Monday, April 29, 2019

Sinopsis Lakorn : Krong Karm Episode 4 - part 8

0 comments

Krong Karm Episode 4 – part 8
Network : Channel 3

Philai berjalan- jalan. Dan ketika melewati sebuah toko emas, pemilik memanggilnya. Dia menanyakan apakah Philai ada mau menjual emas, jika iya dia akan memberikan harga yang tinggi. Dan Philai pun menjawab bahwa dia tidak pernah menjual apapun, tapi membeli emas iya. Mendengar itu, dengan ramah si Pemilik mengundang Philai masuk ke toko nya untuk melihat- lihat. Jadi Philai pun masuk ke dalam.



Philai melihat- lihat emas yang ada di toko. Sambil mengobrol dengan si Pemilik (Je Ah). Dan setelah agak lama mengobrol, Je Ah yang mengenal Philai sebagai menantu Yoi, dia mengatakan bahwa pasti Yoi membuat Philai banyak bekerja. Dan Philai menjawab tidak, karena dia sebenarnya mau bekerja menjaga meja kasir, tapi Yoi tidak membiarkannya.

“Oh. Dia tidak pernah mempercayai siapapun, kecuali anaknya dan suaminya. Jangan berharap kamu akan mendapatkan sepeser pun dari nya,” kata Je Ah.

“Lagian toko itu akan menjadi milikku,” balas Philai.



“Sekali dia memberikan itu padamu, dia akan membuka toko baru dan menjadi saingan mu. Karena dia mempunyai banyak harta, tapi pelit.”

Philai menjelaskan bahwa bukankah Yoi hanya mempunyai penggilingan padi dan kandang babi. Namun Je Ah langsung menjawab tidak, setaunya Yoi memiliki banyak real estates dimana-mana. Dan mendengar itu, Philai merasa penasaran.



Seorang wanita mendatangin Yoi di toko. Dia datang untuk menjual barang berharganya, karena dia sedang membutuhkan uang, dan dia meminta agar Yoi bisa memberikan harga yang bagus untuk barangnya. Namun Yoi tidak mau membeli dengan harga besar, karena menurutnya barang itu sudah kurang baik.

“Tolong berikan sedikit lagi. Aku mohon padamu. Dengan uang ini, tidak cukup untuk membayar biaya medis sama sekali,” pinta si Wanita, memohon.

“Kamu tidak beralasan sama sekali ya. Bawa semua ini kembali, jika kamu tidak mau menjualnya. Aku tidak mau,” kata Yoi dengan serius. Dan mau tidak mau, si Wanita pun menerima Yoi untuk membeli barangnya dengan harga murah.


Yoi lalu menyuruh Atong untuk memberikan uang kepada si Wanita. Dan setelah itu, si Wanita pun pamit dan pergi. Melihat itu, Philai merasa tertarik.

Yoi memperhatikan barang berharga si Wanita dan memuji bahwa semuanya masih tampak bagus. Dan Philai mendekatinya, serta ikut menyentuh barang itu juga. Tapi Yoi langsung memanggil Boonplook untuk menyimpan semua barang itu ke lantai dua. Dan Atong memberikan kunci kamar kepada Yoi. Lalu Yoi pergi bersama dengan Boonplook ke lantai dua.


Melihat itu, Philai merasa tidak senang. Dan sekaligus penasaran ingin mengetahui seberapa banyak harta yang Yoi miliki.


Di penggilingan. Renu membawa kan makanan untuk Asa, Ayah, dan semua pekerja. Dan mereka pun makan bersama.

“Renu. Tentang Yoi, jangan pikirkan dia. Jangan membayar untuk apapun. Aku akan mengurusnya ya,” kata Ayah. Karena Renu telah begitu baik.

“Apa itu tidak apa?” tanya Renu, ragu.


“Kamu tinggal disini. Kamu tidak menganggur sama sekali. Kamu banyak membantu dalam bekerja juga,” jelas Ayah.

“Ayah dan aku bisa makan makanan enak setiap hari, karena kamu,” tambah Asa.

“Aku berterima kasih padamu. Aku ingin membayar mu. Bukan kamu yang harus membayar padaku,” jelas Ayah. Tapi Renu masih merasa tidak enak.



Ayah meminta Renu untuk memberikan waktu kepada Yoi. Karena dia percaya bahwa suatu hari nanti, Yoi akan bisa mengerti dan menerima Renu. Sebab Yoi bersikap seperti itu, karena dulu Yoi telah melalui banyak kesulitan dalam hidupnya. Jadi Yoi ingin mengajari anaknya dan menantunya dengan caranya sendiri.

“Iya, yah,” kata Renu sambil tersenyum berterima kasih pada Ayah.



Ketika sedang makan, Ayah tiba- tiba saja batuk. Dan Renu mengira bahwa Ayah tersedak, jadi dia merasa cemas dan ingin mengambilkan air. Tapi Asa menahannya, dia menjelaskan bahwa Ayah akhir-akhir ini memang sering batuk. Lalu Asa mengambilkan teh untuk Ayah.


Asa datang ke apotik untuk membeli obat batuk kering. Dan pemilik apotik pun meracikan nya untuk Asa. Lalu setelah selesai, Asa membayar dan berniat pergi.



Seorang gadis cantik berpakaian kuning garis biru berjalan sambil membawa banyak belanjaan. Lalu tiba- tiba saja semua jeruk yang di belinya jatuh, karena kantong belanjaannya bolong. Dan tepat disaat dia mau memungutnya, Asa yang baru keluar dari toko apotik, tanpa sengaja menginjak salah satu jeruk nya.



“Maaf ya. Maaf ya,” kata Asa. Lalu ketika dia mengetahui kantong belanjaan si Gadis itu bolong, maka dia pun berteriak meminta kantong dari Pemilik apotik.

“Tidak perlu!” teriak si Gadis. Dan secara reflesk Asa langsung berteriak juga kepada si Pemilik Apotik. “Tidak perlu!”


Si Gadis dengan wajah cemberut, mengatai bagaimana si Asa berjalan. Lalu dia membawa jeruk- jeruknya dan pergi. Dan Asa tersenyum melihat itu.



Sesampainya di toko. Yoi memperkenalkan Asa kepada Sri, langganan di toko mereka dari tempat jauh. Dan dengan sopan, Asa pun menyapa Sri. Lalu Yoi menanyakan darimana Asa tadi, dan Asa menjelaskan bahwa dia barusan dari Apotik membelikan obat untuk Ayah, dan sekarang dia kesini untuk mengambil teh.




“Kamu begitu pekerja keras ya. Ingin menjadi menantu sepupuku?” kata Sri. Dan Asa tertawa malu, karena di kiranya itu hanya bercanda.

“Siapa yang akan aku nikahi, bi Sri?” tanya Asa.

“Keponakan ku. Apa kamu ingat gadis di foto?” jelas Sri.

“Itu yang kamu bilang terlihat seperti bintang film,” tambah Yoi. Dan Asa pun ingat.



Si Gadis berbaju kuning barusan, Piangphen. Dia datang ke toko bersama dengan Ibunya, Somporn. Dan ternyata Piangphen adalah keponakan Sri, orang yang ingin dijodohkannya kepada Asa. Melihat itu, Yoi tersenyum, karena menurutnya Piangphen lumayan bagus.

“Halo,” sapa Asa dengan ramah. “Kami barusan bertemu didepan Apotik,” kata Asa.

“Oh, benarkah. Itu pasti takdir,” kata Sri. Sambil tertawa senang.



Asa tersenyum manis kepada Piangphen. Tapi Piangphen sama sekali tidak tersenyum.

No comments:

Post a Comment