Sunday, May 5, 2019

Sinopsis C-Drama : Unique Lady Episode 11 - part 3

1 comments
Network : iQiyi iQiyi
Luo Jing mengeluhkan sikap Fei Yu yang tampak lebih merepotkan, daripada kedua saudaranya. Lalu tiba- tiba Luo Jing teringat bahwa di kediaman ini, ada dua kuda yang baru dibeli, dan dia ingin mencobanya. Namun Xi Que menahannya, dan berpura- pura sakit perut.

“Berhenti berpura- pura!” Kata Luo Jing menyadari hal itu.


“Nona. Nona. Sebenarnya, Xi Que takut kuda. Dulu waktu masih kecil, Xi Que pernah ditendang oleh kuda. Itu benar- benar menakutkan, Nona,” jelas Xi Que. Sambil meminta agar Luo Jing jangan pergi.

“Baiklah. Baiklah. Aku akan pergi sendiri,” balas Luo Jing, menenangkannya. Lalu dia berjalan pergi dengan cepat.



Didalam kamar. Wu Mei memperhatikan seluruh isi kamar Luo Jing yang tampak tidak terlalu buruk. Lalu kemudian karena merasa sangat capek, maka dia pun berniat untuk tidur di kasur Luo Jing. Tapi pada saat dia mau memperbaiki letak bantal, dia malah tanpa sengaja menemukan dua buku terlarang milik Luo Jing. Dan karena tidak tahu buku apa itu, maka Wu Mei pun membuka dan membaca nya. “Siapa yang sangka, kamu membaca buku sejenis ini,” gumam Wu Mei sambil terus membaca.



Luo Jing bermain- main ditaman. Menangkap belalang, dan kemudian tanpa sengaja melepaskannya lagi. Dan ketika seekor ular muncul di dekatnya, dia langsung menjerit dan menjauh. “Belalang, kemudian ular. Dimana kudanya?” gumam Luo Jing, bertanya- tanya.


Tepat disaat itu, tampak seorang pengawal Fei Yu datang. Sehingga Luo Jing pun langsung bersembunyi di dekat pohon- pohon bambu. “Leng Wu Xie. Apa yang dilakukannya secara diam-diam disini?” gumam Luo Jing, terus memperhatikan.



Fei Yu datang menemui Wu Xie yang telah menunggu di dekat jembatan. Fei Yu menanyakan apakah semuanya telah diurus, dan Wu Xie menjawab iya. Lalu Fei Yu bertanya lagi, berapa banyak orang yang Wu Xie atur disamping ‘dia’. Dan Wu Xie menjawab bahwa sekarang semua orang yang melayanin ‘dia’ ada dipihak mereka. Mendengar itu, Fei Yu merasa puas.

“Kamu masih menjadi satu-satunya orang yang bisa melakukan pekerjaan mu dengan baik, tanpa membuatku khawatir. Sangat bagus. Segalanya telah di persiapkan. Semua yang kita perlukan adalah angin timur*,” kata Fei Yu.

*maksudnya satu hal penting yang masih kurang untuk menyelesaikan rencana


Luo Jing berusaha menajamkan pendengarannya untuk mendengarkan semua pembicaraan Fei Yu dan Wu Xie tersebut.



Wu Xie memberitahu Fei Yu agar mereka lebih memperhatikan Yang Mulia Jing Yuan, karena tampaknya dia memiliki sesuatu yang ditutupi. Dan Fei Yu paham, lalu dia menanyakan apakah Wu Xie sudah menemukan keberadaan Xiu Wen.

“Belum. Aku masih melanjutkan pencarian,” kata Wu Xie.

“Jangan pikirkan. Jika dia menghilang, maka lupakan saja. Pengawal kecil seperti dia, tidak akan memberikan dampak apapun. Oh ya, jangan cuma mengatur orang disamping ‘dia’, tapi orang yang berada didalam istana juga harus diatur dengan baik,” jelas Fei Yu.

“Aku mengerti.”

“Zhong Shi Li. Hari kematianmu sudah hampir tiba,” gumam Fei Yu.


“Zhong Shi Li. Bukankah ini nama Kaisar? Apa Ayahku mencoba untuk memberontak?” pikir Luo Jing dengan cemas, menyadari itu.

“Lin Luo Jing. Jika putrimu mengetahui apapun. Apa yang harus dilakukan?” tanya Wu Xie. Mendengar itu, Luo Jing langsung kembali mendengarkan dengan serius.

“Sama seperti sebelumnya. Bunuh dia tanpa bekas,” jawab Fei Yu. Lalu dia pergi.



Luo Jing merasa terkejut, dan tanpa sengaja membuat suara. Mendengar itu, Wu Xie langsung terbang ke arahnya. Namun untungnya, Hua Hua datang tepat waktu dan menolongnya. Hua Hua menarik tangannya dan membawa Luo Jing bersembunyi di tempat lain.



“Terima kasih sudah menolongku, Xiao Hua Hua,” kata Luo Jing dengan lega sambil tersenyum.

“Selama kamu dalam bahaya. Aku tidak akan membiarkannya tanpa mengambil tindakan,” balas Hua Hua.

Luo Jing bertanya-tanya mengapa karakter Hua Hua sangat misterius. Selalu muncul dan hilang ntah kemana begitu saja. Dan Luo Jing pun bertanya. Tapi Hua Hua langsung menyuruh agar Luo Jing tidak berbicara dulu, karena sangat berbahaya disini.



Hua Hua kemudian mendorong agar Luo Jing pergi duluan dari sana. Lalu dia menghadapi Wu Xie selama sesaat. Kemudian setelah itu, dia terbang dan pergi.



Fei Yu datang karena mendengar pertarungan itu, dan bertanya. Lalu  Wu Xie pun langsung menjelaskan bahwa dia merasa ada yang menguping pembicaraan mereka barusan. Dan dia melaporkan bahwa tadi sepertinya dia melihat sosok Luo Jing yang berlari pergi. Dan juga ada orang lain, tapi orang lain itu telah melarikan diri.

“Cepat kirim orang untuk mencari secara hati- hati,” perintah Fei Yu.


Luo Jing masuk ke dalam kamar. Dan ketika melihat Wu Mei yang sedang membaca buku terlarangnya, dia langsung mengomel dan ingin mengambil kembali bukunya. Tapi Wu Mei tidak mau memberikannya. Jadi Luo Jing pun menyerah dan duduk disebelah Wu Mei.


“Permaisuriku. Mengapa kamu membaca buku seperti ini?” tegur Wu Mei. Memukul pelan kepala Luo Jing menggunakan buku itu.

“Kembalikan padaku!” rebut Luo Jing dengan cepat.




Tepat disaat itu, terdengar suara Fei Yu yang memanggil namanya. Sehingga Luo Jing merasa panik. Dan tanpa berpikir panjang, dia langsung mendorong Wu Mei di tempat tidur, dan melepaskan dengan paksa seluruh pakaian Wu Mei.

“Xiao Jing. Xiao Jing,” keluh Wu Mei sambil mempertahankan pakaiannya yang mau dibuka.

“Jangan bicara. Jangan bicara,” balas Luo Jing. “Lepaskan!”



Fei Yu membuka pintu kamar. Dan melihat itu, Luo Jing langsung berbaring diatas tempat tidur. Dia memakai selimut menutupi seluruh tubuhnya, dan Wu Mei.

Wu Mei lalu bangkit dari tempat tidur sambil memperbaiki pakaiannya. “Ayah mertua, ada masalah apa?” tanya Wu Mei.




“Seperti ini, Yang Mulia. Apa barusan, Anda ada mendengar sesuatu yang aneh, atau seseorang yang terlihat mencurigakan?” tanya Fei Yu sambil memperhatikan Luo Jing.

“Aku tidak melihatnya,” jawab Wu Mei. Dan Luo Jing merasa sedikit lega.

1 comment: