Sunday, May 5, 2019

Sinopsis C-Drama : Unique Lady Episode 11 - part 2

0 comments


Network : iQiyi iQiyi

Xiu Wen mengobati tubuh Yi Yi yang terluka. Dan disaat itu, Pria bertopeng datang. Melihat itu, dengan emosi Xiu Wen langsung mendekatinya. “Aku telah memperingatkanmu. Jangan membuat dia melakukan hal yang berbahaya lagi,” teriak Xiu Wen.

“Mengapa? Kamu merasa bersalah? Jika bukan karena kamu, aku tidak akan melakukan rencana ini,” balas si Pria bertopeng.



Xiu Wen marah, karena Yi Yi adalah orangnya. Sehingga jika si Pria bertopeng bertindak sembarangan seperti ini, maka Pria bertopeng tidak akan pernah mendapatkan yang diinginkannya. Mendengar itu, si Pria bertopeng marah, tapi dia tidak berani melakukan apapun.


“Apa kamu pikir aku akan mati tanpamu? Dulu, siapa yang datang mencariku, dan meminta pertolongan untuk balas dendam? Dan siapa yang mengatakan, mereka akan melakukan apapun yang ku katakan. Tapi sekarang disini kamu mempertanyakan ku? Biar kuberitahu, jika bukan karena kamu masih berharga untukku, maka aku sudah membunuh mu sejak lama. Pangeran persia ku,” kata si Pria bertopeng, mengintimidasi. Dan Xiu Wen terdiam.



Si Pria bertopeng menjelaskan bahwa semakin hari Luo Jing dan Wu Mei semakin dekat. Dan itu bisa membuat kekuatan Perdana Mentri semakin bertambah. Tapi Xiu Wen malah tidak bisa melakukan apapun sendirian. Bahkan sekarang, Xiu Wen malah bersikap lunak terhadap pelayan kecil, yaitu Yi Yi. Jadi bagaimana bisa Xiu Wen memenuhi misinya. Dan karena itulah, maka si Pria bertopeng menyuruh Xiu Wen untuk tetap tinggal di tempat itu, dan merenung kan semuanya. Lalu dia pergi meninggalkan mereka.



“Ya. Kalau terlalu lemah lembut seperti ini. Bagaimana bisa aku mengembalikan sebuah bangsa? Apa yang harus ku lakukan?” pikir Xiu Wen, merenungkan.




Para pelayan menggosipi tentang hubungan Luo Jing dan Wu Mei yang sedari tadi belum ada keluar dari dalam kamar. Dan ketika Kepala Pelayan datang, mereka semua pun langsung diam. Namun saat melihat Kepala Pelayan yang juga tampak tertarik pada hubungan Luo Jing serta Wu Mei, mereka semua tertawa kecil.



Didepan cermin. Luo Jing mengeluhkan tentang Wu Mei yang semalam tertidur begitu lelap begitu saja, kepadahal dia sudah merasa sangat gugup dalam mempersiapkan dirinya. Tepat disaat itu, Wu Mei datang dan mengejutkannya, dengan tiba- tiba mengulurkan gunting kecil didepannya.

“Apakah kamu membutuhkan ini?” tanya Wu Mei.

“Siapa yang akan memotong rambut mereka, jika mereka tidak bisa menyisirnya dengan baik,”balas Luo Jing.



Wu Mei meletakan gunting kecil itu diatas meja rias. Lalu dia mengambil sisir yang sedang Luo Jing pegang dan menyisirkan rambut Luo Jing. Dan merasakan itu, Luo Jing bertanya- tanya, mengapa Wu Mei menjadi begitu perhatian dan lembut padanya, tidak seperti biasanya.



“Aku... punya pertanyaan,” kata Wu Mei dengan pelan, memulai pembicaraan. “Aku... kemarin malam, ketika aku mabuk. Apa kita ada melakukan ‘itu’?” tanya  Wu Mei, pelan.

“Aih, kamu masih bisa bicara. Itu semua salah kamu,” keluh Luo Jing dengan kesal, mengingat Wu Mei yang malah ketiduran duluan semalam.



Zhang Ji datang, dan dengan sikap jaim, Wu Mei pun langsung berhenti menyisiri rambut Luo Jing. Dan bertanya ada apa. Lalu Zhang Jin pun memberitahu bahwa hari ini adalah hari untuk berkunjung ke rumah Fei Yu. Dan Wu Mei pun mengerti, lalu dia menyuruh Zhang Ji untuk mempersiapkan semuanya.

“Jadi kemarin malam, apa kami ada melakukan ‘itu’?” pikir Wu Mei, masih penasaran.



Luo Jing berdandan dengan cantik. Dan menemui Wu Mei yang telah menunggu. Lalu dengan mesra dia menggandeng lengan Wu Mei. Dan mereka pun berangkat bersama ke kediaman Perdana Mentri, Fei Yu.




Sesampainya di kediaman Fei Yu. Mereka berdua memberikan hormat dengan sopan yang telah menantikan mereka. Dan dengan gembira Fei Yu menyambut mereka berdua, tapi dia merasa heran ketika tidak melihat Xiu Wen ikut datang. Jadi Fei Yu pun bertanya. Dan Luo Jing dengan bingung memperhatikan sekelilingnya, lalu dia menjawab bahwa dia telah mengusir Xiu Wen.

Mengetahui hal itu, Fei Yu tampak marah dan bingung. “Kamu yang memilihnya untuk menemanin mu setelah kamu menikah. Bagaimana bisa kamu melepaskannya begitu saja?”



Wu Mei maju mendekati Fei Yu dan memberitahu bahwa dialah yang telah mengusir Xiu Wen. Dan mendengar itu, Fei Yu langsung tertawa dan bersikap sopan. “Liu Xiu Wen pasti ada melakukan kesalahan ya. Jadi Yang Mulia membuat keputusan seperti itu. Silahkan masuk kedalam Yang Mulia,” katanya dengan ramah.



Kedua saudara Luo Jing datang mendekati Luo Jing. Mereka membangga- bangga kan suami mereka, dan hampir bertengkar gara- gara itu. Dan Luo Jing pun langsung menengahi dan menghentikan mereka berdua. Lalu dia pun pergi meninggalkan mereka bersama dengan Xi Que.
Dan setelah Luo Jing pergi, mereka berdua kembali bertengkar, membanggakan suami mana yang lebih baik.



Diruangan pertemuan. Luo Jing duduk sambil bertopang dagu, dan karena merasa sangat ngantuk dia pun tertidur. Dan hampir saja, dia jatuh mengenai meja. Untungnya, Wu Mei dengan segera menopang dagunya.

“Jika kamu ngantuk, maka silahkan kembali ke kamar dan beristirahat,” kata Wu Mei dengan lembut. Dan Luo Jing tersenyum.



Luo Jing kemudian mengundurkan diri kepada Fei Yu. Dan pergi bersama dengan Xi Que untuk kembali ke dalam kamar. Aementara Wu Mei tetap berada di dalam ruangan untuk mengobrol bersama dengan Fei Yu.

Fei Yu mengatakan bahwa dia merasa sangat bahagia melihat Wu Mei dan Luo Jing yang hubungan nya harmonis dan saling menghormati satu sama lain. Dan mendengar itu, Wu Mei tersenyum. Lalu tiba- tiba saja, Fei Yu kembali berbicara dengan membawa nama Ibu Wu Mei.



“Jika Yang Mulia Permaisuri yang terdulu masih hidup, dan melihat ini, dia pasti akan sangat bahagia. Sayangnya...” kata Fei Yu, seolah sedih.

“Ayah mertua. Apa ada perkembangan dari masalah Ibuku?” tanya Wu Mei, serius.

“Pada tahun itu, setiap orang yang tau apapun, semuanya dihukum mati. Aku masih ingat, Pelayan yang melayanin ku saat itu, Xiao Cui, dia memiliki adik kecil, Xiao Die. Kebetulan, dia adalah pelayan Yang Mulia Permaisuri terdahulu. Dia bilang, Yang Mulia Kaisar dan Yang Mulia Permaisuri terdahulu sangat saling mencintai. Jadi tidak ada alasan mengapa dia bunuh diri dengan  menggantung dirinya sendiri,” kata Fei Yu, bercerita.



Dengan serius, Wu Mei mendengarkan dan berpikir. Lalu Fei Yu melanjutkan ceritanya, dia mengatakan bahwa setahunya sebelum Yang Mulia Permaisuri terdahulu meninggal, dia ada terlibat bertengkaran  dengan almahun Ratu. Itu yang dikatakan Xiao Die.

“Almahun Ratu? Ibu Zhong Shi Li? Kemudian apa pelayan Xiao Die, ada menyebutkan sesuatu yang lebih terperinci?” tanya Wu Mei.

“Apa yang terjadi tahun itu, orang tua ini tidak bisa mengingatnya dengan jelas lagi,” jawab Fei Yu. Sengaja.

Wu Mei kemudian menanyakan alamat terakhir Xiao Cui berada. Dan tanpa menjawab, Fei Yu malah menghela nafas, seolah dia memang tidak ingat lagi.



“Ayah mertua sangat peduli dengan masalah transportasi. Tapi aku benar- benar sangat sibuk akhir- akhir ini. Aku bertanya- tanya, apa Ayah mertua mau mengambil tempatku untuk mengurusi masalah transportasi?” tanya Wu Mei memberikan penawaran. Dan Fei Yu tertawa.

“Ini adalah tanggung jawab yang serius Yang Mulia. Bagaimana bisa orang tua ini? Tidak mungkin, tidak mungkin,” kata Fei Yu, bermain tarik- ulur.



Wu Mei terpancing, dan menawarkan lagi tawaran tersebut kepada Fei Yu. Dan kali ini, Fei Yu langsung menerimanya. Namun dia menerima tawaran itu dengan sikap, seolah dia memang mau membantu Wu Mei, bukan karena ada maksud yang lan.

“Kemudian, mengenai masalah Ibuku. Aku harap Ayah mertua akan memikirkannya,” kata Wu Mei. Sambil memberikan hormat.

“Permasalah itu akan diselidiki sampai ke akarnya,” balas Fei Yu. Lalu dia tersenyum senang.

No comments:

Post a Comment