Sunday, May 12, 2019

Sinopsis Korean Drama : Beautiful World Episode 12 – 2

0 comments

Sinopsis Korean Drama : Beautiful World Episode 12 – 2
Images by : jTBC

Dong Hee dan Soo Ho langsung menemui In Ha. Dan In Ha langsung bertanya, apa Dong Hee tahu dengan siapa Da Hee bertemu hari itu (tanggal 19 Sept)?
“Aku tidak tahu,” jawab Dong Hee.
Soo Ho curiga kalau Da Hee bertemu dengan Joon Seok, tapi Dong Hee tidak merasa begitu.
“Da Hee tidak masuk sekolah sehari setelah ulang tahunnya, dan tidak pernah datang lagi.”
“Aku tahu. Terus?”
Flashback
Sehari setelah ulang tahun Da Hee, Dong Hee sempat mendengar pembicaraan Joon Seok dengan Ki Chan dan Sung Jae. Ki Chan berkata kalau Da Hee pasti shock karena Joon Seok membiarkan Da Hee berdiri menunggu kemarin, makanya Da Hee tidak masuk sekolah.
End
“Meskipun Joon Seok tidak menjawab, tapi aku rasa mereka tidak bertemu.”
“Kita tidak bisa yakin begitu. Yang penting, Da Hee pasti ada sesuatu dengan Joon Seok. Terakhir kali, ketika aku ke rumah Da Hee eonni…”
“Kau melihat Joon Seok di depan rumah Da Hee?” tebak Joon Ha.
“Ya. Tidak lama setelah insiden oppa. Kami bertemu di depan rumah Da Hee eonni.”
In Ha jelas jadi semakin curiga.
--

Reporter Choi menemui Dae Gil. Dia memberitahu kalau dia sudah menemui CEO perusahaan CCTV dan keterangan dari perusahaan itu berbeda dengan yang Dae Gil katakan. Dan juga biasa kan CCTV asli tidak akan di musnahkan tapi di arsip. Tapi, ini malah sudah di musnahkan. Kenapa harus di musnahkan?
“Aku tidak tahu. Kenapa bertanya padaku?”
“Karena kau mantan polisi. Kau tahu lebih baik daripada siapapun,” ujar rep. Choi.
Tapi, Dae Gil tetap bungkam. Jadi, Reporter Choi meninggalkan kartu namanya agar Dae Gil mau menghubunginya jika dia mau. Tapi, Dae Gil membuang kartu nama itu ke dalam tong sampah.

Saat Rep. Choi sudah pergi, Dae Gil mendapat telepon dari rumah sakit. Entah apa yang di katakan, karena Dae Gil langsung terburu-buru pergi. Dai segera mencari taksi. Rep. Choi yang belum pergi terlalu jauh melihat hal tersebut. Dan dia juga melihat sebuah mobil yang langsung mengikuti Dae Gil.
--
Moo Jin memasang teleskop di kamar rawat Sun Ho. Dan saat itu, dia mendapat telepon dari Jin Pyo.
--
Eun Joo mendapat telepon dari akademi kalau Joon Seok tidak ada datang ke akademi. Eun Joo jelas panik dan langsung menghubungi Joon Seok, tapi tidak di angkat.
--
Joon Seok menghabiskan waktu untuk bermain game. Tapi, hal itu tidak bisa menghilangkan emosinya sama sekali.
--

 Moo Jin menemui Jin Pyo. Yah, dapat kita tebak, Jin Pyo bicara seolah-olah Moo Jin dan keluarga telah salah paham pada putranya. Dan juga mengenai artikel tersebut.
“Apa Anda ada menyelidiki orang seperti apa reporter Choi Ji Kyung?”
“Reporter harus di nilai berdasarkan artikel yang di tulisnya. Jadi, kenapa aku harus menyelidikinya?”
“Aku akan jujur pada Anda. Dia mendekati Anda dengan alasan pribadi.”
“Apa maksudnya?”
“Choi Jin Kyung memiliki beberapa hubungan denganku.”
“Jadi?”
“Dia baru-baru ini menemuiku dan meminta uang dariku. Itu terserah pada Anda mau percaya atau tidak. Tapi, itu benar. Aku bahkan memiliki rekamannya. Sekarang Anda sudah mengerti orang seperti apa dia?”
“Kau ingin menemuiku hanya untuk memberitahu hal itu?”
Jin Pyo tertawa dan berkata kalau dia menelpon untuk menemui Moo Jin dan In Ha sebagai direktru sekolah. Tapi, pembicaraan mereka jadi sedikit melenceng. Dia meminta Moo Jin dan In ha berhenti melakukan apa yang mereka lakukan sekarang karena hanya akan menyakiti diri sendiri.
“Anda sudah salah. Kami bukan tentara yang berjuang untuk keadilan. Dan bukan orang yang bermimpi mengenai masa depan yang luar biasa. Kenapa ini harus terjadi pada putraku yang berusia 15 tahun? Siapa yang mencoba menyembunyikan kebenarannya dan kenapa? Itulah yang ingin ku ketahui.”
“Tidak ada satupun yang menyembunyikan kebenaran.”
“Kau mungkin mengira kau bisa menyembunyikannya dari semua orang. Tapi, itu akan terlihat bagi orang yang terus melihat sekitar.”
Moo Jin benar-benar tidak takut menghadapi Jin Pyo.
“Jika Anda terus seperti ini, kau akan terjatuh dan tidak bisa bertahan!”
“Jika aku terjatuh, istriku akan membantuku kembali. Dan jika dia terjatuh, aku akan membantunya. Jika kami berdua terjatuh, Soo Ho akan membantu kami. Ada cukup banyak orang di sekitar kami… yang dapat membantu kami bertahan.”
Usai mengatakan hal itu, Moo Jin pergi dari sana. Dan wajah Jin Pyo terlihat sangat marah.

 Saat di dalam mobil, Moo Jin menelepon In Ha. In Ha bertanya kemana Moo Jin? Dia ada di rumah sakit bersama Soo Ho dan Dong Hee. Mereka menyuruh Moo Jin cepat pulang agar bisa makan malam bersama. Moo Jin memberitahu kalau dia menemui seseorang tadi.
--

Reporter Choi menemui det. Park dan memberikan sebuah kertas kecil bertuliskan nomor plat mobil. Dia meminta det. Park untuk menyelidiki mobil tersebut untuknya. Det. Park jelas menolak.
“Ini ada hubungannya dengan kasus Park Sun Ho,” beritahu Reporter Choi.
“Mobil siapa ini?”
“Aku melihat sebuah mobil mengikuti Shin Dae Gil. Ini adalah nomor plat mobilnya.”
“Apa kau yakin?” tanya det. Park.
“Ya, aku yakin. Aku juga bertemu CEO dari perusahaan CCTV yang bekerjasama dengan SMP Seah. Mereka sudah memusnahkan CCTV asli-nya,” beritahu rep. Choi. “Pasti ada sesuatu. Kenapa mereka harus memusnahkannya saat itu bisa menghasilkan uang?”
Det. Park bicara berpura-pura cuek tapi sebagai kode agar Rep. Choi mau menyelidiki perusahaan itu.
Tidak lama, det. Kim masuk dan melapor pada det. Park kalau ibu dari mr. ice (istri Dae Gil) sudah meninggal dunia. Reporter Choi penasaran, dan hendak mengikuti. Tapi, dia malah mendapat telepon dari Moo Jin.
--

Dae Gil berada di pemakaman istrinya. Jin Pyo menelpon dan berkata kalau Dae Gil bisa meminta apapun darinya untuk keperluan pemakaman. Dae Gil berkata dia tidak perlu apapun, dia hanya ingin Jin Pyo menyingkirkan orang suruhannya (yang mengawasinya) hingga pemakaman selesai. Jin Pyo menolak permintaannya itu.
Dae Gil melanjutkan pemakaman. Dia melihat foto istrinya, dan tampak memikirkan sesuatu.
--
Eun Joo keluar rumah untuk mencari Joon Seok. Dia menelpon semua teman Joon Seok, mengenai kemungkinan Joon Seok akan kemana, tapi tidak ada informasi apapun.
--
Joon Seok menemui seorang pengemis, dan meminta tolong untuk membelikan soju dan rokok.
Dan kebetulan sekali, pengemis itu membelinya di minimarket Dong Soo. Dong Soo melihat pengemis itu yang tampak gugup dan terus melihat Joon Seok yang ada di luar, jadi dia tahu kalau itu pasti untuk anak di bawah umur. Dia menyuruh pengemis itu pergi tanpa harus membayar.
Dong Soo keluar dan mengembalikan uang Joon Seok itu. Dia menyuruh Joon Seok untuk tidak pernah melakukan hal itu lagi. Tapi, Joon Seok malah mengeluarkan uang lebih dan berkata tidak akan melapor ke polisi asalkan Dong Soo menjualnya padanya. tidak perlu uang kembalian juga.
Dong Soo tidak mau dan menceramahi Joon Seok untuk sadar. Semua uang itu bukan uang Joon Seok tapi uang orang tuanya. Jadi pulang saja. Joon Seok tidak suka mendengarnya dan berteriak. Dong Soo sempat emosi dan hendak memukulnya, tapi dia menahan diri dan menyuruh Joon Seok untuk pulang saja. Jika Joon Seok terus seperti ini, maka hidupnya bisa hancur. Jadi pulang saja.
“Kau kira kau siapa?!” teriak Joon Seok.

Dong Soo emosi. Tapi, dia masih berusaha menahan emosinya. Masalahnya, Joon Seok terus memancing emosinya. Dong Soo sampai menarik kerah baju Joon Seok, tapi begitu melihat mata Joon Seok yang berkaca-kaca, dia jadi tidak marah. Sebaliknya, dia bertanya apa Joon Seok sudah makan? Dia menyuruh Joon Seok masuk dan membeli makanan saja.
Tapi, Joon Seok malah berlari pergi dari sana. Dong Soo hanya menatapnya.
--

Moo Jin bertemu dengan reporter Choi. Dan reporter Choi meminta maaf karena dia sebenarnya mengenal Jin Pyo. Moo Jin berkata kalau dia sudah tahu, karena Jin Pyo sudah memberitahunya.
“Aku tidak begitu percaya padanya. Tapi, aku pikir setidaknya aku harus bertanya padamu dan melihat apakah itu benar atau tidak,” ujar Moo Jin.
“Apa dia bilang aku meminta uang darinya?”
Moo Jin membenarkan. Tapi, dia juga ingin mendengarnya langsung dari reporter Choi. Reporter Choi menjelaskan kalau dia tidak pernah meminta uang dari Jin Pyo.
“Sebenarnya, Oh Jin Pyo dan aku berasal dari SMA yang sama. Hubungan buruk kami di mulai dari sana. Sejujurnya, aku tertarik pada kasus Sun Ho karena itu. Aku ingin menghancurkannya. Aku minta maaf karna aku mempunyai motif tersembunyi.”
Moo Jin diam mendengar penjelasan Reporter Choi. “Kau menulis artikel berdasarkan kebenaran sesuai yang kau janjikan. Dan aku dapat merasa kalau kau benar-benar peduli pada Sun Ho dan keluargaku. Itu sudah cukup bagi kami.”
Reporter Choi menatap Moo Jin yang berjalan pergi. Dia tersenyum menyadari kebaikan Moo Jin.
--
Dae Gil merasa sangat terganggu dengan orang suruhan Jin Pyo yang masih juga berada di sekelilingnya.
--

Eun Joo pulang ke rumah dan memeriksa kamar Joon Seok, tapi Joon Seok masih belum pulang juga. Dia jadi semakin panik. Dan dia teringat ucapan Joon Seok mengenai alasannya membenci Sun Ho. Dia terpikirkan sesuatu.
Jin Pyo melihat Eun Joo yang tampak seperti linglung. Tapi, Eun Joo mengabaikannya dan pergi keluar.
--

Joon Ha menutup toko. Dan saat dia hendak pulang, dia melihat Joon Seok yang berjalan di seberang jalan. Jadi, dia menghampiri Joo Seok dan bertanya apa Joon Seok bisa bicara sebentar dengannya? Joon Seok tidak mau. Dia bahkan berteriak dan mengibaskan tangan Joon Ha. Tidak hanya itu, dia langsung berlari menyeberang jalan dan hampir tertabrak.
Joon Ha berteriak kaget memanggilnya. Joon Seok sempat berbalik dan menatapnya dengan pandangan nanar.
--
Joon Ha pergi ke rumah sakit dan memberitahu In Ha mengenai Joon Seok tadi.
“Tapi, eonni, aku tahu aku seharusnya membencinya. Tapi, aku merasa sedih ketika aku melihatnya. Dia terlihat sangat gelisah. Dia benar-benar hancur. “
“Bagus. Dia harus terluka dan lebih menderita lagi,” ujar In Ha. Tapi, wajahnya tidak sesuai dengan ucapannya.”
--

In Ha dalam perjalanan pulang dan masih terus memikirkan ucapan Joon Ha, mengenai Joon Seok yang terlihat sangat gelisah.
Dan saat itu, dia melihat Eun Joo yang sedang berada di depan apartemennya. Mereka saling bertatapan.   
“Apa kau ke sini untuk bertemuku?” tanya In Ha.
“Tidak,” jawab Eun Joo dan berjalan pergi.
“Apa Joon Seok masih belum pulang? Joon Ha bilang dia melihat Joon Seok di luar toko kami. Dia bilang Joon Seok terlihat sangat gelisah. Apa ada sesuatu terjadi padanya?”
“Tidak, dia baik-baik saja.”
“Kenapa kau kemari? Kau tidak punya urusan di sekitar sini. Bahkan jika ada, kau tidak akan ke dekat sini.”
“Aku punya beberapa urusan di sekitar sini.”
“Kau kemari karna kau mengira Joon Seok mungkin ke sini?” tebak In Ha.
“Kenapa dia harus ada di sini. Sama seperti yang kau katakan, dia tidak akan kemari bahkan jika dia mau.”
“Eun Joo, Joon Seok masih anak-anak. Dia terlalu muda untuk menangani hal seperti ini.”
“Aku lelah mendengar hal yang sama seperti itu lagi dan lagi,” marah Eun Joo.
“Kau harus mengangkat beban dari pundaknya. Kumpulkan keberanianmu. Itulah yang harus kau lakukan untuknya.”
“Bisakah kau berhenti?!”
“Bagaimana jika Joon Seok memutuskan melakukan hal yang buruk?”
“Apa itu yang kau inginkan? Kau ingin Joon Seok melompat dari atap sama seperti Sun Ho?!” teriaknya. “Berhenti sok peduli pada Joon Seok. Jujur saja, katakan kalau kau ingin dia hancur dan menderita. Tidak, kau ingin dia mati kan? Itu yang jelas-jelas kau inginkan.”
“Kau benar. Itu yang ku inginkan. Aku ingin dia hancur dan menderita. Sun Ho ku sekarang menderita walaupun dia tidak melakukan kesalahan apapun. Tapi, Joon Seok baik-baik saja. Jadi, dia harus menderita. Dia harus kesakitan.”
“Kau tidak akan mendapatkan yang kau inginkan. Joon Seok… tidak akan hancur. Dia tidak akan menderita.”
“Dia sudah menderita. Kau dan Joon Seok,kalian berdua. Kalian sudah hancur.”
“Tidak. kau salah. itu tidak akan pernah terjadi. Tidak ada yang salah dengan Joon Seok,” tegas Eun Joo dan langsung pergi.
--

Moo Jin sedang tidur dan terbangun di tengah malam karena In Ha tidak ada di sebelahnya. In Ha sedang duduk di ruang tamu sendirian. Dia khawatir dengan Joon Seok yang apa sudah pulang atau belum. Tapi, dia menyangkal kalau dia khawatir.
“Aku memimpikan Sun Ho hari ini. Rasanya sangat nyata hingga aku tidak tahu apakah aku bermimpi atau tidak. Aku sempat bingung sesaat.”
“Apa yang Sun Ho katakan?”
“Dia bilang kalau dia baik-baik saja dan ingin pulang ke rumah. Sangat bahagia bisa mendengar suaranya bahkan jika itu hanyalah mimpi. Aku punya waktu yang sulit untuk mengingat suaranya beberapa saat yang lalu.”
“Itu pasti mimpi yang indah kan? Mereka bilang mimpi menunjukkan hasil berlawanan dengan yang akan terjadi.”
“Itu mimpi indah. Benar-benar mimpi yang indah.”
“Ya, aku yakin.”
Dan tiba-tiba, Moo Jin mendapat telepon dari Dae Gil. In Ha jelas heran kenapa Dae Gil menelpon tengah malam begitu?
“Aku punya hal yang ingin ku katakan,” ujar Dae Gil. “Tidak, aku akan ke tempatmu sekarang.”
“Sekarang?” kaget Moo Jin.
“Aku merasa sepertinya hari ini saat aku bisa mengumpulkan semua keberanianku,” ujar Dae Gil. Dan sedang berjalan terburu-buru di jalan.
“Kau akan memberitahu kami yang terjadi hari itu?”
“Ya. Aku akan memberitahu segalanya.”
“Terimakasih. Terimakasih banyak.”
“Aku tidak layak mendapat ucapan terimakasih. Aku benar-benar minta maaf.”
“Tidak. aku merasa bersyukur karena kau telah mengumpulkan keberanian…,” ujar Moo Jin dan dia mendengar suara tabrakan.
Dae Gil di tabrak dengan sebuah truk besar.


  Bersambung


No comments:

Post a Comment