Thursday, May 30, 2019

Sinopsis K- Drama : Angel’s Last Mission Love Episode 5 - part 1

0 comments

Sinopsis Angel’s Last Mission : Love  Episode 5 – Part 1
Network : KBS2

“Tak apa?” tanya Kim Dan dengan perhatian. Dan karena masih merasa syok, maka Yeon Seo pun diam. Lalu menyadari bahwa tampaknya Yeon Seo baik- baik saja, maka Kim Dan pun menggendongnya.

Kim Dan berjalan di atas pecahan kaca lampu. Walaupun dia tampak terluka karena itu, tapi dia terus berjalan. Dan Yeon Seo diam sambil menatap Kim Dan, tidak menyadari bahwa Kim Dan menginjak pecahan kaca lampu.
Kang Woo merasa cemas, saat dia mendengar suara pecahan dari dalam rumah. Dia berusaha untuk membuka pintu, tapi dia tidak bisa. Lalu dia pun kembali memencet bel rumah, tapi tidak ada respon.

Kim Dan membawa Yeon Seo duduk di atas sofa. Lalu dia memperhatikan Yeon Seo, “Apa kamu terluka? Wajahmu… merah. Apa kamu demam?” tanya Kim Dan perhatian, lalu dia mau menyentuh dahi Yeon Seo. Tapi Yeon Seo langsung menghindari tangannya, dan menatap aneh kepadanya.

Disaat itulah, Kim Dan baru tersadar bahwa sayapnya masih tampak jelas. Dengan segera dia pun berdiri menjauh, dan berusaha untuk menjelaskannya, “Sayap …”
“Apa kamu…” kata Yeon Seo berdiri mendekati Kim Dan. Dan dengan segera Kim Dan pun berjalan mundur selangkah demi selangkah. Tapi Yeon Seo terus mendekat.
“Jangan mendekat! Kamu akan terluka,” kata Kim Dan menghentikan Yeon Seo.

Kim Dan menyangka bahwa dirinya sudah ketahuan, jadi dia pun berniat untuk menjelaskannya dengan jujur. Tapi sebelum dia melakukan itu, tidak tahunya ternyata Yeon Seo mengiranya sebagai orang cabul.
“Kamu mengabaikan panggilan ku. Itu karena kamu memakai semua ini,” kata Yeon Seo, mengira bahwa sayap itu adalah sayap palsu.
“Aku tidak memakai apapun…” kata Kim Dan tidak mengerti. Tapi kemudian dia tersadar dengan apa yang Yeon Seo bicarakan, dan sambil tersenyum dia pun permisi, lalu dia mau kembali ke dalam kamarnya.

Yeon Seo memegang sayap Kim Dan dengan kuat, dan menyuruh Kim Dan untuk melepaskannya disini, didepannya juga. Dan Kim Dan pun melawan, dia menyuruh Yeon Seo untuk melepaskan sayapnya.
“Lepaskan kataku!” teriak Yeon Seo, tegas.
“Sedang apa kamu? Lepaskan! Lepaskan!” balas Kim Dan, kesakitan.
Kim Dan berusaha memberontak dan melepaskan pegangan Yeon Seo pada sayanya. Tapi Yeon Seo sama sekali tidak mau melepaskannya, malahan Yeon Seo semakin kuat memegang sayap nya, dan menariknya.

“Aku bisa melepasnya, jika kamu lepaskan aku!” teriak Kim Dan, frustasi.
“Aku bisa melepasnya jika kamu diam! Ini tidak enak dilihat dan menjijikan. Aku akan membakarnya,” kata  Yeon Seo sambil menarik sayap Kim Dan.

Kim Dan tidak tahan lagi. Dia mendorong Yeon Seo ke atas sofa, dan menahan kedua tangannya. “Tidak enak dilihat? Hei, bagaimana kamu bisa mengatakan itu? Kamu pernah melihat sayap yang sangat besar, cermelang, dan indah?” teriak Kim Dan.

“Apa kamu bicara banmal (tidak sopan) padaku? Hey, sadarlah. Aku majikanmu,” balas Yeon Seo dengan tajam.
“Kamu tidak tahu apa- apa selain mempekerjakan, mengontrak, dan berteriak. Kamu sangat bodoh dalam menilai keindahan. Sayap ini tidak layak disebut ‘tidak enak dilihat’ oleh orang yang hatinya mati! Kaulah yang tidak enak dilihat!” jelas Kim Dan, emosi.

Setelah tersadar bahwa perkataannya terlalu berlebihan, maka Kim Dan pun melepaskan Yeon Seo. Dan pergi meninggalkannya.

Kim Dan tampak kecewa dan sedih. Dia menatap pantulan dirinya di kaca jendela. “Benar. Malaikat, monster, atau orang cabul, semua sama di mata manusia,” gumamnya pelan.

Hujan diluar berhenti. Dan sayap Kim Dan pun menghilang. Melihat itu, Kim Dan pun merasa heran serta lega. Kemudian tepat disaat itu, dia bertemu Kang Woo yang masuk kedalam rumah.

Yeon Seo memperhatikan satu bulu dari sayap Kim Dan yang terlepas dan jatuh dilantai. Sayap putih itu tampak seperti ada darah. Dan dia melihat sayap itu dengan kebingungan. Kemudian tiba- tiba saja, dia mendengar suara Kim Dan yang berteriak memanggil namanya.

“Hei! Telepon polisi!” kata Kim Dan menyuruh Yeon Seo. Sambil menahan Kang Woo di lantai. Tapi Yeon Seo malah hanya berdiri diam saja di tempat, sehingga Kim Dan pun merasa heran, “Hey! Cepat lapor polisi!”
“Apa maksudmu?” protes Kang Woo. “Lee Yeon Seo, aku datang…” kata Kang Woo berusaha menjelaskan. Tapi dengan kuat Kim Dan semakin mengunci tangannya, sehingga dia pun mengeluh kesakitan.


Yeon Seo yang masih terkejut, dia hanya berdiri diam saja di tempatnya. Memperhatikan mereka berdua bertarung melawan satu sama lain. Lalu ketika Kang Woo berhasil membalikan situasi, yaitu dia berhasil menahan Kim Dan. Maka Yeon Seo pun bertindak, dia memukuli Kang Woo menggunakan tongkat nya.
“Katakan. Siapa kamu?” tanya Yeon Seo dengan tegas. Dan Kang Woo memperkenalkan dirinya. “Kamu Ji Kang Woo dari teater balet di New York?”

Diruang tamu. Yeon Seo memperhatikan kartu nama milik Kang Woo. Dan lalu ketika Kang Woo yang sedang melihat- lihat sekitar rumahnya bertanya, apakah dia tidak akan melaporkan kekacauan itu. Dengan tegas Yeon Seo menyuruhnya untuk pulang, karena dia bisa membereskan nya sendirian.
“Kalau begitu biarkan aku. Jangan mencemari TKP,” kata Kang Woo. Dia mengeluarkan hape nya untuk menghubungin polisi.
“Ji Kang Woo- ssi. Ini rumahku. Aku punya otoritas penuh atas apa yang terjadi di sini,” sela Yeon Seo dengan tegas. Meminta Kang Woo tidak melaporkannya.

Kang Woo merasa heran, dan bertanya apa yang sebenarnya Yeon Seo takutkan. Dan Yeon Seo membalas bahwa dia tidak takut, dia tidak bisa diganggu, hanya saja orang2 disekitarnya sangat ingin membicarakan dirinya. Lalu setelah mengatakan itu, Yeon Seo menyuruh  Kang Woo untuk pergi.
“Biarkan aku membantu mu.”
“Kumohon. Pergi adalah cara kamu membantuku,” kata Yeon Seo dengan tegas. Tapi tampaknya Kang Woo masih tidak menyerah.

Kim Dan datang, dan melemparkan kantong es pada Kang Woo. “Apa kamu tidak bisa mendengar? Dia ingin kamu pergi.”
“Jika kamu salah, kamu harus minta maaf, kan?” balas Kang Woo sambil memakai kantong es tersebut untuk mengompres tangannya.

Dengan acuh, Kim Dan membalas bahwa itu salah Kang Woo, karena berdiri didekat pintu dan tampak sangat mencurigakan. Tidak terima, Kang Woo pun berbicara dengan suara keras, dia mengatakan bahwa Kim Dan tetap saja tidak seharusnya menyerang seperti itu.
Namun Kim Dan tetap tidak merasa bahwa dirinya bersalah. Dan Kang Woo pun merasa semakin kesal, tapi karena sadar kalau Yeon Seo ada didekat mereka, maka dia pun berusaha untuk tetap tenang.
“Apa kamu bersamanya, saat jendelanya pecah?” tanya Kang Woo. Dan Yeon Seo menjawab tidak. Lalu Kang Woo pun menuduh Kim Dan. “Untuk memecahkan jendela itu, kamu harus keluar di taman. Itu bukan perbuatan orang luar,” jelasnya pada Yeon seo.

Mendengar bahwa itu masuk akal, Yeon Seo pun menatap curiga pada Kim Dan. “Kamu diluar sana, kan?” tanyanya. Dan Kim Dan menatap tidak percaya, karena Yeon Seo ikut menuduhnya.
“Menurutmu, siapa yang paling mencurigakan?” tanya Kang Woo dengan tajam. Lalu dia mengembalikan kantong es yang Kim Dan berikan.
Kim Dan tertawa, karena Kang Woo begitu berani menuduhnya, dia menebak bahwa Kang Woo pasti merasa kesal atas apa yang terjadi. Jadi Kim Dan pun menantang Kang Woo untuk melawannya sekarang. Dan dengan kesal, Kang Woo pun ingin maju. Tapi Yeon Seo menghentikannya.

“Jangan buat aku mengulanginnya lagi. Pergilah. Dan aku memperingatkanmu, kamu sebaiknya tidak mengoceh soal apa yang terjadi pada orang2 di Fantasia,” kata Yeon Seo dengan tegas pada Kang Woo.

Dengan bangga, Kim Dan mengulurkan lengannya pada Yeon Seo. Dan memberikan tatapan mengejek kepada Kang Woo. Tapi Yeon Seo malah menepis lengannya, “Sudahlah. Kamu berisik,” kata Yeon Seo, lalu dia berjalan pergi sendirian menggunakan tongkatnya.
“Pintunya disana,” kata Kim Dan dengan jaim. Sambil menunjukan dimana pintunya.
“Aku tahu,” balas Kang Woo dengan ketus. Lalu dia pergi. Dan dengan kesal, Kim Dan mau melemparkan kantong es ditangannya, tapi dia tidak jadi melakukan itu.
Yeon Seo berbaring di atas tempat tidur, dan memejam kan matanya dengan erat. Dia mengingat pertanyaan Kang Woo barusan, ‘Apa yang kamu takutkan?’. Dan Yeon Seo teringat kejadian saat lampu mau jatuh mengenai matanya.
Setelah itu, Yeon Seo mengingat saat Kim Dan datang dan menyelamatkannya, bahkan menginjak pecahan kaca lampu sambil mengendong nya. “Apa dia beraliran sesat? Dia cabul juga sinting,” gumamnya.

Kim Dan mencabut semua pecahan kaca kecil yang menancap di telapak kakinya. Dan ketika dia telah selesai mencabut semua pecahan kaca tersebut, tiba- tiba saja secara ajaib semua lukanya sembuh begitu saja. Melihat itu, Kim Dan sedikit merasa heran.


Yeon Seo merasa tidak tenang, dia bangun dan mengambil kotak P3K didalam laci meja nya. Lalu dia berniat pergi menemui Kim Dan. Tapi ketika baru saja dia membuka pintu, ternyata Kim Dan sudah berada di hadapannya dan mau mengetuk pintu kamarnya. Melihat itu Yeon Seo merasa terkejut. Begitu juga dengan Kim Dan.
“Kenapa kamu berdiri disini?” tanya Yeon Seo.
“Kenapa kamu keluar?” balas Kim Dan.

Suasana menjadi canggung, mereka berdua sama2 terdiam. Kemudian dengan sikap jaim, Kim Dan pun memberikan teh camomile yang dibawanya. “Aku tahu kamu minum teh saat tidak bisa tidur. Aku membacanya. Kamu terkejut kan,” jelas Kim Dan.
“Siapa? Aku? Tidak,” sangkal Yeon Seo dengan cepat.

Kim Dan kemudian teringat tentang bagaimana Yeon Seo memukuli Kang Woo menggunakan tongkat. Dan lalu dia menghela nafas, “Kenapa manusia berbohong? ‘Aku takut’, ‘Aku gugup’, ‘Aku membutuhkanmu’. Bilang seperti itu bukan sesuatu yang haram,”kata Kim Dan mengomentari Yeon Seo. Lalu dia menaruh teh yang dibawanya ke tangan Yeon Seo.

Yeon Seo menerima teh itu, lalu dia langsung menutup pintu kamarnya. Dan berdiam diri didekat pintu.
“Aku akan ada disini sampai pagi. Untuk berjaga,” kata Kim Dan memberitahu. Sambil menantikan balasan Yeon Seo.
“Jangan bereaksi berlebihan,” balas Yeon Seo dengan nada ketus. Dan Kim Dan tersenyum, karena dia sudah menebaknya.

Yeon Seo kemudian membuka pintu kamar, dan memberikan obat untuk Kim Dan. “Pakailah. Jangan lambat karena lukamu,” jelasnya. Lalu setelah Kim Dan mengambil obat itu, dia langsung menutup pintu kamarnya lagi.

Diatas tempat tidur. Yeon Seo duduk dan meminum tehnya. Sesudah itu, dia menatap ke arah pintu kamarnya.

Didepan kamar. Kim Dan bersandar di dekat pintu, dan memakai salep obat yang diberikan oleh Yeon Seo pada kaki nya yang sudah sembuh. Lalu dia tersenyum, karena ternyata Yeon Seo bisa baik juga padanya.
Kang Woo berhenti disuatu tempat, lalu dia mengirimkan pesan kepada seseorang. Aku ingin beberapa infromasi tentang sekretaris barunya. Sejarah masa lalunya, sekarang, dan pekerjaannya. Semuanya.
“Apa yang terjadi di rumah itu?” gumam Kang Woo, masih merasa penasaran.

No comments:

Post a Comment