Sunday, April 14, 2019

Sinopsis Lakorn : Krong Karm Episode 4 - part 1

1 comments




Krong Karm Episode 4 – part 1
Network : Channel 3

Chai menanyakan keadaan Renu, dan kemudian dia menjelaskan bahwa setelah mendengar kabar dari Renu yang keguguran, dia tidak bisa tidur ataupun makan. Lalu karena itu juga, Ketuanya mengizin kan nya untuk pulang selama 2 hari.

Renu merasa sedih dan meneteskan air mata, tapi dia berusaha untuk tegar juga. Karena bagaimanapun, mungkin saja itu memang sudah takdir dari bayi mereka.


Chai lalu menanyakan, apakah Renu masih akan terus berjualan kue. Dan Renu menjelaskan bahwa dia akan tetap berjualan. Karena dia tau seberapa gaji Chai, jadi tidak mungkin dia tidak melakukan apapun dan hanya menunggu uang dari Chai.

“Oh ya, barusan aku melewati toko, dan itu tutup,” kata Chai.

“Hari ini, seluruh keluarga mu pergi ke Thap Krit. Kamu tidak tahu kalau hari ini Atong akan menikah?” tanya Renu. Dan Chai terkejut, karena dia baru tau.


Renu memberitahu Chai bahwa sepertinya seluruh keluarga akan kembali dari Thap Krit ke Chum saeng sore ini. Jadi mereka bisa pergi ke tempat pesta, dan memberikan selamat untuk Atong nantinya. Tapi Chai sedikit ragu mau kesana.

“Kenapa? Kita hanya kesana untuk menyelamati mereka,” kata Renu. Dan akhirnya, Chai pun setuju untuk ke sana nanti. Mendengar itu, Renu tersenyum.



Yam, saudara Yoi. Dia datang ke acara pesta pernikahan Atong, tanpa mengetahui bahwa yang menikah hari ini adalah Atong serta Philai. Bukannya Chai serta Philai. Dan ketika Yoi memberitahunya, dia pun terkejut.

“Bagaimana bisa anak kedua menikah duluan sebelum anak pertama?” tanya Yam.

“Ceritanya panjang. Aku akan memberitahu mu nanti,” balas Yoi, malas bercerita.



Atong serta Philai menyambut satu persatu tamu yang datang, dan berfoto bersama mereka. Kemudian setelah itu, Philai pergi beristirahat, karena dia merasa capek. Sementara Atong, dia berkumpul bersama Asa serta Asi. Dan mereka menceritakan tentang Philai.



Tamu undangan perdatangan. Dan ada satu tamu yang datang tanpa membawa amplop, tapi hanya hadiah biasa saja. Jadi Yoi pun malas menyalamin tangan si tamu, dan dia hanya mengambil hadiahnya saja. Lalu kemudian dia menyuruh si Tamu untuk masuk ke dalam.


Yoi mengajak Yam untuk masuk ke dalam juga. Tapi sebelum itu, Yoi mengingatkan Pom serta Boonplook untuk menjaga hadiah- hadiah yang ada dengan baik, jangan sampai hilang. Dan nanti dia akan menyuruh seseorang untuk membawakan makanan ke mereka berdua.



Tepat disaat itu, Chai serta Renu datang. Renu datang mengenakan pakaian berwarna merah terang. Melihat itu, Yoi mengatai mereka dan memarahi Chai yang telah membuat nya malu dan kehilangan muka, tapi masih berani untuk datang. Lalu Yoi mengusir mereka berdua untuk pergi dari pestanya.

“P’Chai. Jika Ibumu tidak menerima kita, maka lebih baik kita masuk dan menemui Ayah saja,” kata Renu sambil memeluk lengan Chai dengan mesra.



Yoi tidak terima, dan dia menyuruh Pom serta Boonplook untuk menahan mereka berdua agar jangan masuk ke dalam. Mendengar itu, Chai merasa terluka, dia meminta agar Ibunya mengizinkannya masuk dan memberikan selamat, kemudian setelah itu dia akan langsung pergi, dan tidak akan pernah datang menemui Yoi lagi.



Mendengar itu, Renu tersenyum, lalu dia menarik Chai untuk masuk ke dalam. Sementara Yoi, dia diam menahan amarah serta kekecewaannya.



Ketika melihat Renu serta Chai datang, dengan ramah Ayah mempersilahkan mereka untuk duduk bersama. Tapi Chai mau menemui Philai dulu, jadi dia pun menghampiri meja dimana Philai serta keluarganya duduk disana.



Philai menatap tajam ke arah Renu dan Chai. Lalu dengan nada dingin, dia bertanya, “Apa kita saling mengenal?”

“Aku minta maaf telah membuat segala nya berubah seperti ini,” kata Chai, tulus.

“Tidak masalah. Seperti yang ku katakan, kita tidak saling mengenal,” balas Philai.



“Aku tahu kamu marah. Tapi aku ingin kamu mengerti. Cinta memaksa ku untuk memilih,” jelas Chai. Dan dengan pandangan tajam, Philai memandang rendah ke arah Renu.

“Tidak perlu menjelaskan atau mengatakan apapun, karena itu tidak berguna. Kamu seorang tentara, tapi pengecut. Lalu, terima kasih banyak untuk pelajaran penting yang kamu ajarkan padaku. Aku akan mengingatnya selama hidupku. Jangan mempercayai cinta. Jangan tertipu oleh kata2 manis. Karena kata ‘cinta’ itu tidak nyata,” balas Philai, dingin.


Melihat itu, Yoi menghampiri Chai, dan dengan suara pelan, dia menyuruh Chai untuk pergi. Dan karena melihat bahwa sepertinya Philai membencinya serta memang tidak bisa memaafkannya. Maka Chai pun menerimanya. Lalu dia mengajak Renu untuk pergi.



Namun sebelum pergi, Renu memandang ke arah Yoi. Dan tersenyum semanis mungkin kepadanya. Melihat itu Yoi merasa sangat kesal dan marah.



Yam akhirnya mengerti apa yang terjadi. Dia berkomentar bahwa dari pakaian Renu serta dandanan Renu, dia bisa menebak bahwa Renu pasti datang dari Takli. Dan dia mengucapkan kata simpati untuk Yoi.

“Jalang itu! Aku harus mengusir nya dari Chum saeng,” kata Yoi, kesal.

“Dia pasti berpikiran untuk menjadi menantu tertua mu. Dan mendapatkan harta mu,” kata Yam, berkomentar. Dan Yoi setuju.



Tiba- tiba saja, suara musik menjadi sangat ramai dan ribut. Mendengar itu, Yoi pun berbalik melihat ke arah panggung. Dan ketika melihat para teman Renu sedang menari serta menyanyi diatas panggung. Dia pun memarahi mereka semua.

Yoi kemudian tiba- tiba teringat kepada wanita yang telah menendang nya di stasiun kereta. “Kamu kan yang menendang ku dari kereta?! Asi... Asa… cepat! Telpon polisi dan tangkap mereka! Dia melukai ku!” teriak Yoi.


 “Siapa yang akan bersimpati denganmu, E’Yoi? Malahan orang- orang akan menertawai kamu!” kata Tim sambil tertawa keras.


“Siapa kamu? Apa yang pernah ku lakukan padamu?!” balas Yoi.

“Oho. Kelihatannya kamu tidak mengingat bahwa kamu memiliki terlalu banyak musuh, huh? Jika karma yang kamu ciptakan, tidak dibayarkan dalam kehidupan ini, kamu harus pergi ke NERAKA yang telah menunggu mu!” balas Tim sambil tertawa.



Mendengar itu, Yoi merasa emosi sampai dada nya terasa sangat sakit. Dan melihat itu, Tim serta kedua temannya tertawa keras, dan bernyanyi semakin keras. Sementara Yoi, terpaksa harus dibawa pergi untuk beristirahat.



Didalam kamar. Philai cemberut, karena pesta pernikahannya kacau. Atong yang masih mengkhawatirkan Yoi, dia menanyakan apakah boleh dia meninggalkan Philai sendirian. Dan dengan kesal, Philai menjelaskan bahwa Atong tidak boleh pergi, karena itu melanggar tradisi. Lagian dirumah banyak orang, jadi biarkan mereka yang mengurus Yoi.

Dan Atong pun mengerti, lalu dia menawarkan Philai untuk mandi duluan. Tapi Philai tetap cemberut dan tidak menjawab, jadi dia pun pamit untuk mandi duluan.

 Yoi mengigau dalam tidurnya. Dia berteriak, “Pergi! pergi!”


Mendengar itu, Ayah segera membangunkan Yoi. Dan setelah terbangun, Yoi langsung menanyakan tentang Atong serta Philai. Dan Ayah pun menjelaskan bahwa segalanya sudah aman, jadi Yoi tidak perlu khawatir.



“Ngomong- ngomong, siapa Jalang itu? Wajahnya tampak sedikit familiar? Aku mencoba mengingat, tapi aku tidak bisa. Aku benar- benar tidak bisa mengenali nya,” kata Yoi sambil berpikir keras.

“Uh! Jika kamu tidak bisa mengingat nya, maka lupakan lah,” kata Ayah, berusaha menenangkan agar Yoi tidak perlu stress.

Dengan kesal, Yoi menuduh bahwa semua itu pasti ada hubungannya dengan Renu. Dan orang- orang di pesta itu, pasti adalah teman Renu. Mendengar itu, Ayah menasehati agar Yoi tidak perlu membahas nya lagi, dan biarkan saja yang sudah berlalu tetap berlalu.


“E”Renu dan aku akan menghadapi karma kami yang panjang. Selama dia tidak meninggalkan hidup Chai,” kata Yoi.



Didalam kamar. Philai menatap dirinya sendiri di cermin, dan mulai menyisir rambutnya. Kemudian Atong masuk ke dalam kamar sambil membawa kasur kecil dan selimut, lalu dia menaruh itu di lantai dekat jendela, jauh dari tempat tidur besar.

“Philai, besok toko akan di buka seperti biasa. Kita sudah harus disana jam 7 pagi. Kita akan sarapan disini, dan makan siang dengan Mama di toko,” jelas Atong. Dan Philai hanya diam saja, tidak menjawab sama sekali.


Renu dan Chai tidur di ranjang yang sama. Chai meminta agar Renu bersabar, karena dalam beberapa bulan dia akan keluar dari militer. Dan Renu mengiyakan, serta dia mengatakan bahwa dia akan terus berjualan serta menabung untuk mereka.

Lalu setelah itu, mereka memejam kan mata. Dan tidur.


Dini hari. Renu bangun seperti biasa untuk membuat kue. Sementara Chai masih tidur, tapi kemudian karena mendengar suara berisik, maka dia pun bangun.

“Renu,” panggil Chai. Dan Renu mengiyakan.



Chai keluar dari dalam rumah, dan menanyakan apa yang sedang Renu lakukan. Lalu saat dia melihat, Renu sedang membuat kue, dia pun bertanya kenapa Renu membuat kue sepagi ini. Dan Renu pun menjelaskan bahwa dia harus membuat banyak kue.

“Tidak bisakah kamu berhenti sehari saja?” tanya Chai.

“Tidak, Chai. Tidak baik membiarkan pelanggan menunggu. Kamu tahu berapa banyak pelanggan tetap ku sekarang?” balas Renu. Dan Chai pun mengerti.



“Istriku begitu bekerja keras. Siapa yang harus ku cintai lebih daripada Istriku?” kata Chai sambil bersikap manja kepada Renu. Dan Renu tersenyum senang.

1 comment: