Monday, May 13, 2019

Sinopsis Lakorn : Krong Karm Episode 5 - part 2

0 comments


Krong Karm Episode 5 – part 2
Network : Channel 3

Pagi hari. Philai berbelanja di pasar. Dan ketika disana, dia melihat Renu yang sedang berjualan dia dengan sengaja menghampirinya. Dan dengan sikap sombong, dia membeli 4 pack kue, dan meminta 1 pack free. Kemudian setelah itu, dia mengatakan bahwa dia sama sekali tidak memiliki uang kecil, yang ada hanya uang besar.


Dengan sabar, Renu membalas bahwa Philai bisa pergi berbelanja terlebih dahulu, lalu kembali dan membayarnya. Tapi Philai tidak mau. “Ini ambil kembaliannya,” kata Philai sambil membuang uang besar miliknya kepada Renu. Lalu dia pergi.

Dengan kesal, Renu menatap Philai. Namun dia berusaha untuk tetap bersabar.


Sesampainya dirumah. Philai mengeluh kepada Atong yang sedang mencuci pakaian, dia menyuruh Atong untuk mempekerjakan seorang pembantu saja, jangan pelit menghabiskan uang. Dan Atong membalas bahwa saat ini Boonplook sedang membantunya mencari. Tapi belum ketemu.



Atong kemudian menanyakan, apakah yang akan Philai masak. Dan Philai membalas bahwa semua bahan makanan yang dibeli nya ini akan dibawanya ke toko, sehingga Yoi bisa sekaligus memasak untuk mereka.

“Hah!” kata Atong, terkejut.



“Mengapa? Mengapa kamu harus masak sendiri? Itu hanya menghabiskan waktu. Lagian kan kita harus pergi ke toko Mama juga,” balas Philai dengan nada keras. Dan Atong hanya bisa diam sambil melanjutkan menjemur pakaian.


Ditengah jalan. Renu berpapasan dengan Asa. Renu menanyakan kemana Asa akan pergi, dan Asa pun menjelaskan bahwa dia mau membeli minum untuk Ayah dan Ibu, lalu pergi ke kantor pos untuk mengirim surat dari Yoi untuk Chai.


Mendengar itu, Renu menjelaskan bahwa dia juga mau mengirimkan surat untuk Chai, jadi Asa bisa menitipkan surat itu padanya, biar sekalian dikirimkan. Dengan senang hati, Asa pun menyerahkan surat itu kepada Renu, kemudian dia memberikan uang untuk membeli perangko. Tapi Renu tidak mau menerima uang itu.

“Terima kasih ya, Sor. Semoga jualannya cepat laris,” kata Asa.

“Terima kasih. Sampai jumpa,” balas Renu. Lalu dia pergi.


Renu masuk ke gang kecil yang sepi. Disana dia membuka surat milik Yoi yang mau dikirimkan kepada Chai. Dan dia membaca surat itu.



Achai! Cobalah untuk mengambil cuti pulang ke rumah selama beberapa hari. Ma punya hal penting yang ingin di bicarakan denganmu. Ma tidak bisa memberitahukannya melalui surat ini. Jadi segeralah kembali secepat yang kamu bisa. ~Ma~

Selesai membaca surat tersebut, Renu langsung merobek- robek surat itu. Lalu dia membuangnya begitu saja di tanah.


Di toko. Philai memberikan kue yang dibelinya dari Renu kepada Yoi. Dan melihat kue- kue tersebut, Yoi langsung mengetahui bahwa itu adalah kue buatan Renu. Dengan marah Yoi langsung menyuruh Philai untuk menyingkirkan kue itu jauh- jauh darinya. Dan Philai pun langsung memindahkan kue itu ke meja.



Asi mendekati Yoi dan bersikap manja kepadanya. Asi menjelaskan bahwa dia akan kembali ke Pak Nam Pho sekarang, tapi uang sakunya sudah habis, jadi karena itu dia mau meminta uang tambahan dari Yoi. Namun Yoi tidak mau memberikannya, karena selama disini Asi sama sekali tidak ada membantunya dan malah sibuk keluyuran.

Asi kebingungan harus melakukan apa. Kemudian dia pun mengatakan bahwa dia berjanji akan belajar dengan giat, dan tidak akan keluyuran kemanapun lagi. Lalu dengan manja dia pun memeluk Yoi.



“Hey! Bangunan di Pak Nam Pho. Aku berniat membeli nya untukmu, supaya kamu bisa mengaturnya di masa depan. Aku bisa mengubah pikiran ku setiap waktu. Jika kamu masih terus seperti ini,” ancam Yoi.

“Aku janji, Ma,” balas Asi sambil tersenyum lebar.

Yoi kemudian menanyai mengenai Wanna, adik Renu. Dan Asi menjelaskan bahwa Wanna dan dirinya hanyalah teman biasa saja, dan dia meminta agar Yoi mempercayainya. Tapi Yoi tidak mermpercayai gadis  manapun sama sekali.



“Tolonglah, Ma,” rengek Asi, manja.

Yoi mengambil uang, lalu melambaikannya di depan Asi. “Jika dia menggoda kamu. Kamu tidak boleh menunjukan perhatian padanya.”


“Aku mengerti, ma. Kamu adalah yang terbaik,” balas Asi, manja. “Tapi ini tidak termaksud biaya bus, kan?” tanyanya sambil menatap uang ditangan Yoi. Dan Atong tersenyum mendengar itu.

Yoi kemudian memberikan uang tambahan kepada Asi. Dan Asi pun mencium pipi Yoi, dan mengucapkan banyak terima kasih, lalu dia pergi.


Philai yang mendengar itu tampak merasa tertarik.


Pagi hari. Karn menanyakan kepada Ibu dimana kain sarungnya. Dan Ibu menjawab bahwa dia tidak tahu. Lalu Karn pun mengatakan bahwa dia mengira kalau Ibunya yang mencuci kain sarungnya dan menjemurkan untuknya.



Pagi hari. Kamnan menemukan kain sarung tidak di kenal di dekat tangga masuk ke rumahnya. Dan melihat itu dengan emosi, dia pun menanyakan kain sarung siapa itu kepada Ram, karena itu bukanlah kain sarung miliknya.

Ram pun menjelaskan bahwa dia tidak tahu punya siapa itu. Kamnan dengan curiga kemudian menanyakan apakah semalam Piangpern ada keluar dari dalam kamar. Dan Ram pun mengiyakan, lalu dia menjelaskan bahwa dia ada menemanin Piangpern keluar dari dalam kamar menuju ke kamar mandi.

“Apa kamu mencurigai sesuatu?” tanya Somporn. Melihat wajah emosi suaminya.



Kamnan melemparkan kain sarung tersebut ke wajah Piangpern, dan memarahinya. Lalu dia pergi masuk ke dalam rumah.



“Mengapa kamu tidak berpikir dengan baik sebelum melakukan apapun?” tanya Somporn kepada Piangpern.

“Tidakkah kamu mengerti apa itu cinta?” balas Piangpern.

“Tapi Karn itu tidak cocok denganmu, sayang,” balas Somporn.

“Karn itu pemabuk, pembuat kegaduhan, dan suka bermain wanita,” tambah Ram.

“Tidak peduli apa dia, aku masih mencintainya,” kata Piangpern dengan tegas.


Kamnan keluar dari dalam rumah sambil membawa senapan. Melihat itu Somporn dan Ram pun langsung menahannya. Dan dengan emosi Kamnan mengatakan bahwa dia tidak tahan Karn berada di dunia yang sama dengannya lagi.

“Ayah! Jika kamu menyakitinya. Aku akan mati untuknya juga. Jika kamu tidak percaya, tunggu dan lihat saja,” kata Piangpern, menghalangin Ayahnya.



Kamnan ingin memukul Piangpern, tapi Somporn dan Ram menahannya. Lalu karena Piangpern menatap nya dengan penuh tekad dan keyakinan. Maka Kamnan pun tidak bisa melakukan apapun. Dan dengan emosi, dia pun menembak ke udara untuk melepaskan emosinya.


Sri menceritakan kepada orang- orang di pasar bahwa Yoi adalah pemilik toko terbesar di Chum Saeng, dan menurutnya Piangpern sangat cocok bila dijodohkan dengan anak Yoi. Dan Kamnan juga setuju dengan nya.

Lalu Sri memberitahu bahwa Piangpern juga tampak terpesona dengan anak Yoi, bahkan Piangpern sampai tidak berkedip menatapnya. Dan Piangpern dengan anak Yoi berbicara dengan riang saat itu.


Ketika mendengar itu, Karn mendekati Sri dan menatapnya dengan tajam. “Jika kamu pikir, kamu orang dewasa dan bisa mengatakan apapun yang kamu inginkan. Bibi Sri harus berhati-hati, suatu hari kamu akan tidak di hargai.”

Dengan kesal dan sedikit perasaan takut, Sri memegang pisau dengan erat. Tapi tidak bisa melakukan apapun pada Karn.



Di kebun. Karn bekerja membersihkan daun- daunan kering. Dan ketika pemilik kebun datang, yaitu Jook, dia meminta bayarannya siang nanti karena dia mau membelikan obat untuk Ibunya. Dan Jook pun mengiyakan. Lalu dengan senang, Karn kembali melanjutkan pekerjaannya.



Selesai bekerja, Karn menemui temannya (Wang), dan meminjam sepedanya. Karena dia mau pergi ke Chum Saeng untuk membelikan obat Ibunya. Dan dengan cemas, Wang bertanya apakah Karn yakin mau pergi jam segini, karena takutnya keburu gelap saat pulang nanti. Dan Karn pun menjawab iya, karena itulah dia buru- buru sekarang.


“Baiklah. Bawa dan kembalikan padaku nanti ya,” kata Wang, mengizinkan.

“Terima kasih. Aku menitipkan pisau besar ku padamu ya,” balas Karn, menitipkan barangnya, lalu dia pergi menaiki sepeda Wang.



Asa pergi ke toko foto, disana dia mencuci film- film negatif miliknya. Dan ketika tanpa sengaja, dia melihat foto- foto milik Jantra, dia merasa tertarik.


Kemudian tepat disaat itu, Jantra datang. Jantra menanyakan kepada pemilik, apakah fotonya sudah siap atau belum. Dan si pemilik pun mengambilkannya.

“Bisakah aku memiliki satu foto?” tanya Asa mengambil foto Jantra.

“Kembalikan padaku!” kata Jantra, mau merebut fotonya. Ketika dia melihat Asa mengambil foto dirinya. Namun Asa mengelak, dan tidak mau mengembalikannya.



Setelah mengambil barang miliknya, Jantra menghampiri Asa yang sudah mau pergi, dan dia meminta fotonya di kembalikan kepadanya. Tapi Asa tidak mau, dan memasukan foto itu ke dalam dompetnya.

“Jangan buat masalah. Aku mohon,” pinta Jantra.

“Ah… ah… aku akan kembalikan. Tapi ada satu syarat,” balas Asa sambil tersenyum.




Saat pulang dari pasar, Yoi tampak sengaja melihat Asa yang sedang membonceng Jantra di jembatan. Dan melihat itu, Yoi merasa marah. “Asa, kamu juga?”

No comments:

Post a Comment