perasaan ragunya tentang Renu, tapi dia tidak memiliki bukti apapun. Sehingga karena itulah, maka nya dia mau menyelidiki apakah benar Renu telah menggunakan sihir hitam untuk mendapatkan Chai.

“Baiklah. Aku akan mencoba mencarinya untukmu,” kata Pom.

“Yang cepat ya. Aku benar- benar cemas sekarang,” balas Yoi.



“Lihat saja. Jika aku sukses, maka aku akan membuat Jalang itu mendapatkan apa yang sepantasnya!” gumam Yoi dengan penuh tekad.

No comments:

Post a Comment