Sunday, May 19, 2019

Sinopsis Korean Drama : Beautiful World Episode 14 – 2

1 comments

Sinopsis Korean Drama : Beautiful World Episode 14 – 2
Images by : jTBC
Esok hari,
Eun Joo keluar dari kamar dan terkejut karena Jin Pyo membanting koran dengan emosi. Koran tersebut berisi berita berjudul : SMP S Kecelakaan Misterius. Dan ada tertulis kalau istri direktur memberikan jumlah uang yang besar kepada satpam. Dan putra yayasan direktur ada di atap bersama dengan anak yang terjatuh.

Mata Eun Joo bergetar membaca berita tersebut. Tapi, lagi dan lagi, Joon Seok menyuruhnya untuk tidak mengkhawatirkan apapun. Eun Joo tidak mengatakan apapun dan hanya berlari panik ke kamar Joon Seok.
--

Soo Ho sudah membaca berita tersebut dari ponselnya. Dan dia tampak sangat marah, dia segera menanyakan kebenaran berita tersebut pada Moo Jin. Apa benar ibu Joon Seok terlibat dan membayar seseorang untuk membuat oppa-nya seperti bunuh diri?
“Sarapanlah dulu. Ayah akan menjelaskan segalanya.”
Soo Ho tidak mau, dia menangis dan tidak terima. Kenapa Eun Joo masih hidup dengan baik-baik saja, ketika sudah melakukan hal seburuk itu? dan kenapa masih harus di lakukan penyelidikan ketika sudah ada bukti jelas? Dia tidak terima dengan semua itu.
“Mereka iblis. Mereka bukan manusia.”
“Soo Ho-ah.”
Soo Ho benar-benar marah dan keluar dari dalam kamar.
--
Moo Jin mengantar Soo Ho ke sekolah. Soo Ho masih tampak sangat marah. Dan Moo Jin memintanya untuk mendengarkannya.
“Oppa mu bilang ini pada Dong Hee. ‘Jangan kalah.’
“Dan kita kalah sekarang ini.”
“Itu tidak benar. Kita berjuang. Jangan menghancurkan siapapun. Kita bertarung untuk memperbaiki hal yang salah. Ada hal yang benar dan salah. Tapi tidak ada yang kalah dan menang. Di saat kau menyerah pada dirimu sendiri, kau menyerah berjuang.”
Soo Ho tampak memikirkan perkataan ayahnya.


Joon Seok masih datang ke sekolah. Dan dia bisa merasakan semua orang membicarakannya. Dia teringat kejadian tadi pagi, saat Jin Pyo menegaskan berulang kali padanya kalau dia bukan pelaku dan semua hanyalah kecelakaan. Saat itu, Eun Joo juga melarangnya ke sekolah, tapi Jin Pyo menyuruhnya untuk tidak menghindar karena hal itu hanya akan membuat Joon Seok terlihat seperti pelaku.


Dan pada akhirnya, inilah yang harus di hadapinya. Gunjingan orang-orang. Soo Ho yang baru datang melihatnya. Dia sangat marah hingga dia berlari dan memukulkan batu ke kepala Joon Seok. Dia berteriak kalau dia tidak akan pernah bisa memaafkan Joon Seok. Tidak akan pernah!
Tapi… semua itu hanyalah imajinasi Soo Ho. Nyatanya, dia hanya berdiri diam menatap Joon Seok. Dia memuji dirinya sendiri yang berhasil menahan dirinya sendiri untuk melakukan hal tersebut.
--
Artikel itu juga sudah tersebar di ruang guru. Mereka menjadi bertanya-tanya mengenai artikel tersebut. Dan juga itu hal yang sangat mengerikan.
Sang Bok masuk ke dalam dengan terburu-buru. Dia memanggil Jin Woo menghadap. Dan dia bertanya pendapat Jin Woo, haruskah Joon Seok belajar sendirian di ruang konsultasi? (ada yang lucu, itu ngapain pula Kang Ho berdiri di belakang Jin Woo).
“Aku tahu dia belum di berikan hukuman resmi, tapi anak-anak akan menilai. Jadi, bukankah menurutmu itu mungkin akan membuat Joon Seok menjadi korban?”
“Aku mengerti.”
“Dia tidak mendorong nya dengan sengaja. Itu hanya kecelakaan. Jadi, jangan memperlakukannya seperti kriminal.”
“Okay.”
--
Joon Seok masuk ke dalam kelas. Dan semua langsung menatapnya. Dia berjalan ke mejanya tapi ternyata mejanya tidak ada. Dia melihat sekeliling dan menemukan mejanya di letakkan di sudut kelas. Dia tampak sangat marah, apalagi di atas meja terdapat banyak memo umpatan yang menyebutnya pembunuh, bukan manusia, dan masih banya lagi.


Dia berbalik dan melotot pada semuanya, tapi semua langsung berbalik. Hanya Dong Hee yang tetap menatapnya, kasihan. Joon Seok tampak marah dan membuang semua memo tersebut dan menarik meja kursinya dan meletakkannya kembali ke posisinya semula. 

Saat itu, Jin Woo masuk dan memanggil Joon Seok keluar kelas untuk bicara. Dia menyarankan agar Joon Seok belajar sendiri di ruang pribadi daripada berada di kelas. Tapi, Joon Seok malah menjawab kalau dia masih belum menerima hukuman resminya. Jin Woo berusaha menjelaskan kalau bukan itu intinya. Tapi, Joon Seok terus berkeras ingin tetap berada di kelas dan membantah Jin Woo.
“Itu kecelakaan. Itu benar-benar kecelakaan!”
“Jadi kau mau bilang kalau kau tidak bersalah apapun? kau membully temanmu dan berbohong sampai akhir. Dan kesalahan terbesar yang kau lakukan, kau masih tidak menyesali apapun yang telah kau perbuat! Tunggu di ruang konseling. Aku akan segera ke sana.”
Tapi, Joon Seok malah berjalan pergi.
--
Eun Joo berdiri diam di depan rumah. Dia teringat kemarahan Joon Seok padanya. Dan hal tersebut membuatnya frustasi.
Dia tiba-tiba terpikir sesuatu menatap ponselnya.
--
In Ha sudah menceritakan apa yang det. Park sampaikan padanya ke Joon Ha. Dan Joon Ha benar-benar kesal mendengarnya. Dia tidak terima dengan hasil yang mungkin akan di terima Eun Joo yaitu hanya denda. In Ha menjawab kalau itu masih belum pasti.
“Dan juga… mereka sudah terpenjara selamanya.”
“Apa? Apa maksud eonni? Bagaimana mereka bisa terpenjara?”
In Ha tidak menjawab karena dia menerima telepon dari Eun Joo.
--
Eun Joo berada di depan rumah In Ha, menanti In Ha. In Ha sudah pulang dan membukakan pintu untuk Eun Joo masuk.

Di dalam rumah, In Ha bertanya apa yang Eun Joo katakan?
Eun Joo diam sesaat. Dan akhirnya berkata kalau dia yang salah. Joon Seok ingin memberitahu segalanya tapi dia melarangnya. Semua adalah kesalahannya. Dia benar-benar minta maaf. Dan tentu saja, In Ha tidak bisa memaafkannya. Dan dia bahkan marah karena Eun Joo seperti ini saat mereka sudah menemukan bukti. Andai saja Eun Joo langsung menelpon ke 911 dan di bawa ke rumah sakit, maka Sun Ho tidak akan koma.
Eun Joo menangis dan berkata kalau dia mengira saat itu Sun Ho sudah meninggal. Mendengar hal itu, In Ha langsung menamparnya dengan sangat keras.
“Kau seharusnya membawanya ke rumah sakit! Bagaimana bisa kau hanya memikirkan putramu ketika ada seorang anak sekarat di depanmu?! Bagaimana bisa seorang manusia melakukan hal seperti itu?!”
Eun Joo berlutut, memohon maaf.
“Kau tahu, apa yang sudah kau lakukan? Jika Sun Ho ku tidak pernah bangun, itu sama saja kau membunuh semua orang di keluarga kami! Sun Ho, aku, Soo Ho dan ayah Sun Ho! itu sama seperti kau membunuh kami semua!”
Eun Joo hanya bisa terus dan terus berkata : Maaf.
“Bagaimana bisa kau melakukan itu? dari semua orang, bagaimana bisa kau melakukannya? Bagaimana?!” frustasi In Ha.
--
Eun Joo keluar dari rumah In Ha. Langkahnya tidak stabil. Dia berusaha menghapus air matanya.
--
Moo Jin menemui det. Park. Dan dia terkejut karena det. Park memberitahu jika pada tanggal yang Moo Jin sebutkan, saat Da Hee di lecehkan, Da Hee tidak bertemu dengan Da Hee. Mereka memeriksa ponsel Joon Seok, dan pada tanggal tersebut, Joon Seok tidak datang menemui Da Hee dan membatalkan janji dengan Da Hee, dia memberitahunya di sore hari setelah Da Hee menunggunya berjam-jam dan mengirim pesan serta menelpon berulang kali.
Di pesan itu, Joon Seok mengirim pesan pada Da Hee kalau dia tidak serius ingin bertemu dengan Da Hee. dan juga dia ingin Da Hee bertingkah seolah mereka adalah teman karena hal itu membuatnya lelah.
Jadi, det. Park menduga kalau tidak mungkin Joon Seok melecehkan Da Hee.
“Kau bilang Da Hee berbohong mengenai semuanya?”
“Ini sangat jarang, tapi itu mungkin saja terjadi,” jawab Det. Park.
“Tapi Da Hee mengalami serangan panik dan bahkan tidak bisa datang ke sekolah.”
“Dia bisa saja mempunyai alasan berbeda. Keduanya, dia dan orang tuanya menolak untuk memasukan tuntutan. Jadi, tidak ada cara untuk melakukan penyelidikan.”
--
Joon Seok masih berada di sekolah, dan bahkan pergi ke kantin untuk makan siang. Dan semua masih terus memandanginya. Joon Seok duduk sendiri dan berusaha untuk memakan makanannya dengan lahap. Dong Hee memperhatikannya.
--
Sung Jae, Ki Chan dan Young Chul pergi ke kantor polisi untuk di interogasi.
Giliran pertama, Sung Jae dengan di dampingi kedua orangtuanya. Kali ini, dia mengaku kalau Sung Jae adalah ketua gang, dan dia tidak mengaku saat di wawancarai pertama kali karena dia takut dengan Joon Seok. Dia mengaku kalau Joon Seok mengancamnya. Tapi, dia membantah kalau mereka membully terus menerus. Det. Park bertanya mengenai pesan yang mereka kirim pada Sun Ho, dan Sung Jae berbohong kalau itu hanya candaan. Dan juga Sun Ho setuju untuk bermain game Avengers tersebut.
Selanjutnya yang di interogasi adalah Ki Chan. Dan Ki Chan berkata kalau dari awal kan dia sudah bilang kalau Joon Seok lah ketuanya. Det. Park langsung bertanya, apa mereka membully Sun Ho setiap saat? Dan ayah Ki Chan yang malah menjawab kalau Joon Seok yang mengancam Ki Chan. Dia terus menerus ikut campur sehingga det. Park membentaknya agar membiarkan Ki Chan menjawab. Dan tidak di duga, Ki Chan memberitahu kalau dia lah yang menyarankan SMS bully itu. Dia juga mengakui bahwa Joon Seok yang menyarankan Avengers Game dan membagikan karakter. Dia juga memberitahu kalau Sun Ho tidak setuju dengan permainan tersebut, tapi mereka mengancam akan melakukan game itu pada Dong Hee jika Sun Ho tidak datang. Dan itulah kenapa Soo Ho mau datang ke sana, menemui mereka.

Dan mengingat apa yang di lakukannya pada Sun Ho, membuat Ki Chan menangis. Dia benar-benar menyesali semua perbuatannya (nice Ki Chan, setidaknya kau menyesal dan mau jujur). Det. Park berjalan ke belakangnya, dan menepuk pundaknya. Mungkin dia bangga dengan Ki Chan yang telah jujur sedari awal dan mau mengakui perbuatannya.
Young Chul ke kantor polisi bersama Seok Hee. Dan Seok Hee mengingatkan Young Chul untuk jujur pada polisi. Jangan berbohong sama sekali! itulah cara yang benar setelah semua kesalahan yang dia lakukan pada Sun Ho.
Dan Young Chul akhirnya jujur selama interogasi. Dia mengakui kalau mendengar Sun Ho mengajak Joon Seok bertemu pertama kali. Mereka tidak bilang akan bertemu di atap, melainkan di Laputa. Det. Park bertanya lagi, apa Laputa adalah cara mereka menyebut atap sekolah? Young Chul bilang tidak. Dan dia juga sudah bertanya pada Joon Seok, tapi Joon Seok berkata padanya tidak bertemu dengan Sun Ho, dan tidak memberitahunya dimana Laputa.
--

Sekolah sudah usai, dan Joon Seok berada di kelas seorang diri. Dia memandang ke arah tempat duduk Sun Ho.
Flashback
Saat itu Joon Seok dan Sun Ho berada di atap sekolah, dan hubungan mereka masih baik. Sun Ho berkata kalau mulai dari sekarang mereka akan menyebut atap sekolah itu “Laputa”. Laputa dari anime “Castle in the Sky” (anime dari studio Ghibli. Studio Ghibli selalu membuat anime movie yang outstanding. Semuanya bagus dan jalan ceritanya unik. My younger sister mengoleksi semua anime Ghibli. Even my mother suka sama anime dari Ghibli. Eh, kok malah out of topic yah. Hahhaaha. Tapi, serius, anime dari Studio Ghibli itu bagus. Kalian tahu Totoro? Hantu No Face? Itu dari anime Ghibli. Jangan kira kalau anime itu hanya tontonan anak-anak ya, karena tidak demikian. Banyak anime dengan tema dewasa, slice of life dan romance yang bagus. Aku suka nonton anime juga soalnya. Ada yang tema cooking, sports, drama, slice of lice, fantasy and shounen.)
“Kastil melayang di tengah awan yang legendaris. Berbaring di sini seperti ini mengingatkanku akan Laputa.”
“Astaga, kekanak-kanakan sekali,” komentar Joon Seok.
“Ini maknanya dalam.”
“Baiklah. Ceritakan kepadaku.”
“Singkat cerita, ini kisah tentang pertarungan antara seorang putri Laputa yang menginginkan perdamaian dan penjahat yang merebut Laputa. Banyak hal terjadi dan akhirnya Laputa dihancurkan.”
“Akhir macam apa itu?”
“Sang putri selamat dan kembali ke negerinya. Protagonis tetap hidup, jadi, itu akhir yang bahagia. Ayolah. Berbaringlah di sini. Ini membuatmu merasa enak.”
“Kita harus ke tempat les sekarang.”
Tapi, Sun Ho tetap berbaring menghadap ke langit. Dan Joon Seok akhirnya mengikutinya.
End
Dan mengingat hal itu, membuat Joon Seok menangis keras. Dia menyesali segalanya.
--
Jin Pyo mengadakan rapat yang di hadiri oleh Sang Bok, Myung Sun, Kang Ho dan Jin Woo. Dia meminta maaf karena apa yang terjadi.
“Kecelakaan itu memang terjadi saat Joon Seok dan Sun Ho berargumen, dan bahwa istriku jadi kebingungan sampai-sampai dia meninggalkan TKP begitu saja. Tapi dia tidak sengaja menyamarkan kecelakaan itu,” ujar Jin Pyo.
Dan kembali, Sang Bok menjilat Jin Pyo, membelanya.
“Masalahnya adalah bagaimana kita menahan keluhan orang tua dan liputan media tentang kritik sampai polisi menyimpulkan investigasi mereka. Itu akan memengaruhi siswa juga. Kami telah menerima banyak panggilan dari orang tua yang cemas. Tentu saja. Kita butuh seseorang untuk berkorban demi kebaikan sekolah. Kurasa sekolah harus cepat tunjukkan bahwa mereka bertanggung jawab. Bagaimana menurut Anda?” tanya Jin Pyo dan menatap Myun Sun.
“Aku akan bertanggung jawab dan mengundurkan diri,” ujar Myun Sun.
“Aku menyesal Anda harus mengundurkan diri di tengah aib saat pensiun Anda sudah dekat, tapi...” komentar Jin Pyo.
“Aku hanya ingin katakan satu hal. Kurasa orang yang harus bertanggung jawab dan mengundurkan diri bukan Kepala Sekolah melainkan Anda, Direktur Oh,” ujar Jin Woo.
“Apa kamu sudah gila?” marah Sang Bok.
“Tanggung jawabnya seharusnya diemban oleh seseorang yang layak. Hanya itu cara kita menunjukkan kepada orang tua dan siswa bahwa kita berusaha keras memperbaiki situasi.”
“Pak Lee benar. Memang benar keluargaku menyebabkan banyak masalah di sekolah. Tapi aku pemilik Yayasan Seah. Seorang pemilik tidak bisa meninggalkan rumahnya begitu saja...”
“Pak Lee. Pemilik sekolah adalah siswa dan guru. Dan aku yang bertanggung jawab atas mereka. Aku tidak mengundurkan diri dalam aib. Aku hanya malu di hadapan murid-muridku bahwa aku gagal mengatasi situasi dengan benar. Aku sangat menyesal,” ujar Myung Sun. Dan dia mengeluarkan surat penguduran diri yang ternyata telah di persiapkannya. Semua jelas terkejut. “Aku selalu menyimpannya selama ini. Tolong pastikan guru lain tidak menderita karena hal ini.”
--
Moo Jin memberitahu apa yang det. Park katakan padanya mengenai Da Hee pada In Ha. In Ha bingung apa itu artinya Da Hee sudah berbohong? Moo Jin juga tidak tahu pasti, tapi Joon Seok tampaknya tidak menemui Da Hee hari itu.

Det. Park menelpon Moo Jin dan memberitahu kalau mereka sudah mengumpulkan cukup bukti kalau Joon Seok terus membully Sun Ho. Dan setelah mereka mengirimkan kasus itu ke pengadilan remaja, kasus itu akan segera di nilai.
“Begitu, ya. Aku tidak sempat bertanya tadi, tapi apa kamu menanyai Eun Joo tentang jurnal Sun Ho?” tanya Moo Jin.
“Sepertinya dia tidak tahu apa pun tentang jurnal itu,” jawab det. Park. “Aku akan meneleponmu lagi,” ujarnya saat det. Kim menemuinya.
“Kami menemukan rekaman CCTV yang menunjukkan mobil yang jadi saksi tabrak lari Shin Dae Gil. Ingat orang yang kita tangkap di rumah judi Ki Deuk Cheol? Dia pemilik mobilnya,” beritahu det. Kim.
“Maksudmu Ki Deuk Cheol ada di dalam mobil itu?”
“Itu mungkin. Karena dia bilang mereka menggunakan mobil itu sebagai jaminan judi.”
--
Jin Pyo pulang ke rumah dan Eun Joo sudah menunggunya di ruang tamu.
“Aku ingin bercerai,” ujar Eun Joo. “Aku tidak butuh tunjangan.  Aku hanya ingin hak asuh atas Joon Seok.”
--
Soo Ho berada sendirian di kamar rawah Sun Ho. Dia bicara dengan Sun Ho yang belum sadarkan diri kalau dia sebenarnya merasa Dong Hee lebih baik untuk Sun Ho daripada Da Hee. Masalahnya, hanya mereka berdua terlalu baik.

Dan saat itu, jari jemari Sun Ho bergerak. Soo Ho yang setelah melihat bintang, duduk di samping Sun Ho, memperhatikan wajah Sun Ho. dan saat itu, dia melihat jari jemari Sun Ho yang bergerak. Benar-benar bergerak.
In Ha dan Moo Jin sedang menemui dokter.
“Itu bahkan terjadi semalam. Tingkat saturasi oksigennya terus menurun. Itu berarti napasnya tidak stabil. Jika itu sering terjadi, kondisinya mungkin bertambah buruk,” beritahu dokter.
“Apa maksudmu dia mungkin tidak bisa bernapas sendiri?” tanya Moo Jin.



Saat itu, Soo Ho keluar dari kamar rawat dan berteriak memanggil ayah ibunya untuk segera masuk. dia memberitahu jemari Sun Ho bergerak. In Ha langsung memanggil nama Sun Ho berulang kali. Moo Jin pun demikian. Dia meminta Sun Ho untuk bangun.
Dan keajaiban terjadi. Mata Sun Ho terbuka.
Bahkan dokter tampak terkejut. Keajaiban benar-benar telah terjadi.
Bersambung


1 comment: