Saturday, April 27, 2019

Sinopsis Korean Drama : Beautiful World Episode 07 – 2

0 comments

Sinopsis Korean Drama : Beautiful World Episode 07 – 2
Images by : jTBC

Eun Joo pergi ke kamar Joon Seok, dan melihat Joon Seok yang tertidur di atas meja. Dia membangunkan Joon Seok agar pindah tidur ke dalam kamar, tapi, Joon Seok tidak merespon sama sekali. Tangan Joon Seok malah terkulai lemas, jatuh ke lantai, dan darah mengalir dari tangannya. Eun Joo berteriak melihat tangan Joon Seok yang berdarah. Dia berteriak histeris memanggil nama Jin Pyo!
Dan semua itu hanyalah mimpi buruk. Jin Pyo bingung melihatnya, apalagi Eun Joo langsung berlari ke dalam kamar Joon Seok untuk memastikan keadaan Joon Seok. Dia sangat lega karena melihat Joon Seok baik-baik saja dan langsung memeluknya dengan erat.
“Semuanya akan berlalu. Baik-baik saja. Semua akan baik-baik saja,” bisik Eun Joo.
Jin Pyo melihatnya.
--
Pagi-pagi, Soo Ho bersiap ke sekolah. dia mengenaka roll rambut di poninya. Sepertinya,dia berusaha bersikap seperti biasa. Dia bahkan memuji sandwich In Ha yang terbaik dan paling enak. In Ha menanyakan keadaan Soo Ho sekolah karena dia khawatir jika Soo Ho akan di bully karena petisi yang di buatnya.  
“Aku berharap ada masalah, ternyata malah tidak terjadi apapun. Hanya lebih dari 160 orang yang menandatangani petisi itu.”
“160 itu artinya lebih dari 0.”
“Aku perlu lebih dari 10.000 tandan tangan untuk membuat issue.”
“Jangan kecewa.”
“Tidak kok,” jawab Soo Ho. “Tapi, ibu. Tidak ada.”
“Apa itu?”
“Ini mungkin hanyalah kebohongan. Tapi Ki Chan bilang kalau Joon Seok adalah ketua geng-nya.”
In Ha jelas kaget mendengarnya.
--

In Ha pergi ke rumah Seok Hee. Dan melihat In Ha, Seok Hee jelas senang dan mengundang In Ha untuk masuk. Tujuan In Ha datang adalah untuk menanyakan pada Young Chul, apa benar Joon Seok adalah ketua geng-nya?
Seok Hee menyuruh Young Chul untuk jujur. Dan Young Chul tanpa rasa bersalah bohong kalau Ki Chan lah ketua geng-nya. Ki Chan takut kalau orang-orang akan tahu kalau dia yang memimpin, jadi dia memfitnah Joon Seok. Dia juga ikut menghajar Sun Ho, karena takut Ki Chan akan menghajarnya jika tidak ikut.
“Ki Chan memukulmu? Kenapa kau tidak bilang padaku?!” marah Seok Hee.
“Dia tidak bisa memukulku lagi sekarang. Aku tidak takut padanya lagi. Dia tidak bisa menggangguku sekarang.”
“Apa kau benar-benar jujur?” tanya In Ha.
“Ya. Joon Seok hanya menonton saja.”
In Ha masih ragu pada pernyataan Young Chul.
Seok Hee pun demikian. Dia bertanya memastikan pada Young Chul setelah In Ha pergi. Young Chul terus bersikeras kalau dia jujur. Seok Hee juga menyuruh Young Chul untuk memberitahunya kalau Ki Chan memukulnya lagi.
“Dia tidak bisa lagi sekarang. Joon Seok adalah sahabatku.”
“Apa maksudmu?”
“Tidak ada yang bisa menyentuh sahabat Joon Seok,” jawab Young Chul dengan sombongnya.
--

Joon Seok mendapat laporan dari Young Chul mengenai In Ha yang menanyainya. Jadi, dia memberitahunya kepada Eun Joo. Dia menyuruh Eun Joo untuk tidak usah khawatir karena Young Chul tidak akan mengatakan apapun. Dan sepertinya Ki Chan yang memberitahu Soo Ho, tapi tidak usah takut, karena tidak ada yang mempercayai Ki Chan. Dia yang akan mengatasi Ki Chan.
Eun Joo takut dan menyuruh Joon Seok untuk tidak melakukan apapun. Apapun yang Ki Chan lakukan, Joon Seok harus berpura-pura tidak tahu apapun. Dia yang akan mengurusnya.
“Kalau gitu, pindahkan saja Ki Chan ke sekolah lain. Sebuah kata dari Ayah bisa langsung menyelesaikan semuanya.”
“Ayah tidak bisa melakukannya begitu saja. Dan dia tidak harus melakukannya.”
“Kenapa tidak? ibu juga bisa melakukan sesuatu. Pokoknya, jangan khawatir. Ki Chan tidak akan melakukan apapun.”
--
Sang Bok mengumumkan pada semua guru kalau komunitas anti bully memberitahu kalau orang tua Sun Ho meminta sidang ulang. Jadi, sampai semuanya jelas, hukuman kerja sukarela para siswa akan di tunda sementara ini. Dan Jin Woo harus membantu semua siswa di kelasnya untuk bersikap seperti biasa saja lagi. Dia juga memerintahkan agar semua guru memastikan tidak ada gosip di antara para murid.  
Tidak lama, Dae Gil masuk ke dalam sana. Semua jelas bingung. Dan ternyata Sang Bok yang memanggil Dae Gil. Dia memperkenalkan Dae Gil adalah satpam di sekolah mereka dan adalah mantan detektif di Unit Kejahatan Kekerasan. Dan karena pengalamannya, Dae Gil bisa mencegah dan mengatasi apa yang di alami oleh Sun Ho. Karena itu, direktur memberi penghargaan pada Dae Gil. Dia menyerahkan amplop berisi uang pada Dae Gil. Dae Gil menolak untuk menerima, tapi Sang Bok meletakkan amplop itu di tangannya.
Saat rapat selesai, Jin Woo menghampiri Dae Gil. Dia menanyakan CCTV. Kan mereka mengganti CCTV dengan yang baru, jadi dia mau tahu CCTV yang lama di apakan?
“Perusahaan security mengumpulkannya.”
“Bisakah aku meminta nomor perusahaan itu?”
“Mereka pasti sudah menghancurkannya sekarang,” jawab Dae Gil. “Tapi, pak Guru, kenapa kau tiba-tiba menanyakannya?”
“Tidak ada apa-apa,” jawab Jin Woo dan berlalu pergi.
--
Jin Woo masuk ke dalam kelas. Di dalam kelas, suasana sangat sepi.
Jin Woo menulis di papan tulis : uhavegotmyworld@naum.com Itu adalah email pribadi yang baru Jin Woo buat. Jadi, jika ada yang ingin di katakan padanya, mau mengenai masalah apapun, bisa mengirim email padanya. Dia akan berusaha membantu dan bahkan merahasiakan identitas pengirim. Dia berjanji, dia bisa di percayai (Jin Woo menatap ke Dong Hee).

Joon Seok tampak tidak suka. Young Chul, Sung Jae dan Ki Chan terus menundukkan kepala. Dong Hee berusaha acuh.
--
Joon Seok, Young Chul, dan Sung Jae berkumpul bersama. Mereka menggerutu mengenai tingkah Jin Woo. Dan mereka mulai khawatir kalau Jin Woo mungkin percaya dengan yang Ki Chan katakan. Dan saat sedang membahas hal itu, Young Chul mulai berani melawan Sung Jae.
“Haruskah kita melakukan game lagi?” tanya Young Chul pada Joon Seok. “Kali ini, Ki Chan adalah ant-man, dan aku adalah Captain America.”
“Kau jadi semakin mirip dengan Ki Chan,” ujar Sung Jae.
“Perhatikan yang kau ucapkan itu! Kenapa aku seperti dia?!” marah Young Chul.
“Kau sama seperti dia!”
“Kau mau mati?!” tantang Young Chul (Issh, kesal kali lihat anak ini. Pengecut yang bertingkah karena merasa ada backingan, Joon Seok!)
Mereka mulai bertengkar, dan Joon Seok melerai mereka. Dia menegaskan kalau Ki Chan lah yang berbohong, jadi abaikan saja dia. Dia juga memberitahu kalau Sun Ho ada di rumah sakit kakek-nya.
--
Joon Ha dan In Ha ada di toko. Joon Ha memberitahu kalau dia sudah mencari sedikit informasi mengenai reporter Choi. Dan dari hasil pencariannya, reporter Choi itu benar di tuntut sekali karena memperkosa pelayan bar.
“Apa?! Bagaimana bisa pria sepertinya masih menjadi jurnalis?”
“Dia baru-baru ini di nyatakan tidak bersalah karena tidak ada bukti.”
“Jadi?”
“Dia jelas mempunyai lebih banyak kekuatan (kedudukan) daripada pelayan itu. Aku dapat menebak apa yang terjadi.”
Dan In Ha memutuskan untuk membuang kartu nama reporter Choi saja. Dia kemudian membawa tumpukan kartu namanya ke dalam tas. Dia akan membagikannya pada siswa SMP Seah. Joon Ha jelas khawatir, karena sekolah pasti tidak akan suka. In Ha mengabaikannya.
Setelah In Ha pergi, Joon Ha mendengar ponsel In Ha yang berbunyi. Telepon dari Eun Joo. Joon Ha mengangkatnya dan memberitahu kalau In Ha meninggalkan ponselnya dan pergi ke sekolah. Apa ada hal penting?
--

Reporter Choi menemui Moo Jin di rumah sakit.
“Darimana kau tahu nomor ku?” tanya Moo Jin.
“Seorang teman universitas bekerja di tempat yang sama dengan Anda. Aku ingin menulis artikel mengenai apa yang terjadi pada putra Anda. Tapi, sekolah dan polisi terus menolak untuk bekerja sama. Dan aku harus mendengarkan dari keluarga korban terlebih dahulu. Aku membaca petisi yang putrimu upload. Dan kelihatannya sama seperti Anda, tidak berpikir kalau putra Anda melakukan bunuh diri. Apa ada alasannya?”
“Kami ada kecurigaan tapi kami tidak punya bukti jelas-nya. jadi, aku tidak merasa kami berada di posisi dapat merilis artikel.”
“Aku juga tidak ingin merilis artikel hanya berdasarkan kecurigaan. Aku akan mendengarkan Anda terlebih dahulu dan menilai seberapa banyak ceritamu dapat di publikasikan.”
“Aku tidak bisa membiarkan penilaian orang lain mempengaruhi keluargaku.”
“Aku mencoba menulis artikel untuk menolong mu dan keluargamu.”
“Terimakasih atas tawaran Anda, tapi aku harus sangat berhati-hati. Aku akan menelponmu setelah memutuskan.”
“Aku tahu Anda adalah ayah, tapi Anda juga adalah guru. Selain dari yang terjadi pada Sun Ho, ada banyak masalah juga dengan Komite Kekerasan Sekolah. Jika artikel Sun Ho dapat membantu meningkatkan masalah, aku rasa itu akan sangat berarti.”
Moo Jin tetap menolak. Dan Ji Kyung terus membujuknya. Sadar kalau Moo Jin tidak akan bisa di bujuk, dia tidak memaksa lagi. Dan setelah Moo Jin pergi, Ji Kyung langsung ngedumel kesal, padahal dia ingin memberi pelajaran pada Jin Pyo.
--
Sang Bok menelpon Jin Pyo dan memberitahu kalau seorang reporter bernama Choi Ji Kyung terus berusaha menggali informasih mengenai korupsi di yayasan.
“Jangan merespon apapun, dan abaikan saja dia,” perintah Jin Pyo.
“Kita terus mengabaikannya, tapi aku yakin dia sudah mengunjungi orang tua Sun Ho juga. dan aku khawatir kalau dia mungkin akan mempublikasikan artikel skandal.”
Jin Pyo menyuruh Sang Bok tidak khawatir karena mereka telah melakukan sesuai buku panduan.
Tapi, setelah menutup telepon, Jin Pyo tersenyum sinis sekaligus kesal. Sepertinya dia dan Ji Kyung saling mengenal.
--

Jam pulang sekolah,
In Ha berdiri di depan gerbang sekolah. Dia menyapa semua siswa yang keluar dan menanyakan apakah mereka kelas 9. Dia memperkenalkan dirinya adalah ibu Sun Ho, dan jika mereka tahu sesuatu, mereka bisa menghubunginya. Dia membagikan kartu namanya.
Dari jauh, Eun Joo melihat apa yang In Ha lakukan tersebut. Dia tampak cemas.

In Ha sudah membagikan banyak kartu namanya, tapi ternyata semua kartu nama yang di bagikannya, di buang oleh para siswa tersebut. In Ha hendak memungutnya, tapi Eun Joo muncul tiba-tiba dan membantunya memungut kartu namanya. In Ha mengira kalau Eun Joo datang untuk menjemput Joon Seok.
“Tidak, Joon Ha bilang padaku kalau kau di sini,” jawab Eun Joo. Dan dia menawarkan untuk membantu In Ha. In Ha menolak bantuannya.
“Oh, apakah kau sudah bilang pada Joon Seok kalau aku ingin bicara dengannya?”
“Ah, aku minta maaf. Aku benar-benar lupa. Aku akan memberitahunya hari ini.”
In Ha mengerti dan mulai membagikan kartu namanya lagi.
Dae Gil juga melihat apa yang In Ha lakukan tersebut.
--

Det. Park meminta Jin Woo menemuinya di kantor polisi. Dia memperlihatkan rekaman CCTV di hari kejadian, dimana saat Sun Ho pergi dari akademi, dia bertemu dengan seorang gadis di jalan.
“Sebagaimana yang kau tahu, tidak ada satupun yang mengatakan bertemu Sun Ho di hari itu. Dapat kau mengenali siapa ini?”
“Aku tidak bisa mengenalinya dari kamera ini.”
“Dapatkah setidaknya kau menebaknya?”
“Entahlah.”
“Mungkinkah itu Da Hee?”
“Da Hee berambut panjang dan cukup kurus. Dan gadis ini tidak setinggi Da Hee.”
“Jika kau melihat CCTV ini, kau bisa melihat kalau ada gantungan boneka di tas gadis ini. dapatkah kau memeriksa, apakah ada seseorang di kelas Anda yang mempunyai tas dan gantungan boneka serupa?”
“Ya, aku akan memeriksanya. Tapi, apa Anda juga merasa kalau mungkin saja ada seseorang yang mendorongnya dari atap sekolah?”
Det. Park tidak bisa menyatakan demikian. Makanya dia menyelidikinya sendiri. Dan ini bukanlah kompetisi resmi, itulah kenapa dia meminta Jin Woo yang kemari, bukannya dia yang ke sekolah. Jika dia ke sekolah, maka para atasan akan menjadi sensitif.
--
Dan kita melihat kalau Dong Hee mengenakan tas serupa dengan gadis di CCTV dan juga ada gantungan boneka di tasnya.

Dong Hee pulang ke rumah dan melihat Moo Jin yang sudah menunggu di depan rumah. Moo Jin menyapanya dengan ramah. Dia melihat seragam Dong Hee, dan bertanya ada di kelas berapa Dong Hee?
“Aku senior.”
“Lalu, kau harusnya mengenal putraku. Park Sun Ho adalah putraku.”
“Aku ada di kelas yang sama dengannya,” beritahu Dong Hee dan terus menunduk.
Moo Jin datang membawakan beberapa makanan untuk Dong Hee dan Dong Soo. Dia merasa tidak sopan karena datang dengan tangan kosong saat mengunjungi seseorang. Dia kemarin datang terburu-buru dan tidak membawa apapun, jadi dia membawakannya hari ini.
Dong Hee mengangkat jemuran sebelum masuk ke dalam rumah. Moo Jin bertanya pada Dong Hee, apakah Dong Soo pulang kemarin? Dong Hee mengangguk.
“Apa kau ada bilang padanya untuk menelponku?”
“Ya.”
“Oppa-mu pasti sangat marah denganku. Dia tidak menjawab teleponku.”
“Haruskah aku mencoba menelponnya lagi?” tanya Dong Hee.
“Tidak, aku hanya akan berkunjung lagi.”
Moo Jin sudah hendak pergi, tapi saat dia berbalik, ternyata Dong Soo sudah pulang ke rumah. Jadi, Dong Hee memilih pergi untuk memberikan waktu bagi oppanya untuk bicara dengan Moo Jin.
Dong Soo meminta agar Moo Jin membawa kembali makanan itu, dia tidak perlu belas kasihan.
“Kenapa aku harus kasihan padamu? Aku lah yang paling memprihatinkan sekarang ini. Kau tahu siapa yang harus di kasihani? Adalah orang yang hidup dengan mematuhi aturan yang di bentuk masyarakat, dan akhirnya malah melewatkan hal penting di hidup ini. Mungkin mereka adalah orang bodoh. Kau tidak memprihatinkan sama sekali. Kau mengganggumkan dan hebat. Kau masih muda tapi kau sudah menjaga adikmu, dan tahu tidak ada yang gratis. Kau bekerja keras untuk hidup. Aku tidak merasa aku akan mampu melakukan apa yang kau lakukan. Juga, apa yang salah dengan di kasihani? Sangat mengerikan hidup di dunia dimana tidak ada seorang pun yang mengasihani orang lain. Merasa bersalah untuk orang lain adalah hal yang indah. Demi menenangkan, aku mengatakan hal yang tidak bertanggung jawab. Untuk anak yang merasa putus asa, aku berkata untuk berani. Melewati hari demi hari saja sudah susah, apa lagi yang bisa kau lakukan? Benar? Aku minta maaf telah memukulmu. Aku terlalu emosi saat itu dan melampiaskannya padamu. Aku sangat risau hari itu.”
“Kenapa Anda risau?”
“Karena orang dewasa terlalu buruk. Kau tidak bisa menghubungi ibumu sama sekali?”
“Aku tidak memerlukannya. Aku juga tidak akan menemuinya walaupun dia datang.”
Dan Moo Jin memberikan sebuah amplop pada Dong Soo. Itu adalah uang gaji Dong Soo yang telah di mintanya. Dan dia juga akan membantu Dong Soo menemukan pekerjaan, jadi Dong Soo harus tetap bersekolah. Dia sudah mengambil cuti, jadi dia mempunyai banyak waktu. Dia juga akan sering mengunjungi Dong Soo.
“Apa Anda mengambil cuti karena apa yang terjadi pada putra Anda?” tanya Dong Soo.
“Itu juga. dan hal lainnya. Bye.”
“Pak Guru!” panggil Dong Soo. “Ada yang ingin ku katakan.”
“Apa itu?”
“Adikku… tampaknya tahu sesuatu mengenai putra Anda. Tapi, aku menyuruhnya untuk tidak ikut campur,” beritahu Dong Soo (great job, guy!)
“Sun Ho ku?”
“Ya,” jawab Dong Soo. Dan dia langsung berlari keluar rumah mencari Dong Hee.
--

Eun Joo masuk ke kamar Joon Seok untuk meletakkan baju yang telah di cuci. Dan dia juga sekalian menyusun barang di laci Joon Seok. Tapi dia menemukan sebuah benda, mirip tabung lipstick gitu.
--
Jin Pyo dalam perjalanan pulang, tapi tiba-tiba supirnya menginjak rem. Itu karena ada seseroang di depan rumah. Dae Gil.
“Kau mengikutiku,” ujar Dae Gil. Dia menunjukkan recorder-nya, “Di dalamnya ada percakapan menarik.”
--
Moo Jin berada di toko In Ha. In Ha merasa cemas menanti kedatangan Dong Hee dan Dong Soo. Moo Jin berusaha memintanya tenang. Dan tidak lama, Dong Soo datang bersama Dong Hee. Mereka bicara berempat.
--

Joon Seok pergi ke rumah sakit. Dia melihat tubuh Sun Ho.
--
“Kau bertemu Sun Ho malam itu?” tanya In Ha.
“Ya.”
“Apa yang kalian bicarakan?”
“Dia bilang akan pergi ke suatu tempat,” jawab Dong Hee. “Dia dalam perjalanan bertemu seseorang.”
“Apa dia ada bilang bertemu siapa?” tanya In Ha, lagi.
“Tidak,” jawab Dong Hee. “Tapi… tidak mungkin Sun Ho akan bunuh diri,” yakin Dong Hee.
“Kenapa kau bisa berpikir begitu?” tanya Moo Jin.

“Sejujurnya… aku berencana bunuh diri hari itu,” akui Dong Hee. Dan Dong Soo jelas terkejut mendengarnya. “Tapi Sun Ho bilang…”
Kau tahu? Jika kau cukup berani untuk membunuh dirimu sendiri, kau bisa melakukan apapun. Jadi, kau harus hidup. Kau harus terus maju. Kau bukanlah hantu. Anak-anak yang menginjak-injakmu, hanya karena kau lemah… merekalah yang hantu. Jangan menyerah! Jangan pernah menyerah!



No comments:

Post a Comment