Monday, April 29, 2019

Sinopsis Lakorn : Krong Karm Episode 4 - part 7

0 comments


Krong Karm Episode 4 – part 7
Network : Channel 3

Pagi hari. Bloonplok datang membantu di rumah Atong. Dia menimbakan air hingga bak mandi dibelakang rumah penuh. Tapi bukannya berterimakasih, Philai malah memarahinya dan menyuruhnya untuk mengisi penuh juga bak di depan rumah.

“Jika kamu ingin aku mengisi penuh semuanya sendirian, aku tidak bisa melakukannya!” omel Bloonplook.



Atong yang datang ke belakang untuk mengambil jemuran kering, dia menengahi mereka berdua agar tidak bertengkar. Lalu dia memberikan uang sebagai upah kepada Boonplook. Namun Philai malah merebut uang itu.

“Kamu tidak boleh membayar nya sekarang! Dia belum menyelesaikan pekerjaannya! Besok, kembalilah bekerja di pagi hari. Lalu aku akan membayar mu,” kata Philai.

“Aku tidak mau uangnya. Aku datang cuma untuk membantu Hia Tong,” balas Boonplook dengan kesal. Lalu dia pergi.


Setelah Boonplook pergi, Philai mengomeli Atong. Dan Atong hanya diam, serta mengangkat semua pakaian kering yang ada di jemuran.


Dini hari. Sekitar jam 3. Ayah terbangun dan batuk- batuk. Lalu Yoi dengan perhatian memberikan air untuknya. Setelah itu, Yoi menyuruh agar Ayah tetap beristirahat, sementara dia akan memasak nasi dulu.

Ayah merasa tidak enak karena telah merepotkan Yoi. Tapi Yoi tidak masalah. Yoi menjelaskan bahwa dia sekalian mau membuatkan makanan untuk para biksu dikuil, karena sudah lama dia tidak melakukannya. Yaitu berbuat kebajikan.



Pagi hari. Dipasar. Ketika Renu datang dengan kue dagangan yang masih banyak, Mao bertanya. Dan Renu menjelaskan bahwa itu karena dia membuat kue lebih banyak daripada yang biasanya, sehingga ada yang tidak terjual. Mendengar itu, Mao mengatakan agar Renu tidak boleh terlalu serakah.

“Aku tidak serakah. Tapi pemilik rumah, membebankan banyak hal padaku. Daun pandan, daun pisang, kelapa, semua yang kuambil di kebun,” jelas Renu. Dan Mao berempati kepada Renu.



“Dia begitu serakah ya. Bisa jadi dia membebankan biaya sewa rumah juga nantinya padamu,” kata Mao.

“Aku tidak tahu juga. Dia mungkin begitu membenciku. Jadi dia menekan ku dengan berbagai cara yang ada. Membuatku tidak bisa tinggal di Chum Saeng,” balas Renu.


Mao menyumpahin agar suatu saat Yoi terkena karma. Lalu dia menanyakan apakah Renu akan menyerangnya balik. Dan Renu menjawab bahwa dia tidak mau. Mendengar itu, Mao memuji Renu yang sangat baik dan sabar. Lalu Renu pun pamit, karena masih harus pergi berjualan.


Setelah Renu pergi. Mao memanggil para orang dipasar, dan menceritakan tentang betapa jahatnya dan serakahnya Yoi kepada menantu sendiri. Dan Renu yang belum jalan terlalu jauh, dia tersenyum mendengar itu.



Pagi hari. Karena Boonplook dan Pom belum datang, maka Asa yang menyusun barang- barang di dalam toko. Dan ketika akhirnya, Pom datang, Yoi pun langsung menegurnya. Tapi Pom segera menjelaskan bahwa alasan keterlambatannya adalah karena dia berusaha mencari apa yang Yoi minta kepadanya. Mengetahui itu, Yoi pun tidak jadi marah lagi.

Dengan berbisik- bisik agar tidak di dengar oleh Asa. Pom menjelaskan mengenai seorang ‘Orang pintar’ yang menurut teman- temannya adalah orang yang hebat. Dan Yoi mendengarkan dengan serius. Tapi karena Asa lewat, maka mereka pun langsung berhenti mengobrol.


Dan ketika akhirnya Asa pergi dari toko. Maka barulah Pom dan Yoi melanjutkan pembicaraan lagi.


Yoi menanyakan apakah Pom yakin ‘Orang pintar’ tersebut memang hebat. Dan Pom menjawab bahwa dia tidak tahu, tapi dari yang di dengarnya ‘Orang pintar’ tersebut memiliki banyak pelanggan.

“Bawa aku kesana nanti,” kata Yoi.

“Hari ini?”


“Tentu saja! Aku buru- buru! Cepat selesaikan pekerjaan mu dan pesan kapal untuk membawa ku kesana! Mengerti?” perintah Yoi. Lalu dia menanyakan dimana Boonplook.



Dirumah Atong. Boonplook mencuci pakaian. Dan dengan tidak sopan Philai datang, melemparkan semua pakaian kotornya dan pakaian dalamnya untuk dicuci. Dan ketika melihat pakaian dalam milik Philai, maka Boonplook menolak untuk mencucinya, karena itu seharusnya Philai cuci sendiri.

“Begitu pemilih! Mengapa tidak bisa! Ibuku bisa melakukannya untukku!” kata Philai dengan kesal dan merebut pakaian dalamnya. Lalu dia pergi.



Boonplook mengomel kepada Atong, dia mengatakan bahwa lebih baik Philai menyuruh Ibunya sendiri kesini dan mencuci. Mendengar itu, Atong tertawa. Lalu Atong meminta maaf atas kelakuan Philai. Dan Boonplook mengerti, lalu lanjut mencuci pakaian lagi.



Ditoko. Boonplook di marahin habis- habisan oleh Yoi, dan diancam akan di potong gajinya. Lalu Atong pun membela Boonplook. Tapi walau begitu, Yoi tidak peduli. Dan lalu Yoi menyuruh Boonplook untuk menlanjutkan pekerjaan. Mendengar itu, Boonplook tampak seperti ingin menangis, tapi dia menahannya.



“Apa kamu datang dari keluarga kelas atas?! Pekerjaan rumah saja tidak bisa! Mengapa kamu menginginkan pelayan? Huh?!” kata Yoi dengan keras memarahi Philai. Yang sama sekali tidak tampak bersalah dan sok.



Di tempat penggilingan. Asa menanyakan kenapa Renu pulang telat hari ini. Dan Renu menjelaskan bahwa tadi di pasar kue nya belum habis terjual, jadi dia pergi ke stasiun untuk menjual nya.

Renu kemudian memberikan kue untuk Asa coba. Dan juga beberapa koin uang. Dan Asa mengira bahwa Renu ingin membeli barang dari toko. Tapi Renu langsung menjelaskan bahwa uang itu bukan untuk membeli barang, tapi untuk di berikan kepada Yoi.



“Untuk apa uang itu?” tanya Ayah yang melihat itu.

“Untuk kelapa, daun pandan, daun pisang, dan barang yang aku ambil di kebun. Berikan itu kepada Ibumu ya,” jelas Renu sambil tersenyum.




Mendengar itu, Asa serta Ayah saling bertatapan tidak percaya dengan kelakukan Yoi.

No comments:

Post a Comment