Saturday, May 4, 2019

Sinopsis Korean Drama : Beautiful World Episode 09 – 2

1 comments

Sinopsis Korean Drama : Beautiful World Episode 09 – 2
Images by : jTBC
Pagi-pagi, 
Moo Jin pergi ke rumah Dong Soo dan Dong Hee. Dia meletakkan bekal di depan rumah mereka, dan setelah itu dia langsung pergi.

Dong Soo dan Dong Hee menemukan kotak bekal itu dan juga memo : Makanlah yang benar agar bisa berjuang. Kunyah yang baik dan habiskan semuanya. Aku tidak suka makanan bersisa – dari wali kelasmu.
Dong Soo tersenyum membaca memo tersebut. Dong Hee juga tersenyum dan merasa kalau Moo Jin pasti bangun pagi-pagi untuk mengantarkan semua ini.
--
In Ha bangun terlambat. Dan dia sudah panik karena belum menyiapkan sarapan. Tapi, begitu keluar dari kamar, di meja makan sudah terhidang banyak makanan. Dia jelas heran, apa Moo Jin yang memaksa semua ini? Tapi kan kulkas mereka sudah kosong.
“Lauk pauk ini dibuat orang lain. Tapi aku yang membuat supnya,” jawab Moo Jin.
“Kamu membeli lauk pauknya?” tebak In Ha.
Moo Jin tidak menjawab apapun dan hanya menyuruh In Ha untuk duduk dan makan. Tidak lama, Soo Ho keluar dari kamar. Mereka mulai sarapan bersama sambil sesekali bercanda. Tapi, candaan itu hanyalah untuk menutupi kesedihan mereka karena Sun Ho tidak ada di sana.
--
Ibu In Ha ada di rumah sakit dan sedang membersihkan tubuh Sun Ho. Dia menyeka tubuh Sun Ho sambil menangis dan berharap agar Sun Ho segera sadar.
--
Moo Jin sudah selesai sarapan dan sedang berada di dalam kamarnya. Dia menelpon ibu In Ha dan memberitahu kalau In Ha sudah menghabiskan semangkuk nasi. Dia juga menyuruh Ibu In Ha untuk tidak repot-repot membawakan mereka makanan dan memintanya untuk mampir ke rumah.
In Ha mendengarnya dari luar kamar, dan tampak kalau dia merasa bersalah karena sebelumnya sudah memarahi ibunya, tapi ibunya masih mempedulikannya.
--
Di sekolah,
Saat Jin Woo masuk ke dalam ruang guru, dia mendengar Sang Bok yang sedan berteleponan dan marah-marah. Dia jelas heran dan bertanya pada Kang Ho, dengan siapa Sang Bok lagi teleponan? Kang Ho berbisik menjawab kalau sepertinya dengan wartawan.
Wartawan yang sedang teleponan dengan Sang Bok adalah Reporter Choi. Dia hendak menulis artikel mengenai kasus Sun Ho, dan juga mengenai Sun Ho yang sepertinya adalah Ketua gang. Apalagi banyak hal yang janggal. Sang Bok jelas kesal dan mengancam akan mengambil jalur hukum jika reporter Choi sempat mempublikasikan artikel tersebut.
Selesai teleponan dengan Sang Bok, Reporter Choi melihat Moo Jin yang memasuki gedung kantor polisi.

Di dalam, Moo Jin menemui det. Park dan menunjukkan video CCTV tersebut dan juga mereka kalau saksi mata berkata melihat mobil mirip di rekaman CCTV terparkir di gerbang belakang sekolah. det. Park langsung memerintahkan det. Kim untuk mengambil data model mobil dan pelat nomor Seo Eun Joo. Dan pelat nomor itu pasti atas nama yayasan sekolah, nama suaminya.
“Menurut kami Seo Eun Joo juga berada di TKP malam itu,” ujar Moo Jin.
“Kita identifikasi mobilnya dahulu,” ujar det. Park.
--

Eun Joo berada di rumah dan terus mondar mandir ketakutan. Apalagi teringat peringatan Jin Pyo agar dia tidak pergi meminta maaf pada keluarga Sun Ho.
Saat itu, bel rumahnya berbunyi.
--

Det. Kim sudah memeriksa dan melapor kalau mobil itu terdaftar atas nama Yayasan Seah.
“Bisakah kita mengecek CCTV mobilnya?” tanya Moo Jin.
“Jika rekamannya sudah tertimpa rekaman baru, tidak bisa dipulihkan,” ujar det. Kim.
“Setidaknya kita bisa cek dahulu.”
“Kita tidak bisa mencurigainya hanya karena mobilnya melewati sekolah,” ujar det. Kim lagi.
“Dia lewat tepat di saat insiden itu terjadi. Ada saksi mata yang bahkan melihat mobil itu diparkir. Oh Joon Seok berada di mobil Seo Eun Joo. Dan kamu tahu Oh Joon Seok berkaitan dengan kasus ini,” ujar Moo Jin dengan suara keras.
“Tapi itu hanya spekulasimu,” balas det. Kim.
“Polisi ini sebenarnya bisa apa? Kalian bahkan tidak melihat mobil Seo Eun Joo melintas dari CCTV ini, bahkan kalian tidak tahu ada saksi mata di dekat gerbang belakang itu. Bicara dengan anak-anak itu hanya formalitas. Dan kalian terus bilang kita butuh lebih banyak bukti dan tidak pernah berusaha mendengar pihak korban,” marah Moo Jin.
“Saat itu, kami tidak punya dasar untuk menginvestigasi,” balas det. Park.
“Mungkin aku diam sampai sekarang, tapi bukan itu masalahnya. Jika cara kerja polisi terus seperti ini, aku akan berusaha sendiri sebisaku termasuk memanfaatkan media untuk menyelesaikan kasus ini,” putuskan Moo Jin.
“Aku akan memeriksa kotak hitam mereka. Aku juga akan memeriksa CCTV di dekat rumah Oh Joon Seok. Aku melakukan ini bukan karena ancaman Anda. Tapi memang tidak ada alasan untuk investigasi sampai sekarang. Jika kita memeriksa dengan gegabah karena adanya kesaksian, kami akan terkena dampak buruknya. Aku akan menemui Seo Eun Joo karena kini sudah punya alasan untuk bicara dengannya. Tapi kejadian ini sudah lama berlalu. Seperti yang Detektif Kim bilang, mungkin rekaman kotak hitam itu sudah tidak ada.”
“Kamu bisa cek catatan telepon Seon Eun Joo dan Oh Joon Seok?”
“Catatan telepon termasuk dalam UU Perlindungan Informasi Pribadi. Sudah kubilang aku perlu surat perintah untuk memeriksanya. Aku tidak bisa meminta penyidikan ulang. Tapi aku berjanji akan memintanya begitu menemui yang mencurigakan,” janji det. Park. Dan det. Kim tampak kesal dengan hal itu.
--
Saat Moo Jin keluar dari kantor polisi, reporter Choi langsung menghampirinya.
--

In Ha lah yang ternyata datang ke rumah Eun Joo. Dia memberikan uang untuk tagihan rumah sakit Sun Ho. Dia memberikannya langsung ke Eun Joo karena rumah sakit tidak mau menerimanya karena larangan Eun Joo.
Eun Joo masih terus berpura-pura tidak bersalah, dan bertanya cara agar In Ha bisa mempercayainya. Mereka kan sudah lama mengenal, dan dia pun merasa menderita sama seperti In Ha.
“Aku hampir lupa bahwa manusia itu tidak berubah. Saat SMA dahulu kamu bersikap baik di depanku. Tapi itu hanya kedok agar kamu terlihat baik. Kamu penuh kepura-puraan dan munafik. Kamu seperti boneka yang terkungkung di balik kaca toko. Saat kita bertemu lagi setelah kamu punya anak, kukira kamu sudah banyak berubah, aku agak iri kepadamu karena kamu terlihat kaya dan santai. Tapi aku salah. Kamu belum berubah sama sekali,” ujar In Ha.
“Kamu pun tidak ada bedanya,” balas Eun Joo. “Kamu masih sama seperti dahulu. Dahulu kamu keras kepala dan merasa selalu benar. Dan kini kamu masih saja begitu.”
“Kamu benar. Aku memang keras kepala. Tapi setidaknya, aku tidak berbohong.”
Eun Joo ikut berkata kalau dia tidak berbohong. Dan In Ha langsung mengajukan pertanyaan, apa benar Eun Joo langsung kembali ke rumah setelah dari tempat les? Lewat rute mana?
“Aku tidak perlu menjawab pertanyaan itu,” jawab Eun Joo.
“Perlu kuberi tahu kenapa kamu tidak bisa menjawab pertanyaanku? Kamu di sana di hari dan jam yang sama saat Sun Ho jatuh. Entah sebanyak apa keterlibatanmu pada insiden itu, tapi yang jelas kamu ada di sana.”
“Imajinasi yang sangat buruk, dan kamu membahasnya seolah itu bukan masalah besar,” bantah Eun Joo.
“Karena kenyataannya itu lebih buruk dari yang bisa kubayangkan. Kamu seorang ibu. Jadi, mungkin kamu hanya ingin melindungi Joon Seok,” teriak In Ha.
“Kurasa aku akan gila jika terus mendengar ocehanmu. Kamu harus pergi.”
“Kamu… keliru. Kamu bukan melindungi Joon Seok dengan menyembunyikan kebenarannya. Kamu justru akan menjebloskannya ke lubang neraka.”
“Kamulah yang keliru. Kamu merasa bersalah karena gagal melindungi Sun Ho. Tapi kamu harus berhenti menyalahkanku.”
In Ha lelah bicara dengan Eun Joo yang masih terus menyangkal. Sebelum pergi dia berkata pada Eun Joo, “Kamu masih bisa tidur nyenyak? Aku tidak bisa tidur nyenyak. Bagaimana denganmu? Pasti kamu juga merasa sangat kacau.”
Eun Joo masuk ke dalam kamarnya, dia menghela nafas berulang kali dan menangis. Tangis penuh ketakutan.
--
Rep. choi memberitahu Moo Jin kalau Soo Ho menemuinya.
“Dia bilang dia akan memberi tahu keluarganya jika aku mengabarinya sebelum artikel itu terbit. Tapi aku merasa kamu harus kukabari lebih dahulu.”
“Kamu akan membuat artikel?” tanya Moo Jin.
“Tentu saja. Tapi aku tidak akan menulisnya jika kamu tidak setuju. Aku ingin menulisnya untuk menolong korban. Tapi jika keluarga korban tidak menginginkannya, aku tidak akan menulisnya. Setelah aku bicara dengan Soo Ho, aku menjadi yakin bahwa putramu tidak mencoba bunuh diri. Jadi, aku bertanya kepada orang-orang. Tapi memang tidak mudah untuk menemukan buktinya. Aku tidak bisa mewawancarai staf sekolah atau para perisak. Sepertinya akan butuh waktu lama untuk menemukan bukti itu. Jadi, aku ingin menulis artikel berdasarkan faktanya,” jelas reporter Choi.
“Berapa banyak informasi yang kamu maksud?”
“Semua yang terjadi sampai sekarang. Jika artikel ini diterbitkan, kamu akan mampu menarik perhatian masyarakat. Dan investigasi ulang bisa dilakukan lebih cepat dari yang seharusnya.”
“Bisa kirimkan artikelnya kepadaku sebelum diterbitkan?” tanya Moo Jin.
“Tentu saja.”
“Mulailah menulis,” setujui Moo Jin.
“Baik. Dan satu lagi. Ini hanya dugaanku saja. Tapi sepertinya ada banyak orang yang terlibat dalam kasus ini. Jadi, mungkin kasus ini akan buntu jika orang yang ingin menyembunyikan kasus ini lebih banyak dari kalian.”
“Aku tidak akan biarkan itu. Apa pun yang terjadi, aku tidak akan menyerah. Aku akan perjuangkan kebenarannya sampai darah terakhir,” tekad Moo Jin.
“Jika sebesar itu kegigihanmu, aku akan berusaha keras menolong,” janji Reporter Choi.
--
Jin Pyo mendapat telepon dari Eun Joo yang memberitahu kalau detektif bilang akan datang ke rumah mereka. Eun Joo menduga kalau mungkin detektif ingin menanyakan mengenai Joon Seok karena mendapatkan laporan, tapi mereka tidak memberitahu detail-nya. Dan juga In Ha baru datang dan yakin dia berada di TKP.
“Bagaimana jika mereka menemukan bukti?” tanya Eun Joo takut.
“Tidak mungkin. Seandainya ada, aku pasti sudah tahu. Tidak ada barang bukti apapun, jadi, jangan gugup. Aku akan segera ke rumah, jadi, jangan berbohong. Kita bisa celaka.”
Usai menelpon Jin Pyo, Eun Joo lagi-lagi meninum obat penenang. Dia menyakinkan dirinya sendiri kalau semuanya akan baik-baik saja.
Sementara Jin Pyo, dia menelpon seseorang. Sepertinya petinggi polisi.
--
In Ha dan Moo Jin memindahkan Sun Ho ke rumah sakit lain.
--
Seok Hee ke toko Hoho dan dia mendengar dari Joon Ha kalau Sun Ho di pindahkan ke rumah sakit lain. Seok Hee jelas jadi bingung dan penasaran, kenapa harus di pindahkan padahal kan rumah sakit yang sekarang fasilitas dan dokternya bagus. Joon Ha tidak menjelaskan apapun.
“Omong-omong, kamu sudah dengar kabar dari Kyung Seon (ibu Sung Jae) lagi?” tanya Seok Hee.
“Belum.”
“Dia bukan tipe orang yang diam saja.”
“Memangnya dia mau berbuat apa lagi? Aku tidak takut dengan orang-orang seperti dia,” jawab Joon Ha. Dan Seok Hee tersenyum mendengarnya.
--
Ibu Sung Jae bersama suaminya mengajak Ibu Ki Chan dan suami-nya untuk bertemu. Hal ini karena wartawan menelpon mereka. Ibu Sung Jae dan suaminya ingin mengajak keluarga Ki Chan untuk bekerja sama mencegah terbitnya artikel yang aneh. Mereka harus mencocokkan cerita mereka dulu.
Ayah Ki Chan dengan bahasa banmal berkata untuk mengabaikan saja para wartawan yang menelpon. Jika mereka menulis artikel aneh, tuntut saja dengan pencemaran nama baik. Ibu Sung Jae tidak suka ayah Ki Chan bicara banmal pada suaminya. ayah Ki Chan kesal dan berkata kalau dia setahun lebih tua. Ayah Sung Jae langsung menenangkan suaminya agar tidak ribut.
Ibu Sung Jae kemudian bertanya, apa alasan ibu Ki Chan memberitahu pertemuannya dengan orang tua siswa hari itu pada Joon Ha? Ibu Ki Chan dengan kesal menjawab kalau itu karena ibu Sung Jae mengadakan pertemuan tanpa mengajaknya.
Ayah Sung Jae melerai pertengkaran mereka. Dan menyuruh untuk membahas masalah anak mereka terlebih dahulu. Eh, tapi dia dan ayah Ki Chan malah bertengkar karena saling menuntut permintaan maaf. Akhirnya, pertemuan itu berakhir tanpa hasil apapun.
--
Soo Ho ke ruang guru untuk melapor pada guru Ham kalau dia sudah selesai bersih-bersih. Saat dia mau keluar ruang guru, dia melihat Kang Ho yang membawa masuk Dong Hee menemui Sang Bok.
Soo Ho menunggu di depan ruang guru dengan cemas. Dan tidak lama, dia melihat Jin Woo yang berjalan terburu-buru kembali ke ruang guru. Dong Hee berusaha menahan tangisnya.
Di dalam ruang guru, Sang Bok memarahi Dong Hee yang sudah memberitahu orang tua Sun Ho kalau bertemu Sun Ho di hari kejadia. Harusnya, Dong Hee memberitahu hal itu pada guru terlebih dahulu. Dia memarahi Dong Hee yang telah berbohong dan memfitnah teman sendiri.
“Aku tidak berbohong,” jawab Dong Hee.

Tapi Sang Bok terus memarahinya dan bahkan membahas masalah Dong Hee di sekolah lama. Dong Hee hanya bisa menunduk menerima semua amarah Sang Bok. Saat itu, Jin Woo masuk dan langsung membentak Sang Bok. Dia memarahi Sang Bok karena telah memarahi muridnya. Jin Woo juga berteriak menyuruh Dong Hee untuk kembali ke kelas.

Dong Hee akhirnya di biarkan keluar ruang kelas. Dan Soo Ho langsung menghampirinya.
Di dalam, Sang Bok masih bertengkar dengan Jin Woo. Dia berkata kalau masalah ini timbul karena Jin Woo tidak mampu mengontrol murid-muridnya. Sang Bok bahkan menyuruh Jin Woo untuk segera menyiapkan surat permintaan maaf karena dia akan melaporkan masalah ini ke Kepala Sekolah.
“Apa kesalahan Dong Hee?” tanya Jin Woo, emosi.
“Dia memfitnah teman sekelasnya dan membuat keributan,” jawab Sang Bok, berteriak.
“Memfitnah temannya dan membuat keributan. Itu hanya pendapat Anda saja. Dia cuma mengatakan yang sebenarnya semua yang dia tahu,” balas Jin Woo, berteriak.
“Dia sudah menyebarkan kebohongan!”
“Dari mana Anda tahu itu bohong atau bukan?”
“Hanya dia yang membuat tuduhan seperti itu!” Sang Bok masih ngotot!
“Berapa banyak kesaksian yang kami butuhkan agar Anda yakin? Sepuluh? Seratus? Atau perlu satu sekolah ini? Bagaimana jika hanya Dong Hee yang mengatakan sebenarnya?”
“Kamu meragukan penilaianku?”
“Kita mengajari mereka untuk tulus, berani, dan bersikap jujur. Tapi sekolah dan para gurunya malah menyuruh diam dan menegur di saat mereka ingin bicara.”
“Aku tidak begitu. Kamu pikir aku sedang mencari aman? Aku melakukan ini demi sekolah.”
“Tanpa anak-anak, tidak akan ada sekolah ini. Dan tidak ada guru.”
Sang Bok benar-benar marah dan menyuruh Jin Woo untuk menunggu saja akibatnya. Dia keluar ruangan dengan membanting pintu.
--
Soo Ho dan Dong Hee berjalan pulang bersama. Soo Ho tampak kesal, dan Dong Hee berkata kalau dia baik-baik saja. Soo Ho kesal karena ucapan Sang Bok pada Dong Hee.
Dong Hee merasa baik-baik saja karena Jin Woo membelanya dan Soo Ho juga membelanya. Dia benar-benar baik-baik saja.
“Kamu sama jahatnya (terlalu baik) dengan kakakku. Jika mereka begitu lagi terhadapmu, langsung katakan ke mereka,” ujar Soo Ho.
“Beri tahu apa?”
“Semua yang ingin kamu katakan.”
Dong Hee tersenyum. Dia kemudian bertanya Soo Ho hendak membawanya kemana? Soo Ho hanya menyuruh Dong Hee untuk ikut saja dengannya.
--
Detektif Park dan Kim sudah berada di rumah Eun Joo. Jin Pyo juga sudah pulang. Dan mereka langsung bertanya, kalau CCTV dan saksi mengatakan melihat mobil Eun Joo menuju gerbang belakang sekolah di hari kejadian.
“Apa ini penyelidikan resmi?” tanya Jin Pyo.
“Bukan. Ini tidak resmi dan kami tidak punya surat perintah. Jadi, Anda boleh tidak menjawab jika memang tidak berkenan. Tapi kami hanya ingin memastikan karena ada laporan.”
“Tentu saja kami bisa menjawab pertanyaanmu. Tapi aku merasa ini seperti menyudutkan,” ujar Jin Pyo.
“Maaf jika kalian merasa begitu.”
“Tapi kita tetap harus bisa bekerja sama. Lagi pula, ini soal murid di sekolah kami. Jawab saja pertanyaan mereka,” ujar Jin Pyo.
“Aku menjemput Joon Seok dari tempat les dan pulang.”
“Aku yakin ada rute yang lebih dekat dari tempat les ke rumah Anda.  Jadi, kenapa Anda harus lewat sekolah?”
“Aku sudah sering lewat rute itu. Jalanan di sana lengang, dan tidak banyak lampu merah. Jadi, terkadang lewat sana justru lebih cepat tiba di rumah.”
“Anda memarkir mobil Anda di gerbang belakang?” tanya det. Park, lagi.
“Tidak.”
“Lantas, kenapa Anda ke gerbang belakang? Di sana jalan buntu.”
“Joon Seok dan aku sedang mengobrol soal pelajarannya. Dan tanpa sengaja aku membelok kiri, seharusnya belok kanan.”
“Dia sering membuat kesalahan seperti itu,” bela Jin Pyo. “Jika perlu, kalian boleh mengambil CCTV mobilnya untuk diperiksa.”
“Benarkah? Kami akan kembalikan CCTV-nya begitu kami selesai memeriksanya.”
“Aku akan kabari sopirnya. Kalian bisa langsung membawanya.”
Dan usai bertanya, mereka mampir untuk pulang. Diluar, det. Kim menggerutu dan bertanya apa det. Park benar-benar mempercayai orang tua Sun Ho? Belum menjawab, det. Park sudah mendapat telepon dari ‘Pengawas’. Det. Park bisa menduga kalau Jin Pyo yang pasti menelpon pengawas itu, dan karena itu dia malas mengangkatnya. Dia lebih memilih untuk mengambil kamera blackbox di mobil Eun Joo.
--
Moo Jin berada di sebuah restoran.
Flashback
Moo Jin menemui Dong Soo dan memberitahu kalau dia sudah menemui guru di sekolah lama Dong Hee, dan para murid di sana sudah menulis surat perjanjian tidak akan membully Dong Hee lagi. Jadi, Dong Hee tidak perlu khawatir lagi. Dia juga sudah meminta Jin Woo untuk mengawasai Dong Hee.
Dong Soo menundukkan kepala dalam-dalam dan berterimakasih. Moo Jin tertawa melihat Dong Soo yang bersikap sangat formal padanya dan membuatnya canggung.
“Guru Park, Dong Hee bilang CCTV pada malam itu rusak. Benarkah itu?” bahas Dong Soo, tiba-tiba.
“Ya. Kenapa memangnya?”
“Sepertinya Bapak bisa menemukan jawabannya dengan mudah.”
“Apa maksudmu?”
“Bapak yakin Sun Ho tidak bunuh diri. Kalau begitu ada yang menghilangkan rekaman CCTV itu dengan sengaja. Dan hanya satu orang yang bisa menghilangkannya sebelum polisi tiba. Satu orang?  Orang yang menemukan Sun Ho dan menghubungi nomor darurat.”
End


Dan itulah mengapa Moo Jin mengajak Dae Gil untuk bertemu. Dan sepertinya, Dae Gil pun di ikuti oleh seseorang (mungkin orang suruhan Jin Pyo).
--
In Ha berada di rumah sakit. Dia menelpon Soo Ho karena mendapatkan laporan dari akademi kalau Soo Ho tidak datang les hari ini. Kemana Soo Ho?
“Ada yang lebih penting daripada les. Nanti kuceritakan. Aku tidak akan pulang terlambat. Jangan cemas. Aku bersama Dong Hee,” jawab Soo Ho.
Dia dan Dong Hee berada di depan rumah Da Hee, mengintai. Soo Ho yakin kalau Da Hee menyembunyikan sesuatu dan ada hubungannya dengan Joon Seok.
--
Sementara itu, Jin Pyo membakar rekaman yang berisi pertemuan Sun Ho dan Joon Seok.
--
Moo Jin bicara dengan Dae Gil. Dia membuka pembicaraan dengan berterimakasih pada Dae Gil karena sudah menemukan Sun Ho hari itu dan melapor cepat ke 911 hingga Sun Ho masih bisa di selamatkan.
“Istriku dan aku berpikir Sun Ho jatuh karena ada yang mendorong dia dari atap. Tapi kami tidak punya bukti atau saksi mata. Jadi, sulit rasanya untuk membuktikan apa pun. Kami pasti bisa tahu apa yang terjadi seandainya CCTV di sana berfungsi. Tapi hari itu sedang rusak. Dan itulah yang membuatku kesal. Aku tahu ini memang mengada-ada. Tapi bagaimana jika CCTV-nya tidak rusak? Jika memang ada yang sengaja menghapus rekaman itu, aku mulai berpikir siapa yang bisa menghapusnya. Saat itulah terlintas olehku orang yang tidak pernah aku duga. Sepertinya dia baik. Aku tidak punya anggapan buruk terhadapnya. Tapi aku sadar hanya dialah yang bisa menghapus rekaman CCTV hari itu. Itu hanya spekulasiku, dan aku tidak punya bukti. Jadi, tidak mungkin aku bisa membuktikannya. Dan pada saat ini, aku masih merasa dia bukan orang jahat. Aku yakin dia punya alasannya. Pasti dia punya alasan pelik hingga terpaksa harus seperti ini. Bisakah kamu memberitahuku alasannya?” tanya Moo Jin.
Dae Gil terdiam.




1 comment: