Sunday, May 5, 2019

Sinopsis C-Drama : Unique Lady Episode 12 - part 2

1 comments


Network : iQiyi iQiyi

Sesampainya dikediaman Yuan Zheng. Xi Que memberikan sebuah tas kecil, yang berisikan kertas ramalan dari Nyonya yang diambilnya dari kuil Xiang Guo kemarin. Dan Luo Jing pun membacanya. “Tongkat ramalan mengungkapkan umur tujuh hari.”

“Omong kosong!” teriak Wu Mei.



Luo Jing menyimpan kembali kertas ramalan itu, karena menurutnya ramalan itu pasti tidak akurat. Tapi Wu Mei bertanya- tanya, apa maksud dari ‘Umur tujuh hari’. Dan Xi Que pun menjelaskan apa yang Biksu beritahukan kepadanya. Artinya Luo Jing harus lebih berhati- hati, jika tidak maka akan terjadi sebuah bencana besar.


“Jika ini benar, maka Ayahku pasti mengetahui bahwa akulah yang menguping semalam. Tapi dia tidak akan mungkin berani mengambil tindakan di dalam kediaman Yang Mulia ini, kan?” pikir Luo Jing, sedikit cemas.



Wu Mei sebenarnya tidak mau mempercayai ramalan itu, tapi bagaimanapun dia tetap saja merasa cemas. Jadi dia pun menyuruh Zhang Ji untuk menemui seorang peramal dikota, dan mencari tahu ramalan untuk Luo Jing. Dan Zhang Ji pun mengiyakan, lalu dia pergi.

“Apa dia benar- benar mengkhawatirkan ku?” pikir Luo Jing, senang.



Zhang Ji kembali, dan memberikan kertas ramalan yang diterimanya kepada Wu Mei. Dan setelah membaca kertas itu, Wu Mei langsung meremas dan membuangnya. Lalu dia memberikan perintah bahwa mulai hari ini, dia ingin Pengawal terbaik menjaga Luo Jing setiap saat, dan Luo Jing tidak di perbolehkan untuk mendekati apapun yang berhubungan dengan air.


“Kamu percaya takhayul ya? Bukankah itu benar- benar berlebihan?” protes Luo Jing pada keputusan Wu Mei untuknya.

“Selain mendekati air. Minum air juga kamu harus berhati- hati,” tegas Wu Mei.




Hari- hari melindungin Luo Jing dimulai. Ketika Luo Jing ingin minum, pelayan dan Xi Que akan segera menahannya, dan memberikan buah kepadanya sebagai ganti air agar Luo Jing tidak haus. Dan dengan terpaksa, Luo Jing pun menerimanya.



Lalu saat Luo Jing akan mandi, Xi Que akan muncul dan menghalanginnya. Dan dengan terpaksa, maka Luo Jing pun tidak mandi.



Keesokan harinya. Saat akan makan, Luo Jing merasa tergiur melihat sup milik Wu Mei. Jadi dengan perlahan dia pun menarik taplak meja untuk mengambil sup yang ada diatasnya secara diam- diam.

Dan melihat itu,  Xi Que langsung memperingatinya. Tapi Luo Jing meminta agar Xi Que diam, lalu dia tersenyum manis ke arah Wu Mei yang sedang makan didepannya agar dia tidak ketahuan.



Setelah yakin, Wu Mei tidak curiga kepadanya, maka Luo Jing semakin cepat menarik taplak meja. Dan lalu dia meminum sup milik Wu Mei. Namun tiba- tiba saja, Wu Mei menjerit kepadanya, sehingga dia pun tersedak. Dan dengan segera Wu Mei serta Xi Que menepuk- nepuk punggungnya.

“Apa kamu ingin aku mati?” keluh Luo Jing. Sambil menepis tangan Wu Mei yang memukul punggungnya dengan lumayan keras.



“Kamu selalau membuat ku menyelamatkan mu dari api dan air. Terakhir kali saat ruangan di Istana terbakar, jika aku tidak datang tepat waktu, maka kamu pasti sudah terbakar menjadi abu,” kata Wu Mei, menegur Luo Jing yang tidak berhati- hati.

“Ruangan di Istana?” gumam Luo Jing, mengingat. “Itu kamu yang telah menyelamatkan ku?”

“Siapa lagi kalau bukan aku? Hanya wanita bodoh sepertimu, yang berpikir bahwa itu orang lain,” balas Wu Mei.

“Aku sudah bilang padamu untuk berhenti memanggilku wanita bodoh,” protes Luo Jing.



Wu Mei dengan gemas mencubit pelan pipi Luo Jing, dan mengomentari bahwa minum sup saja Luo Jing bisa tersedak, jadi bukankah itu bodoh namanya. Dan dengan sikap manja, Luo Jing kemudian memohon agar Wu Mei mengizinkan nya minum sup sedikit saja. Tapi Wu Mei tetap tidak mau mengizinkannya.

“Kamu yang terbaik. Satu teguk saja,” pinta Luo Jing.

“Tidak,” balas Wu Mei.





Luo Jing berpikir sejenak, kemudian dia menaiki kursi dan mencium pipi Wu Mei. Dan saat Wu Mei terdiam karena itu, Luo Jing meminum habis sup yang ada di dalam mangkuk. Melihat itu, Wu Mei tersenyum sambil menggeleng- gelengkan kepalanya.



Didalam sebuah kamar. Seperti kamar pengantin. Jiang berdiri dengan tatapan kosong menatap keluar jendela. Lalu disaat itu, seorang wanita cantik bernama Tang Meng (Meng er), masuk kedalam dan menyapanya. Tapi Jiang diam, tidak menjawab.

Dengan sikap malu- malu, Meng er menceritakan bahwa 10 tahun yang lalu, dia adalah orang yang pemalu. Ketika ada tamu yang datang, dia akan bersembunyi ditaman. Lalu disaat itulah, dia bertemu dengan Jiang yang memberikan tangan terbuka kepadanya. Dan sejak saat itu, dia menyukai Jiang. Sangat menyukai Jiang. Mendengar itu, Jiang diam, tidak merespon.


“Kakak Jiang. Apa kamu tidak ingin menikah dengan Meng’er? Jika kamu tidak mau, maka kita tidak perlu untuk menikah,” kata Meng er dengan pelan. Karena Jiang sama sekali tidak berbicara dan tersenyum kepadanya.

“Meng er jangan berpikir berlebihan. Apa yang ku janjikan, aku tidak akan pernah menariknya kembali,” balas Jiang dengan raut wajah dingin.



Meng er menjadi kembali bersemangat, dan menceritakan betapa dia sangat menyukai Jiang. Dan tanpa menjawab, Jiang menepuk pundak Meng er sekali dengan pelan.



Wu Xie memberikan sebuah cap kepada Fei Yu. Dan melihat cap tersebut, Fei Yu tertawa dengan keras. “Akhirnya aku bisa menguasai daya transportasi,” kata Fei Yu.



“Selamat, tuan. Tapi jika Yang Mulia menjadi curiga, apa yang harus dilakukan?” tanya Wu Xie.

Dengan puas Fei Yu bersandar, “Maka sebelum dia mengetahuinya, itu harus diurus dengan bersih,” jawab Fei Yu. Lalu dia ketawa keras.



Fei Yu datang menemui Kaisar. Dan menerima kedatangannya, Kaisar merasa heran kenapa Fei Yu datang menemui nya hari ini. Lalu Fei Yu pun menjelaskan bahwa dia datang untuk melaporkan sebuah berita baik.


“Dibawah kendali Yang Mulia, status transportasi di Sheng Jing tahun ini sangat bagus. Barang yang diangkut melalui jalur air di He Bei telah mencapai hampir 4 juta unit. Itu dua kali lipat dari tahun sebelumnya. Diplomat negara lain juga datang. Bangsa kecil Bu Lie di barat, baru saja berkontribusi untuk kita juga. Jadi maksud kedatangan saya ke sini hari ini adalah untuk mengundang Yang Mulia berpatisipasi dalam menikmati perjalanan pertama kapal kerajaan,” jelas Fei Yu.



Mendengar semua penjelasan Fei Yu, Kaisar setuju bahwa itu adalah sebuah berita yang sangat bagus. Karena transportasi yang bagus akan berdampak baik untuk negara dan orangnya. Dan bangsa kecil Bu Lie itu sangat bijaksana. Jadi Kaisar memerintahkan agar Fei Yu menghadiahi para diplomat mereka dengan baik. Juga untuk upacara pembukaan, dia pasti akan berpatisipasi.

“Persiapkan acaranya dengan baik. Dalam tiga hari, Kapal Pesiar kerajaan akan berlayar,” perintah Kaisar. Dan Fei Yu tersenyum.



Tiga hari kemudian. Didalam kamar. Para pelayan melayanin Luo Jing. Satu mengipasi Luo Jing, satu lagi menawarkan diri untuk menghibur Luo Jing dengan bernyanyi, dan Xi Que menawarkan buah lagi kepada Luo Jing. Dan menerima semua perhatian itu, Luo Jing merasa sama sekali tidak bersemangat, karena dia merasa sangat bosan.

“Aku akan pergi keluar untuk berjalan- jalan sebentar,” kata Luo Jing. Lalu dia bangkit berdiri dan berniat untuk pergi. Tapi para pelayan langsung menahannya, dan memintanya untuk beristirahat.



Luo Jing merasa heran kenapa semua pelayan  bersikap aneh kepadanya hari ini. Dan dengan tegas, Luo Jing pun menyuruh mereka untuk berbicara, apakah ada sesuatu yang mereka sembunyikan darinya. Dan secara serempak mereka menjawab tidak.



Karena semua pelayan tampak tidak mau memberitahu nya, maka Luo Jing pun bertanya pada Xi Que, apakah ada sesuatu yang Xi Que sembunyikan darinya. Dan dengan gugup, Xi Que meminta Luo Jing untuk tidak bertanya padanya, karena dia tidak tahu. Tapi Luo Jing tidak percaya, dan memaksanya.

“Xi Que tidak tahu apapun tentang perjalanan berlayar sama sekali. Xi Que benar- benar tidak tahu apapun,” kata Xi Que, keceplosan.



Setelah mendapatkan jawaban dari Xi Que, maka Luo Jing pun keluar dari dalam kamar. Dan semua pelayan langsung mengomeli Xi Que didalam kamar.

1 comment: