Friday, May 10, 2019

Sinopsis Drama Taiwan – Hello Again Episode 16 END – 2

1 comments
Sinopsis Drama Taiwan – Hello Again Episode 16 END – 2
Images by : SET TV , TTV, iQiyi
 Di dalam mobil, Zi Jie terus memegang tangan Jammie dengan erat.
“Aku tidak akan mebiarkanmu pergi. Aku janji padamu, aku tidak akan mengontrolmu. Tidak akan menjadi belenggumu. Selama aku punya tempat di hatimu, aku janji padamu. Aku tidak akan merubahmu. Dan aku juga berjanji, akan menerimamu apa adanya. Tapi, aku tidak akan pernah setuju kalau kau pergi tanpa mengucapkan apapun. Aku ingin kau berjanji padaku juga, kemanapun kau pergi, aku harus ada untuk mengantarmu, jadi aku bisa menunggu di sana untuk kepulanganmu.”
“Aku tidak ingin kau menungguku, itulah kenapa aku tidak ingin kau mengantarku pergi. Itulah kenapa aku ingin pergi sendiri,” ujar Jammie.
“Kau boleh melihatnya begitu, tapi aku harus ada di sini untukmu.”
Jammie tersenyum malu mendengarnya. “Aku tidak suka berhutang. Dan karena kau sudah berjanji banyak  hal padaku, maka aku juga akan berjanji jadi kau bisa menungguku. Aku janji, aku akan terus menjadi diriku sendiri, tidak berubah. Dan aku menerimamu apa adanya. Aku menerimamu.”
Giliran Zi Jie yang tersenyum malu.
--

Di kampus,
Ke Ai sedang berada di kelas, tapi Zi Hao tiba-tiba muncul dan duduk di sebelahnya. Ke Ai jelas heran melihat Zi Hao yang berada di kampus. Tanpa malu, Zi Hao meminta agar bisa pergi kuliah dengan Ke Ai. Dan itu tidak mungkin karena Zi Hao kan sudah lulus kuliah.


Saat itu, dosen masuk untuk mengajar. Dan dosen tersebut adalah prof. Jiang. Melihat prof. Jiang, Ke Ai langsung terfokus padanya dan mengabaikan Zi Hao yang berada di sebelahnya. Prof. Jiang memberitahu aturan di kelasnya, yaitu semua orang harus fokus untuk belajar.
--

Selesai kelas, Ke Ai berkumpul bersama teman-temannya untuk belajar bersama. Dan tentu saja, Zi Hao ada di sebelahnya. Salah seorang temannya jadi penasaran, dan bertanya kenapa Zi Hao selalu ada di sebelah Ke Ai?
“Yang Zi Hao, kenapa kau selalu mengikutiku?” protes Ke Ai.
“Aku hanya ingin ikut serta dalam diskusi ini,” alasan Zi Hao. “Semuanya, aku adalah senior kalian. Jika ada pertanyaan, kalian bisa tanya padaku,” ujar Zi Hao.
Tapi, semua mahasiswa/I malah mengabaikannya dan memilih untuk berlari menghampiri Prof. Jiang yang kebetulan lewat di sana.
--

Ke Ai sedang berada di perpustakaan untuk belajar. Dan Zi Hao juga masih mengikutinya. Tidak hanya itu, Zi Hao malah menyenderkan kepalanya ke bahu Ke Ai dengan manja. Ke Ai sedikit kesal karena dia kan sedang belajar. Tapi, Zi Hao juga beralasan kalau dia sedang belajar juga.
Zi Hao penasaran dengan buku yang di baca oleh Ke Ai, dan begitu tahu kalau Ke Ai membaca buku Prof. Jiang, Zi Hao jadi cemburu. Tapi, Ke Ai mengabaikannya.
--
Esok hari,
Ke Ai benar-benar kesal karena Zi Hao selalu ada di sekitarnya dan membuatnya tidak bisa menikmati masa-masa kuliahnya. Tapi, dia jadi heran juga, kenapa Zi Hao selalu tahu apa yang sedang dan hendak di lakukannya.
“Apa dia stalking blog ku?” sadar Ke Ai.  “Ini sudah melanggar privasiku,” kesal Ke Ai. Dia ingin menikmati masa-masa kuliahnya.
--
Li Jian menemani Zi Hao yang bekerja lembur. Dan dia bertepuk tangan kagum untuk Zi Hao.
“Bravo! Seorang pria bisa melakukan apa saja untuk cinta. Kau menghilang saat pagi hari. Tapi produktvitasmu saat malam hari malah lebih baik 10 kali lipat dari biasanya!”
“Aku perlu menjaga hubungan dan pekerjaanku. Aku menyelesaikan semua pekerjaanku, jadi aku bisa kembali ke arena pertempuran cinta,” ujar Zi Hao.
Dia kemudian membuka blog Ke Ai, dan terkejut begitu membaca isinya.
Naksir seseorang itu adalah hal yang aneh. Semakin kau menekannya, semakin kau kehilangan kontrol. Professor Jiang ingin bertemuku sendirian. haruskah aku pergi?
Li Jian yang juga ikut membaca postingan Ke Ai, langsung menyuruh Zi Hao untuk tidak panik. Mungkin ini hanyalah jebakan Ke Ai untuk membuat Zi Hao emosi, jadi pasti tidak benar. Mereka kan tahu Ke Ai seperti apa, jadi jangan cemas dan termakan isi blog itu.
--
Eh tapi pada akhirnya, Li Jian dan Zi Hao tetap saja pergi ke tempat yang Ke Ai tulis di blog-nya. Udah sampai di sana, Zi Hao malah menyuruh dirinya sendiri untuk mempercayai Ke Ai dan tidak seharusnya berada di sana. Eh, baru juga menyakinkan diri, dia malah melihat Prof. Jiang yang datang ke tempat itu. Li Jian langsung berusaha menenangkan Zi Hao, kalau mungkin saja Ke Ai dan Prof. Jiang bertemu untuk membicarakan tugas saja, jadi jangan khawatir.


Tapi, Zi Hao malah melihat dengan mata kepalanya sendiri Ke Ai yang berlari riang menghampiri Prof. Jiang. Wajah Ke Ai bahkan tersenyum lebar dan sumringah. Melihat hal tersebut, Zi Hao akhirnya memilih untuk pergi dan tidak melihat lagi.
Ke Ai melihat sekeliling, dan heran karena tidak melihat tanda-tanda kedatangan Zi Hao.
“Apakah aku salah? Yang Zi Hao, apa dia tidak membaca blogku?” pikir Ke Ai.  
“Chang Ke Ai,” panggil Prof. Jiang melihat Ke Ai yang tidak fokus. “Apa kau mau menelpon? Bukankah kau bilang kalau Yang Zi Hao ingin bertemu denganku?” tanya Prof. Jiang.
Kebetulan seorang wanita lewat dan mendengar Prof. Jiang yang memanggil nama ‘Chang Ke Ai’ dan ‘Yang Zi Hao.’
“Maaf, apa kau Chang Ke Ai?” tanya wanita itu.
“Ya.”
“Apa kau mengenal Yang Zi Hao?” tanyanya lagi.
“Ya, aku mengenalnya.”
“Astaga. Aku punya sesuatu untukmu. Yang Zi Hao meninggalkannya di toko-ku sebelum dia lulus. Aku akan memberikannya padamu nanti, setelah aku pergi mengantar barang ini dulu. okay? Tunggu aku di sini ya,” ujar wanita itu.
Ke Ai mengiyakan walau sedikit bingung. Ditambah lagi, di masih cemas karena Zi Hao tidak kunjung muncul, padahal biasanya Zi Hao selalu berkeliaran di dekatnya. Dia berusaha menelpon Zi Hao, tapi nomor Zi Hao tidak bisa di hubungi.
--


Zi Hao ternyata kembali ke kantor untuk lanjut bekerja. Dia tampak tidak fokus. Saat itu, Ke Ai datang dan marah-marah karena Zi Hao tidak mengangkat teleponnya dan membuatnya khawatir. Melihat Ke Ai, Zi Hao langsung memeluknya.
“Yang Zi Hao, ada apa?” tanya Ke Ai, bingung.

Dan tiba-tiba saja, Zi Hao berlutut dengan satu kaki di depan Ke Ai. Ke Ai jelas terkejut. Zi Hao mengulurkan tangannya, “Menikahlah denganku. Aku mungkin tidak mempunyai bunga saat ini, aku tidak punya cincin juga. Tapi, jika kau menerima lamaranku, aku akan memberikannya padamu besok.”
Ke Ai benar-benar terkejut. Dan bukannya menjawab lamaran Zi Hao, dia malah mencubit pipi Zi Hao hingga Zi Hao kesakitan. “Jadi, aku tidak bermimpi?” ujar Ke Ai.
“Baik. Kau sudah sadar kalau sekarang bukanlah mimpi. Apa kau mau menikah denganku?” tanya ZI Hao lagi.



1 comment: