Sinopsis Chinese Drama : Nice To Meet You Episode 12-1


Sinopsis Chinese Drama : Nice To Meet You Episode 12-1
Images by : Hunan TV
Ny. Wu sudah tidak bisa menyembunyikan apapun lagi dari Gao Hui, karena Gao Hui sudah curiga dan terus mendesaknya untuk memberitahu yang sebenarnya. Akhirnya, Ny. Wu pun memberitahu apa yang terjadi padanya, Gao Hai dan Pan Yue.
“Jadi, inilah kebenarannya. Jadi, Gao Jie adalah putri ayah yang lain. Jadi dia… dia adalah kakak tiriku? Apa yang di lakukannya kali ini yang memicu pertengkaran mama dengan ayah?”
“Aku membeli rumah untuk investasi. Tapi aku tidak memeriksa dan ternyata keluarga Gao Jie tinggal di sana (bohong banget si Wu Xiaoci).”
Gao Hui sendiri pun yakin, dan bertanya apa Ny. Wu benar-benar tidak tahu? Ny. Wu akhirnya jujur, dia tahu. Tapi, dia melakukannya karena benci melihat Gao Hai terus ke rumah itu menemui Pan Yue. Gao Hui dapat mengerti hal itu dan mendukung apa yang Ny. Wu lakukan.
Ny. Wu kemudian berkata kalau sekarang dia khawatir apa yang Gao Hai lakukan akan membuat gossip tidak sedap dan akhirnya malah akan mencemari nama keluarga mereka. Gao Hui memintanya untuk tidak khawatir, karena dia akan mencoba bicara pada ayah. Tapi, Ny. Wu tetap harus tenang dan tidak terpancing amarah.
--
Gao Jie berada di rumah sakit sampai pagi. Dan tiba-tiba saja, para suster berlarian dengan panik dan berkata kondisi kakek memburuk. Gao Jie bertambah cemas dan semakin ingin melihat kakek, tapi suster tidak bisa memberikan izin. Kakek dalam keadaan serius, dan tidak boleh di kunjungi sampai dokter mengizinkan.

Gao Jie benar-benar cemas. Dia berdiri di ruang ICU berjam-jam, menunggu dokter keluar. Saat itu, Yu Zhi datang dengan membawa Pan Yue ke rumah sakit. Pan Yue malah merengek pada Gao Jie meminta pulang karena tidak ingin di suntik. Gao Jie benar-benar lelah, dan dengan nada lemah memberitahu Pan Yue kalau mereka di rumah sakit karena kakek sakit.

Pan Yue terus merengek meminta bertemu dengan kakek. Gao Jie sulit menjelaskan kondisi kakek pada Pan Yue dan meminta Pan Yue untuk duduk dulu. Yu Zhi dapat merasakan kesulitan yang Gao Jie alami.
“Tidak apa-apa. Aku akan menemanimu terus,” ujar Yu Zhi, memberi dukungan.
Dokter akhirnya keluar dari ruang ICU dan meminta maaf. Kondisi kakek masih kritis. Mereka sudah mencoba yang terbaik, tapi tolong bersiap untuk kemungkinan terburuk. Kakek tidak mempunyai banyak waktu lagi.
Mendengar hal itu, Gao Jie menjadi histeris. Dia memohon dokter menyelamatkan kakeknya. Tapi, dokter telah melakukan yang terbaik. Pan Yue panik melihat Gao Jie yang menangis histeris dan memintanya untuk tidak menangis.
--

Yu Zhi, Pan Yue dan Gao Jie akhirnya di izinkan menjenguk kakek. Gao Jie memohon pada kakek yang masih koma agar tidak meninggalkannya dan ibu. Dia akan menjadi cucu yang lebih baik lagi.
Seolah mendengar panggilan Gao Jie, Kakek akhirnya sadar. Gao Jie sangat senang melihat kakek yang akhirnya sadar.
“Xiao Jie. Kakek khawatir tidak bisa sehat kembali kali ini. Kakek tidak bisa melindungimu dan ibumu lagi.”
“Berhentilah berkata seperti itu. Kakek akan baik-baik saja.”
Pan Yue yang tidak mengerti situasi, terus saja bermain boneka barbie dan menunjukkannya pada kakek.
“Kakek, kakek telah melakukan banyak hal untukku dan ibu. Aku belum sempat membalas budi. Aku akan membawa kakek berpergian ke banyak tempat yang bagus. Dan membelikan kakek banyak makanan yang lezat. Jadi, kakek harus sembuh.”
“Xiao Jie, kau adalah anak baik. Dengan cucu baik sepertimu, kakek sudah puas dengan hidup kakek.”
“Kakek pernah janji padaku akan mengajariku membuat perhiasan. Kakek kan selalu menepati janji. Kakek tidak bisa mengingkari janji kakek.”
“Kali ini, kakek takut tidak bisa menepati janji kakek,” ujar Kakek dengan nafas tersengal. “Kakek tidak mau meninggalkanmu dan ibumu. Kakek tidak takut mati. Tapi kakek takut saat kakek tidak ada, kau dan ibumu tidak ada yang menjaga.”
Dan Pan Yue tiba-tiba menunjuk ke Yu Zhi, “Pacar, pacar. Xiao Yu.”
Kakek langsung melihat ke arah Yu Zhi.
“Kakek, jangan khawatir. Aku akan berusaha yang terbaik untuk melindungi Xiao Jie dan ibunya. Dan aku akan merawat mereka,” janji Yu Zhi.
Mendengar hal itu, membuat kakek sangat lega. Dia menangis dan mengulurkan tangannya ke arah Yu Zhi. Dia mengenggam tangan Yu Zhi dan meletakkannya ke tangan Gao Jie serta Pan Yue. “Tolong, jangan sakiti dia,” pinta kakek.

Usai mengatakan permintaan itu, kakek menghembuskan nafas terakhirnya. Dia pergi untuk selamanya. Tangis Gao Jie semakin mengeras. Yu Zhi juga tidak bisa menahan kesedihannya. Sementara Pan Yue, terus menyuruh agar kakek tidak tidur.
--

Gao Hai mabuk-mabukkan di ruang kerjanya. Ny. Wu yang melihatnya langsung marah. Tapi, Gao Hai menuangkan segelas wine ke lantai. Dia berujar kalau wine itu untuk jalan kakek. Ny. Wu semakin kesal dan berkata kalau Gao Hai melakukan hal yang tidak perlu.
Gao Hai marah mendengarnya. Ny. Wu bingung dengan kemarahan Gao Hai.
“Aku tidak bisa merasa yakin. Jadi aku kembali ke rumah sakit. Dokter memberitahuku, kakek telah meninggal.”
Ny. Wu terkejut hingga jatuh terduduk. “Dia meninggal. Bagaimana bisa?”
“Kau memaksa mereka pergi hingga kau dapat memiliki rumah itu. Dia mengalami serangan jantung karena kamu. Dokter tidak bisa menyelamatkan hidupnya! Lihatlah apa yang kau lakukan! Dan kau masih berpikir itu tidak cukup?!”
“Bagaimana bisa? Untuk apa kau melotot padaku? Aku hanya mengklaim rumah itu secara sah. Bagaimana aku bisa tahu kalau dia akan terkena serangan jantung! Jika bukan karena kau yang selalu mengunjungi mereka, aku tidak akan berbuat hal seperti ini! Aku tidak peduli. Kau tidak bisa menyalahkanku.”
“Dia sudah meninggal. Tapi yang kau pikirkan adalah melepaskan tanggung jawab dan menyalahkan orang mati!” Gao Hai semakin marah. “Wu Xiaoci, setelah bertahun-tahun hidup bersamamu, kenapa aku tidak sadar kalau kau adalah wanita jahat! Aku beritahu ya, karma akan terjadi. Apa kau tidak takut pada karma ketika melakukan hal seperti ini?”
Wu Xiaoci malah balik marah, karena merasa Gao Hai seolah menuduhnya sebagai pembunuh Kakek. Dia malah berkata kalau dia akan memberikan rumah itu pada mereka sebagai kompensasi.
“Ini masalah hidup. Dia sudah mati! Bisakah kau menukar kehidupan dengan rumah?! Jangan lupa, Tn. Pan (kakek) dulu adalah gurumu!”
“Dengarkan aku. Kita adalah keluarga. Kau sebaiknya memikirkannya. Kau harus berada di pihakku! Gao Hai, Huihui akan segera pulang. Ku peringati, jangan mengatakan hal ini padanya,” tegas Ny. Wu dan pergi dari ruang kerja Gao Hai.
Gao Hai benar-benar marah melihat tingkah Ny. Wu yang tanpa rasa bersalah dan belas kasihan. Dia sangat menyesal telah memilih Ny. Wu dulu.
--
Gao Jie membawa Pan Yue kembali ke panti jompo. Dia membereskan tempat tidur Pan Yue, sementara Pan Yue sibuk bermain boneka. Gao Jie masih sedih dan berkabung atas kepergian kakek, tapi Pan Yue tidak menyadari hal itu. Pan Yue malah mengajak Gao Jie untuk pergi mencari kakek.
“Kita tidak bisa menemui kakek lagi,” ujar Gao Jie.

Tapi, Pan Yue malah mengira kalau kakek sedang bermain petak umpet dan semakin memaksa Gao Jie untuk mencari kakek. Yu Zhi yang baru datang, melihat hal itu. Gao Jie menangis dan menjelaskan pada Pan Yue kalau kakek sudah meninggal dan mereka tidak bisa menemuinya lagi.
“Tidak mungkin. Ayah akan selalu bersamaku dan Xiao Jie. Ayah tidak akan pergi. Aku mau pulang. Aku mau mencari ayah,” rengek Pan Yue.
Gao Jie benar-benar pusing. Dia lelah dan memeluk Pan Yue, memintanya untuk patuh padanya. Tapi, Pan Yue masih terus memberontak, hingga membuat ponsel Gao Jie yang berada di atas tempat tidur terjatuh dengan keras ke lantai.
“Bibi,” Yu Zhi masuk dan menyapa Pan Yue. “Kakek pergi mengunjungi nenek. Dia sangat merindukannya, jadi dia pergi menemuinya.”
“Jadi, ayah sudah meninggalkan kami?” tanya Pan Yue, sudah tidak merengek lagi.
“Kakek bilang padaku sebelum pergi, untuk menjagamu dan Xiao Jie. Jadi, mari kita biarkan kakek bersatu kembali dengan nenek.”
Pan Yue bisa mengerti akan hal itu, dan tidak mencari kakek lagi. Yu Zhi kemudian menunjukkan makanan yang di bawanya, dan membuat Pan Yue sangat senang. Pan Yue bahkan langsung pergi ke dapur untuk makan.

Saat Pan Yue pergi, Yu Zhi segera memeluk Gao Jie. Membiarkan Gao Jie menangis dalam pelukannya. Dia membelai kepala Gao Jie dengan lembut, untuk memberinya kekuatan.


Post a Comment

Previous Post Next Post