Saturday, May 4, 2019

Sinopsis Korean Drama : Beautiful World Episode 09 – 1

1 comments



Sinopsis Korean Drama : Beautiful World Episode 09 – 1
Images by : jTBC
Semua karakter, organisasi, tempat, kasus, dan insiden dalam drama ini fiktif

Kembali ke adegan saat Sun Ho bertemu dengan Joon Seok di atap sekolah.
Sebelum Joon Seok datang, Sun Ho sudah terlebih dahulu tiba. Dia membuka ponselnya dan menyalakan recorder. Dia akan merekam pembicaraannya dengan Joon Seok.
Joon Seok tiba dan langsung menghampirinya, “Kau bilang tahu semuanya? Apa maksudmu? Apa hubunganku dengan Da Hee yang cuti dari sekolah? Apa yang ku lakukan padanya?” tanya Joon Seok dengan marah.
“Kau benar-benar tidak tahu?”
“Tidak. Makanya aku bertanya!”
“Dia (Da Hee) mencoba bunuh diri karena kau!” teriak Sun Ho. “Dia mencoba bunuh diri karena yang kau lakukan. Tapi, kau tidak tahu yang kau lakukan? Dasar pengecut!”
“Tidak bisa di percaya.”
“Apa? Hanya itu reaksimu?!,” ujar Sun Ho penuh amarah.
Joon Seok malah tetap tenang. Dia berkata kalau hanya mempermainkan Da Hee. Karena gadis itu adalah gadis yang Sun Ho sukai tapi malah menyukainya. Jadi, dia ingin mengganggu. Itulah kenapa dia bersenang-senang dengannya dan kemudian mencampakkannya. Tapi, gadis itu malah merengek padanya di telepon dan berkata itu salah Joon Seok dan dia akan mati. Tapi pada akhirnya apa? Da Hee kan tidak mati. Dia masih hidup dan baik-baik saja.
Sun Ho sangat marah mendengar ucapan Joon Seok yang tanpa rasa bersalah dan memukul pipi-nya. Joon Seok jadi emosi juga.
“Kau bukan manusia. Kau gila!” umpat Sun Ho.
“Jangan kelewatan batas!”
“Katakan yang sebenarnya!”
“Apa yang sebenarnya?!”
“Semuanya. Katakan yang sebenarnya. Kau melakukan pelecehan seksual pada Da Hee dan mengancamnya. Beritahukan semuanya kapada orang dewasa. Jika kau tidak melakukannya, aku yang akan melakukannya. Da Hee terus menutup mulutnya karena takut pada ayahmu, tapi aku akan membujuknya.”
Joon Seok tampak terkejut, “Da Hee bilang begitu? Kalau aku melecehkannya? Ini benar-benar gila! Hey, kau percaya itu? kau percaya padanya?”
“Kau pengecut,” umpat Sun Ho.
“Tidak. Aku tidak pernah menyentuhnya. Da Hee berbohong,” tegas Joon Seok.
“Aku ingin memberimu kesempatan terakhir. Kau sudah habis!” Sun Ho tidak percaya pada Joon Seok. Dia beranjak pergi.
“Aku bilang tidak melakukannya!” teriak Joon Seok frustasi. “Itu tidak benar. Da Hee berbohong. Dia berbohong padamu agar kau membalasku. Mari kita telepon Da Hee dan tanya padanya sekarang,” saran Joon Seok. Dia tampak benar-benar ketakutan.
“Kau kelihatannya mengira kalau Da Hee tidak akan bicara, tapi kau salah. Jika Da Hee tetap bungkam, aku akan memberitahu orang tua Da Hee,” tegas Sun Ho.
“Aku sudah bilang, aku tidak melakukannya!” teriak Joon Seok, tampak frustasi. “Tidak kah kau percaya padaku?! Tidakkah kau percaya pada temanmu?!” teriak Joon Seok.
“Teman? Aku bukan temanmu. Kau menganggapku remeh. Kau mengira aku penurut karena aku tahan padamu.”
“Kau tahan padaku?”
“Ya, aku bertahan padamu. Kau tahu kenapa aku melakukan itu padamu? Karena aku mengira kita adalah teman. Yang lain mungkin tidak mengerti kau, tapi aku bisa. Aku ingin percaya kalau kau bukanlah yang terburuk.”
Joon Seok menangis.
“Kau pengecut. Pengecut yang terburuk. Kau… sampah!” ujar Sun Ho.
“Benar! Aku melakukannya. Itu yang ingin kau dengar, kan?!” teriak Joon Seok, mungkin sudah lelah berkata tidak. Dan mungkin karena dia emosi mendengar perkataan Sun Ho.
Dan begitu mendengar ucapan Joon Seok, Sun Ho langsung menghajarnya. Mereka terlibat perkelahian, dan saat itulah kancing baju Sun Ho terlepas. Saat perkelahian itu, Joon Seok lah yang terpojok.
“Kenapa kau melakukannya? Kenapa?!” teriak Sun Ho.
“Tidak, itu bukan aku!” teriak Joon Seok balik dan mendorong Sun Ho.
Tapi, Sun Ho terus bertanya alasan Joon Seok menyakiti Da Hee. Joon Seok terus berteriak kalau dia tidak melakukannya!
Dan itulah rekaman yang di dengar oleh Eun Joo. Air matanya menetes, air mata ketakutan.
--
In Ha melihat rekaman CCTV itu dan mengenali mobil yang menuju arah belakang gedung sekolah adalah Eun Joo. Eun Joo ada di sana malam itu.
--

Eun Joo masih terus mendengar rekaman tersebut. Dia tampak tertekan usai mendengar rekaman itu. Dan saat itulah, Jin Pyo yang baru pulang dan mencari rercorder itu, melihat Eun Joo yang memegang recorder itu di tangannya.
--
In Ha menyadari kalau Eun Joo bukan ingin menyembunyikan fakta kalau Joon Seok adalah ketua gang. Tapi, fakta yang lebih buruk lagi. Eun Joo tahu apa yang terjadi malam itu. Dia yakin akan hal itu. Eun Joo sudah berbohong kalau dia langsung pulang ke rumah dengan Joon Seok malam itu. Dia tidak akan berbohong, jika tidak ada yang harus di sembunyikannya.
Moo Jin juga sama shock-nya dengan In Ha. Tapi, dia meminta In Ha untuk tidak langsung membuat kesimpulan tanpa bukti. Tanpa bukti, Eun Joo akan selalu bisa menghindar. Yang harus mereka lakukan terlebih dahulu adalah memeriksa apakah benar itu mobil Eun Joo, dan jika ya, mereka harus menemukan bukti lainnya atau saksi.
--

“Berapa lama… kau sudah sadar?” tanya Eun Joo.
“Shin Dae Gil menelponku malam itu.”
Flashback
Setelah Eun Joo pergi dari TKP, Dae Gil menelpon Jin Pyo dan memberitahu yang terjadi.
End
“Dia bilang kalau ada kecelakaan, dan kau memintanya untuk menutupi hal tersebut. Dia tidak bisa percaya padamu. Kau hanyalah ibu yang lemah yang melakukan sesuatu mengerikan tanpa berpikir untuk melindungi putramu. Dia bisa menebak hal itu.”
“Apa yang kau pikirkan? Aku ketakutan kalau kau akan mengetahui hal itu. Kau melihatku menderita karena ketakutan. Apa itu menyenangkan bagimu? Apa kau mengejekku? Aku menggunakan topeng dan mencoba menenangkan dan menunjukkan kepedulianku pada In Ha. Itu pasti terlihat menjijikan bagimu. Kau adalah pria yang mengerikan,” ujar Eun Joo.
“Aku hanya melakukannya untukmu. Kau tidak ingin aku tahu.”
“Demiku? Bagaimana bisa kau melakukan itu ketika kau yang terjadi selama ini?! kenapa kau tidak pernah memberitahuku!” teriak Eun Joo.
“Kau tidak pernah datang padaku!” balas Jin Pyo, berteriak. “Ketika kau harus melindungi Joon Seok, kau tidak mencariku. Orang pertama yang harusnya kau pikirkan dan datangi adalah aku. Tapi kau mencoba menyembunyikannya dariku. Kau tahu bagaimana perasaanku? ‘Kau bukanlah suami ataupun ayah. Oh Jin Pyo, kau hanyalah pria yang tinggal bersama kami. Tidak lebih, tidak kurang.’ Kau membuatnya jelas hari itu.”
“Tidak.”
“Aku menunggu. Aku menunggu kau memberitahuku. Aku memberimu kesempatan, berulang kali,” ujar Jin Pyo. Saat dia menyindir Eun Joo berulang kali, tapi Eun Joo terus berpura-pura tidak tahu apapun. “Mengapa kau tidak memberitahuku? Mengapa?!”
“Aku takut. Kalau… kau akan membenci Joon Seok. Kalau kau akan meragukannya selamanya daripada memilih untuk mempercayainya. Aku sangat takut atas apa yang sudah ku lakukan, hingga tidak berani memberitahumu. Aku benar-benar mengira kalau itu adalah kecelakaan.”
--
Joon Seok mengajak Young Chul untuk bertemu di atap akademi. Saat melihat Young Chul, Joon Seok memasang senyum palsu-nya.
--
“Maksudmu, kau tidak mempercayai Joon Seok sekarang?” tanya Jin Pyo.
“Aku tidak tahu. Kau juga mendengarnya. Kau juga mendengar apa yang sudah Joon Seok katakan.”
“Joon Seok menyangkal melakukannya.”
“Bagaimana kalau Sun Ho benar?”
“Sun Ho juga di tipu. Dia seharusnya mempercayai Joon Seok,” tegas Jin Pyo.
“Tidak, Sun Ho bisa saja benar. Itulah mengapa … itulah mengapa Joon Seok…” Eun Joo tidak tahu harus bagaimana mengatakannya. “Ini salahku. Aku tidak tahu kalau Sun Ho masih hidup. Aku mengira dia sudah meninggal. Aku merasa kalau orang-orang tidak akan percaya itu adalah kecelakaan. Aku tidak bisa membiarkan hidup Joon Seok hancur. Aku benar-benar mengira kalau itu adalah kecelakaan. Aku seharusnya menelpon ambulans. Itu yang harusnya ku lakukan.”
“Itu semua sudah berlalu.”
“Aku tidak bisa hidup seperti ini lagi,” ratap Eun Joo. “Setiap hari terasa seperti penderitaan. Aku merasa tidak bisa hidup lagi.”
“Jadi mau bagaimana? Apa kau akan pergi dan meminta pengampunan dari mereka? Kau akan menyerahkan Joon Seok ke kantor polisi sendiri? Pergi dan lakukan jika kau bisa,” tegas Jin Pyo. “Serahkan ini (recorder) kepada polisi. Segalanya akan berakhir sekali kau menyerahkan ini pada polisi. Tapi, jika kau tidak bisa melakukannya, percaya saja pada Joon Seok. Teruslah berpikir kalau itu  adalah kecelakaan. Itu bukanlah apa-apa tapi hanya sebuah kecelakaan.”
“Bagaimana bisa aku melakukan itu? Aku sudah tahu segalanya. Bagaimana bisa aku melakukannya ketika aku tahu yang sebenarnya? Apa kau bisa melakukannya?”
“Saat kau membuat itu menjadi bunuh diri, itu bukanlah lagi kecelakaan. Tidak peduli apapun kebenarannya, yang lebih penting adalah apa yang kau percayai. Yang kau percayai adalah kebenaran. Kebenaran itu adalah apa yang kita percayai, pikirkan dan katakan,” tekan Jin Pyo.
--

In Ha mash berada di kamar Sun Ho, sementara Moo Jin pergi ke suatu tempat dengan menaiki mobil. Soo Ho baru pulang dan melihat ibunya berada di kamar Sun Ho. Dia juga melihat ada tanaman kaktus di dalam kamar itu. Soo Ho memuji duri kaktus yang terlihat indah. Terasa lembut dan juga hangat.
--
“Kita harus mempercayai Joon Seok. Mereka tidak akan bisa membuktikan apapun.”
“Bagaimana jika… Da Hee mengatakan sesuatu?”
“Aku sudah bilang, dia itu berbohong!”
“Bagaimana bisa kau seyakin itu?”
“Apapun yang dia katakan, itu tidak ada hubungannya dengan Joon Seok. Joon Seok tidak melakukan hal yang salah. Itu hanya sebuah kecelakaan dan kesalahan. Kau juga harus mempercayai hal itu. Itulah yang harus kau katakan dan percayai.” 
Bukan hanya itu, Jin Pyo juga menyuruh Eun Joo tidak memberitahu mengenai rekaman itu pada Joon Seok. Mereka tidak boleh membiarkan Joon Seok tahu kalau ada rekaman pembicaraannya dengan Soo Ho, dan kalau mereka sudah tahu yang sebenarnya. Karena jika Joon Seok tahu, dia pasti akan merasa goyah dan hancur. Dan segalanya akan berada di luar kendali mereka. Dan untuk Eun Joo, dia memperingati jangan pernah menemui keluarga Soo Ho dan memohon pengampunan. Yang harus Eun Joo lakukan hanyalah terus hidup dalam penderitaan.
“Kaulah orang yang telah membuat penderitaan ini. Jadi, tahanlah semuanya! Aku tidak akan membiarkan kesalahanmu membuatku kehilangan segala yang telah ku capai dengan susah!” tegas Eun Joo.
“Apa kau di ancam? Oleh orang yang memberikan rekaman itu.”
“Aku sudah mengurusnya. Dia tidak akan berani mengancamku lagi.”
Eun Joo menghela nafas dalam. Kakinya bahkan terasa lemas hingga dia tidak bisa berdiri.
--

Det. Park dan det. Kim menunggu di depan rumah Dae Gil. Mereka mengintai anak Dae Gil, mr. Ice, yang pasti akan bisa membawa mereka kepada tersangka narkoba yang mereka incar. Anak Dae Gil kan banyak hutang dan juga kecanduan narkoba, jadi dia pasti membutuhkan Dae Gil dan akan datang mencari Dae Gil.
“Berapa banyak hutang anaknya?” tanya det. Park.
“Dia mungkin berhutang banyak uang karena Ki Deok Cheol.”
“Seorang satpam tidak akan mampu membayar seluruh hutang itu.”
“Tentu saja. Bahkan rumah yang di tinggalinya sekarang, bukanlah rumahnya sendiri. Aku cukup yakin kalau dia sudah menghabiskan semua uang pensiun-nya untuk Mr. Ice.”
--
Moo Jin ternyata pergi menemui supir penjual tteokbokki yang waktu itu bilang sepertinya melihat mobil di gerbang belakang saat hari kejadian. Moo Jin menemuinya untuk bertanya, apa dia ingat warna mobil dan jenis mobil yang terparkir saat itu?
“Aku rasa itu warna putih.”
“Modelnya?”
“Aku tidak tahu. Tapi satu hal yang pasti, itu mobil mahal.”
Moo Jin menunjukkan mobil Eun Joo yang terekam CCTV, “Apa ini mobilnya?”
“Aku tidak yakin,” ujar penjual itu. Moo Jin membesarkan gambar mobil itu dan meminta penjual itu untuk melihatnya lebih dekat. “Aku rasa iya.”
“Benarkah?”
“Ya, rasanya familiar.”
“Bisakah kau mengatakannya pada polisi?”
“Aku tidak begitu yakin apakah ingatanku benar atau tidak.”
“Jika kau setidaknya memberitahu polisi apa yang kau ingat, itu akan sangat membantu kami. Tolonglah, pak!”
“Baiklah. Itu juga bukan hal yang sulit,” setujui penjual itu. Moo Jin menundukkan kepalanya, berterimakasih.
--
In Ha melihat sebuah buku novel yang ada di kamar Sun Ho : The Catcher in the Rye, Penulis : J.D. Salinger.

Dia membawa novel itu keluar kamar, dan membacanya di ruang tamu. Saat dia membuka lembaran-demi lembaran novel, dia menemukan beberapa kalimat yang di stabillo oleh Sun Ho. Buku novel ini juga adalah buku yang Sun Ho berikan pada Dong Hee hari itu.
Dan inilah kalimat dalam novel yang Sun Ho tandai.
Ini karena semua ibu itu sedikit gila. Semua ibu ingin mendengar cerita anak-anak mereka dahulu.
Pendidikan sekolah membuat Anda tahu ukuran pikiran seseorang...
Uang selalu membuat orang menderita pada akhirnya.
Orang dewasa selalu merasa dirinya benar. Orang dewasa tidak tahu apa pun.
Aku lebih sakit melihat Mercutio dibunuh.
Ciri-ciri manusia yang tidak dewasa adalah ingin mati dengan terhormat karena satu alasan.
Orang yang akan dicintai Tuhan pasti orang yang memainkan genderang dalam orkestra.
Kamu ke mana dengan siapa?
Aku tidak bersama siapa-siapa. Hanya aku, diriku, sendirian.
Kamu mau tahu hal yang ingin kulakukan? Aku selalu membayangkan sekelompok anak berlarian dan bersenang-senang di lahan gandum hitam nan luas. Ada ribuan anak-anak kecil, dan satu-satunya orang dewasa adalah aku. Aku hanya berdiri di samping jurang curam. Tugasku mengawasi anak-anak itu agar mereka tidak jatuh ke jurang itu. Karena anak-anak itu hanya bermain tanpa banyak berpikir. Jadi, kapan pun itu terjadi, aku akan muncul dengan tiba-tiba dan menangkap anak itu agar dia tidak jatuh. Itulah yang ingin kulakukan seharian. Dengan kata lain, aku akan menjadi penjaga di lahan gandum hitam. Kedengarannya memang konyol. Tapi aku menjadi seperti itu meski kedengarannya bodoh.

Moo Jin berada di rumah sakit. Menggenggam tangan Sun Ho dan berharap agar Sun Ho dapat tersadar. Benar-benar berharap.



Dong Soo belajar di kamarnya, dan sesekali melirik Dong Hee yang sedang membaca buku. Dong Hee membaca buku novel yang Sun Ho berikan. Dan dia ingat saat dia makan sendirian di kampus, Soo Ho datang padanya. Duduk di depannya, tersenyum dan makan bersamanya.
Saat itu, semua anak melihat mereka. Dan kita melihat kalau Young Chul pun sedikit di asingkan, karena dia juga duduk sendirian.

Da Hee pergi ke toko bunga yang biasa Sun Ho datangi. Dia berdiri di depan toko itu dan melihat ke dalamnya. Ahjussi toko bunga melihatnya, dan saat dia keluar, Da Hee berlari pergi.
In Ha menangis membaca apa yang menjadi keinginan Sun Ho.
-Sang Penangkap-
Eun Joo tidak bisa tenang. Dia memilih meminum obat penenang. Sebenarnya, dia hendak meminum obat itu dengan alkohol, tapi dia mengurungkan niatnya.
Joon Seok pulang setelah bicara dengan Young Chul. Dia protes karena Eun Joo tidak mengangkat telepon dan membiarkannya menunggu di tempat les. Eun Joo dengan gugup berkata kalau dia lupa dan tidak dengar suara telepon.
“Apa terjadi sesuatu?” tanya Joon Seok cemas.
“Tidak ada.”

Dia mendekati Eun Joo untuk memeriksa apakah Eun Joo sakit, tapi ibunya malah melangkah sedikit menjauh seolah takut. Eun Joo berbohong kalau dia hanya mengalami gangguan pencernaan dan merasa tidak enak badan.
“Apa ibu sudah minum obat?”
“Gantilah bajumu. Kamu harus makan malam,” ujar Eun Joo tanpa menjawab pertanyaan Joon Seok.
Joon Seok tidak bertanya apapun lagi dan hanya masuk ke dalam kamarnya. Jin Pyo memperhatikannya dari ruang kerjanya.
--
Joon Ha berada sendirian di toko Hoho. Jam sudah menunjukkan pulu 20.45. dan dia menelpon Jin Woo, memina bertemu. Dia ingin meminta tolong sesuatu.
Dan mereka bertemu. Jin Woo membawa Joon Ha ke sebuah restoran.
“Ini tempatnya, bukan?” tanya Joon Ha.
“Ya, tapi kita tidak boleh di sini tanpa bilang kepada mereka.”
“Mereka tidak menjawab teleponku. Aku bertanya karena aku tahu mereka tidak mau bicara kepadaku. Pasti mereka tidak akan mengusir guru mereka sendiri.”
Jin Woo tampak ragu.
Mereka masuk ke dalam restoran, dan ternyata itu adalah restoran keluarga Da Hee. Mereka ke sana untuk menemui ibu dan ayah Da Hee.
--

In Ha mengajak Seok Hee bertemu di taman dekat apartemen mereka. Seok Hee bingung, kenapa In Ha tidak datang saja ke rumahnya? In ha menjawab kalau dia ingin bicara berdua saja dengan Seok Hee.
--

Joon Ha dan Jin Woo bicara dengan kedua orang tua Da Hee. Joon Ha memberitahu kalau dari riwayat telepon, Sun Ho menelpon 3 kali di hari kejadian itu. Dan sepertinya, ada hubungannya dengan orang yang di temui Sun Ho malam itu.
“Dia tidak ada hubungannya. Jika itu alasanmu ke sini, tidak ada yang bisa kujelaskan, jadi, silakan pergi.”
“Aku sudah bilang Sun Ho bukan bunuh diri, Biarkan aku menemui Da Hee sekali saja agar bisa kubuktikan bahwa Sun Ho tidak bersalah.”
“Siapa bilang dia tidak bersalah?!” teriak ibu Da Hee. Dan ayah Da Hee juga tidak tampak suka membahas mengenai Sun Ho. “Siapa bilang dia tidak bersalah? Da Hee sedang sakit. Berhentilah mengganggunya.”
“Mengganggunya?” Joon Ha sedikit tersinggung mendengarnya. “Kenapa kamu sangat membenci Sun Ho? Dia pernah salah apa kepada kalian?”
“Jika tidak tahu apa-apa, lebih baik diam! Apa yang ingin kamu buktikan sampai harus kasar begini? Dengar, ya. Kamu tidak tahu...”
Tapi belum sempat dia menyelesaikan kalimatnya, suaminya memotong ucapannya. Dan ayah Da Hee meminta agar Joon Ha dan Jin Woo pergi. Mereka tidak mau mengatakan apapun.
--

Joon Ha dan Jin Woo akhirnya pergi dan memilih untuk minum soju. Joon Ha menggerutu karena dia tidak mengerti alasan orang tua Da Hee begitu membenci Sun Ho. Jika Sun Ho ada perbuat salah, seharusnya mereka memberitahu alasannya. Apa Jin Woo benar-benar tidak tahu alasannya?
“Aku sudah tanya kepada murid-murid, tapi sepertinya tidak banyak yang terjadi di antara mereka. Da Hee dan Sun Hoo sama-sama murid baik,” jawab Jin Woo.
“Sepertinya kamu tidak begitu mengenal murid-muridmu.”
“Sepertinya begitu. Aku memang tidak tahu apa pun soal mereka,” sesal Jin Woo.
“Jangan salahkan dirimu sendiri,” ujar Joon Ha dan lanjut minum.
“Kamu juga sudah harus berhenti, Bibinya Sun Ho.”
“Namaku Kang Joon Ha,” perkenalkan Joon Ha. “Bukan Bibinya Sun Ho.”
“Di sekolahku yang pertama, ada anak yang suka dirisak. Jadi, aku mencoba untuk berunding dengan para perisak itu. Kukira jika mereka berdamai akan lebih baik daripada kasus ini diserahkan kepada Komite Kekerasan Sekolah,” cerita Jin Woo, yang sudah mabuk.
“Apa mereka berdamai?”
“Ya! Mereka saling meminta maaf dan berbaikan. Besoknya si perisak kembali ke sekolah bersama orang tuanya dan bilang aku menuduh si perisak dengan paksaan. Kepala sekolah memperingatkanku atas cara mengajarku yang salah.”
“Konyol sekali.”
“Memang konyol.”
“Tapi, pensiunmu tetap aman,” komentar Joon Ha lagi.
“Siapa yang mau mengamankannya? Begitu kamu melawan para atasan, kamu juga akan menghadapi masalah.” (benar. Tempat kerja itu udah kayak medan perang. Banyak orang yang cari muka pada para atasan untuk bertahan).
“Tiap hari aku membuat adonan sebesar tubuhku, dan yang kudapat hanyalah sakit bahu dan punggung. Isi rekening bank-ku juga tetap kosong karena harga bahan roti terus saja berubah-ubah.”
“Tapi kamu mengerjakan apa yang kamu sukai,” komentr Jin Woo.
“Memangnya kamu tidak suka mengajar?”
“Menjadi guru memang cita-citaku.”
“Cita-citamu sudah terwujud.”
“Benar. Aku ingin menjadi guru yang baik. Tapi sekarang, aku hanya sekadar mencari nafkah.”
“Apa yang lebih penting dari itu? Bisa mencari nafkah dari pekerjaan yang kamu sukai, kamu beruntung.”
“Jika cita-citamu hanya untuk mencari nafkah, itu cita-cita yang menyedihkan.”
“Kamu seperti anak manja yang sedang merajuk. Siapa yang membuatmu tidak menjadi guru yang baik? Apa surat peringatan itu membuatmu patah semangat? Berhentilah membuat alasan, dan jadilah guru yang baik,” saran Joon Ha. “Seorang guru yang hidup untuk murid-muridnya. Bukan guru yang siswanya ada untuk dirinya, tapi dia harus ada untuk muridnya. Bukankah guru yang baik seharusnya begitu?”
Dan Jin Woo memikirkan ucapan Joon Ha tersebut.
--
Seok Hee sudah pulang ke rumahnya dan melihat Young Chul yang sedang menonton video dari ponselnya sambil makan cemilan.
Flashback
In Ha memberitahu Seok Hee kalau Young Chul sudah berbohong. Dia bukannya ingin membongkar kalau Joon Seok adalah pemimpinnya, karena baginya itu sudah tidak penting. Tapi yang membuatnya penasaran adalah, apa alasan Young Chul berbohong.
“Sepertinya dia memang lebih akrab dengan Joon Seok,” ujar Seok Hee.
“Aku sudah dengar itu. Menurut teman-teman sekelasnya, setelah kejadian Sun Ho, Young Chul dan Joon Seok makin dekat. Setelah aku dengar itu, aku berpikir Young Chul menyembunyikan sesuatu tentang Sun Ho.”
Seok Hee hendak langsung pulang untuk menanyai Young Chul, tapi In Ha melarang. Dia yakin kalau Young Chul tidak akan mengatakan yang sebenarnya jika di tanyai.
End
Seok Hee masuk ke dalam kamar Young Chul. Dan mengajaknya berbincang. Dia memancing dengan berkata kalau dia mendengar Sun Ho ingin menemui seseorang di malam kejadian itu, dan dia jadi penasaran, siapa orang yang Joon Seok hendak temui? Mungkin saja Young Chul tahu.
“Siapa yang bilang Sun Ho ingin menemui seseorang?” tanya Young Chul, cemas.
“Jadi, dia memang ingin menemui seseorang?” tanya Seok Hee.
Mata Young Chul langsung tampak panik. Dan Seok Hee menyadari hal itu.

“Kamu tahu. Kamu tahu, bukan? Siapa yang mau dia temui? Jawab ibu,” desak Seok Hee.
“Tidak tahu.”
“Masalah ini sangat penting. Jika ada yang mendorong Sun Ho dari atap, berarti ini pembunuhan. Jika kamu merahasiakannya, artinya kamu juga penjahat.”
“Ibu yakin Sun Ho bukan berusaha bunuh diri?” tanya Young Chul, cemas.
“Itu aneh. Tidak ada surat wasiat, dan ponselnya hilang. Ceritakan semua yang kamu tahu.”
Young Chul jadi ragu, tapi dia teringat pertemuannya dengan Joon Seok di atap akademi tadi.
Flashback
Joon Seok mengingatkan Young Chul untuk tidak lupa janji mereka. Mengenai Sun Ho yang mengajak Joon Seok bertemu, tapi Joon Seok tidak pergi.
“Jangan khawatir. Aku tidak seperti Ki Chan,” yakinkan Young Chul.
“Kamulah yang bisa kuandalkan saat ini. Orang lain hanya pecundang,” puji Joon Seok.
End
Dan karena mengingat hal itu, Young Chul berkata kalau dia tidak tahu apapun. Dan saat Seok Hee memaksanya, Young Chul langsung berteriak berkata kalau dia tidak tahu apapun. Dan meminta Seok Hee untuk berhenti memaksanya.
Dia bahkan keluar kamar dan membanting pintu.
--
In Ha kemballi melihat CCTV dan terlihat memikirkan sesuatu.
Saat Moo Jin pulang, dia masuk ke dalam kamar dan melihat In Ha yang sudah tertidur dengan memegang novel milik Sun Ho.

1 comment: