Monday, May 20, 2019

Sinopsis C-Drama : Unique Lady Episode 15 - part 3

0 comments

Network : iQiyi iQiyi

Kaisar membaca semua dokumen yang ada, dan memikirkan siapa yang sebenarnya mencoba untuk memberontak. Lalu dia mengingat tentang Wu Mei, dan memikirkan bahwa pastinya itu bukan Wu Mei, karena jika Wu Mei ingin memberontak kepadanya maka itu cukup dengan Wu Mei mengontrol setiap orang, bukannya merencanakan untuk melakukan penyerangan dan melukai diri sendiri.

“Siapa sebenarnya?” pikir Kaisar sambil memegang kepalanya. Lalu dia mengingat tentang Jing Yuan, Jiang, Fei Yu, dan Tang Meng. Semua orang yang berada didalam kapal.



Su Wen datang mengantarkan semua surat pesan yang Kaisar inginkan. Yaitu surat dari kediaman Wu Mei, kediaman Jing Yuan, dan kediaman Perdana Mentri. Dan Kaisar pun melihat semua surat itu. “Surat ini, apa sudah dilihat mereka?” tanya Kaisar.

“Menjawab Yang Mulia, semua ini segera di sita dan dibawa langsung kepada Yang Mulia. Jadi tidak ada seorang pun yang melihat mereka,” jawab Su Wen.




Kaisar kemudian menanyakan keadaan Wu Mei. Dan Su Wen pun menjelaskan bahwa menurut tabib jika Ramuan Pemisah tidak bisa di temukan untuk menyembuhkan racun, dia takut situasi akan memburuk.

“Ini lah keputusan ku. Tempelkan pemberitahuan kerajaan ini. Hadiah akan diberikan kepada siapapun yang membawa Ramuan Pemisah. Pada waktu yang sama, kumpulkan semua pertapa, tidak peduli siapa selama mereka bisa mengobati penyakit Wu Mei. Apapun yang mereka inginkan, aku akan menyetujuinya,” perintah Kaisar. Dan Su Wen pun mengiyakan, lalu dia pergi.



Kaisar memeriksa semua surat pesan yang ada, dan dia menemukan satu sobekan kain kecil berwarna pink. “Lin Luo Jing. Dia tidak benar- benar mati. Diantara surat- surat ini Lin Luo Jing hanya mengungkapkan perasaan nya. Dan berdasarkan situasi, ini untuk Wu Mei. Tidak ada surat untuk Perdana Mentri. Tapi jika dia tidak mati, mengapa dia tidak kembali ke kediaman nya. Dan mengapa tidak ada surat untuk Perdana Mentri? Mungkinkah…”



Jing Yuan datang menghadap, dan dengan segera Kaisar pun menyembunyikan sobekan kecil kain itu. Lalu dia menanyakan ada apa pada Jing Yuan.



“Aku ingin melaporkan sesuatu. Tidak lama lalu, aku menemukan sebagian besar biji- bijian diangkut ke kota melalui rute air. Tapi didalam kota, tidak pernah ada bencana atau kerugian. Tampaknya ada sesuatu yang tidak biasa tentang ini,” jelas Jing Yuan.

“Lanjutkan,” balas Kaisar.


“Beberapa hari lalu, Perdana Mentri Lin (Lin Fei Yu) datang ke kediaman Yuan Zheng untuk mengendalikan transportasi air. Aku mendengar bahwa semenjak Yang Mulia Yuan Zheng sakit, Tuan Lin banyak mengambil tindakan,” lanjut Jing Yuan, menjelaskan.

Mendengar semua itu, Kaisar merasa curiga bahwa pasti ada sesuatu. Kaisar lalu memerintahkan agar Jing Yuan terus memperhatikan Fei Yu untuknya. Dan Jing Yuan pun mengiyakan, lalu dia pamit dan pergi.



Kaisar mengingat tindakan Luo Jing yang berpura- pura pusing karena sakit laut, ketika mereka sedang berada di kapal. Sehingga mereka bubar dan masuk kembali ke dalam kapal, tanpa melanjutkan pembicaraan. “Tidak peduli apa alasannya, Lin Luo Jing tidak bisa lagi diizinkan untuk tinggal disisi Wu Mei lagi,” pikir Kaisar.

Kaisar kemudian memanggil Su Wen, dan lalu dia membisikan sesuatu kepada Su Wen. Setelah selesai, Su Wen pun pamit dan pergi.


Kaisar lalu membuang kain kecil milik Luo Jing ke dalam tempat pembakaran.



Tang Meng tersenyum senang memperhatikan pakaian pengantinnya. Dan ketika Jiang masuk ke dalam kamar, dia langsung meminta agar Jiang melihat pakaian pengantin mereka, apakah itu bagus? Dan Jiang hanya mengangguk pelan, lalu berbalik untuk pergi.

“Kamu harus melihatnya dengan hati- hati,” keluh Tang Meng.

“Tidak apa selama kamu menyukai mereka,” balas Jiang dengan nada datar.



Tang Meng menanyakan apakah Jiang tidak senang, kepadahal mereka hampir akan menikah nanti. Dan Jiang pun beralasan bahwa saat ini Wu Mei sedang terluka, jadi dia khawatir padanya.

“Jangan khawatir. Aku sudah meminta dari Ayah ku. Keluarga Tang kami pasti akan melakukan yang terbaik untuk menemukan Ramuan Pemisah,” jelas Tang Meng.

“Meng’er. Terima kasih,” balas Jiang, tulus.

Tang Meng menjelaskan bahwa teman Jiang adalah temannya juga, jadi tentu saja dia tidak akan membiarkan Wu Mei terus- menerus kesakitan. Mendengar itu, Jiang tersenyum kecil, lalu dia berbalik dan mau pergi.



“Jiang ge-ge (kakak), apa kamu mau pergi ke Wen Xiang lagi?” tanya Tang Meng. Dan tanpa menjawab, Jiang menghela nafas. “Kita sudah hampir menikah, kamu harus mengurangin kebiasaan ke tempat itu,” jelas Tang Meng.

“Kita sudah hampir menikah. Aku harus kesana untuk terakhir kali nya, mengucapkan selamat tinggal kepada kawan lama ku. Tidak bolehkah aku melakukan itu?” balas Jiang.


“Tentu saja bisa. Masa lalu adalah masa lalu. Tidak peduli bagaimana kamu sebelumnya, dari sekarang Meng’er akan berada disisimu. Aku akan membantu mu. Dan baik padamu. Segalanya akan membaik. Percayalah padaku,” jelas Tang Meng dengan lembut.

“Ya. Segalanya akan membaik,” balas Jiang dengan nada datar, tanpa melihat ke arah Tang Meng sama sekali.

Di Wen Xiang. Yi Yi memberitahukan tentang hal yang Jiang minta agar dia menyelidikinya, yaitu tentang obat herbal yang dibawa keluar dari istana. Selama perjalanan, orang yang membawa dan barang bawaannya, keduanya menghilang. Dan semua barang itu tidak diketahui berakhir dimana sekarang.


“Berita Nona Yi Yi begitu cepat. Jika kamu benar- benar ingin menyelidiki siapa yang menghancurkan Ramuan Pemisah, bukankah itu bisa menjadi sangat sederhana?” tanya Jiang dengan tatapan serius.

“Silahkan minum,” balas Yi Yi, mengajak Jiang untuk bersulang dan minum bersamanya.

Jiang diam selama sesaat dan memperhatikan tangan Yi Yi. Lalu dia bersulang, dan membiarkan Yi Yi untuk minum duluan. Setelah itu barulah dia minum.

“Aku sebenarnya selalu memikirkan itu. Nona Yi Yi tidak tampak seperti wanita yang lain. Kelihatannya bahwa hati Nona Yi Yi, selalu menyembunyikan banyak hal yang orang lain tidak bisa lihat,” kata Jiang.

“Jadi apa jika bisa dilihat, atau tidak bisa dilihat? Bukankah dalam hati setiap orang ada yang mereka tidak ingin untuk mengingatnya. Atau mereka tidak ingin untuk orang lain mengingatnya, kan?” balas Yi Yi.

“Sebenarnya, aku bisa menebak apa identitas mu.”

No comments:

Post a Comment