Saturday, May 11, 2019

Sinopsis Korean Drama : Beautiful World Episode 11 – 2

0 comments

Sinopsis Korean Drama : Beautiful World Episode 11 – 2
Images by : jTBC

Soo Ho pulang dan langsung bertanya pada In Ha apa yang ibu Da Hee katakan? Dan tentu saja, In Ha tidak bisa mengatakan apa yang di dengarnya. Dia malah menyuruh Soo Ho untuk mandi. Soo Ho jelas heran.
“Apa itu tidak ada hubungannya dengan Joon Seok?” tanya Soo Ho.
“Tidak.”
“Benarkah?” tanya Soo Ho memastikan. “Aku kira kali ini bisa merobek topengnya selama ini. mengecewakan,” gumam Soo Ho dan masuk ke dalam kamar.
In Ha mendengar gumaman Soo Ho dan merasa heran. Dia masuk ke dalam kamar Soo Hoo dan bertanya, “Kenapa kau mengira kalau rahasia Da Hee ada hubungannya dengan Joon Seok?”
“Jelas saja. Oppa menemui Da Hee eonni dan menelponnya sampai 3 kali hari itu. Jika oppa kemudian menemui Joon Seok, maka itu ada hubungannya dengan Da Hee eonni.”
“Sun Ho dapat saja mengunjung dan menelpon Da Hee karena dia sangat menyukainya.”
“Ibu tidak mengenal oppa? Oppa itu sangat bodoh hingga dia tidak akan pernah mengganggu orang yang dia sukai. Dia akan berhenti menelpon jika Da Hee eonni bilang dia mengganggunya. Pasti ada alasan lain yang membuatnya terus menelpon Da Hee eonni. Itulah kenapa dia menemui Joon Seok.”
“Kenapa kau bisa begitu yakin?”
“Ibu yang bilang kan, bagaimana cara kami melalui setiap harinya itulah yang membentuk dirimu sekarang. Oppa seperti itu setiap harinya. Dia sangat bodoh seperti itu. Oppa tidak akan pernah melakukan hal yang Da Hee eonni tidak sukai. Dia tidak akan bisa,” jelas Soo Ho.
Dan mendengar ucapan Soo Ho, seolah membuka pikiran In Ha. In Ha membelai kepala Soo Ho, “Terimakasih.”
“Untuk apa?” tanya Soo Ho bingung.
In Ha tidak menjawab dan keluar dari kamar Soo Ho.
--

Moo Jin menemui Dong Soo yang sedang bekerja sambilan. Dong Soo jelas heran melihat Moo Jin yang menemuinya tiba-tiba seperti itu. Mereka berbincang berdua. Dong Soo pasti sadar kalau ada masalah pada Moo Jin, jadi dia menghibur Moo Jin walaupun dia tidak tahu pasti masalahnya.
Moo Jin kemudian membahas mengenai Dong Hee. Apa Dong Hee memberitahu Dong Soo mengenai wakil kepala sekolah yang memarahi Dong Hee dengan begitu kasarnya? Moo Jin merasa bersalah karena hal itu. Dong Soo berkata tidak masalah karena sekolah memang seperti itu.
“Dong Hee lebih ceria akhir-akhir ini. Dia juga jadi banyak bicara.”
“Benarkah?”
“Ya. Soo Ho selalu ada di sisinya, begitu juga dengan wali kelas-nya. Dia menjadi semakin berani. Dia bahkan berani bicara balik padaku.”
“Ini adalah hal terbaik yang ku dengar hari ini.”
“Jangan terlalu mengkhawatirkan kami. Dan kami juga masih memiliki banyak makanan sampingan yang tersisa, jadi tidak perlu memberikannya lagi.”
Moo Jin tersenyum mendengarnya.
--

Moo Jin sudah pulang ke rumah. Dan dia melihat In Ha yang sedang berdiri di jendela, menatap keluar. Dia bertanya kenapa In Ha berdiri di sini? In Ha mengulurkan tangannya, dan Moo Jin menggenggamnya.
“Aku penasaran, betapa beruntungnya aku bisa menikahi pria sepertimu. Aku pasti sudah gila. Kau telah melalui banyak hal, tapi aku hanya membuatnya lebih buruk. Aku minta maaf karena telah bertingkah tidak tahu malu tadi.”
“Tidak apa-apa.”
“Manusia… sangat lemah. Kita benar-benar sangat lemah. Aku menemukan diriku merasakan hal yang berbeda saat di letakkan di situasi yang berbeda. Eun Joo dan semua orang tua lainnya pasti merasakan hal yang sama. Ini membuatku sedikit bisa memahami mereka. Aku tidak akan menyerah. Bahkan jika kebenarannya…. Berubah menjadi sesuatu yang tidak kita inginkan, aku tidak akan menghindarinya.”
“Mari kita mempercayai Sun Ho. Sun Ho tidak akan pernah melakukan hal seperti itu.”
“Kau tidak akan pernah bisa terlalu yakin akan suatu hal. Kita tidak bisa menjamin kalau Sun Ho tidak pernah melakukan hal yang buruk.”
“Tapi, tetap saja dia tidak akan melakukan hal itu.”
“Aku tidak bilang kalau aku tidak mempercayainya. Aku juga mempercayainya. Tapi… kebenaran mungkin berbeda dari yang kita percayai. Tapi, aku bilang, aku tidak akan menyerah. Kebenaran bukan mengenai yang aku ingin temukan dan lihat. Bahkan jika kita harus menghadapi hal yang mengerikan dan kebenaran yang menakutkan, aku akan berusaha menghadapinya daripada melarikan diri. Entah seperti apa Sun Ho, itu tidak mengubah kenyataan kalau kita masih tetap mencintainya. Jadi, aku bisa menahan semuanya,” ujar In Ha. “Akuu sangat beruntung karena aku tidak sendirian, karena kau ada di sisiku”
Moo Jin memeluk In Ha, “Jika bukan karena kau, aku tidak akan bisa tetap kuat seperti ini.”
--

Eun Joo benar-benar stress, hingga dia terus saja minum wine di dapur. Pikirannya benar-benar kacau apalagi mengingat sikap Joon Seok dan Jin Pyo yang menyudutkannya.
Dan tiba-tiba saja dia berlari ke kamarnya dan mengambil lipstick yang di temukannya di kamar Joon Seok hari itu. Dia berlari keluar, dan mengubur lipstick itu dalam pot bunga. Jin Pyo yang sedang tidur terbangun karena tingkahnya tersebut.
“Apa yang kau lakukan?” tanya nya. dan dia melihat lipstick yang hendak Eun Joo kubur. “Eun Joo-ah.”
“Aku harus melenyapkan hal ini. Aku harus menghilangkannya. Jadi, tidak akan ada yang menemukan. Tidak seorangpun.”
Jin Pyo segera menarik nya berdiri menyadari kalau Eun Joo sudah terlalu mabuk. Dia menyuruh Eun Joo untuk sadar. Dan Eun Joo membalas kalau dia yang telah memilih jalan ini, jadi dia yang bersalah. Jin Pyo menyuruhnya untuk mandi agar bisa sadar.
“Jangan menyuruh-nyuruhku! Aku istrimu. Aku bukan boneka yang ada hanya untuk membuatmu terlihat baik.”
“Kau mau jadi seberapa hancur hah?”
“Aku sudah hancur. Aku tidak bisa menjadi lebih buruk lagi daripada ini. Bahkan sejak kita menikah, aku melakukan semua yang kau inginkan. Karena kau tidak suka aku bertemu teman-temanku, aku tidak pergi ke reuni. Karena kau bilang kalau terlalu vulgar jika banyak bicara, aku berpura-pura menjadi berkelas dan elegant… dan bertingkah seperti bangsawan. Aku memakai pakaian bagus hanya untuk menjemput Joon Seok dari akademi-nya. Itu yang ku lakukan sepanjang hari.”
“Berhenti bicara omong kosong!”
“Dengan siapa kau hari itu? Aku tahu semua perjalanan bisnismu adalah kebohongan. Tapi, aku tidak peduli. Aku tidak punya ketertarikan pada siapa yang kau kencani. Sayang, betapa kau bisa berpura-pura tidak peduli? Bagaimana bisa kau hidup seolah tidak ada yang terjadi?”
“Ini semua perbuatanmu.”
“Kau benar. Semua salahku. Baik kau ataupun Joon Seok tidak melakukan kesalahan apapun. Aku mengacaukan segalanya. Jadi… aku hanya harus memperbaikinya. Hanya itu. kita hanya harus memutar jam…”
Dan Jin Pyo langsung mengangkat tinjunya. Joon Seok yang melihat dari jendela kamarnya, mundur dengan ketakutan.

Jin Pyo memegang kepala Eun Joo dengan kasar, “Ku peringati kau, jangan pernah… mencoba membawaku jatuh bersamamu!”
Eun Joo benar-benar ketakutan. Dan tatapan Joon Seok pun tampak berubah.
--
Esok hari,
In Ha pergi ke rumah sakit, merawat Sun Ho. Dia membaringkan kepalanya di samping Sun Ho dan mengajaknya bicara. Dia meminta Sun Ho untuk tetap kuat.
--
Moo Jin di rumah membuat sarapan, tetapi Soo Ho harus pergi terburu-buru karna dia piket hari ini. Moo Jin menyuruhnya untuk makan sesuap setidaknya. Dan Soo Ho makan dengan terburu-buru kemudian pergi.
Tidak lama, Moo Jin mendapat telepon dari Jin Woo. Jin Woo sudah memeriksa dan tanggal Da Hee mulai tidak masuk sekolah adalah 20 September. Moo Jin berterimakasih atas informasi Jin Woo tersebut.
 --

Joon Seok bersama dengan Young Chul membawa Ki Chan ke toilet. Mereka memojokkannya dan bahkan menutup pintu toilet agar tidak ada yang masuk. Young Chul memberitahu Ki Chan kesalahannya karena sudah menjelek-jelekkan Joon Seok di belakang. Dan tiba-tiba saja, Joon Seok langsung menendang Ki Chan hingga terjatuh.
“Adukan saja pada guru kalau aku memukulmu. Tidak akan ada yang percaya padamu juga. Tidak ada bukti. Aku akan membunuhmu jika kau menggangguku lagi. Kau tidak percaya? Coba saja,” peringati Joon Seok dan langsung pergi.
Young Chul langsung membukakan pintu dan menatap Ki Chan dengan pandangan hina sambil bergumam kalau Ki Chan adalah pencundang! (Ih, kesel banget lihat si Young Chul, pengecut tidak tahu diri. Dia itu dasarnya jika sudah nakal, merokok, penakut, tapi karena menyimpan rahasia Joon Seok, dan Joon Seok ‘sedikit’ membantunya, dia jadi bertingkah!)

Ki Chan keluar dari toilet. Dan dia teringat perlakuannya dulu pada Sun Ho, saat itu dia tidak ada bedanya dengan Young Chul. Sepertinya, dia telah menerima karmanya sekarang. Dia hanya bisa menunduk (awalnya kesal sama dia, tapi setidaknya dia berani jujur dan melawan. Tapi, sama seperti kisah si anak gembala yang berteriak serigala, karna dari awal dia sudah di cap anak nakal, kini tidak ada yang percaya padanya lagi).
--

Ibu Ki Chan menemui Seok Hee. Dia khawatir kalau sesuatu terjadi pada Ki Chan, dan karena itu dia meminta Seok Hee memihak padanya melawan In Ha. Dan jelas saja, Seok Hee tidak mau, dia lebih memihak In Ha. Walaupun itu sama saja dia berada di sisi yang berlawanan dengan anaknya, Young Chul.
Ibu Ki Chan kemudian memberitahu kalau pengajuan banding In Ha pada komite telah di batalkan.
--
In Ha sudah menerima surat kalau permohonan bandingnya di tolak.
--
Kang Ho merasa senang karena banding itu di tolak, jadi dia tidak perlu sibuk lagi. Dia bisa menyelesaikan pekerjaannya yang lain. Tapi, Jin Woo dan Nn. Ham tidak merasa senang. Jin Woo berkata walau bandingnya di tolak, dia akan tetap mencari tahu kebenarannya. Nn. Ham setuju.

Sang Bok masuk dan menyuruh Jin Woo untuk melanjutkan hukuman Ki Chan, Sung Jae dan Young Chul yang waktu itu di tunda, karena permohonan banding sudah di tolak. Dia juga memberitahu hal itu pada semua guru dan itu adalah hal bagus. Dia juga melarang untuk menerima telepon dari para reporter.
Jin Woo menghela nafas kesal. Dia benar-benar tidak menyukai Sang Bok.
--
Moo Jin pergi menemui ayah Da Hee lagi. Ayah Da Hee jelas tidak suka melihatnya dan mengusirnya. Moo Jin tidak menyerah dan meminta kesempatan untuk bertanya satu hal.
“Kapan sebenarnya kejadian itu terjadi?”
Dan pada akhirnya, Ayah Da Hee membawa Moo Jin ke restoran untuk bicara berdua. Ayah Da Hee tidak habis pikir dengan Moo Jin yang sangat berani untuk bertanya padanya.
“Aku tidak bisa bertanya pada putraku langsung. Kau juga tahu bagaimana kondisinya sekarang.”
“Kelihatannya kau masih mencoba menyangkali hal itu. Di antara ayah, jangan begitu.”
“Kita setidaknya harus mengonfirmasi apa dia benar-benar melakukannya.”
“Kenapa kau terus berusaha padahal kami ingin mengubur hal ini?” marah ayah Da Hee.
“Jika kita hanya mengubur begitu saja, aku merasa seperti telah tidak adil pada putraku.”
“Jangan terus bertingkah seperti ini, atau aku akan melaporkanmu pada polisi.”
“Kau bisa melakukannya. Aku juga tidak berusaha menghindari tanggung jawab. Jika aku harus bertanggung jawab, aku akan sangat bersedia apapun itu. Tolong, pak.”
“Itu tanggal 19 September. Itu hari ulang tahun putriku,” beritahu ayah Da Hee dan kemudian pergi.
--

In Ha pergi menemui ahjussi toko bunga. Sepertinya dia bertanya mengenai Sun Ho di hari itu.
“Dia tidak kelihatan seperti pergi untuk minta maaf. Dia lebih terlihat seperti sedikit bersemangat seolah-olah sudah tidak sabar lagi. Itulah kelihatannya. Aku lebih terganggu dengan wajahnya ketika dia melewati tempat ini lagi setelah dari sana.”
“Seperti apa?”
“Dia terlihat sangat muram. Awalnya, aku mengira dia tidak bertemu dengannya atau dia di tolak. Tapi, sekarang setelah ku pikirkan lagi, itu lebih terlihat seperti dia benar-benar terkejut.”
“Terkejut?”
“Ya. Tapi, bisa saja itu karena dia di tolak.”
“Tidak mungkin. Berdasarkan keterangan, dia tidak bertemu Sun Ho hari itu.”
“Lalu, kenapa dia masih membawa buket bunganya?”
“Dia tidak pernah bertemu dengannya, jadi dia tidak pernah memberikan buket itu padanya.”
“Dia ke sana untuk menjenguk temannya yang sakit. Jadi, dia bisa saja memberikannya pada satpam atau…”
“Dia tidak tinggal di apartemen.”
“Lalu, dia bisa saja meninggalkannya di depan pintu. Tapi, aku rasa, dia tidak akan terlihat sangat  down hanya karena tidak bisa bertemu dengannya,” ujar ahjussi.

Dan In Ha memikirkan perkataannya itu. Saat sudah mau pergi, ahjussi memberikan sebuah tanaman sebagai hadiah.
In Ha membawa pulang tanaman itu, dan meletakkannya di kamar Sun Ho, di samping pot kaktus.

Tidak lama, dia mendapat telepon dari Moo Jin yang memberitahu tanggal kejadian. Tanggal 19 September. Dan itu adalah hari ulang tahun Da Hee. Dia juga sudah mengecheck ke akademi, dan pada tanggal itu tidak ada kelas. In Ha berkata dia akan memeriksa diary-nya untuk tahu kemana Sun Ho pergi hari itu.
Dan tanpa sengaja dia melihat kalender Sun Ho yang di tandai di tanggal 19. Dia teringat sesuatu.
Flashback
Sun Ho membawa pulang kue tart yang telah di bawanya tadi. Sun Ho memberitahu kalau dia batal bertemu dengan temannya karena temannya sudah membuat janji dengan orang lain. saat itu, Joon Ha mengomel karena kan Sun Ho duluan yang berjanji ketemu, kenapa malah janjinya yang di batalkan.
Sun Ho berkata tidak masalah. Dia bertanya kue itu harus bagaimana? In Ha menjawab kalau mereka akan memakannnya saja.  Sun Ho langsung meminta maaf, dan In Ha menyuruhnya untuk tidak perlu minta maaf.
“Kau langsung pulang ke rumah?”
“Aku akan pergi ke perpustakaan. Ada buku yang harus ku kembalikan, dan ada buku yang ingin kupinjam.”
End
In Ha langsung berlari menuju perpustakaan kota.
--
Eun Joo sedang menatap langit. Dan tiba-tiba saja, bel rumah berbunyi. Det. Park dan det. Kim datang untuk mengembalikan blackbox yang waktu itu mereka pinjam, dan tidak di temukan apapun dari blackbox itu.
“Dapatkah kita bicara sebentar?” tanya det. Park.
“Aku harus pergi sekarang.”
“Karena kau sibuk, aku akan bertanya satu hal secara cepat. Kami memeriksa CCTV di dekat sini, dan kami menyadari kalau ada jarak 30 menit.”
“Apa maksudnya?”
“Kau bilang pada kami kalau kau langsung pulang ke rumah hari itu, kan?”
“Ya.”
“Perjalanan dari akademi ke sekolah hanya perlu waktu 10 menit. Tapi, hari itu, kau perlu waktu 45 menit untuk tiba di rumah, yang artinya ada perbedaan 35 menit tepatnya. Dapatkah kau menjelaskan kemana kau pergi?”
Eun Joo tampak sangat gugup.
--

In Ha meminta pengurus perpus untuk memeriksa apakah tanggal 19 September, Park Sun Ho ada datang ke perpus. Pengurus itu mau memeriksakan walaupun sebenarnya mereka harus tahu nomor kartu pinjam Sun Ho dan passwordnya, tapi karena mereka tahu kondisi Sun Ho dan sudah mengonfirmasi identitas In Ha, jadi mereka mau membantu.
“Dia mengembalikan beberapa buku dan meminjam sebuah buku baru,” beritahu petugas. “Itu jam 9 malam.”
“9 malam?”
“Iya. Ah, judul buku ini mengingatkanku. Sun Ho ada di sini dari sore hingga malam. Dia duduk di dekat jendela itu dan membaca sepanjang hari. Dan dia meminjam buku yang sedang di bacanya saat itu.”
“Jadi, Anda bilang, Sun Ho ada di perpus ini dari sore hingga malam, kan?”
“Ya. Dia membaca buku yang sangat sulit, jadi aku ingat bertanya padanya tentang hal itu.”
In Ha menghela nafas lega.
Flahsback
Sun Ho sedang membaca buku dan petugas itu menghampirinya. Dia bertanya, apa Sun Ho tidak pergi ke akademi hari ini?
“Tidak ada kelas hari ini.”
“Buku apa yang kau baca?”
Dan Sun Ho menunjukkan sampul bukunya : “Eichmann in Jerusalem” by Hannah Arendt.
“Bukankah itu buku yang sulit?”
“Ya,” jawab Sun Ho tersenyum dan lanjut membaca.
End

In Ha menatap ke arah jendela itu. Dan dia seolah melihat banyangan Sun Ho yang menatapnya dan tersenyum. In Ha tersenyum. Senyum penuh kelegaan.
(Jika Sun Ho ada di perpus sepanjang hari, tidak mungkin dia bisa melecehkan Da Hee. Jadi, pelakunya pasti bukan Sun Ho. karena itu, In Ha sangat lega).
Bersambung


No comments:

Post a Comment