Friday, May 24, 2019

Sinopsis K- Drama : Angel’s Last Mission Love Episode 2 - part 3

1 comments
Sinopsis Angel’s Last Mission : Love  Episode 2 – Part 3
Network : KBS2

Yeon Seo naik ke atas panggung. Dan dia menyapa semua orang. “Halo, aku Lee Yeon Seo. Hari ini adalah hari special. Ini adalah ulang tahun ke 20 tahun Fantasia, serta hari perayaan kematian kedua orang tua ku. Aku telah berpikir banyak bagaimana caranya merayakan kesempatan ini,” cerita Yeon Seo dengan tenang.
Namun cerita itu berubah menjadi sedikit menakutkan, saat Yeon Seo mengatakan bahwa sebagai perayaan dia sebenarnya ingin menggantung dirinya disini untuk membuat keadaan yang dramatis. Sebab dia tahu setiap orang memandang kasihan padanya.
“Aku berharap kalian bisa mendukung kami sebanyak kalian kasihan padaku. Dan sebanyak kalian berpikir bahwa aku pantas untuk ini,” jelas Yeon Seo. Dan semua orang terdiam mendengar itu.

Yeon Seo kemudian menyebutkan nama Ni Na. Dia menjelaskan bahwa dulu Ni Na adalah seorang penari candangan yang menggantikannya, lebih tepatnya Ni Na adalah bayangannya. Jika dia sakit atau melarikan diri karena jatuh cinta, maka Ni Na akan bertanggung jawab menggantikan tempatnya. Sayangnya dia terlalu sehat, jadi dia tidak pernah melewatkan pertunjukannya.
“Ketika matahari menghilang, maka bulan yang akan mendominasi. Seperti yang kalian semua tahu, aku telah kehilangan penglihatan ku. Dan Ni Na sukses pada debut nya sebagai penggantiku,” jelas Yeon Seo. Mendengar itu beberapa orang melirik pada Ni Na. Dan Ni Na merasa malu serta kesal.
“Ketika aku hidup dalam kegelapan selama 3 tahun, Nina telah bersinar sebagai balerina utama. Bukankah cerita ini cukup dramatis? Tolong dukung dengan murah hati untuk perusahaan balet kami, Fantasia, sebanyak kamu menemukan cerita ini menghibur dan sebanyak kamu akan membagi kan nya dengan yang lain,” kata Yeon Seo menekankan setiap katanya.
Tampaknya Yeon Seo mau membalas Ny. Choi yang mengatakan bahwa dia lebih baik tampil tragis, sehingga banyak orang yang akan mensponsori perusahaan ini.
Ni Na, Ny. Choi, dan keluarga mereka yang lain. Mereka merasa kesal terhadap perbuatan Yeon Seo, tapi mereka tidak bisa melakukan apapun dan terpaksa harus menahan kekesalan mereka.
Sementara Kang Woo tersenyum kecil melihat itu.

Yeon Seo kemudian mengangkat gelasnya dan mengajak semua orang untuk bersulang. “Nikmati hari mu  hari ini. Tidak seorang pun yang bisa memastikan, jika kamu akan baik-baik saja di hari selanjutnya,” kata Yeon Seo, lalu dia menghabiskan minumannya.

Setelah acara selesai. Dengan marah Ny. Choi menahan tangan Yeon Seo dan memarahi Yeon Seo yang telah kelewat batas. Dan Yeon Seo menepis tangan Ny. Choi yang memegang tangannya.
“Aku tahu kamu sangat kasar. Dan kamu melakukan segala yang kamu inginkan seperti seorang Putri yang manja. Tapi ini  terlalu berlebihan,” marah Ny. Choi.
“Kamu berani ketika kamu mengatakan pesta pada hari kematian kedua orang tua ku,” balas Yeon Seo dengan acuh.

Ny. Choi menjelaskan bahwa para tamu yang hadir didalam adalah orang kelas satu didunia. Sedetik dan satu menit sama seperti emas untuk orang itu. Jadi intinya, tidak mudah bagi para tamu itu untuk menyesuaikan jadwal. Dan mendengar alasan itu, Yeon Seo tertawa.
Mendengar Yeon Seo tertawa pelan. Ny. Choi merasa semakin emosi, dia menanyakan kesalahannya sehingga Yeon Seo merusak acara ini.
“Kamu tersenyum. Kamu tersenyum pada hari itu,” kata Yeon Seo dengan tajam.

Flash back
Pada hari dia berada di rumah sakit, karena matanya terluka. Disaat itu, Ny. Choi dan keluarganya datang untuk menjenguknya. Dan ketika Ny. Choi memeluknya, dia bisa merasakan Ny. Choi tersenyum dibelakang nya.
Flash back end

Ny. Choi mengipas- ngipas dirinya dengan gugup. Dia menyangkal dengan beralasan bahwa dia adalah bibi Yeon Seon, jadi tidak mungkin dia melakukan itu. Karena mereka adalah keluarga. Lalu dia menyebut Yeon Seo buta.

Yeon Seo merasa marah. Tapi Tn. Jo langsung menengahi, dan menghentikan Ny. Choi. “Berhenti. Akan ada keributan besar,” kata Tn. Jo memperingatkan. Dan Ru Na serta Tn. Choi pun segera menarik Ny. Choi untuk mundur.
“Ayo,” ajak Tn. Jo memegang tangan Yeon Seo. Dan Yeon Seo pun mengikutinya.

Sewakut telah keluar dari dalam gedung, dan menurunin tangga, Yeon Seo merasakan sesuatu. Dia berbalik kearah belakang.
Dibelakangnya. Didekat anak tangga. Ada sebuket bunga putih- kuning. Tapi sayangnya, Yeon Seo tidak bisa melihat.

L muncul di dekat anak tangga, disamping bunga tersebut, dan dia memperhatikan Yeon Seo yang masuk ke dalam mobil bersama dengan Tn. Jo.

L mengingat kembali saat pertunjukan. Ketika itu dia keluar dari dalam ruang pertunjukan, dan mengambil sapu tangan miliknya yang Yeon Seo tinggalkan di dekat jendela. Lalu kemudian dia memperhatikan Yeon Seo yang menari. Dan setelah Yeon Seo menyelesaikan tarian nya. L bertepuk tangan dengan pelan untuknya.

“Kamu yang bodoh. Tarian indah kaki mu melelehkan kata- kata bodoh diujung mulutmu. Terima kasih kepada yang telah memberikanmu bakat,” pikir L.
L kemudian berdiri dari duduknya. Dia tersenyum memandang langit sambil memegang buket bunga yang dibawanya itu. Dan kemudian, dia menghilang dari sana.
Didalam mobil. Tn. Jo mengomentari pemandangan langit sore kemerahan yang sangat indah. Matahari akan terbenam, dan cahayanya sangat indah. Sangat indah sekali.
“Mari mulai secara perlahan. Kamu bisa memulai rehabilitasi mu. Dan Yayasan…”
“Berhenti.”
“Yeon Seo- ah.”
“Aku sudah bilang padamu untuk berhenti memanggil ku itu! Aku benci segalanya! Aku benci ballet, yayasan, dan segalanya! Jadi jangan memberitahuku apa yang harus dilakukan!” teriak Yeon Seo.
Tn. Jo langsung menepi, dan menghentikan mobilnya. Dengan keras dia menyebutkan nama Yeon Seo seperti hampir berteriak. Dan mendengar itu, Yeon Seo kaget, karena Tn. Jo adalah orang yang selalu tenang.
“Lee Yeon Seo!”
“Apa barusan kamu berteriak padaku?”


“Sadarlah. Kamu ada di tengah medan perang. Apa kamu tahu berapa banyak peluru yang yang diarahkan pada mu?” jelas Tn. Jo, bertanya.
“Tidak. Tapi aku berharap aku bisa mati cepat,” balas Yeon Seo.
“Dan berhenti mengatakan bahwa kamu ingin mati. Kita sudah hampit disana. Jika kamu memberiku sedikit waktu lagi, aku akan membawamu kembali ke tempat mu,” jelas Tn. Jo dengan lebih lembut.
Yeon Seo tersenyum pesimis. “Tempat ku? Bagaimana? Apa kamu akan memberiku mata? Membawaku kemana? Siapa yang bilang kamu bisa? Kamu pikir kamu siapa? Jika kamu bertingkah seperti Ayahku sekali lagi. Aku akan benar- benar memecatmu.”

Tn. Jo diam. Dan melanjutkan perjalanan.


Malam hari. Dalam perjalanan. Saat tepat mobil mereka berada di dekat tikungan, tiba-tiba saja roda mobil seperti bermasalah. Dan lalu Tn. Jo teringat kepada Pria yang berada di parkiran, Pria yang berpapasan dengannya.
“Yeon Seo. Yeon Seo, berpegangan lah!” teriak Tn. Jo. Dan Yeon Seo melakukannya.
Tn. Jo berusaha mengendalikan mobil, tapi karena berada di tikungan, mobil mereka menabrak pagar pembatas.

Hujan turun dengan deras. Dan L pun teringat bahwa dia sudah hampir terlambat. Namun ketika dia akan menjentikan jarinya dan pergi, tiba- tiba saja terdengar suara Yeon Seo yang memanggil ‘Tn. Jo’.


Didalam mobil yang hampir jatuh ke jurang. Yeon Seo yang awalnya tidak sadarkan diri terbangun. Dia melepaskan sabuk pengaman dan dengan lemah memanggil, “Tn. Jo? Bisakah kamu mendengarku?”
Tn. Jo yang sudah tidak sadarkan diri, ntah masih hidup atau tidak. Dia tidak menjawab.


L melihat itu dari jauh.
“Apa ada orang disana? Tolong kami!” pinta Yeon Seo, putus asa.
“Siapa yang tahu bahwa bunga ini akan menjadi bunga berkabung?” gumam L. Lalu dia meletakan buket bunga itu di dekat pagar.
“Beristirahatlah dalam tenang,” kata L mengulurkan tangannya. Lalu dia berbalik dan mau pergi.


“Siapa disana?” panggil Yeon Seo. Dan L berhenti. “Apa ada orang disana? Sebelah sini! Ada orang disini! Disini! Tolong! Tolong kami! Tolong,” pinta Yeon Seo. Dan mendengar itu, L mundur selangkah. “Hey, siapa kamu? Apa kamu manusia atau binatang?” tanya Yeon Seo. Dan L menutup telinganya.
“Jika kamu melarikan diri karena kamu takut, maka setidaknya laporkan. Tuan, tolonglah. Siapapun kamu, tolonglah,” pinta Yeon Seo.
“Ah! Mengapa suara nya terdengar jelas?” teriak L, bingung.
Mobil tergerak. Sedikit lagi akan jatuh.

Lonceng berbunyi lagi. lagi. dan lagi.


“Tolong aku!” pinta Yeon Seo.
“Aku tidak bisa. Aku benar- benar tidak bisa melakukan apapun tentang hidup manusia,” jawab L.
“Tolong. Selamatkan aku.”
“Aku tidak bisa. Aku tidak punya waktu. Aku harus pergi.”


“Aku ingin hidup. Aku ingin mati setiap harinya, tapi aku ingin hidup sekarang,” kata Yeon Seo, tanpa bersuara. Tapi L bisa mendengar nya. Dan L menutup telinganya.
***


Seorang anak laki- laki jatuh ke dalam laut ketika hari hujan. Dan didalam air, anak itu berdoa. “Aku ingin mati setiap hari, tapi aku ingin hidup sekarang.”
Seorang anak perempuan yang berjalan didekat sana. Seperti mendengar perkataan itu, dia berbalik. Anak itu mungkin Yeon Seo.
***


L menutup telinganya dengan kuat. Tapi dia terus mendengar suara Yeon Seo. Dan disaat L masih saja ragu, disaat itu mobil Yeon Seo terjatuh.


Yeon Seo menutup matanya, menerima takdirnya. Namun tiba- tiba waktu berhenti. L terbang, dan mendekati mobil Yeon Seo. “Aku tidak seharusnya melakukan itu. Aku tidak semestinya melakukan itu.”

1 comment:

  1. Seru. Lanjutkan !! Fighting 😀😁
    Kok feeling ku bilang, tn. Jo meninggal dan matanya di donorkan pada Yeon Soo ya.

    ReplyDelete