Sunday, May 26, 2019

Sinopsis Korean Drama : Beautiful World Episode 16 END – 2

2 comments

Sinopsis Korean Drama : Beautiful World Episode 16 END – 2
Images by : jTBC

Joon Ha berada di rumah sakit. Di depan pintu kamar rawat Sun Ho, dia melihat Ki Chan. Tetapi, Ki Chan tidak masuk dan berbalik pergi.
“Kenapa? Kau mau pergi begitu saja? Jika kau kemari untuk meminta maaf, minta maaflah sebelum pergi,” ujar Joon Ha.
Ki Chan terus menundukkan kepala. “Tolong katakan pada Sun Ho, aku benar-benar minta maaf padanya.”
“Kenapa harus aku? Permintaan maaf baru di hitung kalau di lakukan sendiri.”
Pada akhirnya, Joon Ha membawa Ki Chan masuk ke dalam kamar rawat Sun Ho, dan meninggalkan mereka berdua di dalam. Ki Chan masih terus dan teurs menundukkan kepala, malu. Dia mendekat ke arah Sun Ho dan menyuruh Sun Ho memukulnya. Pukuli dia dengan keras hingga Sun Ho menjadi lebih baik. Pukuli dia sebanyak apapun.
“Nanti,” ujar Sun Ho. “Aku masih belum punya tenaga sekarang.”
Ki Chan terdiam dan tiba-tiba Sun Ho menyuruhnya untuk membuka kulkas.
“Di dalam sana ada ice cream yang kau sukai. Sisakan satu tapi. Soo Ho mau satu,” ujar Sun Ho.
Mendengar perkataan Sun Ho, membuat Ki Chan akhirnya menangis histeris. “Aku akan datang lagi,” ujarnya dan lari keluar.
Sun Ho terkejut dan berteriak memanggilnya, tapi Ki Chan sudah lari pergi dari rumah sakit.
--

Young Chul membantu Seok Hee di mini market. Seok Hee menghampirinya dan bertanya, kapan dia akan menjenguk Sun Ho? Apa Young Chul masih belum punya keberanian?
“Aku rasa Sun Ho tidak ingin bertemu denganku.”
“Mungkin benar. Ibu juga tidak ingin bertemu jika jadi dia,” ujar Seok Hee. “Tapi… kau masih tetap harus meminta maaf pada Sun Ho walaupun Sun Ho mau atau tidak melihatmu. Kau harus terus mencoba meminta maaf padanya hingga dia merasa lebih baik. Mengerti?”
Young Chul mengangguk.
--
Ibu Sung Jae dan Ki Chan menemui In Ha lagi. Dan mereka berpura-pura peduli pada Sun Ho yang telah sadar. Setelah berbasa-basi sejenak, mereka meminta agar In Ha tidak mengajukan tuntutan lagi ke Komite Kekerasan Sekolah.
“Aku tidak pernah meminta mengumpulkan Komite Kekerasan Sekolah.”
“Lalu, kau ingin melupakan semuanya saja?” senang ibu Sung Jae.
“Segalanya terlalu sibuk, jadi aku tidak berpikir sejauh itu. Tapi, setelah mendengar apa yang kalian katakan, aku rasa aku harus mengumpulkan Komite Kekerasan Sekolah.”
Ibu Sung Jae dan Ibu Ki Chan jadi panik dan memuji-muji In Ha agar menolong mereka dan tidak melakukan hal itu.
--
Reporter Choi meribut di kantor polisi karena kan sudah ada saksi, kenapa masih belum bisa menangkap Oh Jin Pyo? Det. Kim berkata kalau mereka terus berkata kalau mereka kekurangan bukti.

Saat itu, det. Park mendapat pesan di ponselnya. Foto Jin Pyo bertemu dengan Heung Gil dan juga rekaman pembicaraan Deuk Cheol dan Jin Pyo hari itu. Mengenai tabrak lari Dae Gil.
Deuk Cheol menelpon det. Park. Det. Park jelas kaget karena Deuk Cheol berani sekali menelponnya yang seorang detektif dan juga ingin menangkapnya.
“Det. Shin benar-benar menyanyangi putranya. Jadi, aku merasa bersalah padanya. Aku tidak percaya kalau Oh Jin Pyo membunuhnya. Dia sangat kejam.”
“Kita harus bertemu.”
“Aku rasa sebaiknya tidak. semoga berhasil melenyapkan sampah itu ya,” ujar Deuk Cheol dan mematikan telepon.
Det. Park segera memberikan nomor telepon Deuk Cheol tadi pada det. Kim dan menyuruhnya untuk segera melacaknya. Yang mereka tidak tahu, Deuk Cheol langsung membuang ponselnya yang di gunakan untuk menelpon det. Park.
--

Sang Bok bersama Kang Ho menghadap Jin Pyo. Dia memberitahu kalau banyak petisi online dan juga koment negatif untuk sekolah mereka di page sekolah juga. Jin Pyo masih terus bersikap tenang. Sang Bok menjelaskan kalau masalahnya semakin besar.
Kang Ho tidak bisa diam lagi. Dia baru mulai bicara, tapi det. Park dan anggotanya sudah menerobos masuk. Mereka membawa surat penangkapan untuk Jin Pyo karena sudah melakukan pembunuhan terencana pada Shin Dae Gil dan juga pelecehan seksual anak di bawah umur.
Sang Bok dan Kang Ho terkejut. Apalagi, Jin Pyo langsung di bawa ke kantor polisi.
--

Di ruang guru,
Jin Woo mengeluarkan surat berhenti yang telah di siapkannya dan memberikannya pada Sang Bok. Dia akan berhenti setelah akhir semester ini berakhir. Kang Ho kaget dengan keputusan Jin Woo dan memarahinya, tapi Jin Woo sudah memutuskan. Nn. Ham juga berusaha membujuknya, tapi Jin Woo keluar dari ruang guru dan pergi ke kelas.
Sang Bok hanya diam melihat surat itu, seolah telah kehilangan akal.
--
Eun Joo mencoba membuka brangkas Jin Pyo lagi. Dia sudah mencoba ulang tahun Joon Seok tapi tidak bisa. Password brangkas itu adalah kode ulang tahun sekolah. di dalam brangkas, ada sebuah ponsel dan juga buku diary yang Sun Ho yang selama ini di cari-cari.
--
Jin Pyo di interogasi tapi dia masih terus menyangkal perbuatannya walaupun sudah ada bukti jelas. Tapi, mereka sudah mendapatkan surat penangkapan. Mereka memiliki bukti lain selain yang di berikan oleh Deuk Cheol.

Eun Joo memberikan kepada det. Park kotak yang berisi ponsel dan 3 buah flashdisk yang dia temukan dari brangkas Jin Pyo. Dengan itu, Jin Pyo tidak akan bisa mengelak lagi.
“Istriku yang membawakan ini pada kalian?” shock Jin Pyo.
Ponsel itu berisi video Jin Pyo menculik putra Dae Gil dan mengancamnya. Flashdisk pertama berisi penggelapan dana sekolah dan yayasan. Flashdisk kedua juga demikian. Flasdisk ketiga berisi perbuatannya pada Da Hee, untuk mengancam Da Hee.
“Bahkan jika kau menyewa pengacara termahal sekalipun, hidupmu sudah berakhir sekarang.”
“Kita lihat saja nanti.”
--
Eun Joo menemui In Ha. Eun Joo bertanya keadaan Sun Ho. Dia senang karena Sun Ho sudah membaik.
“In Ha.  Joon Seok dan aku akan pindah ke desa setelah semuanya selesai.”
“Kemana?”
“Aku mencari SMA yang dapat Joon Seok masuki. Sejujurnya, aku ingin membawa Joon Seok keluar negeri, tapi Joon Seok merasa itu seperti kabur, jadi dia tidak mau. Aku mencoba mencari SMA kecil. Sejujurnya, aku tidak percaya diri. Aku takut pada perubahan lingkungan yang mendadak. Joon Seok sudah lebih baik sekarang. Tapi, aku takut dia akan kolaps suatu saat. Ketika itu terjadi, aku tidak tahu kalau aku bisa menolongnya. Aku tidak yakin. Aku orang yang mendorong Joon Seok hingga ke ujung jurang. Aku terkadang membayangkan, jika kau ada di posisiku, apa yang akan kau lakukan? Jika kau adalah aku, kau tidak akan melakukan hal yang ku lakukan.”
“Aku tidak dapat menjamin hal itu. Bagaimana bisa aku menjamin hal seperti itu? Tapi, itu bukan berarti aku bisa mengerti atau memaafkanmu. Aku masih butuh waktu.”
“Aku tahu.”
“Dan juga, aku juga tidak percaya diri. Berapa banyak orang tua yang dapat menjamin diri mereka mengenai masalah anak-anak? Tapi, kau harus menggapai anakmu duluan. Ketika anakmu berdiri di ujung jurang, tangan terhangat yang dapat meraih mereka adalah orang tua mereka. Itu yang membuat orang tua kuat. Lupakan saat kau mencapainya dengan tangan yang salah. Kali ini, raih dan dekap Joon Seok dengan kehangatan dan tangan yang kuat. Lalu, Joon Seok akan mendekap mu juga. Anak-anak terkadang jauh lebih dewasa daripada yang kita pikirkan. Aku harus pergi sekarang. Ini waktunya bagi Sun Ho untuk rehabilitasi.”
Sebelum In Ha pergi, Eun Joo memberikan buku diary Sun Ho yang selama ini menghilang. Dia memberitahu kalau buku ini berada di brangkas suaminya. Dia seharusnya memberikannya pada polisi, tapi dia tidak memberikannya. Buku ini juga tidak akan berguna untuk penyelidikan. Jadi, dia mengembalikan buku itu pada Sun Ho.
“Sun Ho anak yang sangat baik. Dia mirip sepertimu dan Moo Jin.”
“Apa kau mungkin membaca buku ini?”
Eun Joo tersenyum.
--

Moo Jin mencoba mengirim pesan pada Joon Seok. Dia menanyakan keadaan Joon Seok, dan juga memberitahu kondisi Sun Ho. Dia bertanya apa Joon Seok sudah membaca buku yang dia kirimkan? Dia ingin mendengar pendapat Joon Seok. Tapi, ini adalah rahasia. Yang mengirim buku itu pada Joon Seok adalah Sun Ho.
Buku yang di maksud adalah : Le Petit Prince dan The Catcher in the Rye.
--
In Ha mengembalikan buku itu pada Sun Ho. Moo Jin bertanya apa itu buku diary Sun Ho yang hilang? Sun Ho memberitahu kalau itu bukan diary. In Ha sudah salah selama ini. itu adalah buku puisi. Sun Ho menulis kembali puisi favoritnya di buku itu.
“Ibu membacanya sepintas lalu. Dan kamu menulis puisi yang sama beberapa kali. Apakah itu puisi favoritmu?” tanya In Ha.
--
Sang Bok menerima surat dari yayasan. Dia di berhentikan sebagai wakil kepala sekolah. Kang Ho dan Nn. Ham jelas kaget.

Myung Sun kembali ke sekolah. Dia mengembalikan surat resign Jin Woo. Belum saatnya bagi Jin Woo untuk berhenti, masih banyak murid yang membutuhkan Jin Woo.
--
Joon Seok menemui Dong Soo. Dia datang untuk mengucapkan selamat tinggal. Dia akan pindah. Tapi, kalau dia datang ke Seoul, dia akan mampir untuk menemui Dong Soo. Dia akan pindah ke desa.
“Kau sudah lebih baik? Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi segalanya akan menjadi lebih baik jika kau bisa melewatinya,” nasehat Dong Soo.
“Dapatkah kau memberiku nomor ponselmu?” pinta Joon Seok. Dan Dong Soo memberikannya.
Saat Joon Seok sudah pergi, Dong Soo penasaran dengan nama Joon Seok.
“Namaku Han Dong Soo. Siapa namamu?”
“Oh Joon Seok.”
Mendengar nama Joon Seok, tidak asing bagi Dong Soo. “Hey, Joon Seok. Sun Ho akan segera keluar rumah sakit.”
Joon Seok kaget, karena Dong Soo ternyata mengenal Sun Ho.
--
Eun Joo mengunjungi Jin Pyo di penjara. Dan Jin Pyo masih yakin kalau dia akan segera bebas. Eun Joo memberitahu kalau dia sudah memasukkan surat cerai.
“Aku masih belum hancur. Kau kira, kau benar-benar mengira hal ini akan membuatku terjatuh?”
“Kau sudah hancur dari dulu.”
“Kau kira kau tidak melakukan kesalahan apapun? aku orang yang melindungimu.”
“Aku akan menggunakan sisa hidupku untuk merenungkan kesalahanku,” jawab Eun Joo. “Seragam itu, sangat sesuai untukmu.”
--

In Ha melihat baju seragam Sun Ho yang tergantung di kamar. Dia mencuci seragam itu dengan bersih.
--

Joon Seok datang ke rumah sakit, tapi tidak berani maju. Moo Jin melihatnya, dan menyuruh Joon Seok untuk masuk.
Di dalam, Joon Seok bicara berdua dengan Sun Ho. Joon Seok lega karena Sun Ho sudah sehat. Dia sudah membaca semua buku yang Sun Ho kirimkan padanya. Dia minta maaf.
“Joon Seok. Puisi di halaman terakhir adalah puisi favoritku.”
“Kau memberikan ini padaku?”
“Aku meminjamkannya padamu. Kembalikan padaku setelah kau selesai membacanya.”
“Baik.”
“Kau harus mengembalikannya.”
“Ya.”
--
Joon Ha keluar dari toko. Memandang ke langit. Melihat matahari yang bersinar terang.
--

Soo Ho dan Sun Ho akan berangkat sekolah bersama. Sun Ho sudah bisa berjalan, tapi tidak bisa terlalu cepat. Moo Jin akan mengantar, tapi Sun Ho menolak. Dokter bilang kalau dia harus sering berjalan agar cepat pulih.
“Sun Ho, aku akan menunggumu pulang,” ujar In Ha.
“Em.”
In Ha dan Moo JIn tersenyum senang melihat kedua anak mereka.
--
Joon Seok membaca puisi di halaman terakhir buku jurnal puisi yang Sun Ho berikan padanya.
Puisi : Become a Person Who Produces Hope (Menjadi Orang yang Menghasilkan Harapan) – oleh : Jeong Ho Seung.
Pada saat semua orang di dunia tertidur,
dan bahkan ketika mimpi tertidur dalam kegelapan,
menjadi seseorang yang berjalan saat dia mengikuti bintang-bintang ...
bukannya takut pada fajar yang telah naik di atas.
Menjadi seseorang yang menghasilkan harapan.
Saat malam musim dingin semakin gelap malam ini ...
dengan tidak ada cara untuk kembali karena salju yang turun.

Di ruangan gelap dengan lilin yang berkedip yang akan padam ...
dekat tempat kerja di mana pekerjaanmu untuk hari itu selesai,
menjadi orang yang suka kesedihan.
Menjadi seseorang yang menghasilkan harapan.
Di dunia keputusasaan di mana keputusasaan tidak ada ...
Di dunia kesedihan di mana kesedihan tidak ada ...


Jika kau menjalani hidupmu dengan cinta, salju musim semi akan jatuh.
Temui orang yang kau harapkan di salju.
Temui orang yang kau rindukan di salju.
Serukan dengan keras saat kau merangkul orang itu dan tersenyum.
Seruan keras saat kamu menggosok pipi dan menangis.
Menjadi seseorang yang berjalan saat dia mengikuti bintang-bintang.
Menjadi seseorang yang menghasilkan harapan.
Mereka yang berjalan di sepanjang ladang jelai tertutup salju musim semi ...
Berlari kepadaku ...
dan isi hatimu dengan mimpi.
Isi hatimu dengan mimpi.


-END-
--
Beautiful World, terimakasih telah membaca sinopsisnya di sini 😊 
Semoga banyak pelajaran yang dapat kita petik dari drama ini. Walau masih banyak hal yang mungkin kurang, tapi semoga kita dapat menikmati drama ini.
Beautiful World. Dunia yang Indah.
Dunia sekarang ini semakin mengerikan. Semakin kita bertumbuh, semakin kita di hadapkan akan kenyataan keras-nya hidup. Namun, jangan menyerah! Jangan berputus asa! Percaya bahwa di tengah hancurnya dunia, pasti ada secercah harapan untuk kita. Dunia boleh saja hancur, tapi tidak dengan diri kita. Kita tidak boleh menjadi hancur bersama dunia ini, sebaliknya, ubahlah dunia ini. Dengan cara yang indah 😊
Untuk kalian yang mungkin terbully di luar sana, jangan menyerah. Menulis ini, membuatku teringat akan drama Korea  School 2015 : Who Are You dan movie Jepang yang pernah ku tulis di blog ini juga : Demon Covered in Scars. Tidak banyak yang bisa ku katakan, tapi ingat akan karma yang akan berlaku. Mungkin tidak sekarang, tapi pasti akan ada saatnya.
Jadilah manusia yang menjadi harapan bagi orang lain, bagi dunia ini.
“If you can learn to love yourself and all the flaws, you can love other people so much better. And that makes you so happy” – Kristin Chenoweth
(Jika kau dapat belajar mencintai diri sendiri dan semua kekuranganmu, kau bisa mencintai orang lain dengan lebih baik. Dan itu akan membuatmu sangat bahagia)



2 comments:

  1. terima kasih sudah nulis sinopsisnya kak.
    suka sekali :)

    ReplyDelete
  2. Makasih banget kak udh nulis sinopsisnya. Semoga sukses terus kak :)

    ReplyDelete