Saturday, May 25, 2019

Sinopsis Korean Drama : Beautiful World Episode 15 – 1

0 comments

Sinopsis Korean Drama : Beautiful World Episode 15 – 1
Images by : jTBC
Semua karakter, organisasi, tempat, kasus, dan insiden dalam drama ini fiktif

Sun Ho berjalan di lorong kelas. Dia tiba di depan kelasnya dan melihat dari kaca pintu kelas, semua temannya yang sedang bersenang-senang di sana. Dong Hee juga ada di dalam kelas, dan memandang keluar jendela.


Melihat semua tema-teman sekelasnya, Sun Ho tersenyum. Dong Hee berbalik dan juga menatapnya. Sun Ho memegang gagang kelas, tapi gelas tidak mau terbuka, seolah terkunci. Sun Ho terus berusaha membuka pintu kelas, dan tiba-tiba, dia mendengar suara ibunya yang memanggilnya.


In Ha memanggilnya dan memintanya untuk bangun. Moo Jin juga memanggilnya dan adiknya pun memanggilnya. Mendengar suara semua anggota keluarganya, Sun Ho menangis. Dia memegang gagang pintu kembali dan cahaya terang menyinarinya.
Dia bangun dari tidur panjanganya!
Semua yang ada di kamar rawat, terkejut karena akhirnya Sun Ho sadar. Sun Ho telah sadar! Dia bangun dari komanya! Semua sangat bersuka cita. Semua menangis bahagia. Bahkan dokter ikut berbahagia, keajaiban telah terjadi.
Sun Ho menatap wajah setiap keluarganya dan mencoba bicara. Tapi, kondisinya masih terlalu lemah untuk berbicara. Dan setelah menguatkan diri, kata pertama yang di ucapkannya adalah : Eomma (ibu).
Soo Ho menangis semakin keras dan memeluk Moo Jin, oppanya benar-benar telah sadar.
­
-Anak Lelaki Ajaib-

Joon Ha yang berada di toko roti, mendapat telepon dari In Ha. Dia menangis bahagia karena akhirnya keponakannya sadar. Dia berteriak penuh sukacita. Tidak lupa, dia menelpon ibunya untuk memberitahu kalau Sun Ho akhirnya sadar. Dia sampai menangis bahagia karena Sun Ho akhirnya benar-benar sadar.
--
Dong Hee juga sudah mendapat kabar kalau Sun Ho sudah sadar. Dia segera menelpon oppa-nya dan memberitahu kalau Sun Ho sudah sadar. Dia sangat bergembira atas hal tersebut.
Dong Soo yang mendengar berita tersebut juga bersukacita. Akhirnya, putra gurunya sadar. Dia menatap ke langit, mungkin dia merasa kalau Tuhan benar-benar ada dan mendengarkan doa mereka.
--

Jin Woo yang sedang bersama dengan Nn. Ham dan Kang Ho, juga mendapat telepon dari Moo Jin yang memberitahu Sun Ho sudah sadar. Mendengar berita tersebut, Jin Woo benar-benar bahagia.

Nn. Ham dan Kang Ho yang mendengar berita tersebut pun sukacita. Keajaiban benar-benar telah terjadi. Mereka berdua benar-benar gembira hingga berteriak. Kang Ho sampai memberikan selamat pada Jin Woo karena Sun Ho sudah sadar.
Jin Woo masih shock dengan berita tersebut, dan permisi untuk ke toilet.
Kang Ho yang bersuka cita, segera menelpon Sang Bok untung memberitahu hal tersebut.
Jin Woo tidak pergi ke kamar mandi, melainkan keluar restoran. Dia menangis bahagia dan juga tertawa bahagia. Akhirnya, muridnya telah sadar.
--
Berita tersebut tampaknya juga telah sampai ke telinga Jin Pyo, karena wajahnya berubah menjadi penuh kecemasan.
--

Joon Ha sudah berada di rumah sakit. Dokter memeriksa kondisi Sun Ho yang telah sadar. Dia meminta Sun Ho untuk berkedip dan Sun Ho bisa melakukannya. Dia meminta Sun Ho untuk menggerakan jari tangannya, dan dia mampu melakukannya. Tapi, saat dia diminta menggerakan jari kakinya, Sun Ho tidak bisa melakukannya.
Moo Jin menyuruh Sun Ho untuk tidak usah memaksakan diri karena Sun Ho kan baru sadar.
--
Dokter bicara dengan Moo Jin dan In Ha di luar kamar rawat Sun Ho. Dia menjelaskan kalau kemampuan kognitif dan motorik Sun Ho mungkin dapat pulih sepenuhnya, atau mungkin akan ada beberapa masalah di saraf. Yang bisa mereka lakukan hanya menunggu sebentar dan memperhatikan kondisi Sun Ho.
“Bagaimanapun, kondisi Sun Ho ini adalah keajaiban. Dan karena Sun Ho masih muda, semakin cepat baginya untuk dapat pulih. Aku merasa dia akan cepat sembuh. Mari kita lihat apakah dia bisa menelan makanan dan dapat menyebuhkan keseimbangannya. Kita akan memberikan dia cairan diet mulai dari sekarang dan juga memulai rehabilitasinya. Selamat!”
Moo Jin dan In Ha sangat berterimakasih setelah mendengarkan penjelasan dokter.
--

Di dalam kamar, Soo Ho masih berusaha meminta dan mengarahkan Sun Ho agar bisa menggerakan jari kakinya. Tapi, Sun Ho tidak bisa melakukannya. Joon Ha langsung menyuruh Soo Ho untuk berhenti memaksa Sun Ho. Dia juga menyuruh Sun Ho untuk tidak terlalu memaksakan diri, karena Sun Ho kan baru sadar. Dia juga berkata kalau dia bangga pada Sun Ho yang telah sadar.
--
Eun Joo duduk sendirian di ruang tamu, tatapannya tampak kosong.
Flashback
Jin Pyo tertawa sinis mendnegar permintaan cerai Eun Joo. Dia setuju untuk bercerai tapi dia tidak akan menyerahkan Joon Seok pada Eun Joo.
“Aku dapat menyerahkan semuanya. Tapi, biarkan aku yang membesarkan Joon Seok.”
“Kau tidak akan bisa melindunginya. Aku satu-satunya yang bisa melindunginya.”
“Apa yang ingin kau lindungi bukan Joon Seok. Kau ingin melindungi reputasi Yayasan Seah yang artinya sama dengan reputasimu. Kau bahkan membunuh seseorang karna kau takut akan hancur. Aku tidak bisa membiarkanmu membesarkan Joon Seok. Joon Seok masih masih memiliki waktu. Waktu untuk merubah segalanya. Waktu untuk hidup yang sama dengan anak – anak seumurnya. Dia masih memiliki itu. Tapi, jika dia tinggal denganmu, dia benar-benar akan berubah menjadi monster.  Dia akan menjadi sepertimu,” ujar Eun Joo.
Jin Pyo sangat marah mendengar ucapan Eun Joo, hingga dia membanting gelas yang ada di tangannya hingga pecah berkeping-keping. “Kau lah orang yang menyebabkan semua hal ini terjadi. Aku membersihkan kekacauan yang kau buat dan bertingkah seperti tameng-mu! Seperti masih belum cukup mencemari reputasi Yayasan Seah dan tidak bersyukur padaku, sekarang apa? Kau ingin bercerai? Kau berpikir aku monster? Lalu kau akan menyebut dirimu apa? Kau kira kau seorang ibu yang melakukan pengorbanan untuk putranya? Kau lah orang yang mengabaikan anak yang sekarang dan membuatnya seperti bunuh diri, bukan aku!”
“Ya, itu kesalahanku. Aku sepenuhnya sadar akan hal itu. Setiap hari, setiap saat, aku ingin kembali ke hari itu. Penyesalan selalu  menghantuiku.”
“Jangan seperti orang munafik. Kau menyesal? Apa itu akan mengurangi kesalahanmu? Berkubang dalam rasa mengasihani diri sendiri dan membenarkan dirimu sendiri, itu di sebut munafik.”
Eun Joo tetap pada pendiriannya, bercerai. Jin Pyo langsung mengingatkan kalau tidak akan ada pengadilan yang memihak pada Eun Joo yang adalah kriminal.
End
Eun Joo berdiri, dia menghadap Jin Pyo yang berdiri di belakangnya. Dan berkata kalau dia akan membawa Joon Seok dan pergi ke Seongbuk-dong. Jin Pyo tidak merespon perkataan Eun Joo tersebut dan hanya memberitahu kalau Sun Ho sudah sadar.
Mendengar Sun Ho yang sudah sadar, membuat mata Eun Joo terbelalak lebar. Joon Seok yang keluar dari kamar, juga mendengar apa yang Jin Pyo katakan.
--
Det. Park di telepon Moo Jin dan di beritahu kalau Sun Ho sudah sadar. Det. Park sangat senang mendengarnya, karena jika dia bisa mendapat pernyataan Sun Ho, maka mereka bisa membuktikan apa yang telah terjadi sebenarnya.
Moo Jin memberitahu kalau Sun Ho masih belum bisa bicara dengan bebas sekarang ini, tapi Det. Park bisa berkomunikasi dengan Sun Ho. Tapi, dokter bilang pada mereka kalau mengingatkan dan memberitahu apa yang Sun Ho alami takutnya akan membuat stress Sun Ho. Dan juga, dia merasa masih terlalu cepat bagi Sun Ho yang baru sadar untuk memberikan pernyataan. Det. Park bisa mengerti akan hal itu. Kalau begitu, sekarang mereka hanya akan memasukkan kasus ini ke pengadilan terlebih dahulu. Mereka sudah mengonfirmasi kalau Sun Ho sering di siksa dan di bully, tapi mereka belum dapat membuktikan kalau hal itu di lakukan dengan sengaja. Jika pengadilan menyatakan kalau itu bukan hal yang di sengaja, maka segalanya akan berlalu begitu saja. Makanya yang paling penting sekarang ini adalah pernyataan dari Sun Ho.
Moo Jin mengerti. Dia akan segera memberitahu det. Park jika kondisi Sun Ho sudah lebih baik dan bisa memberikan pernyataan.
“Ayah Sun Ho. Selamat,” ujar det. Park dengan senyum lebar.
“Terimakasih.”
Selesai teleponan dengan Moo Jin, det. Park langsung menerima laporan dari det. Kim. Det. Kim memberitahu kalau dia menemukan CCTV yang merekam mobil tabrak lari Dae Gil. Det. Park jelas senang mendengarnya.
--
Eun Joo yang mendengar Sun Ho kaget, malah bahagia. Dia benar-benar lega karena Sun Ho sadar. Tapi, Jin Pyo tidak. Bagaimana jika Sun Ho memberi pernyataan kalau Joon Seok mendorongnya dengan sengaja? Itu akan sangat merugikan Joon Seok.
“Joon Seok bilang padaku kalau itu kecelakaan,” ujar Eun Joo.
“Bagaimana jika itu bukan kecelakaan?” tanya Jin Pyo balik. “Dan bahkan jika benar (itu kecelakaan), apa kau pikir Sun Ho akan mengatakan yang sebenarnya?”
“Sun Ho akan mengatakan yang sebenarnya,” yakin Eun Joo.
Tapi, Jin Pyo tidak yakin. Joon Seok tampak sangat terguncang. Hingga kakinya bergetar saat dia melangkah masuk ke dalam kamar-nya.
--
Det. Park bersama det. Kim pergi ke basement. Det. Kim berkata kalau dia memeriksa CCTV dan mobil itu memasuki basement ini dan belum keluar sejak saat itu. Dan akhirnya, mereka menemukan mobil tersebut. Det. Kim sudah akan masuk untuk menanyakan siapa pemilik mobil tersebut, tapi, dia malah melihat Ki Deuk Cheol.
Deuk Cheol yang melihat det. Kim langsung kabur. Det. Park dan det. Kim langsung berlari mengejarnya. Tapi, mereka kehilangan jejak.
Pada akhirnya, mereka hanya bisa mengambil blackbox mobil untuk memeriksa hari kejadian Dae Gil. Dan dia memerintahkan det. Kim untuk memeriksa CCTV di sekitar sini, untuk tahu kemana Deuk Cheol tadi kabur.
--

Anak buah Jin Pyo diam-diam menemui Jin Pyo dan memberitahu kalau polisi sudah mencurigainya dan mengintainya. Jin Pyo tahu maksud anak buahnya itu, sehingga dia membuka bagasi mobilnya. Di dalam bagasinya ada sebuah tas berisi uang, setelah tas tersebut di ambil, Jin Pyo segera pergi dari sana.
--

Moo Jin terbangun saat hari masih sangat pagi. Dan dia melihat In Ha yang masih duduk di samping Sun Ho sambil menggenggam tangan Sun Ho. Dia tidak tidur semalaman. Dia takut kalau semuanya akan menjad mimpi jika dia tidur.
Moo Jin menasehati In Ha untuk pulang dan beristirahat. Sementara dia akan tetap di rumah sakit untuk menjaga Sun Ho. Jadi, In Ha tidak perlu khawatir. In Ha menolak untuk pulang, dia masih ingin berada di sisi Sun Ho.
“Sayang, aku sangat bahagia hingga aku tidak tahu apa yang harus ku lakukan. Aku tidak iri pada siapapun. Aku merasa seperti aku memiliki segalanya,” ujar In Ha, bahagia. “Aku akhirnya menyadari kalau berkat terbesar adalah melihat anak kita tumbuh dengan sehat tanpa sakit. Aku akhirnya menyadari, betapa aku sangat di berkati oleh banyak hal. Aku adalah orang yang berbahagia. Manusia terkadang bodoh. Kita harus melewati hal seperti ini untuk menyadari hal tersebut. Sayang, mulai dari sekarang, aku tidak akan lagi memarahi dan menyuruh mereka belajar. Aku akan mendukung apapun yang mereka ingin lakukan, jadi mereka dapat tersenyum dan bahagia.”
“Aku tidak yakin akan hal itu. Aku rasa, kau akan mulai berteriak pada mereka untuk belajar keras lagi.”
“Mereka masih murid. Tentu saja, mereka harus belajar,” tawa In Ha.
Mereka akhirnya bisa benar-benar tertawa dengan lepas.
--
Soo Ho bangun dan memakan sarapan yang telah di siapkan oleh Joon Ha dengan senyum lebar. Tidak ada lagi beban di benaknya karena oppa-nya telah sadar.
Soo Ho berangkat sekolah. sebelumnya, dia telah mengirim pesan pada Da Hee, memberitahu kalau Sun Ho sudah sadar dan hal itu merupakan keajaiban. Dia juga berharap Da Hee mau datang menjenguk Sun Ho.
Tidak hanya pada Da Hee, Soo Ho juga memberitahu kabar gembira tersebut kepada ahjussi toko bunga. Ahjussi sangat senang mendengar kabar dari Soo Ho mengenai Sun Ho.
Sementara Da Hee, tangannya bergetar, seperti ketakutan.
--
Soo Ho tiba di sekolah, dan Dong Hee langsung menghampirinya. Dia benar-benar bahagia karena Sun Ho sudah sadar, hingga berteriak di depan gerbang : Hurray, Park Sun Ho! Soo Ho mengikutinya. Mereka saling bergandengan tangan dan masuk ke dalam sekolah.

Young Chul memberitahu Sung Jae kalau Sun Ho sudah sadar. Dia mendengarnya dari ibunya. Tapi, Sung Jae malah tampak cemas mendengar Sun Ho sudah bangun. Dia tidak tahu apakah itu adalah hal baik atau tidak. Young Chul bingung melihat reaksinya, jelas Sun Ho sadar adalah hal baik.
Sung Jae malah mengingatkan kalau Young Chul itu sudah membela Joon Seok di depan polisi, dan kenapa sekarang Young Chul seperti memihak pada Sun Ho? dia dengar Young Chul memberitahu polisi kalau Sun Ho lah yang mengajak Joon Seok untuk bertemu.
“Ayahku bilang, siapa yang mengajak bertemu pertama itu informasi yang penting. Dan itu juga menguntungkan bagi Joon Seok. Joon Seok yang menyuruhmu untuk bilang begitu pada polisi kan?”
“Tidak. itu kebenarannya,” ujar Young Chul.
“Jangan berbohong padaku.”
“Aku serius.”
“Terserahlah. Tapi, sekolah pasti akan mengumpulkan Komite Kekerasan Sekolah lagi. Jadi, kau sebaiknya tidak berbohong apapun yang terjadi,” tegas Sung Jae (ih, jelas dari awal sampai akhir, kau yang selalu berbohong).
Saat itu, Joon Seok tiba, dan begitu melihat Joon Seok, Sung Jae langsung buang muka dan masuk ke dalam kelas. Young Chul melihat Joon Seok, menunduk ketakutan dan masuk ke dalam kelas.
Di dalam kelas, Sung Jae melihat Ki Chan yang duduk menunduk dengan memakai earphone. Dari wajah Sung Jae, sepertinya dia merasa bersalah pada Ki Chan dan ingin mengobrol dengannya. Tapi, dia tidak berani. Ki Chan sendiri bagiku terlihat menyedihkan. Dia memasang earphone di telinganya seolah tidak ingin mendengar apapun yang orang-orang katakan padanya. (Ah, semoga dengan pengalaman ini, Ki Chan bisa berubah menjadi orang yang lebih baik. Walau dia jahat, tapi setidaknya dia mau tetap jujur).
“Ki Chan,” panggil Sung Jae, dan melepas earphone Ki Chan sebelah. “Aku dengar Sun Ho sudah sadar.”

 Joon Seok masuk ke dalam kelas, dan semua orang masih memandangnya dengan sinis. Mejanya juga masih di letak di sudut kelas, dengan penuh memo makian. Dia tampak sangat marah dan keluar kelas. Jin Woo melihatnya dan memanggilnya, tapi Joon Seok malah lari.


Jin Woo masuk ke dalam kelas, dan melihat memo-memo makian yang di tempel di atas meja Joon Seok. Jin Woo tampak marah dan memandang semua yang ada di kelas, dan semua langsung memalingkan wajah. Dengan penuh amarah, Jin Woo mengumpulkan semua kertas itu, meremukkannya dan membuangnya ke tong sampah. Dia kemudian mengembalikan meja Joon Seok ke tempat seharusnya dengan di bantu oleh Dong Hee.
“Kalian pasti sudah dengar kalau Sun Ho sadar kan?  Kalian tahu apa yang aku rasakan saat mendengar berita ini? Aku sangat bahagia mendengarnya dan aku berbahagia. Aku akan segera melihat Sun Ho di sekolah lagi. Dan juga, Joon Seok masih akan memiliki kesempatan. Joon Seok menunggu untuk di hukum atas perbuatannya yang salah. Tentu saja, di hukum bukanlah akhirnya. Ini adalah awal dan itu lah masalahnya. Kau mungkin berpikir kalau adil untuk menyalahkan dan menilai Joon Seok, tapi tidak. Itu sangat pengecut. Itu buruk,” ujar Jin Woo.
“Aku tidak bilang kami melakukan hal yang baik, tapi Joon Seok sangat tidak tahu malu. Faktanya, sekolah menutup mata pada Joon Seok karena dia anak direktur kan?” ujar seorang siwi.
“Aku tidak bisa bilang itu tidak benar. Benar bahwa sekolah dan aku salah. Aku orang yang paling harus di salahkan. Aku tidak tahu apa yang terjadi di kelasku. Dan aku merasa sangat malu dan minta maaf. Apa yang kalian lakukan pada Joon Seok adalah kesalahanku. Tapi, meskipun orang dewasa tidak adil dan melakukan hal yang salah, kau tidak seharusnya mengikuti kami dan berbuat salah juga. Dunia tidak akan berubah jika kalian begitu. Tidak, malah akan menjadi semakin buruk. Kalian dengan kejam mendorong dan menyalahkannya dengan pesan kejam sembunyi-sembunyi. Kalian kira kalian sama dengan Joon Seok? Tidak, kalian sama saja dengannya. Jika kita ingin mengubah dunia, kita harus mengubah diri kita sendiri terlebih dahulu. Kita dapat mencobanya dari hal terkecil terlebih dahulu. Aku juga akan berusaha. Karena itu, aku berharap, kita dapat melakukannya bersama.”
--
Eun Joo mendapat telepon dari Jin Woo yang memberitahu kalau Joon Seok bolos sekolah. Apa dia pulang ke rumah? Eun Joo bilang kalau Joon Seok tidak pulang. Dia akan mencoba menelpon Joon Seok. Dia tampak cemas, dan bertanya, apakah Jin Woo bisa memeriksa atap sekolah? Jin Woo menjawab kalau dia sudah memeriksa ke atap sekolah, tapi Joon Seok tidak ada di sana.
Eun Joo berkata akan mencoba menelpon Joon Seok, dan akan memberi kabar pada Jin Woo.
“Aku merasa sangat malu. Dan juga minta maaf,” ujar Eun Joo, dan kemudian mematikan telepon.
Dia mencoba menelpon Joon Seok, tapi ponsel Joon Seok tidak aktif.
--
Jin Pyo meminta Sang Bok ke ruangannya. Dan dia memberikan sebuah amplop putih.
“Aku harap kau bisa menjenguk Park Sun Ho di rumah sakit mewakili sekolah,” perintah Jin Pyo.
“Oh, aku mengerti akan hal itu. Aku akan melakukannya. Tapi ini apa?”
“Biaya rumah sakit pasti tidak murah. Mereka pasti perlu uang. Ini ketulusanku. Tolong sampaikan pada mereka."
“Aku ragu kalau mereka akan menerimanya.”
“Kau bisa bilang kalau sekolah memberi bantuan atau sejenisnya. Kau bisa membuat alasan apapun. Pastikan kau memberikannya pada mereka. Dan segera setelah surat resign Tn. Myung di proses, kita akan mengadakan rapat dan aku akan merekomendasikanmu sebagai Kepala sekolah.”
Sang Bok jelas sangat senang mendengarnya. Dan Jin Pyo membahas mengenai Komite Kekerasan Sekolah, dia tidak ingin kalau Joon Seok di tanyai lagi. Sang Bok mengerti keinginan Jin Pyo dan berkata kalau dia akan mencoba membujuk orang tua Sun Ho agar tidak mengajukan lagi ke Komite Kekerasan Sekolah perkara Sun Ho.
--
Orang tua Sung Jae, orang tua Ki Chan dan Seok Hee bertemu. Tujuannya adalah membahas mengenai Sun Ho yang sudah sadar. Orang tua Sung Jae ingin mengajak mereka untuk bertemu dengan orang tua Sun Ho dan membuat kesepakatan. Jika orang tua Sun Ho mengajukan tuntutan lagi ke Komite Kekerasan Sekolah, maka penyelidikan akan di adakan lagi. Dan hukuman di siplin untuk anak-anak mereka akan semakin berat. Orang tua Ki Chan tentu tidak mau hal itu terjadi.
Seok Hee tentu emosi karena ternyata tujuan dia di ajak bertemu adalah untuk hal seperti ini. Apalagi mereka berusaha ingin membuat kesepakatan dengan orang tua Sun Ho menggunakan uang, dengan alibi untuk membantu keuangan keluarga Sun Ho. Di tambah lagi, ayah Ki Chan berkata kalau orang tua Sun Ho pasti akan melunak jika melihat anak-anak mereka. Munafik, itu yang di ingin di ucapkan oleh Seok Hee. Muak, itu yang Seok Hee rasakan.
“Aku sebaiknya tidak ke sini. Aku akan pergi sekarang,” ujar Seok Hee dan beranjak pergi.
“Jika kau khawatir mengenai uang, kami dapat membantu,” ujar Ibu Sung Jae. “Dan karena kau dekat dengan ibu Sun Ho, kau dapat menjadi penghubung di antara kami.”
“Kau kira uang bisa melakukan segalanya?!” akhirnya Seok Hee meluapkan emosinya. “Kau dapat membayar tempat les privat atau tutor pribadi dengan uangmu, tapi kau tidak dapat membeli kesadaran.”
“Kami tidak pernah seperti itu.”
“Ah, setelah kau mendengar Sun Ho sadar, kau berpikir untuk melakukan kesepakatan, apa itu artinya kau hanya berhati-hati gitu?!”
“Kami hanya ingin membantu satu sama lain,” ibu Ki Chan ikut campur.
“Omong kosong! Siapa yang membantu siapa? Bagaimana bisa kau bilang kalau kau korban? Anakmu mungkin sangat berharga bagimu, woah tapi bagaimana bisa kau begitu tidak tahu malu dan tidak bermoral?”
“Jadi, Young Chul itu tidak bersalah?”
“Dia bersalah. Dia melakukan hal yang salah, dan karena itu dia harus di hukum,” tegas Seok Hee. “Dia harus mendapatkan hukuman yang pantas, dan menyesal. Dan dengan begitu, dia baru bisa hidup sebagai orang yang baik nantinya.”
Tapi, pemikiran keluarga Sung Jae dan orang tua Ki Chan sangat berbeda dengan Seok Hee. Seok Hee lelah berbicara dengan mereka dan langsung pergi.


No comments:

Post a Comment